NovelToon NovelToon
KAMU ADALAH MEMPELAI KU

KAMU ADALAH MEMPELAI KU

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: AME author

Dibuang oleh keluarga, dikhianati oleh orang yang dicintai, dan merasa tidak memiliki siapa-siapa.

Laura mengira hidupnya telah berakhir.
Sampai seorang pria asing datang dan berkata.“Kamu adalah mempelai ku.”

Laura tidak tahu siapa pria itu.
Yang dia tahu, sejak pertemuan malam itu, hidupnya tak akan pernah sama lagi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AME author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35 : KABAR YANG MULAI MENYEBAR

Beberapa hari setelah kendala integrasi antara Varell Corporation dan Exco mencuat ke permukaan, atmosfer di ranah bisnis perlahan mulai berubah. Awalnya, gangguan tersebut hanya dianggap sebagai keterlambatan teknis biasa pada beberapa proyek. Namun, seiring berjalannya waktu, mata para pelaku industri mulai tertuju pada dinamika baru ini.

Nama Varell Corporation kian sering berhembus dalam perbincangan para pengusaha. Bukan karena pencapaian prestasi baru, melainkan akibat keberanian keputusan mereka melepaskan diri dari naungan Valdren International.

Pagi itu, Adrian memimpin rapat terbatas bersama beberapa direktur di ruang rapat utama. Di atas meja kayu panjang, tersusun rapi lembaran laporan keuangan, progres proyek, serta beberapa surat pertanyaan dari investor.

Adrian membuka salah satu dokumen, mencermati deretan angka di dalamnya sebelum mendongak.

“Bagaimana kondisi terkini dari proyek-proyek yang kita tangani bersama Exco?” tanya Adrian.

Direktur Teknologi yang duduk di seberangnya segera memutar posisi tabletnya. “Sebagian besar sudah kembali beroperasi, Pak Adrian. Hanya saja, beberapa divisi masih mengalami sedikit keterlambatan akibat proses harmonisasi sistem.”

Adrian mengangguk-angguk pelan. “Berapa lama waktu yang dibutuhkan sampai seluruh sistem benar-benar stabil?”

“Jika tidak ada gangguan mendadak lainnya, estimasi kami sekitar dua minggu, Pak.”

“Bagus. Pastikan tim teknis kita terus mengawal perkembangannya secara intensif,” tegas Adrian. “Jangan biarkan celah sekecil apa pun membesar menjadi krisis baru.”

“Siap, Pak. Pesan dimengerti,” jawab sang direktur patuh.

Salah satu direktur yang duduk di sudut meja kemudian angkat bicara dengan raut khawatir. “Ada satu hal lagi yang perlu Bapak ketahui.”

Adrian memindahkan pandangannya. “Poin apa itu?”

“Rumor mengenai perubahan skema kerja sama kita mulai berhembus di lingkaran investor, Pak.”

Adrian terdiam sejenak, mengelus dagunya. “Sudah sejauh mana kabar itu beredar?”

“Belum sampai tahap masif, Pak. Namun, beberapa petinggi perusahaan mitra mulai mempertanyakan alasan di balik tiadanya keterlibatan Valdren International dalam proyek-proyek strategis baru kita.”

Adrian menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Ia sebenarnya sudah mengantisipasi situasi ini. Ketika perusahaan raksasa sekelas Valdren International mulai menarik diri, riak rumor di kalangan pelaku pasar memang tak terelakkan.

“Ingatkan seluruh jajaran untuk tidak memberikan spekulasi atau komentar sembarangan,” perintah Adrian dengan nada datar namun mengikat. “Jika ada pihak luar yang bertanya, sampaikan secara diplomatis bahwa kontrak lama tetap berjalan profesional, sementara Varell sedang melakukan ekspansi kemitraan baru.”

“Baik, Pak Adrian,” sahut direktur tersebut.

Adrian menyapu pandangan ke sekeliling meja. “Satu hal lagi. Aku tidak ingin ada yang membawa-bawa nama Hero Valdren dalam riak masalah ini. Keputusan bisnis murni keputusan bisnis. Jangan mencampuradukkannya dengan sentimen pribadi.”

Para direktur mengangguk paham.

Namun, sebelum rapat dibubarkan, pintu ruang rapat terdorong terbuka. Seorang staf dari divisi Humas masuk dengan langkah tergesa-gesa.

“Mohon maaf memotong rapatnya, Pak Adrian. Ada perkembangan baru yang mendesak,” ujar staf itu dengan napas sedikit memburu.

Adrian menoleh tenang. “Ada apa?”

Staf itu meletakkan sebuah tablet di meja depan Adrian. “Beberapa portal berita bisnis baru saja merilis artikel mengenai pergeseran hubungan kerja sama antara Varell Corporation dan Valdren International.”

Ruangan rapat mendadak hening.

Adrian meraih tablet tersebut dan membaca baris demi baris berita yang disajikan. Meskipun judul yang diangkat tidak terang-terangan menyudutkan Varell, substansinya cukup memancing spekulasi negatif bagi publik.

Adrian mengembuskan napas panjang, merapikan letak kacamatanya.

“Mulai detik ini, tim Humas harus memperketat koordinasi,” instruksi Adrian seraya mengembalikan tablet tersebut. “Jangan biarkan pihak luar membuat narasi atau kesimpulan liar mereka sendiri.”

“Baik, Pak. Segera kami tangani,” janji staf itu sebelum berpamitan keluar.

Adrian mengalihkan pandangannya kembali kepada jajaran direksi. “Rapat selesai. Silakan kembali ke divisi masing-masing dan pastikan semua lini proyek berjalan sesuai target.”

Satu per satu direktur bangkit dan meninggalkan ruangan.

Setelah pintu rapat tertutup rapat, Adrian tetap terduduk sendirian di kursinya. Pandangannya menatap kosong pada tumpukan berkas di hadapannya dengan pikiran yang saling bergolak.

Varell Corporation memang belum goyah. Namun, ia tak bisa memungkiri bahwa harga dari sebuah keberanian kini mulai menagih konsekuensi nyata. Dan kabar itu... kini telah resmi menyebar.

Di tempat terpisah, perusahaan besar Valdren International pun mulai menerima laporan serupa mengenai dinamika yang beredar di pasaran.

Hero sedang menekuni dokumen di balik meja kerjanya ketika Valen melangkah masuk membawakan sebuah map berkas.

“Tuan, ada pembaharuan terkait desas-desus mengenai Varell,” ujar Valen seraya meletakkan berkas tersebut di meja Hero.

Hero mengangkat wajahnya dari lembaran kertas. “Media mulai mengangkat beritanya?”

“Benar, Tuan. Beberapa portal analisis bisnis mulai menyoroti keputusan Varell yang mengalihkan porsi proyek mereka kepada Exco.”

Hero meraih dokumen tersebut, membaca sekilas isinya dengan raut tenang. “Apakah ada artikel yang menyudutkan Valdren atau menuduh kita melakukan tekanan politik bisnis?”

“Sampai saat ini belum ada yang berani menulis demikian, Tuan. Narasi yang beredar murni seputar spekulasi masa depan hubungan bisnis kedua perusahaan.”

Hero mengatupkan dokumen tersebut. “Kalau begitu, kita tidak perlu mengambil tindakan apa pun.”

Valen menaikkan sebelah alisnya, sedikit terkejut. “Tidak perlu merilis pernyataan resmi untuk klarifikasi, Tuan?”

“Sama sekali tidak perlu,” jawab Hero lugas. “Makin banyak kita merespons hal-hal yang tidak penting, makin besar celah bagi publik untuk berasumsi bahwa memang sedang ada krisis.”

Valen tersenyum tipis, memahami kalkulasi dingin atasannya. “Baik, Tuan. Jadi arahan Anda adalah membiarkan berita itu reda dengan sendirinya?”

“Selama tidak ada fitnah yang merugikan nama baik Valdren, biarkan saja berita itu bergulir,” pungkasi Hero.

“Pengertian, Tuan. Saya akan menginstruksikan tim komunikasi untuk tetap siaga memantau,” jawab Valen seraya mengambil kembali berkasnya.

Hero kembali memfokuskan perhatian pada pekerjaannya. Namun, tak berselang lama, ponsel pribadinya di atas meja bergetar halus.

dia memungut ponsel itu dan melihat notifikasi pesan singkat dari Laura.

Laura: Kamu lagi sibuk banget enggak?

Seketika itu juga, raut kaku di wajah Hero melunak. Sebuah senyuman tipis yang hangat terukir jelas di bibirnya.

Hero mengetik balasan dengan lincah.

Hero: Sama sekali tidak. Ada apa?

Tak butuh waktu lama, ponselnya kembali bergetar.

Laura: Hari ini aku mau pulang lebih awal.

Hero: Bagus. Aku yang jemput.

Laura: Tidak usah kalau kamu masih banyak urusan kantor.

Hero: Aku bilang, aku yang jemput.

Hero mengunci layar ponselnya lalu memasukkannya ke saku jas, siap-siap berdiri.

Valen menahan tawa seraya memperhatikan gerakan atasannya. “Tuan?”

“Ya?” sahut Hero datar.

“Apakah agenda rapat internal kita sore ini resmi dibatalkan?” tanya Valen memancing.

Hero meraih jasnya yang menggantung. “Untuk hari ini, ya.”

Valen menaikkan alisnya jenaka. “Pasti karena pesan dari Nona Laura, kan?”

Hero melirik asistennya itu sekilas dengan wajah datar. “Dia bilang ingin pulang lebih awal.”

Tawa halus lolos dari bibir Valen. “Sudah saya duga jawabannya. Selamat jalan, Tuan.”

Sore merayap hangat ketika Laura melangkah keluar dari gedung fakultas bersama Diana. Beberapa mahasiswa tampak berlalu-lalang di halaman kampus, sementara yang lain berbondong-bondong menuju area parkir.

Diana yang berjalan di samping Laura menyenggol bahunya pelan, memperhatikan bagaimana sahabatnya itu berulang kali melirik layar ponsel.

“Kamu sedang menunggu pesan dari Hero, ya?” goda Diana dengan kerlingan nakal.

Laura refleks mengunci layar ponselnya dan menoleh cepat. “Enggak, kok!”

Diana tertawa kecil. “Perasaan aku belum sebut nama siapa-siapa, lho. Kenapa langsung panik begitu?”

Laura menghela napas panjang, menepuk dahi seraya merapikan letak tasnya. “Diana, tolong deh... jangan mulai godain.”

“Aku serius, Laura,” kekeh Diana. “Kamu benar-benar sudah banyak berubah belakangan ini.”

“Berubah dalam hal apa?” tanya Laura heran.

“Dulu, setiap kali Hero mau datang menjemput, muka kamu selalu kelihatan tegang dan pengin cepat-cepat kabur. Tapi sekarang? Mata kamu dari tadi melirik ke arah gerbang terus,” tutur Diana blak-blakan.

Langkah Laura terhenti sejenak. Kata-kata Diana tepat menembus benaknya.

Ia sendiri mulai menyadari perubahan halus dalam dirinya. Dahulu, kehadiran Hero selalu mendatangkan rasa canggung dan cemas. Namun kini, ketika pria itu belum menunjukkan tanda-tanda kedatangan, ada bagian kecil di dalam hatinya yang diam-diam bertanya-tanya kapan sosok itu akan muncul.

“Aku... cuma sudah terbiasa saja dengan kehadiran dia,” sahut Laura pelan, menundukkan pandangan.

Diana tersenyum hangat, menepuk pelan bahu Laura. “Mungkin itu memang titik awal dari sesuatu yang baru, kan?”

Laura mengangkat wajahnya, mengulas senyum tipis yang ragu. “Aku belum tahu pasti, Diana.”

“Kamu tidak perlu memaksakan diri untuk tahu jawabannya sekarang,” hibur Diana lembut. “Yang terpenting, kamu tidak merasa tertekan lagi saat bersamanya.”

Laura terdiam.

Kata tidak tertekan atau lebih tepatnya nyaman memang menjadi perasaan yang paling sering hadir di hatinya belakangan ini. Belum bisa disebut cinta, dan ia pun belum sepenuhnya memahami muara perasaannya sendiri. Namun, rasa nyaman itu nyata adanya.

Tak berapa lama kemudian, sebuah sedan hitam mewah berhenti secara halus tepat di depan gerbang utama kampus.

Laura langsung mengenali kendaraan tersebut.

Pintu pengemudi terbuka dan Hero melangkah keluar. Sosoknya yang tegap dan berwibawa seketika memikat perhatian beberapa mahasiswa di sekitar gerbang, namun tatapan Hero murni tertuju lurus pada Laura.

“Sudah selesai kelasnya?” tanya Hero lembut begitu berdiri di hadapan Laura.

Laura mengulas senyum tipis. “Sudah kok.”

Tanpa meminta izin, Hero secara alami ulur tangan dan mengambil alih tas tebal yang dibawa Laura. “Kalau begitu, ayo kita pulang.”

Laura memperhatikan tasnya yang kini berpindah tangan. “Sebenarnya aku bisa bawa tas itu sendiri, Hero.”

“Aku tahu kamu bisa,” sahut Hero santai seraya memutar tubuh menuju mobil. “Tapi aku yang ingin membawakannya untukmu.”

Mendengar jawaban yang mutlak itu, Laura hanya bisa menahan senyum kecilnya.

Diana yang berdiri tak jauh dari mereka melambaikan tangan. “Hati-hati di jalan ya, Laura!”

Laura menoleh seraya membalas lambaian tangan sahabatnya. “Iya, Diana. Kamu juga hati-hati!”

Hero membukakan pintu mobil untuk Laura. Setelah Laura masuk dengan nyaman, Hero memutari kendaraan, duduk di kursi pengemudi, dan melajukan sedannya membelah kepadatan kota.

Beberapa menit berlalu dalam keheningan yang tenang di dalam kabin mobil. Laura memutar tubuhnya sedikit, menatap profil samping Hero yang sedang fokus mengemudi.

“Hero.”

“Ya?” sahut Hero lembut tanpa mengalihkan pandangan dari jalanan.

“Urusan di perusahaanmu... sudah selesai?” tanya Laura ragu.

Hero melirik Laura sekilas lewat cermin tengah. “Belum sepenuhnya.”

Kening Laura berkerut, terpancar rasa cemas yang tak bisa disembunyikan. “Beneran? Masalahnya rumit, ya?”

Hero mengulas senyum tipis yang menenangkan. “Tidak perlu khawatir. Semua masih berada dalam kendaliku.”

Laura mengamati raut wajah Hero sejenak sebelum berbisik pelan, “Kalau kamu memang sedang banyak pikiran atau pekerjaan, jangan terlalu memaksakan diri, ya.”

Hero sempat tertegun sejenak. Kalimat sederhana itu kembali memberikan kehangatan luar biasa yang menjalar ke seluruh dadanya.

“Aku tidak akan memaksakan diri,” jawab Hero tulus sembari tersenyum manis ke arah Laura.

“Janji?” kejar Laura memastikan.

Hero mengangguk mantap. “Janji.”

Laura kembali menatap ke luar jendela dengan perasaan yang lebih lega. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa perhatian-perhatian kecil yang ia tunjukkan secara spontan telah membuat hari-hari Hero terasa jauh lebih berarti.

Sementara itu, di balik tirai dunia bisnis, desas-desus mengenai keretakan hubungan antara Varell Corporation dan Valdren International kian berhembus kencang.

Belum ada deklarasi persaingan terbuka. Belum ada kejutan bisnis yang mematikan. Namun, makin banyak pasang mata yang kini mengawasi pergerakan kedua perusahaan tersebut.

Bersambung.....

1
Xlyzy
siapa yang ga bingung pagi pagi udah di suguhi adegan begini mana di layani bak nyonya besar lagi
Xlyzy
Langsung garcep di selidiki seluk beluk nya Laura bah, si hero ini emang sat set e
Miu.Nuha
aku tau nih pasti mau dikenalin sama jodohnya khaann, ah kakek bisa aja ☺
Miu.Nuha
baru kusenang kamu punya pacar, seenggaknya bisa diajak berbagi sedih 🥲 eh malah makin nyesek...
Kartika Candra Buwana
hero itu kekasihnya dari masa depan ya
Prayy: tidak,, waktu kecil mereka pernah ketemu dan Laura lupa dengan Hero
total 1 replies
Kartika Candra Buwana
hero sayang banget sama kamu
Arni Arlinawati Pratiwi💃
waaahhh cowo suci dong ini, ok.. laura stay aja dulu.. heroo, emak masih liatin kamu ok! 4mata.. 🗿
Arni Arlinawati Pratiwi💃
kebayang.. emak meleyot, romantis banget sih pasangan orang.. suami emak mana ya, emak mauuuu.. ehem, 🗿/Curse/
Arni Arlinawati Pratiwi💃: buset.. mo di apakan nama emak yang comel nak..🗿 jangan deh, tiba tiba novel kamu end kamu yang repot! 🙄🗿
total 3 replies
Myz Pena
semoga kamu benar2 menepati janji mu jangan membuat laura menderita cukup ortunya dan author yang membuat laura menderita 😤👍
Arni Arlinawati Pratiwi💃
gak tau lagi ah emak.. di bilang rezeki nomplok iya tapi tetep harus waspada, karena kalo mreka jahat lau, abis sudah.. 🗿
Myz Pena
akan melamar laura dan menjadikannya mempelaiku.. begitu nggak sih.. maaf mendahului 🤭
Prayy: di situ belum mau melar karena Laura belum bisa kasih cinta nya ke Hero dan Hero udh anggap Laura tunangan nya
total 1 replies
Arni Arlinawati Pratiwi💃
sayang ku heroo.. gimna anak emak lau mau percaya, kalian ketemu baru banget itu.. tiba tiba di jadikan mempelai kan syok emak! tapi beda cerita nya deh.. kalo beneran langsung di pinang hari itu juga.. brrti kamu orang yang udah tau laura lama, biasa nya! 🗿
Prayy: benar Mak mereka udh lama kenal waktu kecil tapi Laura lupa
total 1 replies
Myz Pena
udah benar ke kakeknya... ortunya mah nggak usah di perdulikan.. ortu kayak gitu durhaka bange ke anak sendiri 😤
ginevra
tiba-tiba banget nih
ginevra
yok kabur aja... aku mendukungmu
ginevra
kebangetan memang keluarganya...
ginevra
sebenarnya bukan hanya karena gaun. itu pemicunya... tapi emosi Laura sudah tertahan sejak lama...tertumpuk dan siap meledak
ginevra
jangan bilang kamu juga bakalan membela si Dinda. sadar nggak sih pak, kalau cara parenting yang seperti ini itu salah. kalian hanya akan menghasilkan seorang monster
ginevra
kelakuan biasa pembully... suka playing victim. ck ck ck... nggak dewasa bangeg
Putry Chan
yukian sampai kaget liat sahabat nya ini udh punya seseorang yang dia sukai sedangkan Hero yang dia pikirkan cuman Laura dan cepetan mau pulang mau liat Laura btw Hero populer bgt ya di kalangan wanita TPI wajar sih kan dia kaya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!