“Siapa pun yang masuk ke pulau ini ... tak akan pernah keluar dengan selamat.”
Pulau Darasila diduga menjadi markas penelitian bioteknologi terlarang. Bella, agen BIN yang menyamar sebagai dosen KKN, ditugaskan menyelidikinya. Namun sejak kedatangannya, Bella menemukan tanda-tanda ganjil bermunculan. Beberapa kali ia mendapati penduduk pulau memiliki tatto misterius yang sama persis dengan milik Edwin, suaminya. la pun mulai menduga-duga, mungkinkah sosok sang suami yang dulunya memiliki masa lalu kelam, kembali melakukan kesalahan dan turut terlibat dengan hal yang akan diselidikinya?
Misi Bella yang awalnya hanya soal penyelidikan, kini berubah menjadi perjuangan bertahan hidup. Karena siapa pun yang masuk ke Pulau Darasila tak akan pernah bisa keluar dengan selamat kecuali dengan satu syarat. Akankah Bella mampu menuntaskan misinya dan keluar hidup-hidup?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dae_Hwa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
VIP25
Sebelumnya.
Setelah menanam jebakan peledak di beberapa titik strategis, Bella bergerak menyusuri hutan seorang diri. Langkahnya amat hati-hati, tak menimbulkan suara di atas tanah dan guguran daun kering.
Ia memutuskan tidak mencari Abirama saat itu juga, karena ketika ia mengecek koordinat dari alat pelacak yang diam-diam ia selipkan di saku celana pria itu—lalu membandingkannya dengan titik lokasi dari aksesori pemberiannya yang dikenakan Edwin, yang di dalamnya juga telah ia tanam modul pelacak mikro—keduanya mengarah ke lokasi yang sama.
Bella menyimpulkan Edwin pasti menuju ke sana untuk menyelamatkan sahabat mereka.
Bukan tanpa alasan Bella berpikir demikian.
Rasa bersalah Edwin pada Abirama tak pernah hilang sejak dulu hingga sekarang. Ayahnya, Dirham, adalah dalang di balik pembunuhan kedua orang tua Abirama berpuluh-puluh tahun silam—pembunuhan keji yang membuat Abirama harus menjadi yatim piatu sejak usia dini. Meskipun Edwin tak terlibat sedikitpun, tetap saja, ia merasa bersalah karena harus terlahir menjadi anak dari pria gila. Terlebih lagi, sifat gila sang ayah juga menurun padanya.
Menggunakan teropong jarak jauh terbaik, Bella mengamati area depan. Dari kejauhan, ia melihat dua penjaga berdiri tegap di balik pagar kawat tinggi. Sebuah papan peringatan tergantung di tengahnya.
AREA TERLARANG.
“Apa mungkin yang kucari ada di sana?” gumamnya pelan.
Ia kembali bergerak, menyelinap dari satu batang pohon ke batang lainnya. Tubuhnya merendah, deru napas bahkan tak terdengar. Setiap langkah diperhitungkan.
Akhirnya ia berhenti di balik pohon besar berakar menjalar. Hutan terlarang kini hanya berjarak sekitar dua puluh meter.
“Hanya dua penjaga di luar,” pikirnya cepat. “Tapi di dalam? Berapa banyak lagi?”
Bella terdiam sejenak, ragu. Bagaimanapun, dia bertugas seorang diri di pulau itu. Satu keputusan keliru saja, akan berakibat fatal. Bahkan, mungkin ia tak akan pernah lagi menatap wajah putra-putrinya.
“Mama janji, ini akan menjadi tugas terakhir Mama. Begitu selesai, Mama akan kembali pulang ke rumah dan akan selalu ada untuk kalian.”
Janji yang pernah ia ucapkan pada kedua anaknya sebelum ia menginjakkan kaki ke Pulau Darasila kembali terngiang. Di film-film, tokoh yang mengucapkan kalimat seperti itu biasanya pasti akan berakhir mati.
Bella memejamkan mata sejenak, lalu membukanya perlahan, ia meludah kecil ke samping.
“Amit-amit.”
Ia mendongak singkat ke sela rimbun dedaunan.
“Tuhan, lindungi setiap langkahku. Aku ingin hidup lebih lama. Aku ingin melihat Bintang dan Langit tumbuh sampai dewasa.”
Setelah melantunkan doa singkat itu pada sang Pencipta, Bella menarik napas dalam lalu menurunkan ransel dari punggungnya. Ia berlutut, membuka resleting secara perlahan agar tak menimbulkan suara mencurigakan.
Dari dalam, ia mengeluarkan sebuah mobil mainan remote control berukuran sedang. Tangannya bergerak cekatan memasang bahan peledak kecil pada rangka bagian bawah, mengencangkannya dengan pengikat khusus, lalu menyambungkan detonator mini yang telah ia siapkan sebelumnya. Semua dilakukan dalam hitungan menit.
Bella kembali merapat ke balik batang pohon besar. Jemarinya menggenggam remote, ibu jarinya menekan tuas perlahan.
Mobil itu meluncur keluar dari balik semak, rodanya berputar pelan menyusuri tanah menuju pagar kawat tempat dua penjaga berdiri.
Mata kedua pria berbadan besar itu langsung menyipit.
“Apa itu?” salah satu dari mereka bergumam.
Senjata api di tangan mereka terangkat siaga. Laras mengarah lurus pada benda asing yang terus mendekat tanpa ragu.
Namun begitu menyadari bahwa yang mendekati mereka hanyalah sebuah mobil mainan, kedua penjaga itu saling pandang.
“Apa-apaan ini?” gerutu salah satunya.
Senjata yang sempat terangkat perlahan diturunkan, meski tetap dalam genggaman. Mobil itu berhenti tepat beberapa meter di depan mereka, rodanya masih berputar pelan sebelum akhirnya diam total.
Salah satu penjaga mendecak, lalu melangkah maju dengan langkah waspada.
“Siapa pun yang main-main di sini, keluar!” bentaknya ke arah hutan.
Penjaga yang lebih tinggi ikut melangkah maju setengah langkah, matanya menyapu lebatnya pepohonan.
“Kalian tau ini area terlarang, kan?” teriaknya keras ke arah hutan. “Ketua sudah memberi peringatan tegas! Tidak ada warga yang boleh mendekat ke sini!”
Namun, tak ada jawaban. Hanya suara angin yang menggesek dedaunan.
Pria jangkung itu pun mendekati sang teman, sambil berkacak pinggang ia melirik sinis ke arah mobil mainan tersebut. Penjaga itu menunduk sedikit, hendak menendang mobil mainan tersebut menjauh—
Dan di balik batang pohon besar, ibu jari Bella menekan tombol.
BUUUM!
Tubuh kedua penjaga itu terpental, salah satunya terlempar beberapa meter sebelum jatuh ke tanah dengan tubuh tak lagi berbentuk. Api menyambar pagar kawat, serpihan kayu dan tanah beterbangan. Aroma mesiu bercampur darah menyebar cepat di antara pepohonan.
Bella tak membuang waktu. Ia langsung bergerak.
“Anak-anak ... aku pasti akan kembali untuk kalian,” gumamnya sembari membuka kembali resleting tasnya.
Dari dalam, ia mengeluarkan senapan sniper model lipat yang tersusun rapi dalam beberapa bagian. Dengan gerakan cepat dan presisi, ia memasang laras ke badan senjata, mengunci popor lipat, lalu memasang scope di rel atas dan mengencangkannya.
Jemarinya cekatan, tanpa ragu. Dalam waktu kurang dari satu menit, senapan itu telah utuh.
Bella menyampirkannya ke bahu, lalu memanjat batang pohon besar di belakangnya. Ia bergerak lincah, menempatkan kaki di sela cabang, hingga mencapai dahan tebal yang cukup stabil untuk menopang berat tubuhnya.
Bella menyandarkan tubuh di batang, tubuhnya sedikit menunduk. Bipod kecil dibuka, ia menempelkan mata pada scope—teropong bidik jarak jauh, lalu memutar cincin fokus hingga gambar di dalam lensa menjadi tajam.
Beberapa sosok bersenjata mulai berlarian keluar dari dalam hutan terlarang, panik oleh ledakan.
“Sialan! Apa yang terjadi di sini?!”
“Penyusup! Pasti ada penyusup!”
“Hueeek! Astaga badannya Bang Ruri udah kayak daging cincang! HUEEEK!”
Di tengah kepanikan itu, peluru 308 Winchester (7.62×51mm) melesat cepat, akurat — mengenai tepat salah satu para bandit-bandit organisasi.
Brugh.
Tubuh pria itu tersentak keras sebelum ambruk, senjatanya terlepas dari genggaman.
“TIARAP!” teriak seseorang.
Orang-orang itu langsung menjatuhkan diri, merangkak mencari perlindungan di balik batang pohon dan batu besar. Suara tembakan balasan mulai memecah udara, membabi buta ke segala arah.
Namun dari atas pohon, Bella sudah menggeser larasnya ke target berikutnya.
PSYUUU!
PSYUUU!
PSYUUU!
*
*
*
tapi aku sangat suka.
maaf thor apa ada ceritanya sebelum mereka dewasa? maksudnya sewaktu ayahnya Edwin masih muda?
kalau ada pasti seru.
terimakasih telah menyuguhkan cerita yang epik , keren dan banyak ilmu yang bisa di ambil ..
lanjutkan karyamu thor .👍👍👍😘😘
rajin ibadah kok nyosor?
padahal kan durung halal?
maaf .,... maaf saya hilaf " kata abirama"
🤣🤣🤭
tapi dibalik kekejaman dan kesadisan itu kita jadi tahu yang namanya ilmu KEDOKTERAN.
makanya sekolah di bidang kesehatan Mahal dan membutuhkan sangat banyak biaya dan otak.
maaf kak baru kasih komentar, soalnya masih menyimak 🤭🤭
aku suka karya kakak , meskipun banyak adegan kekerasan dan menyimpang, tapi karyamu keren 👍👍👍
ᴋᴇʀᴇᴇᴇɴɴɴ
Cerita mereka slalu menarik dan bikin penasaran.
Makasih utk karyanya Kaka.
semoga cepet pulih kembali dan menghasilkan karya karya novel kembali ya 🫶