Bian menjalani kehidupan remajanya dengan sempurna. Ia cewek cantik dan bergaul dengan anak-anak paling populer di sekolah. Belum lagi Theo, cowok paling ganteng dan tajir itu kini berstatus sebagai pacarnya dengan kebucinan tingkat dewa.
Namun tiba-tiba kesempurnaan masa remajanya itu runtuh porak poranda setelah kedua orang tuanya memutuskan untuk bercerai dan bertukar pasangan dengan sepasang suami istri dengan satu anak laki-laki yang juga muncul sebagai guru baru di sekolahnya bernama Saga, cowok cassanova tampan dengan tubuh tinggi kekar idaman para wanita.
Di tengah masalahnya dengan Saga yang obsesif, hubungannya dengan Theo terus merenggang. Alasannya karena Theo selalu mengatakan hal yang sama, 'harus nemenin mama.'
Semakin hari Bian semakin curiga. Hingga ia mengetahui bahwa Theo...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lalalati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Pertama
Tubuh Theo yang bagian atasnya sudah polos tanpa sehelai benang menempel pada tubuh Bian yang juga sudah tak tertutup apa pun. Tubuh Bian berbaring di atas ranjang dengan Theo di atas tubuhnya sambil bibir mereka bercumbu penuh ga i rah.
Perlahan aktivitas itu semakin memanas dan semakin memanas hingga pada akhirnya Theo mengerang di tengah inti tubuhnya yang berbalut benda seperti balon itu berada di dalam inti tubuh Bian.
Kemudian setelah Theo mendapatkan pelepasannya, keduanya pun saling memeluk di bawah selimut dan masih dalam keadaan polos.
"Sakit banget, Yang?" tanya Theo cemas karena hidung Bian yang masih memerah. Bian meringis hingga mengeluarkan air mata saat pertama kali benda milik Theo menembus lubang pribadinya.
"Iya. Aku gak ngerti kenapa Kay bilang ML itu enak? Bagi aku itu sakit banget," ujar Bian seraya meringis.
"Maaf ya gara-gara aku kamu jadi sakit," maaf Theo. Ia mempererat pelukannya, ia bahagia sekaligus sangat merasa bersalah melihat cewek yang paling disayanginya itu malah merasakan sakit seperti ini. "Tapi, aku seneng deh. Berarti ini beneran pertama kali ya kamu ML?"
"Iya dong, Yang. Masa aku bohong, kamu itu pengalaman pertama aku. Makanya, sekarang kamu jangan pernah ninggalin aku. Jangan selingkuh, jangan macem-macem sama cewek lain. Aku udah kasih kamu hal yang paling berharga dari diri aku. Jadi jangan pernah khianatin aku. Ngerti?" gerutu Bian memperingatkan.
Sebetulnya Bian mengatakannya dengan perasaan gundah. Akan sulit baginya menghindar dari Saga apalagi sebentar lagi mereka akan tinggal di bawah satu atap. Janji Bian yang sudah ia ucapkan pada Saga pun tak mungkin ia sepelekan, apalagi ia ingkari.
Ancaman lain Saga ucapkan saat Bian enggan untuk mny usu inya. "Kamu gak mau? Apa kamu mau pacar kamu tahu kamu selingkuh sama kakak? Kalau Kakak bongkar kamu bakal kena banyak masalah. Baik di sekolah, atau pun dalam hubungan kamu sama Theo. Pilih dengan bijak, Bi: kamu mau kehilangan dia? Atau kamu ikutin permainan Kakak?"
Dengan sangat terpaksa Bian melakukan apa yang Saga inginkan. Bagian atas tubuhnya, sudah berhasil disentuh oleh calon kakak sambungnya itu. Hanya masalah waktu sampai Saga benar-benar 'menyentuhnya', karena Saga berkata,"permainan Kakak adalah permainan orang dewasa. Kakak akan lakukan pelan-pelan hingga nanti kita ada di tahap itu. Bersiaplah, adik kecilku yang cantik.'
Maka dari itu, Bian kesampingkan nasihat sang ayah dan melakukannya secepatnya dengan Theo. Ia tak mau Saga semakin merasa menang dengan menjadi pria pertama yang menyentuh Bian.
Bian tahu ia salah, padahal sang ayah sudah sangat mempercayainya. Tapi setidaknya yang mengambil kesuciannya adalah Theo, pacar pertamanya, cowok yang sangat menyayanginya. Lebih baik dari pada direnggut oleh si otak mes um semacam Saga.
"Kamu gak usah khawatir," ujar Theo. "Aku ini milik kamu doang, Yang. Aku bakal kualat kalau khianatin kamu pokoknya. Makasih ya kamu mau lakuin ini sama aku. Kamu jadiin aku yang pertama buat kamu. Aku seneng banget, Yang."
"Aku juga seneng banget, Yang. Walaupun sakit."
"Katanya nanti udah gak bakalan sakit lagi. Cuma yang pertama aja." Theo menenangkan.
"Jadi nanti kita bakal lakuin ini lagi?"
Theo berdeham gugup. "Kalau kamu mau kayak tadi, aku bakal kabulin. Pokoknya terserah kamu. Aku gak akan paksa kamu."
Bian semakin merasa bersalah karena Theo sudah sebaik ini. Padahal di belakang, Bian melakukan sesuatu yang pasti tak akan termaafkan jika Theo tahu.
...***...
Bian tiba di rumahnya pada malam hari. Mobil yang Theo kendarai berhenti di depan pagar rumah.
"Makasih ya, Yang. Aku masuk dulu," pamit Bian.
"Tunggu, Yang." Theo menahan tangan Bian yang baru akan membuka pintu mobil.
"Kenapa?"
"Maaf ya, Yang." Wajah Theo begitu sedih.
"Kamu minta maaf buat apa? Aku bahagia banget, Yang. Jadi kamu gak usah minta maaf lagi, ya?" hibur Bian.
Theo malah menatap wajah Bian dengan muram. 'Bukan tentang itu, Yang. Tapi tentang Mama...' batin Theo.
"Pokoknya liburan nanti kita harus liburan bareng. Janji?"
"Ya udah aku janji. Nanti kita pergi ya," ujar Theo.
Bian tersenyum senang seraya mengangguk semangat. "Sekarang aku masuk, ya?"
"Ya udah. Bye, Sayang."
Kemudian Theo kembali mengendarai mobilnya. Ia begitu enggan untuk pulang. Namun Julia sudah mewanti-wanti Theo untuk cepat pulang. Setelah berputar-putar tak tentu arah, Theo akhirnya pulang setelah Julia meneleponnya.
"Jam segini kenapa baru pulang sih, Sayang," sapa Julia segera. Seperti biasa ia memeluk Theo dan biasanya ia mengecup kedua pipi Theo, kini ia malah memberikan kecupan pada bibir Theo.
Sontak Theo menghindar merasa risih hingga bibirnya. Namun ia masih menjaga sikapnya pada orang yang sudah berjasa merawatnya selama ini.
"Mah, aku ingin bicara sama Mama." Akhirnya Theo memberanikan diri.
"Bicara apa?"
"Aku punya pacar. Aku sangat sayang sama dia, Mah." Theo berharap jika Julia tahu tentang Bian, ia akan berubah pikiran.
"Mama tahu. Bianca 'kan namanya?" sahut Julia dengan santainya. "Mama gak akan ganggu hubungan kamu sama dia. Tapi di rumah..." Diraihnya tangan Theo dan menggenggamnya. "Kamu punya Mama."
Theo segera menarik tangannya. "Maaf, Mah. Tapi semua ini gak seharusnya terjadi. Mama sudah aku anggap sebagai Mama aku. Tolong Mama ngerti, Mama sama aku gak mungkin ada dalam hubungan kayak gitu."
"Mungkin aja, kenapa gak mungkin?" Julia keras kepala.
"Mah, aku ini anak Mama! Selama ini hubungan kita sebagai anak dan orang tua, Mah!" Theo sudah semakin jengah. Mengapa Julia harus berubah seperti ini, ia sangat menyesalinya.
"Sayang, perasaan Mama gak bisa bohong. Kamu perlu tahu, Mama nganggep anak hanya sampai kamu kelas 6 SD. Setelah kamu SMP, Mama udah gak nganggep kamu sebagai putra Mama. Sejak saat itu Mama udah jatuh cinta sama kamu, tapi Mama berusaha untuk nyembunyiin semuanya. Sampai akhirnya umur kamu 17 tahun, kamu udah dianggap dewasa dan legal, barulah Mama bisa ungkapin semua ini."
Julia meraup kedua pipi Theo. "Kamu gak tahu gimana tersiksanya Mama selama ini karena harus berpura-pura."
Theo tercengang mendengarnya. Ia kembali mengingat-ingat interaksinya selama ini dengan Julia. Jadi itu bukan kasih sayang seorang ibu terhadap anaknya? Melainkan...
"Maaf, Mah. Tapi aku tetep gak bisa. Karena udah kayak gini, sepertinya aku udah gak akan bisa tinggal di sini lagi sama Mama. Aku bener-bener gak bisa, Mah. Bagi aku semua ini salah."
Setelah mengatakan itu Theo pun berjalan menuju kamarnya.
"Jadi kamu mau buat Mama marah?"
"Mah! Sadar, Mah! Ini semua salah!" Theo semakin emosi.
"Cinta itu gak bisa kita kendalikan, Theo! Kita gak punya ikatan darah. Kita masih sah-sah aja kalau menjalin hubungan. Fine, kalau gitu mulai sekarang kita bukan lagi orang tua dan anak. Biar gak kagok dan canggung, kamu bisa panggil aku, Julia."
Theo semakin tercengang karena langkah ini yang malah Julia ambil. Theo rasa ia harus pergi untuk sementara waktu agar ibu sambungnya itu bisa berpikir jernih. Maka ia pun tak memberikan tanggapan apa pun dan menaiki tangga.
"Theo, berhenti! Kita masih bicara!" larang Julia namun Theo terus berlalu.
"Aku akan lakukan sesuatu pada Bian kalau kamu pergi dari sini dan menolak aku!"