NovelToon NovelToon
Pengantin Paksa Sang Bratva

Pengantin Paksa Sang Bratva

Status: tamat
Genre:Nikahkontrak / Mafia / Penikahan Kontrak / Nikah Kontrak / Obsesi / Enemy to Lovers / Tamat
Popularitas:112
Nilai: 5
Nama Author: Mary Mendes

"Berjanjilah kau tidak akan pernah mencintai siapa pun. Cinta adalah kelemahan terbesar yang ada."

Kalimat itu diucapkan ibunya di malam terakhir sebelum wanita itu mati bersimbah darah. Sejak hari itu, Nikolai Ivanov menjadikan janji tersebut sebagai hukum. Kini, di usia tiga puluh delapan, ia menguasai kegelapan Bratva dengan tangan dingin — tak kenal ampun, tak kenal cinta.

Sampai sebuah aliansi memaksanya menikahi Helena Lombardi.

Delapan belas tahun, putri keluarga mafia Italia, dan cukup naif untuk percaya bahwa ia bisa mencairkan pria sedingin es. Helena datang dari negeri hangat menuju istana bersalju yang terasa lebih seperti sangkar emas — ditinggalkan, diabaikan, dan diperlakukan seolah sekadar bagian dari sebuah kontrak.

Namun gadis yang mereka kira lemah ini tidak menangis lalu menyerah. Ia melawan dengan caranya sendiri: dengan keheningan yang berbahaya, dengan keberanian yang menantang, dengan hati yang menolak padam.

Dan tanpa disadari sang penguasa Bratva, dinding es yang ia bangun selama tiga puluh dua tahun mulai retak — satu tatapan, satu sentuhan, satu malam pada satu waktu.

Tapi di dunia tempat cinta dianggap kelemahan, jatuh cinta bisa berarti kematian. Musuh selalu mengintai. Pengkhianatan bersembunyi di tempat yang paling tak terduga. Dan ketika masa lalu berdarah Nikolai datang menagih, ia harus memilih: mempertahankan janji lama pada mendiang ibunya… atau mempertaruhkan segalanya demi satu-satunya perempuan yang berhasil merenggut hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mary Mendes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17 — Helena

Nikolai

Aku mencoba menyelesaikan beberapa urusan lewat telepon, instruksi singkat, suara pelan, semua yang bisa dilakukan dari jauh. Tetapi aku tak beranjak dari sisi Helena. Sedetik pun tidak. Aku tetap di kursi sebelah ranjang, waspada pada setiap suara, setiap perubahan dalam napasnya.

Ketika kulihat ia bergerak, langsung kumatikan telepon.

Helena terbangun perlahan. Ia mengerang pelan, seakan tubuhnya masih berusaha memahami di mana ia berada. Ia duduk hati-hati, gerakannya lambat, tertahan rasa sakit. Ketika tatapan kami bertemu, kulihat rasa terkejut masih tersimpan di matanya. Ketakutan itu belum sepenuhnya hilang.

"Bagaimana…" suaranya keluar lemah. "Bagaimana kau menemukanku?"

Aku mencondongkan tubuh ke depan, menopang siku di lutut, menjaga nada suara tetap tenang, tegas. Aku ingin ia percaya.

"Aku merasakannya," kataku, sederhana. "Dan aku pergi mencarimu."

Ia mengamatiku dalam diam, mencoba menerka apakah itu kebenaran atau sekadar hiburan. Kutahan tatapanku, tanpa berpaling.

"Aku akan selalu menemukanmu, Helena." Kulanjutkan. "Selalu."

Kulihat sesuatu berubah di wajahnya. Ketakutan masih ada, tetapi kini bercampur dengan sesuatu yang lebih rapuh… dan berbahaya. Kepercayaan.

Aku menarik napas dalam sebelum bicara. Aku tak ingin membuatnya takut, tetapi aku juga tak bisa menyembunyikan apa pun.

"Helena…" kataku dengan tenang. "Kita perlu ke rumah sakit. Merontgen pergelangan kakimu. Dokter mengira keseleonya cukup parah."

Ia mengangguk perlahan, masih setengah linglung. Lalu ditariknya selimut dengan hati-hati dan ia menatap kakinya sendiri. Pergelangan kakinya bengkak, membiru keunguan. Kulihat rahangnya menegang melihatnya.

Ia mengangkat pandangan, mengamati pakaian yang dikenakannya. Air mukanya berubah, bingung.

"Siapa…" ia menelan ludah. "Siapa yang mengganti pakaianku?"

Kutahan tatapan, tanpa berpaling, tanpa berbohong.

"Aku," jawabku, sederhana.

Helena langsung merona. Semburat merah menjalar di wajahnya, mengkhianati kekalutan pikiran yang coba disembunyikannya.

Aku mendekat perlahan.

"Ayo ke rumah sakit, Helena," kataku dengan tenang, tanpa ruang untuk berdebat.

Ia ragu sesaat, tetapi tak membantah. Aku membungkuk dan mengangkatnya ke dalam pelukanku dengan hati-hati, merasakan tubuhnya masih rapuh, terlalu ringan untuk apa yang baru saja dihadapinya. Ia tak berkata apa-apa selama kubawa ke mobil, hanya menyandarkan tangan di bahuku, pandangannya kosong menembus jendela sepanjang perjalanan.

Di rumah sakit, semuanya berlangsung cepat. Rontgen, pertanyaan-pertanyaan, cahaya yang terlalu terang, bau antiseptik. Aku terus di sisinya, memperhatikan setiap ekspresi di wajahnya.

Dokter kembali membawa hasil pemeriksaan.

"Ini keseleo," katanya. "Menyakitkan, tetapi tidak ada patah tulang."

Kurasakan udara kembali mengisi paru-paruku.

Pergelangan kakinya dibalut kaku, terlindungi. Ia mengamati semuanya dalam diam, serius, seakan berusaha merebut kembali kendali yang hilang di salju tadi.

Ketika dokter bertanya soal alat bantu jalan, Helena menjawab lebih dulu dariku.

"Tongkat."

Aku menatapnya, terkejut.

"Tak perlu," kataku pelan. "Aku akan membantumu."

Ia mengangkat wajah, matanya penuh tekad meski letih.

"Aku tak mau bergantung padamu, Nikolai."

Kata-katanya tidak kasar, tetapi tegas. Dan itu lebih menyakitkan daripada tuduhan apa pun.

Aku mengangguk perlahan.

"Baiklah," jawabku. "Tetapi aku akan tetap ada di sisimu."

Ia menerima tongkat itu ketika perawat menyerahkannya, mencoba menopang tubuh dengan hati-hati. Setiap gerakan menuntut usaha, tetapi ia bersikeras. Penuh kebanggaan. Kuat dengan caranya sendiri.

Aku mengamatinya dalam diam.

Ia tak mau bergantung padaku.

Tetapi aku tahu, suka atau tidak, aku tak akan berhenti berada di sana untuknya.

Di mobil, dalam perjalanan pulang, keheningan dipecahkan oleh ponselku yang bergetar di dasbor. Panggilan video. Kulirik layarnya. Romeo.

Kuangkat.

Wajahnya langsung muncul, serius, tegang. Ia tak menunggu lama untuk bicara.

"Nikolai… aku dengar apa yang terjadi."

Bahkan sebelum aku menjawab, kutangkap tatapannya yang cemas, nyaris putus asa.

"Ia baik-baik saja?" tanyanya. "Bagaimana di rumah sakit?"

"Ia sudah lepas dari bahaya," jawabku dengan tegas. "Hanya keseleo. Kakinya dibalut. Ia perlu istirahat."

Kulihat kelegaan menyapu wajahnya, meski tak sepenuhnya.

"Boleh aku bicara dengannya?"

Aku mengangguk tanpa ragu. Kusodorkan ponsel itu pada Helena.

"Ayahmu."

Ia membenahi posisinya di kursi, menarik napas dalam sebelum mengambil alat itu. Ketika ia melihat wajah ayahnya di layar, matanya melembut.

"Papa…"

Suaranya keluar lebih lemah dari yang ia inginkan. Ayahnya bicara cepat, menanyakan semuanya sekaligus, ingin tahu apakah ia kesakitan, apakah ia kedinginan, apakah ia dirawat dengan baik. Helena menjawab dengan sabar, berusaha menenangkannya, mengatakan bahwa ia aman, bahwa itu hanya sebuah kejutan kecil.

Sembari menyetir, kudengarkan percakapan itu dalam diam. Nada suara ayahnya sarat rasa bersalah, rasa takut. Nada suara Helena lembut, penuh perlindungan — seakan dialah yang sedang menjaga sang ayah, bukan sebaliknya.

"Jangan pernah lagi lakukan ini padaku," kata ayahnya. "Kau bisa saja mati."

Helena menelan ludah.

"Aku tahu…" jawabnya. "Maafkan aku."

Kugenggam setir lebih erat. Setiap kata terasa lebih berat dari seharusnya.

"Nikolai merawatku," ia menambahkan, setelah sesaat hening. "Ia menyelamatkanku."

Dari seberang layar, pria itu menatapku. Tatapannya berubah. Bukan bermusuhan. Menilai. Dan, untuk sekejap, penuh rasa syukur.

"Terima kasih," katanya, serius. "Karena tidak membiarkannya sendirian."

"Ia tidak pernah sendirian, sedetik pun."

Sambungan berakhir tak lama kemudian. Helena mengembalikan ponsel, wajahnya letih, tetapi tenang. Kuletakkan alat itu di samping dan terus menyetir.

Aku tak berkata apa-apa.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!