NovelToon NovelToon
Gadis Cantik Di Arena Pertarungan

Gadis Cantik Di Arena Pertarungan

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: R251Aje

Terjebak dalam utang dan tidak memiliki jalan keluar, dia terpaksa memasuki arena pertarungan ilegal demi mendapatkan hadiah uang yang cukup untuk bertahan hidup. Bagi orang lain, arena itu adalah tempat kematian. Tetapi bagi Aira, arena hanyalah tempat mencari nafkah. Selama ada uang dan masih bernafas, dia bersedia bertarung dan tidak menyerah.

Dia tidak mengenal kata cinta tapi tiga pria tampan tanpa sengaja menempel dan ingin memilikinya. Tapi Aira tidak mudah ditakhlukkan, hanya uang yang bisa membuatnya patuh walau cuma sebentar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R251Aje, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2 Pria Tampan yang Susah Mati

Raka tertawa lagi. “Kamu aneh. Tapi... aku suka.”

Aira berhenti sejenak, lalu menoleh sedikit. “Kalau kamu suka, bayar lebih mahal lain kali. Saya tidak butuh pujian. Saya butuh uang.”

Dia melanjutkan langkahnya menuju jalan setapak yang gelap. Di belakang, Raka masih berdiri di samping mobil sport-nya, menatap punggung Aira dengan senyum yang semakin lebar.

Sementara itu, di dalam saku jaket Aira, uang sepuluh juta terasa hangat. Dia menghitung cepat di kepala. "Utang minggu ini lunas. Beras untuk dua minggu. Mi instan rasa ayam untuk sebulan. Dan… mungkin saya bisa beli sepatu bot baru yang tidak bocor."

Dia tersenyum tipis, hidup memang sederhana. Selama ada uang dan masih bernafas, dia akan bertahan dan tidak menyerah. Urusan pria tampan yang hampir mati di depan matanya, itu urusan belakangan.

Aira membuka pintu kamar kost-nya dengan hati-hati. Engselnya berderit seperti biasa. Bau lembap dan mi instan langsung menyambutnya. Kamar itu hanya berisi kasur tipis, lemari plastik retak, dan satu meja kecil yang penuh tumpukan utang tertulis di kertas sobekan.

Dia mengunci pintu, menyandarkan punggung ke dinding, lalu mengeluarkan seluruh uang dari saku jaket. Delapan juta dari bandar, ditambah sepuluh juta dari Raka. Total delapan belas juta.

Aira menghitung pelan, bibirnya bergerak tanpa suara. “Utang ke Bu Lastri… empat juta. Utang ke tukang bakso yang suka meminjamkan uang… dua juta. Sewa kamar bulan ini… satu setengah juta. Sisa… sepuluh setengah juta.”

Dia tersenyum tipis dalam tiga bulan terakhir, akhirnya hari ini dia bisa makan nasi dengan lauk selain telur dan mi. Bahkan mungkin bisa membeli sepatu bot baru yang tidak bocor saat hujan. Tiba-tiba ketukan di pintu membuatnya membeku. “Aira! Aku tahu kamu di dalam!”

Suara itu familiar dan terlalu merdu untuk orang yang baru saja hampir dipukuli di tempat parkir gudang. Aira mengerutkan kening. “Pergi.”

“Aku bawa makanan!”

Diam sejenak. “…Jenis apa?”

“Nasi padang. Rendang, ayam pop, dan telur dadar. Plus es teh manis dua gelas.”

Aira menghela napas panjang. Dia membuka pintu hanya selebar sepuluh sentimeter. Raka berdiri di luar dengan senyum yang terlalu cerah untuk jam dua pagi. Di tangannya ada dua kantong plastik besar dari restoran mahal.

“Bagaimana kamu tahu alamatku?” tanya Aira datar.

“Aku tanya ke bandar arena. Dia bilang kamu selalu pulang ke arah sini. Lalu aku tanya ke penjaga kost. Mudah.”

“Bandar itu akan kubunuh besok.”

Raka tertawa. “Boleh masuk? Makanan ini masih panas.”

Aira menatap kantong plastik itu selama tiga detik penuh. Bau rendang sudah merayap masuk ke hidungnya. Perutnya yang kosong langsung berkhianat dengan bunyi “kruuk” yang sangat jelas.

Raka tersenyum semakin lebar. “Kamu lapar.”

“Bukan. Itu suara tikus.”

“Di perutmu?”

Aira membuka pintu lebih lebar dan merebut salah satu kantong. “Masuk. Tapi jangan duduk di kasur. Kotor.”

Raka masuk dengan langkah santai, seolah ini bukan kamar kost sempit yang cat temboknya mengelupas. Dia meletakkan kantong kedua di meja, lalu mengeluarkan kotak-kotak makanan. Aroma rempah langsung memenuhi ruangan.

Aira duduk di lantai, membuka kotak rendang, dan langsung menyuap tanpa basa-basi. Matanya sedikit membelalak. “Mahal ini.”

“Iya. Tiga ratus ribu.”

“Pemborosan.”

“Aku kaya.”

“Masih pemborosan.”

Raka duduk bersila di seberangnya, ikut makan sambil sesekali mencuri pandang. Aira tidak peduli. Dia fokus pada rendangnya. Setelah beberapa suapan, dia angkat bicara tanpa menoleh.

“Kamu datang ke sini untuk apa?”

“Ingin bilang terima kasih. Dan… ingin kenalan lebih jauh.”

“Sudah. Nama kamu Raka. Pembalap. Kaya. Suka ngebut. Sudah cukup.”

Raka menggeleng. “Aku ingin tahu tentang kamu.”

“Tidak perlu.”

“Kenapa?”

“Karena saya tidak menarik. Saya hanya orang yang butuh uang.”

Raka tersenyum miring. “Justru itu yang bikin kamu menarik. Wanita lain biasanya langsung minta foto bareng atau minta nomor. Kamu malah minta bayaran setelah menyelamatkan nyawaku.”

Aira menelan suapan terakhir ayam pop. “Karena nyawa kamu memang berharga. Kalau yang saya selamatkan orang miskin, saya tidak akan minta apa-apa. Paling cuma minta dibelikan mi.”

Raka tertawa sampai batuk. “Kamu serius ya?”

“Sangat.”

Mereka makan dalam diam beberapa saat. Aira sudah menghabiskan hampir semua lauk, sementara Raka hanya makan sedikit karena lebih sibuk memperhatikan. Tiba-tiba suara motor mendekat dari luar. Bukan hanya satu tapi ada beberapa buah.

Aira langsung menegakkan tubuh. Instingnya yang sudah terasah bertahun-tahun berteriak. Dia berdiri, berjalan ke jendela, dan mengintip dari celah gorden sobek.

Tiga motor berhenti di depan kost. Enam orang turun. Dua di antaranya adalah pria yang tadi dia hajar di parkir gudang. Mereka membawa pipa besi dan golok.

“Teman-temanmu,” kata Aira datar.

Raka berdiri cepat. “Mereka menyusul sampai sini?”

“Jelas. Kamu orang terkenal. Dan kamu bikin mereka malu.”

Aira sudah memakai sepatu botnya kembali. Dia mengambil pisau lipat kecil dari bawah kasur lalu memasukkannya ke saku. Raka menatapnya dengan mata membelalak. “Kamu mau keluar?”

“Mereka datang ke kost saya. Kalau saya biarkan, Bu Lastri akan marah karena rusuh. Lalu dia akan menaikkan sewa. Saya tidak mau sewa naik.”

“Aku bisa telepon polisi—”

“Mereka terlalu merepotkan.”

Aira membuka pintu dan melangkah keluar dengan tenang. Raka menyusul di belakang, wajahnya tegang. Keenam pria itu sudah berdiri di halaman sempit. Yang paling depan—pria bertato leher—menyeringai. “Cewek gila. Mau bayar utang malu kamu sekarang?”

Aira berdiri di anak tangga. “Utang malu tidak bisa dibayar pakai uang. Tapi kalau kalian mau, saya bisa bayar pakai tulang yang patah.”

Pria itu mengayunkan pipa besi. Aira melangkah ke samping, menangkap pergelangan tangannya, lalu membantingnya ke tembok kost. Bunyi “brak” keras. Pria kedua menyerang dari kiri. Aira menendang lututnya, lalu meninju tulang rusuknya dua kali cepat. Dia jatuh sambil mengaduh.

Raka berdiri di belakang, siap membantu, tapi Aira sudah bergerak terlalu cepat. Dalam waktu kurang dari satu menit, empat orang sudah terkapar. Dua sisanya ragu-ragu.

Aira menatap mereka dengan wajah datar. “Kalau kalian masih ingin lanjut, saya tidak tanggung jawab kalau kalian tidak bisa naik motor pulang.”

Kedua pria itu saling berpandangan, lalu berlari ke motor mereka dan kabur sambil membawa teman-teman yang terluka. Aira menghela napas dan mengusap debu di jaketnya. “Repot.”

Raka mendekat, matanya masih penuh kekaguman. “Kamu… kamu gila.”

“Bukan gila. Hanya praktis.”

Raka tertawa pelan, lalu tiba-tiba serius. “Aira. Biar aku bantu. Aku bisa kasih kamu pekerjaan yang lebih aman. Atau… uang bulanan. Kamu tidak perlu lagi bertarung di tempat kotor itu.”

Aira menoleh, menatapnya lurus. “Kamu mau kasih saya uang setiap bulan?”

“Iya.”

“Tanpa syarat?” Tanya Aira memastikan.

1
falea sezi
lanjut
falea sezi
🤣🤣🤣🤣 raka cemburu
falea sezi
suka cwek Badas gini 🤣🤣 sat sett gk menye 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!