Destia Ayu Gantari wanita cantik cerdas dan penuh pesona yang hobinya memanah. Tanpa sengaja saat liburan di Jogja dia bertemu pria yang menarik menurutnya yaitu Idrissa Pramudya yang merupakan dosen di kampus yang sama dengan ayahnya.
Idris tak sengaja akan menabrak Tia, saat Tia sedang berjalan di area stasiun. Akhirnya mereka bertemu kembali saat berada di sebuah warung saat sedang sarapan. Mereka semakin dekat seiring waktu sampai akhirnya menikah.
Idris sendiripun merupakan Duda tanpa anak yang sudah bercerai karena dikhianati mantan istirnya tapi Tia belum mengetahui semua itu bahkan sampai mereka menikah.
Saat Idris bertemu wanita masa lalunya Tia mengetahui hal tersebut dari Anggun karyawannya.
Bagaimanakah respon Tia? Apakah akan marah, sedih, kecewa? Atau kepo mungkin? dan ingin cari tahu lebih tentang masa lalu suaminya tersebut dengan hal-hal yang tidak biasa?
Jika ingin tahu terus ikuti kelanjutannya ya guys. Don't forget to keep reading until the end💕
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtf_firiya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Surprise
Apartemen Tia di lantai dua belas itu masih dipenuhi aroma mentega panggang yang kental ketika bel pintu berbunyi secara mendadak. Tia, yang rambutnya diikat asal-asalan dan pipinya terkena coretan tepung terigu, melirik jam dinding—masih pukul sepuluh pagi. Ia tidak merasa membuat janji dengan kurir bahan baku maupun Idris.
Dengan langkah sedikit terseret karena kelelahan setelah memanggang sejak subuh, ia membuka pintu.
"Surprise! Anak Mama sudah jadi pengusaha beneran ya, baunya sampai ke lorong lift!"
Tia tertegun. Di ambang pintu, Ayah dan Ibunya berdiri dengan senyum lebar. Ayah mengenakan kemeja batik santai, sementara Ibu membawa sebuah rantang paper bag besar. Di belakang mereka, sopir pribadi Ayah tampak menjinjing beberapa tas belanjaan berisi bahan-bahan kebutuhan pokok.
"Mama? Papa? Kok nggak bilang-bilang mau mampir?" seru Tia, setengah kaget setengah senang, sambil segera mencium tangan kedua orang tuanya.
"Kalau bilang bukan kejutan namanya," jawab Ayah sambil melangkah masuk, matanya langsung tertuju pada perubahan drastis di ruang tamu Tia.
Ayah Tia berdiri di tengah ruangan, memutar tubuhnya perlahan untuk melihat transformasi apartemen itu. Ruang tamu yang dulunya berisi sofa empuk dan meja kopi kini telah berubah menjadi laboratorium kue yang sangat rapi. Rak-rak besi stainless steel berdiri kokoh, penuh dengan toples-toples cokelat premium dan tepung pilihan.
"Wah, Papa nggak nyangka kamu secepat ini menata semuanya," ujar Ayah dengan nada bangga yang terselubung.
Ia berjalan mendekati jendela, melihat logo Crumbs & Clouds yang tertempel di sana. "Logo ini... kamu yang buat? Bagus, terlihat profesional."
Sementara itu, Ibunya langsung menuju dapur. Ia memeriksa kebersihan meja counter dan mengintip ke dalam oven gas pemberiannya. "Ovennya sudah dipakai, Tia? Mama takut kamu cuma beli pajangan," canda Ibunya.
"Sudah, Ma! Tadi subuh Tia baru selesai batch ketiga. Ini lagi didinginkan sebelum dipacking," jawab Tia sambil menunjukkan deretan brownies yang tertata rapi di rak pendingin.
Ibunya mendekat, menghirup aroma cokelat yang keluar dari loyang-loyang itu. "Harumnya beda. Ini pakai resep yang Mama kasih atau eksperimen sendiri?"
"Eksperimen sendiri, Ma. Tia campur cokelat Jogja yang kita beli kemarin dengan sedikit sea salt supaya rasanya nggak cuma manis, tapi ada 'tendangan' gurihnya. Mama mau coba?"
Ibunya sibuk di dapur mencicipi potongan kecil brownies, Ayah duduk di kursi bar, memperhatikan buku catatan keuangan yang terbuka di atas meja.
"Tia, Papa tadi lihat di bawah banyak mobil mewah parkir. Apartemen ini penghuninya kelas atas semua. Sudah kamu manfaatkan untuk promosi?" tanya Ayahnya dengan nada serius, jiwa bisnisnya mulai keluar.
"Sudah, Pa. Tia sudah titip brosur kecil di resepsionis dan kirim sampel ke beberapa tetangga lantai ini. Responnya bagus banget. Tiga orang sudah pesan buat acara arisan minggu depan," jelas Tia dengan semangat.
Ayah mengangguk-angguk. "Bagus. Bisnis itu bukan cuma soal rasa enak, tapi soal jaringan. Kalau kamu butuh mobil lagi buat kirim pesanan dalam jumlah besar, pakai saja mobil Papa yang di rumah. Sopir Papa bisa bantu kalau kamu kewalahan."
Tia tersenyum haru. "Makasih, Pa. Tapi Tia mau coba kelola sendiri dulu lewat ojek online. Tia mau ngerasain susahnya ngerintis dari nol, kayak yang Papa ceritain dulu pas Papa baru mulai kerja."
Ayah menatap putrinya dengan tatapan yang dalam. "Dulu Papa takut kamu terlalu nyaman jadi karyawan. Tapi setelah liat kamu di sini, di tengah tepung dan loyang ini, Papa sadar kalau kamu memang punya mental petarung. Liburan ke Gunung Kidul itu bener-bener ngerubah kamu ya?"
"Iya, Pa. Di sana Tia belajar kalau jatuh itu biasa, yang luar biasa itu kalau kita berani terbang lagi meskipun tahu rasanya jatuh," jawab Tia mantap.
Ibunya kemudian membuka paper bag yang dibawanya. Aroma daging ayam seketika memenuhi ruangan, bersaing dengan aroma cokelat.
"Ayo makan dulu. Jadi pengusaha boleh, tapi jangan sampai badanmu kurus kering begini cuma karena ngurusin brownies," ujar Ibu sambil menyiapkan piring.
Tia berbinar melihat ibunya ternyata membawa dimsum. Makanan kesukaan dirinya.
Sambil makan bersama di tengah ruang produksi yang baru itu, suasana terasa sangat hangat. Ibu mulai memberikan masukan-masukan praktis.
"Tia, Mama perhatikan wadah gulamu itu kurang besar. Nanti kalau pesanan makin banyak, kamu bakal repot bolak-balik isi ulang. Terus, jangan lupa stok margarin di kulkas bawah, jangan dicampur sama makanan rumah supaya baunya nggak tercampur," saran Ibu dengan ketelitian seorang ibu rumah tangga yang sudah puluhan tahun di dapur.
"Iya, Ma. Tia bakal beli wadah yang lebih besar minggu depan. Oh ya, besok rencananya Idris mau mampir lagi buat bantu packing dan delivery."
Mendengar nama Idris, Ibu dan Ayah saling melirik sambil tersenyum penuh arti. "Idris itu anak baik," kata Ayah. "Dia punya insting pelindung. Kamu beruntung punya teman yang mau nemenin kamu lari ke jurang buat terbang."
Tia tersipu. "Dris itu cuma... ya dia emang begitu, Pa. Dia selalu dukung apa yang Tia mau."
"Ga usah malu-malu gitu, malah kelihatan kalau kamu naksir sama Idris" canda ayahnya.
Tia mendadak tersedak karena perkataan ayahnya apalagi dia sedang memakan dimsum "Ini minum dulu", Tia menerima gelas isi air yang diberikan ibunya lalu meminumnya hingga tandas.
"Apa yang papa bilang tadi benar? Hmm jadi tadi Idris kesini juga ya? Papa juga lihat ada foto Idris sama kamu disana?" Tunjuk ayahnya.
Tia menggaruk tengkuknya yang tak gatal "Hmm bagaimana cara menjelaskannya ya pa, sebenarnya aku juga tidak tahu tapi aku merasa tertarik pada Idris. Entah kenapa saat bersama Idris rasanya nyaman." jawabnya.
"Papa tidak masalah jika kalian dekat begitupun dengan Mama. Malah menurut Papa Idris bahkan lebih baik daripada mantan kamu yang selingkuh itu." Ibunya juga menganggukkan kepalanya tanda menyetujui ucapan sang ayah.
Ibunya mendekat menggenggam tangan Tia "Kami percaya masa depanmu akan cerah sayang. Kamu juga akan mendapatkan laki laki yang lebih baik" tak sadar Tia langsung memeluk ibunya dengan erta begitupun ayahnya yang melihat keduanya dengan mata terharu lalu dia bergabung bersama kedua wanita tercinta dan ikut memeluk juga.
...----------------...
Sebelum pulang, Ayah memberikan sebuah amplop kecil kepada Tia. "Ini bukan modal cuma-cuma. Anggap saja ini investasi awal dari Papa. Kamu pakai buat pasang iklan di media sosial atau beli oven listrik tambahan kalau oven gas Mama sudah nggak cukup. Papa mau liat laporan penjualannya bulan depan."
Tia menerima amplop itu dengan tangan gemetar. "Pa... makasih banyak. Tia janji bakal bikin Papa sama Mama bangga."
"Kami sudah bangga sejak kamu berani menyerahkan surat resign itu, Tia," bisik Ibu sambil memeluknya erat di ambang pintu.
Saat mobil Ayah perlahan meninggalkan area apartemen, Tia kembali ke dalam ruangannya yang sunyi. Namun, kesunyian itu kini terasa berbeda. Ada restu yang mengalir di setiap sudut ruangan. Ia menatap deretan brownies-nya, lalu menatap foto di Gunung Kidul.
Ia mengambil satu brownies, menggigitnya, dan tersenyum. Rasanya benar-benar seperti kemenangan. Jakarta mungkin tetap sama, namun di lantai dua belas ini, sebuah mimpi besar sedang dipanggang dengan api kasih sayang dan keberanian.
apa nanti ga ada kata akan prettt pada waktunya 🤭
mantan ga ada