NovelToon NovelToon
IBU TIRI LUAR BIASA

IBU TIRI LUAR BIASA

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / Ibu Tiri / Ibu Pengganti / Cinta Seiring Waktu / Duda / Cinta Murni
Popularitas:18k
Nilai: 5
Nama Author: YoshuaSatrio

Karena tak tahan dengan desakan keluarga dan masalah yang bertubi menghimpit keluarganya, Sutami(28tahun) menerima pinangan Juragan Waluyo(45tahun), seorang duda kaya yang memiliki seorang putra dan dua putri yang berbeda watak.

Menjadi ibu tiri bukan impian Sutami, tapi demi menyelamatkan kehormatan keluarga dari stigma 'perawan tua pembawa sial', maka pernikahan pun dilangsungkan.

Mampukah Sutami menjalankan perannya sebagai istri sekaligus ibu tiri?
Bagaimana cara Sutami menghapus stigma masyarakat tentang 'ibu tiri jahat?’

Mari berimajinasi bersama. Semua tokoh dan kejadian dalam cerita hanya sebuah karangan. Jika ada kebetulan yang dibetulkan, silahkan disalahkan kebetulannya yang disama-samakan.
Semoga semua berbahagia. —yosh—

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YoshuaSatrio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BERGERAK MENCARI PEMBUKTIAN

Lonceng di pintu cafe berbunyi. Arka masuk dengan langkah malas, wajahnya tampak sangat lelah. Kemeja kerjanya masih rapi, tapi matanya memerah seperti orang yang kurang tidur. Ia duduk di kursi pojok yang paling jauh dari keramaian, menghempaskan tubuhnya dengan kasar.

Belum sempat ia memesan, seorang wanita berpenampilan seksi sudah mendekatinya dengan cepat. Cantik, wangi, dan berpakaian terbuka. Ia langsung duduk di samping Arka.

"Akhirnya kau datang juga setelah berhari-hari menghilang," ujarnya dengan nada manja dan sedikit kesal. Tangannya langsung melingkar di lengan Arka.

Arka menarik napas lelah. Ia menatap lurus ke depan, seolah enggan menatap wanita itu. "Hm, ada banyak hal yang sedang kukerjakan," jawab Arka singkat.

Wanita seksi itu duduk semakin menempel ke sisi tubuh Arka, gelendotan manja. Kepalanya ia sandarkan di bahu Arka. "Jadi, kapan kamu akan pindah ke apartemenku?" bisiknya di telinga Arka. "Apartemenku sudah kosong, Sayang. Aku sudah siapkan semuanya untuk kita."

Rahang Arka mengeras. Ia berusaha menyembunyikan rasa risih yang begitu jelas terlihat di wajahnya, lalu sedikit menggeser tubuhnya, menjauh. "Hm, besok. Tapi aku bersama adikku," ucapnya.

Wanita seksi itu kembali duduk tegak. Ia menatap tak percaya ke arah Arka. Tangan yang tadi melingkar, kini ia terlepas. "Apa maksudmu?" tanyanya dengan nada tinggi.

"Aku terpaksa membawanya, sementara waktu. Kirana akan tinggal bersamaku di apartemen," jelas Arka datar.

"Jadi aku harus bersabar lagi? Kapan kita bisa bermesraan?" protes wanita itu. Wajah cantiknya berubah cemberut.

Arka menoleh, menatap dingin penuh tekanan. "Kau mencintaiku, kan? Ada banyak wanita yang ingin menjadi kekasihku, tapi aku tak pernah berpaling darimu, aku harap kau tahu maksudku," ucap Arka. Kalimatnya terdengar seperti sebuah ancaman yang dibungkus rayuan.

Wanita itu terdiam, menggigit bibirnya. "Baiklah-baiklah. Aku akan bersabar, asal kau jangan meninggalkan aku," jawabnya kembali mencoba bersikap manja.

Arka melirik jam tangannya, menghela napas lagi.

"Aku harus pergi sekarang. Ada panggilan dari kantor. Kontainer di pelabuhan ada masalah. Aku harus cek malam ini juga," ucapnya, membuat alasan yang relevan dan tidak bisa dibantah.

Tanpa menunggu jawaban, Arka berdiri, meletakkan beberapa lembar uang di atas meja untuk kopinya yang bahkan belum sempat diantar, lalu pergi meninggalkan cafe dengan langkah cepat.

Wanita itu hanya bisa menatap kepergiannya dengan kesal.

Di luar cafe, di tempat parkir yang sepi, Arka masuk ke dalam mobilnya. Ia tidak langsung menyalakan mesin.

Wajah lelahnya yang tadi ia tahan di dalam cafe kini terlihat jelas. Ia bersandar di setir kemudinya, menghela napas dalam-dalam, berkali-kali, dengan kasar. Tangannya mengepal dan memukul setir mobilnya.

"Sialan! Karena mu aku harus berpura-pura menyukai wanita itu! Kamu harus membayar untuk semua ini, wanita peniru ibuku!" umpat Arka dengan suara tertahan. Umpatan itu ia tujukan untuk Sutami.

Bagi Arka, semua kekacauan ini, semua kepura-puraan yang harus ia lakukan, semua keputusan berat untuk membawa Kirana pergi, sumbernya hanya satu... kehadiran Sutami di dalam rumah.

..........

Rumah besar itu sudah sepi. Dara sudah tertidur pulas di atas ranjangnya. Napasnya teratur, wajahnya damai sambil memeluk boneka kelinci.

Sutami menarik kursi belajar kecil milik Dara dan membawanya ke dekat jendela. Ia membuka sedikit tirai jendela, lalu menatap langit malam yang gelap tanpa bintang. Tubuhnya lemas, seolah semua energinya sudah habis terkuras setelah melewati hari yang begitu berat.

Pagi tadi, ia dituduh sebagai ibu tiri jahat, perusak rumah tangga, dan pengejar harta di depan banyak orang. Siangnya ketika ia pulang ke rumah orang tuanya dengan tujuan ingin mengurangi sesak di dadanya, ia justru mendapatkan perlakuan yang tidak kalah menyakitkan dari Kuswara, adik kandungnya sendiri. Adik yang ia selamatkan dari penjara justru menekan dan menjadikannya alat.

Semua pandangan buruk itu menumpuk di dalam dadanya.

Sutami menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Bahunya mulai bergetar. Isak tangis yang sejak siang ia tahan, akhirnya pecah malam itu. Ia menangis sendirian, tanpa suara, agar tidak membangunkan Dara. Air matanya mengalir deras membasahi kedua pipinya.

Betapa tertekannya ia. Ia merasa menjadi wanita paling gagal di dunia.

Di tengah isak tangisnya yang sunyi, ponselnya yang ada di atas meja belajar bergetar.

Nama di layar... Bu Wati. Bu Wati adalah sahabat baik sekaligus seniornya, orang yang paling mengerti dirinya.

Sutami mengusap air matanya dengan kasar dan mengangkat panggilan itu.

"Halo, Bu..." sapanya dengan suara serak.

"Hai, Tami. Kamu di mana? Sudah tidur?" suara Bu Wati di seberang terdengar hangat dan khawatir.

"Malam juga Bu. Belum... Saya masih di kamar Dara."

"Entah kenapa sejak kedatanganmu ke sekolah mengajukan cuti tempo hari, hatiku tidak tenang. Apa kau baik-baik saja? Suaramu terdengar nggak nyaman gitu," tanya Bu Wati langsung.

Sutami tak segera menjawab. Ia diam beberapa saat. Ia menimbang harus menjawab apa. Jika ia bercerita, ia takut menambah beban orang lain. Jika ia berbohong, dadanya terasa semakin sesak.

Di seberang, Bu Wati mendengar desahan berat Sutami. Desahan panjang orang yang kelelahan memikul beban. Dari situ Bu Wati paham, juniornya itu sedang tidak baik-baik saja.

"Tami, kau bisa keluar sebentar untuk ngopi bersamaku, mumpung belum terlalu malam. Jangan lupa izin dengan suamimu ya. Kita bertemu di warung kopi depan alun-alun saja. Aku yang traktir," ajak Bu Wati.

Sutami agak ragu. Ia menatap Dara yang sedang tidur.

'Jika benar dugaanku bahwa Mbak Rini adalah informan penting untuk ibunya Riko, apa lagi fitnah yang akan dia tujukan untukku jika aku keluar malam-malam,' gumam Sutami dalam hati. Pikiran tentang Bu Lita yang mengaku punya sumber terpercaya masih menghantui pikirannya.

"Bagaimana, Tami?" Bu Wati terus mendesak dan membujuk.

Beban di hati Sutami sangatlah penuh. Ia butuh bicara dengan seseorang yang netral.

Sutami melirik jam dinding, 'Hm, masih sempat, baru jam 8'. Akhirnya ia memutuskan. "Baik, Bu. Saya akan ke sana, tapi tunggu sebentar," jawabnya.

Sutami mematikan telepon dan berjalan ke dapur, menemui mbak Rini yang sedang mencuci piring.

"Mbak Rini, saya titip Dara sebentar ya. Saya mau keluar sebentar bertemu teman. Tidak lama. Tolong jaga Dara, jangan sampai terbangun," kata Sutami.

Mbak Rini tersenyum dan mengangguk. "Siap, Bu. Ibu hati-hati."

'Kurasa dengan begitu aku bisa mencari cara untuk menangkap basah Mbak Rini jika memang dia adalah pemilik mulut jahat itu!' batin Sutami.

Sutami pergi dengan taksi. Tentu setelah mengirim pesan singkat pada Waluyo sekedar sebagai pemberitahuan, bukan izin. [✉️Pak, saya keluar sebentar bertemu Bu Wati di warung kopi alun-alun. Dara sudah tidur, saya titipkan ke Mbak Rini.]

Taksi berjalan pelan meninggalkan halaman rumah.

Baru saja sampai di tikungan jalan, Sutami tiba-tiba berkata. "Pak Sopir, ada sesuatu yang ketinggalan, bisakah anda tunggu di sini sebentar?"

"Saya bisa putar balik, Bu, kita kembali saja ke rumah," tawar sopir taksi.

"Tidak perlu, jangan. Biar saya lari saja. Soalnya kalau anak saya yang tidur mendengar suara mobil mendekat ke rumah, nanti dia terbangun," ujar Sutami dengan alasan yang tepat.

Sopir taksi itu mengangguk dan menurut.

Sutami turun dan berlari kecil kembali ke rumah. Ia tidak masuk lewat pintu depan, melainkan lewat pintu samping dapur yang memang tidak pernah dikunci.

Rumah sepi. Lampu kamar Dara masih temaram.

Sutami mengintip ke dalam kamar Dara dari celah pintu. Ia melihat Mbak Rini sedang fokus melipat baju kering milik Dara di atas karpet. Wajahnya biasa saja, tidak terlihat mencurigakan, dan Dara masih tertidur pulas.

Lalu Sutami berjingkat ke dapur, melongok ke tempat yang biasanya digunakan Mbak Rini untuk mengisi daya ponselnya, di atas kulkas. Dan benar saja, ponsel itu ada di sana, sedang terisi daya.

Jantung Sutami berdebar sangat kencang. Tepat saat Sutami penasaran, ingin melihat log panggilan di ponsel Mbak Rini, ponsel itu menyala.

Layar menyala terang di dapur yang remang. Ada nama kontak yang muncul di sana, disertai foto.

—BU LITA—

Sutami terbelalak tak percaya. Darahnya seketika terasa berhenti mengalir.

Dugaannya benar!

Belum sempat ia menyentuh ponsel itu, terdengar langkah kaki Mbak Rini berlari kecil dari kamar Dara menuju dapur.

Sutami panik. Dengan gerakan cepat, ia bersembunyi di belakang kulkas, di tempat yang sedikit gelap dan tertutup oleh bayangan.

Detik berikutnya, Mbak Rini masuk ke dapur.

Ia melihat ponselnya yang menyala.

Dengan napas yang sedikit terengah, Mbak Rini mengangkat panggilan telepon itu.

"Halo... Bu Lita?"

...****************...

Bersambung....

1
Zainuddin -
tambah donk pendek banget🔥🔥🔥
✍️⃞⃟𝑹𝑨 Mama Mia
kok bab nya jadi pendek2 sih? kan jadi gak kenyang
✍️⃞⃟𝑹𝑨 Mama Mia: ya kerasa lah 🤣
total 2 replies
sutiasih kasih
sumber kehncuran arka....
nikmati racun yg ditebar oleh perempuan yg km anggp malaikat arka😅😅😅
sutiasih kasih
hbis ini lnjut ke kntor polisi....
msa pelaku bebas berkeliaran...
biar si lita lngsung di pecat jdi istri pak joko....
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Bersiaplah Bu Lita 🤣
yosh—: gembel aja apa cukup? bagaimana kalau dibuat....😂
total 3 replies
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
betul 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
sama Kirana
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
ketahuan bohongnya 🤣
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
betul, bahaya tuh😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
lantai apa ini
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
sudah terjadi 🥺
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Rasain ga bisa kabur 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
menunjuk tajam
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
rasain 🤣
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
betul laporin aja biar kapok 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
langit mendung
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Mengani apaan 🤔
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
dengerin tuh 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
setuju, pergi yg jauh bikin pusing aja 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
betul 😏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!