Norman Turner mengira Grace Wills, wanita yang mudah dibodohi, sayangnya ia tidak memahami istrinya dengan baik.
Grace Wills malah memilih langkah yang paling berbeda saat mengetahui suaminya mendua.
Apa yang dilakukan Grace Wills? Penasaran, kepoin yuk ceritanya ...
Untuk tahu info update, follow IG: @nana_vinli
Diusahakan update setiap hari, 1 sampai 3 bab.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ocean Na Vinli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sinclair
Sontak perkataan Grace membuat Allison, Ruby dan Norman ketar-ketir. Julian mulai melipat tangan di dada sambil melirik mereka dengan dingin sekarang.
Wajah Edmund pun tiba-tiba berubah. Lelaki tua itu tiba-tiba berdiri dari kursinya. Tatapannya terlihat tajam, seolah ada bara merah yang menyala di kedua matanya.
Tanpa mengatakan apa pun, Edmund melangkah mendekati Norman.
Plak!
Satu tamparan keras mendarat di pipi Norman.
Norman sangat terkejut. Dia memegang pipinya sambil menatap Edmund tidak percaya. “Kakek!"
Namun Edmund tidak berhenti.
Plak!
Kali ini Allison yang mendapat tamparan.
“Pa!” seru Allison sambil memegang pipinya.
Ruby yang melihat ibunya ditampar langsung mundur.
"Kakek, kenapa aku ditampar?"
Plak!
Tamparan ketiga mendarat di pipi Ruby.
Grace hanya diam memperhatikan semua itu.
Edmund kemudian menunjuk Norman, Allison, dan Ruby.
"Kalian bertiga ikut aku ke ruang tengah sekarang!" perintah Edmund seketika.
Dengan terpaksa mereka akhirnya berjalan mengikuti Edmund. Meninggalkan Grace dan Julian di taman itu memandang punggung mereka.
Beberapa saat kemudian terdengar suara ribut dari dalam rumah.
"Berani sekali kau mengatai Grace mandul! Kau itu juga perempuan!" seru Edmund.
“Papa, dengarkan penjelasan aku dulu!”
“Aku tidak mau dengar!”
Disusul suara benda yang bergeser dan suara tamparan lainnya.
Grace tetap duduk di taman bersama pria asing yang sejak tadi hanya diam.
Grace sesekali melirik ke arahnya. Dia masih belum tahu banyak tentang pria itu.
Julian memandang Grace. "Namaku Julian Sinclair."
Seolah bisa membaca isi pikiran Grace, Julian tiba-tiba membuka suara.
Grace tersenyum canggung. "Namaku Grace Wills, Tuan Sinclair."
Julian membalas dengan sebuah anggukan kecil. "Kau sudah sering diperlakukan seperti itu?"
Grace tidak langsung menjawab. Dia hanya tersenyum tipis. Grace tidak mungkin menceritakan masalah keluarganya kepada seseorang yang baru dikenalnya.
"Tuan, sepertinya aku harus pergi. Ada beberapa urusan di butik yang harus kuselesaikan," ujar Grace sambil berdiri.
Julian mengangguk pelan.
"Aku juga akan pergi. Kebetulan aku ada urusan juga. Mau pergi bersama aku?"
Grace tersenyum tipis lalu menggeleng.
"Terima kasih, tapi aku bisa naik taksi sendiri. Oh ya Tuan, bisakah kau menyampaikan pesan kepada Tuan Edmund. Katakan padanya aku berterima kasih atas hidangan pagi ini."
Julian mengangguk lagi sambil beranjak dari kursi. Setelah itu Grace melangkah pergi meninggalkan taman.
Julian masih berdiri di tempatnya. Pandangannya mengikuti Grace sampai wanita itu benar-benar menghilang dari hadapannya.
Beberapa menit kemudian, Norman, Allison, dan Ruby kembali ke taman.
Namun, mereka tidak melihat Grace di sana.
"Di mana Grace?" Norman langsung bertanya.
"Dia sudah pergi, katanya ada urusan di butik," jawab Julian.
Julian kemudian menoleh ke arah pemilik rumah. Edmund yang baru keluar dari ruang tengah langsung menghampiri Julian.
"Dia menitipkan salam untuk Tuan Edmund dan berterima kasih atas sarapannya."
Edmund mengangguk kecil.
"Aku juga harus pergi,” lanjut Julian. “Ada urusan yang harus kuselesaikan."
Mendengar hal itu, Edmund terlihat mulai panik. "Kau mau pergi sekarang?"
"Ya."
"Biasanya kau baru pulang saat sore atau malam hari, Julian."
Julian hanya tersenyum tipis. "Nanti kita bertemu lagi, Edmund."
Edmund mengangguk, meski raut wajahnya terlihat sedikit tidak tenang.
Edmund pun mengantar kepergian Julian sampai ke teras depan, diikuti Norman, Allison dan Ruby. Julian segera menaiki mobil limosin setelah dibukakan pintu oleh bodyguardnya. Kendaraan mewah tersebut pun mulai meninggalkan mansion Turner.
Setelah mobil Julian benar-benar pergi, Edmund langsung menatap tajam ke arah Allison dan Ruby.
Keduanya saling pandang.
Mereka tahu rencana yang dibuat Edmund mungkin tidak berjalan sesuai harapan.
Edmund kemudian menatap Norman. "Kau ini ikuti saja sandiwara tadi. Aku tidak mau namaku tercoreng di depan Julian."
Norman mengerutkan kening. "Jadi, semua tadi hanya sandiwara?"
"Tentu saja!" bentak Edmund. "Aku tidak mungkin benar-benar menghukum kalian hanya karena masalah seperti ini."
"Tapi Kakek sampai menampar kami," protes Norman. Sebab tamparan sang kakek terasa sangat pedas.
"Ya supaya terlihat meyakinkan lah bodoh!" seru Edmund sambil menghela napas kesal.
"Kakek tidak mau Julian menganggap keluarga Turner tidak bisa menjaga nama baik. Kalau sampai dia berubah pikiran, bagaimana dengan urusan bisnis yang sedang kami bicarakan hah?!" sambungnya.
Julian Sinclair memiliki kekuasaan yang bahkan lebih besar daripada Edmund. Keluarga Sinclair merupakan salah satu keluarga paling berpengaruh di Amerika Serikat, terutama di California. Hubungan mereka dengan orang-orang penting di pemerintahan dan dunia bisnis juga sangat luas.
Julian bukan hanya seorang pebisnis handal, tetapi juga keturunan bangsawan. Bisnis keluarganya bergerak di berbagai bidang. Bahkan, sebagian besar properti bernilai tinggi yang tersebar di California berada di bawah kepemilikan keluarga Sinclair. Karena kekayaan dan pengaruhnya yang begitu besar, nama keluarga Sinclair sudah tidak asing lagi di kalangan orang-orang berkuasa di Amerika.
Mendengar hal itu, Norman tak berani protes.
Edmund menunjuk Norman lagi.
"Semua ini juga terjadi karena ulahmu. Kalau kau tidak membuat masalah, kita tidak perlu melakukan semua ini!"
Norman mengepalkan tangan, tetapi memilih diam.
Tak lama kemudian, Norman pun pamit hendak berkerja dan saat di luar mansion, ponselnya tiba-tiba berdering.
Norman segera mengambil ponsel. Pemandangan pertama yang dilihatnya.
Nomor tidak dikenal.
Norman terpaksa mengangkat telepon itu dengan wajah kesal.
"Siapa?"
Suara di seberang terdengar tenang. "Siapkan uang dua ratus miliar."
Wajah Norman seketika berubah menjadi merah. "Kurang ajar kau! Berhenti bermain-main denganku! Karena ulahmu namaku tercoreng!"
Terdengar tawa rendah diujung sana. "Aku tidak peduli, aku juga tidak main-main Norman. Itu juga karena perbuatanmu karena tidak menuruti perintahku kemarin untuk membawa uang. Jadi, bawalah uang 200 miliar ke caffe belmont jam tujuh nanti malam."
Norman lantas menggeram kesal. "Sebenarnya kau ini maunya apa?"
"Bukankah sudah jelas, uang."
Norman mengepalkan tangan dengan erat. "Kemarin kau meminta seratus miliar. Sekarang dua ratus miliar!?”
"Kau benar, tapi jangan salah kan aku. Karena kau sendiri yang menaikkan jumlahnya."
Norman dilema dan mendadak terdiam.
"Aku masih punya banyak video tentangmu. Kalau kau tidak memberikan aku uang, video berikutnya akan tersebar."
Norman terlihat panik.
"Dan aku tahu tentang anakmu dengan Mona," lanjutnya.
Mata Norman seketika melebar. "Sial—"
"Jadi siapkan uang 200 miliar taruh di cafe belmont pukul tujuh malam, tanpa kurang sedikit pun, jika tidak videomu lainnya akan segera menyusul, bye!"
Sebelum mendengar balasan, si penelepon sudah terlebih dahulu mengakhiri panggilan.
Norman langsung meraup wajahnya dengan kasar dan frustrasi.
🌺🌺🌺
Malam harinya, Norman tiba di Cafe Belmont. Suasana di dalam cafe itu terlihat cukup ramai. Dalam keadaan terpaksa dia membawa uang yang diminta ke dalam kafe.
Sesuai instruksi, Norman meletakkan uang tersebut di tempat yang telah ditentukan, lalu kembali ke mobilnya. Sebenarnya, dia bisa saja langsung pergi. Namun, rasa penasaran membuat Norman memilih untuk menunggu.
Beberapa lama kemudian, Norman memperhatikan keadaan di sekitar kafe.
Selang beberapa menit seseorang masuk menuju Cafe Belmont dengan gerak-gerik yang mencurigakan. Ia memakai pakaian, kacamata, topi dan mantel berwarna serba hitam.
Norman tetap diam di dalam mobil, mengamati setiap langkah orang itu melalui kaca kafe. Si peneror itu berjalan menuju tempat yang telah ditentukan. Setelah memastikan keadaan sekitar, dia mengambil sebuah tas yang di dalamnya terdapat uang milik Norman kemudian melangkah cepat menuju pintu kafe.
Norman menyipitkan mata dan memperhatikan dengan seksama. Postur tubuhnya terlihat familiar. Sepatu hak tinggi yang dikenakannya juga menarik perhatian Norman.
Norman mengingat sesuatu sekarang.
"Ternyata kau ..."
Akan bahagia klo video perselingkuhan Edmund juga juga viral 🤣
Mona yang haus status Turner hingga tak sadar bahwa Mona membuka jalan untuk keruntuhan Turner sekeluarga 🤣