NovelToon NovelToon
Detak Jantung Di Balik Jas Putih

Detak Jantung Di Balik Jas Putih

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mengubah Takdir / Dokter
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Sabia Sky

Menjadi korban perundungan dan anak broken home membuat Ardelia Aira Safira berharap kehidupan barunya di SMA Bangsa Indonesia berjalan tenang. Namun, segalanya berubah saat ia bertemu kembali dengan dr. Arkanza Dirgantara dokter muda dingin, tampan, sekaligus sahabat dari kakak iparnya.

​Berawal dari insiden yang menyelamatkan harga dirinya, Aira perlahan melihat luka masa lalu di balik sikap kaku sang dokter. Dengan kepolosan dan keberaniannya, Aira nekat mengejar Arkan. Namun bagi Arkan, perbedaan usia dan status Aira sebagai adik ipar sahabatnya adalah batas yang tak boleh dilanggar. Puncaknya, Arkan secara tegas menolak Aira serta menghancurkan hati gadis itu seketika.

​Namun, ketika Aira benar-benar memilih mundur dan menghilang, keheningan justru menyadarkan Arkan bahwa hidupnya yang monoton terasa hampa. Di antara dinding kaku rumah sakit dan riuhnya masa SMA, akankah Arkan tetap berpegang pada logika, atau menyerah pada hatinya yang mendadak kacau?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabia Sky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Batas Dingin dan Kesalahpahaman di Etalase Kaca

Di dalam ruang kerja bernuansa putih yang menghadap langsung ke arah hiruk-pikuk jalanan kota, atmosfer mendadak membeku. Seorang pria dengan kematangan usia dan karisma yang kuat duduk tenang di atas kursi. Kedua kakinya tersilang rapi, sementara sepasang lengannya terlipat rapat di depan dada. Manik matanya yang tajam menatap lurus, menghunjam dua sosok yang kini duduk berhadapan di depannya.

​"Jadi, sejak kapan kalian mulai menjalin hubungan di belakang saya?" tanya Reyhan tanpa basa-basi. Nada suaranya rendah, namun sarat akan tekanan interogasi.

​Aira menunduk dalam, meremas ujung rok sekolahnya dengan jemari yang gemetar. Meskipun telah bertahun-tahun hidup satu atap dan mengenal watak sang kakak, ia tahu tidak akan ada celah untuk lolos dari situasi ini. Terlebih lagi, ia baru saja tertangkap basah melakukan kebohongan publik beberapa menit lalu.

​Di sebelahnya, Arkan duduk dengan posisi tegak yang kaku. Kemeja putihnya yang digulung rapi hingga ke siku tampak sedikit kusut. Pria berkacamata itu sesekali memejamkan mata dan mengembuskan napas pendek melalui hidung sebuah gestur pertahanan yang menandakan bahwa ia teramat tidak menyukai keterlibatan emosional ini.

​"Masih belum ada yang berniat untuk jujur?" desak Reyhan, memecah keheningan yang mencekik.

​"Kami tidak melakukan apa-apa, Bang," sahut Aira memberanikan diri. Ia mendongak kelabakan, menatap langsung mata kakaknya.

​"Abang tidak bisa memercayai ucapanmu begitu saja, Aira. Kamu sudah pandai bersandiwara. Sama seperti beberapa menit lalu, saat kamu mengatakan sedang berada di dalam angkot menuju rumah," sindir Reyhan dengan nada tegas yang tak terbantahkan.

​Aira kembali mengunci mulutnya. Ia memeluk erat tas ransel di pangkuannya, tidak berani lagi membalas karena tahu emosi kakaknya sudah berada di ambang batas akibat kebohongannya yang kekanak-kanakan.

​"Lalu bagaimana dengan Anda, Dokter Arkan? Apakah Anda juga berniat membantu pasangan muda Anda ini untuk terus bersandiwara?" tanya Reyhan, kini mengalihkan perimeter intimidasi kepada Arkan.

​Arkan terdiam sejenak. Ia menundukkan kepala untuk mengumpulkan ketenangan, sebelum akhirnya mendongak dengan raut wajah yang sepenuhnya datar dan profesional. Tatapannya berserobok langsung dengan manik mata Reyhan yang menuntut kejelasan.

​"Saya tidak memiliki hubungan emosional atau komitmen apa pun dengan adik Anda, Bang. Saya bahkan sama sekali tidak mengetahui bahwa dia akan datang ke rumah sakit ini sore ini," jelas Arkan. Suaranya terdengar dingin, lugas, dan tanpa keraguan sedikit pun.

​Reyhan menyunggingkan senyum sinis yang tipis, menggelengkan kepalanya perlahan seolah sangsi dengan pembelaan tersebut.

​"Lalu, untuk apa kamu datang ke mari, Aira? Bukankah Abang sudah memperingatkanmu berkali-kali untuk tidak mengganggu Dokter Arkan?" cecar Reyhan, kembali menyudutkan adiknya.

​"Aira ke sini hanya untuk mengembalikan kemeja milik Dokter Arkan yang kemarin dipinjamkan, Bang. Kemarin pakaian Aira kotor, dan beliau menolong Aira. Itu saja," jawab Aira jujur dengan suara yang mencicit ketakutan.

​Melihat gurat ketakutan yang nyata di wajah adiknya, sorot mata Reyhan melunak sejenak. Ingatannya berputar pada masa saat Aira sempat dirawat di rumah sakit ini akibat insiden jatuh tempo hari. Di sanalah titik awal ketertarikan adiknya bermula, dan seharusnya ia sudah bertindak lebih tegas sejak awal.

​"Dokter Arkan, saya bertanya sebagai seorang kakak. Apakah Anda memiliki sedikit saja perasaan khusus terhadap Aira?" tanya Reyhan dengan nada yang bergeser menjadi lebih serius.

​Arkan mengerutkan kening, merasa tidak nyaman dengan pertanyaan personal yang dilontarkan di area kerjanya. Ia sempat melirik sekilas ke arah Aira yang berada di sampingnya gadis itu kini kembali menunduk dengan bibir yang melengkung cemberut.

​"Saya tidak pernah dan tidak akan memiliki perasaan apa pun terhadap Aira. Pertemuan kami murni ketidaksengajaan. Kami bahkan tidak pernah menjalin komunikasi di luar keperluan medis, baik melalui media sosial maupun secara langsung," tegas Arkan, menegaskan batas perimeter yang sangat jelas.

​Aira merasakan rongga dadanya mendadak sesak. Entah mengapa, kalimat tegas yang meluncur dari bibir Arkan terasa bagaikan hantaman telak yang memicu rasa perih di ulu hatinya. Mengingat bagaimana pria itu kerap mengantarnya pulang, dan bahkan mengajaknya makan bersama beberapa saat lalu, penolakan mentah-mentah ini terasa begitu tidak adil baginya.

​"Kamu mendengar sendiri penuturannya, Aira?" Reyhan bangkit dari duduknya, menatap sang adik namun sorot matanya tetap mengunci Arkan. "Dokter Arkan sudah menyatakan bahwa dia tidak menaruh ketertarikan padamu. Jadi, berhentilah bersikap centil dan jangan pernah menginjakkan kakimu di ruangan ini lagi."

​Aira yang terlanjur patah hati dan dirundung kekesalan luar biasa langsung berdiri sentak. Saat manik matanya berserobok dengan mata dingin Arkan untuk sekian detik, ia memberikan tatapan paling sengit yang ia miliki. Jika saja matanya bisa memancarkan sinar laser, mungkin tubuh tegap dokter di hadapannya itu sudah hangus menjadi abu.

​Tanpa mengucapkan sepatah kata pun atau berpamitan, Aira menghentakkan kakinya dan berjalan cepat keluar dari ruangan, meninggalkan dua pria dewasa tersebut.

​"Dokter, apakah ucapanmu yang barusan itu sepenuhnya jujur? Kamu benar-benar tidak memiliki ketertarikan pada adik saya?" bisik Reyhan pelan saat mereka berdua berjalan menuju pintu keluar.

​Arkan hanya menggelengkan kepala sekali, mempertegas posisinya tanpa keraguan.

​Melihat keseriusan dan ketegasan di wajah sang dokter, Reyhan akhirnya menarik napas lega. Ia memilih untuk tidak memperpanjang urusan. Bagaimanapun, adalah hak mutlak Arkan untuk menentukan kepada siapa hatinya berlabuh. Reyhan hanya tidak ingin ego remajanya adiknya hancur lebih dalam.

​"Saya meminta maaf yang sebesar-besarnya atas kelakuan Aira yang kerap merepotkanmu beberapa waktu terakhir ini. Ini adalah kali pertama dia merasakan apa yang disebut jatuh cinta. Di usianya yang masih SMA, emosinya masih labil dan perasaannya mudah berubah. Tugas saya sebagai kakaknya hanya memastikan dia tidak melangkah terlalu jauh dan terluka," tutur Reyhan sembari menepuk bahu Arkan pelan.

​"Tidak apa-apa, Bang. Saya sangat memakluminya," sahut Arkan tenang. Pria itu mengangguk samar sebelum akhirnya Reyhan berjalan cepat menyusul langkah Aira yang sudah menjauh di lorong rumah sakit.

𓍯 𓍯 𓍯 𓍯 𓍯 𓍯 𓍯 𓍯 𓍯 𓍯 𓍯 𓍯𓍯 𓍯

​Pasca insiden penolakan yang membekas di ruang kerja Arkan beberapa hari lalu, atmosfer di kamar Aira berubah total. Kamar yang biasanya berisik itu kini tampak berantakan.

​Buku-buku novel favoritnya teronggok tak beraturan di atas lantai, bersanding dengan gumpalan-gumpalan tisu putih yang berserakan sisa dari perjuangannya menghapus air mata dan cairan hidung yang tak kunjung berhenti mengalir sejak sore.

​"Sudahlah, Aira. Jangan menangis terus. Semua itu sudah jalan ceritanya, kamu tidak bisa memaksa sutradara untuk membuat akhir yang bahagia," hibur Zara yang sejak dua jam lalu setia menemani sahabatnya di dalam kamar.

​"Tapi aku tidak terima, Zara! Masa di bagian akhir perpisahan mereka harus tragis seperti itu? Lagipula, kenapa kamu harus merekomendasikan drama Korea dengan sad ending yang bikin dada sesak sampai ke ulu hati begini, sih?!" protes Aira di sela-sela tangisnya yang kembali pecah.

​Sore ini, Zara sengaja berkunjung ke rumah Aira dengan misi menghibur sahabatnya. Ia membawa laptop yang penuh dengan unduhan drama terbaru hasil memanfaatkan fasilitas wi-fi gratis di sekolah saat jam istirahat tadi. Namun, ia tidak menyangka jika Aira akan menghayati jalan cerita sedalam ini. Sejak menit-menit menuju klimaks film, Aira sudah menangis tersedu-sedu, dan bahkan setelah layar laptop menggelap, tangisnya justru semakin menjadi-jadi.

​"Pokoknya aku tidak mau tahu, Zara! Kamu harus bertanggung jawab karena sudah membuat mataku bengkak begini. Aku tidak rela tokoh utamanya menderita!" rengek Aira dengan suara sengau.

​Zara tertawa geli melihat ekspresi dramatis sahabatnya. Ia mengulurkan sisa tisu baru ke depan wajah Aira. "Cup, cup, cup... Anak manis jangan menangis lagi, ya. Nanti Tuan Putri belikan es krim rasa cokelat di depan kompleks, mau?"

​Sembari membersihkan hidungnya dengan tisu, Aira mengangguk cepat tanda setuju. Hal yang paling disukai Zara dari Aira adalah kepolosannya; gadis itu selalu menumpahkan emosinya secara jujur tanpa ada yang ditutupi.

​"Susah memang kalau punya hati selembut ibu peri. Menonton tayangan sedih sedikit saja langsung membuat air mata terkuras habis," gumam Aira dengan nada yang dibuat-buat puitis.

​Zara yang tengah bersiap menutup layar laptopnya langsung memutar bola mata malas. Sejak kapan ada ibu peri yang kelakuannya seadanya dan gemar menjahili orang seperti Aira? Ia tentu tidak sudi menyamakan sahabatnya itu dengan makhluk suci berwujud anggun tersebut.

​"Sudah ya, aku mau pamit pulang dulu. Ini sudah hampir magrib, aku takut diculik wewe gombel di jalan," gurau Zara sambil mengemas barang-barangnya ke dalam tas.

​"Memangnya sejak kapan wewe gombel berniat menculik kembarannya sendiri sesama kuntilanak?" balas Aira ketus, melemparkan gumpalan tisu bekas ke arah Zara.

​"Wah, terima kasih banyak atas pujian tingginya! Memang benar, aku ini titisan makhluk halus. Hati-hati saja nanti malam, mungkin ada yang akan mengetuk kaca kamarmu sambil tertawa hihihi," balas Zara menakut-nakuti sebelum melangkah ke pintu.

​"Zara!"

​"Hadir!"

​"Awas kamu, ya! Besok di sekolah akan aku jodohkan kamu dengan Panji!" ancam Aira sengit.

​"Oh, tentu saja! Tolong sampaikan pada Panji, aku meminta mas kawin berupa pembangunan seribu candi dalam waktu satu malam. Bye-bye, Ibu Peri!" seloroh Zara diiringi tawa renyah sebelum bayangannya menghilang di balik pintu kamar.

​Aira melempar bantal sofanya ke arah pintu yang tertutup, namun sudut bibirnya akhirnya mengukir senyum. Kehadiran Zara sore ini benar-benar tepat waktu. Setidaknya, tumpahan air mata yang ia keluarkan untuk drama Korea tersebut berhasil mengalihkan rasa sesak dan kekesalan akibat penolakan Arkan dan kemarahan Reyhan beberapa hari yang lalu.

𓍯 𓍯 𓍯 𓍯 𓍯 𓍯 𓍯 𓍯 𓍯 𓍯 𓍯 𓍯𓍯 𓍯

​Malam harinya, Arkan berhasil menyelesaikan seluruh jadwal kunjungannya lebih awal. Namun, keletihan fisik yang menumpuk memicu naiknya asam lambung di dalam perutnya. Rasa perih yang familier mulai mencengkeram. Sudah menjadi rahasia umum jika rutinitas yang padat sering kali membuatnya melewatkan waktu makan. Beruntung, jadwal operasi besar hari ini telah rampung, memberikan celah baginya untuk pulang ke rumah.

​Sebelum kembali ke kediamannya, Arkan memutuskan untuk menepikan mobil di pinggir jalan raya demi membeli nasi goreng kaki lima. Ia memarkirkan kendaraannya di area yang agak temaram.

​Melalui kaca depan, ia melihat antrean pembeli cukup mengular di depan gerobak. Nasi goreng tersebut memang sangat populer karena cita rasanya yang khas. Karena enggan berdiri mengantre di tengah kondisi tubuh yang lemas, Arkan memilih untuk tetap berada di dalam mobil, menunggu hingga kerumunan sedikit berkurang.

​Sambil menyandarkan punggung di kursi kemudi, ia membuka ponselnya. Entah mengapa, barisan memori beberapa hari lalu mendadak berputar di kepalanya. Wajah kesal dan kecewa Aira saat di ruang kerjanya membekas jelas. Dan tampaknya, gadis remaja itu benar-benar menuruti perintah kakaknya, sebab hingga detik ini, tidak ada satu pun pesan singkat yang masuk ke ponsel Arkan.

​Sebuah perasaan asing yang aneh merayap di dada Arkan. Bukankah ini yang ia inginkan? Menjauh dan memotong ruang gerak Aira agar ketenangan hidupnya tidak terusik? Namun, belum genap beberapa hari tanpa gangguan pesan dari gadis itu, atmosfer di sekitarnya terasa sunyi secara janggal.

​Biasanya, meski jarang dibalas, ponselnya akan selalu dipenuhi notifikasi curahan hati Aira mengenai kejengkelannya pada tugas sekolah, kekesalannya pada guru, hingga omelan Bu Windy di rumah. Dan Arkan selalu membaca semuanya dalam diam.

​Arkan melepaskan kacamatanya dan mengembuskan napas berat, memijat pangkal hidungnya yang terasa pening. Ia baru teringat jika obat lambungnya tertinggal di laci rumah. Rasa kantuk dan lelah yang luar biasa mendadak menyerang sistem sarafnya. Pria itu memutuskan memejamkan mata sejenak, berniat mengistirahatkan tubuhnya selama lima menit.

​Di saat yang bersamaan, Aira terpaksa keluar rumah untuk menuruti perintah Bu Windy membeli beberapa keperluan dapur di minimarket kompleks. Mengenakan jaket hoodie kebesaran andalannya dan rambut pendek yang dikuncir asal, ia mengayuh sepeda keranjang miliknya menyusuri trotoar jalan yang masih cukup ramai oleh aktivitas malam. Earphone terpasang di kedua telinganya, mendendangkan lagu bernada ceria seiring kayuhan kakinya.

​Namun, saat melewati deretan pedagang kaki lima, pendengarannya menangkap suara klakson mobil yang berbunyi nyaring berulang kali dari arah depan. Suara itu terdengar menuntut dan memicu kegaduhan kecil. Aira memperlambat kayuhannya dan melihat beberapa orang berkumpul di sekeliling sebuah mobil sedan hitam yang terparkir canggung, menghalangi jalur keluar beberapa sepeda motor.

​"Ada apa, Pak? Ada insiden tabrakan?" tanya Aira pada seorang pria paruh baya yang berdiri di dekat trotoar.

​"Bukan, Neng. Itu ada pengemudi di dalam mobil hitam, dari tadi tidak bangun-bangun padahal mobilnya menghalangi jalan. Sudah diklakson dan diketuk kacanya berkali-kali, tapi orangnya sama sekali tidak merespons," jelas bapak tersebut.

​Didorong rasa penasaran, Aira mendekati kerumunan. Pandangan matanya tertuju pada pelat nomor kendaraan tersebut, dan sedetik kemudian, jantungnya berdesir. Ia sangat mengenali mobil itu.

'Apakah ini efek karena aku terlalu sering memikirkannya, sampai-sampai semua mobil hitam terlihat seperti milik Kak Arkan?' batin Aira ragu.

​Ia melangkah lebih dekat, menempelkan wajahnya di kaca jendela kemudi yang sedikit gelap. Detik itu juga, matanya membelalak. Di dalam sana, Arkan tampak bersandar kaku dengan mata terpejam erat.

​"Permisi, Pak, Bu. Biar saya coba bangunkan. Kebetulan saya kenal dengan pemilik mobil ini," ujar Aira meminta jalan di antara kerumunan.

​Aira mengetuk kaca mobil beberapa kali dengan keras. "Kak Arkan! Bangun, Dok!" Namun, pria di dalam sana tetap bergeming, posisinya tidak berubah sedikit pun.

​"Jangan-jangan orang di dalam sudah meninggal? Sudah hampir satu jam posisinya seperti itu terus, lho," celetuk salah seorang warga memprovokasi keadaan.

​Kalimat itu seketika memicu kepanikan di dada Aira. Rasa khawatir yang hebat merayap cepat. Tidak mungkin seorang dokter tertidur begitu lelap di tengah kebisingan klakson yang memekik telinga, kecuali jika terjadi sesuatu yang buruk pada kesehatannya.

​Dengan tangan gemetar, Aira merogoh ponsel dari saku jaketnya. Ia mencari kontak Arkan dan langsung melakukan panggilan suara, berharap getaran ponsel di dalam sana bisa mengusik tidur pria itu.

​Panggilan pertama, tidak ada respons. Panggilan ketiga, Arkan masih bergeming. Aira mulai mondar-mandir panik di samping pintu mobil, matanya terus memperhatikan layar ponsel Arkan yang menyala terang di atas dasbor dalam.

​Tepat pada panggilan ketujuh, keberuntungan berpihak padanya. Tubuh Arkan tampak bergerak samar. Pria itu perlahan membuka kelopak matanya yang terasa berat, mengerjap bingung melihat layar ponselnya yang bergetar, lalu mengangkatnya dengan suara serak. "Aira...?"

​"Kak Arkan! Syukurlah Kakak sudah bangun! Tolong lihat ke luar jendela sekarang. Mobil Kakak dikerumuni banyak orang karena menghalangi jalan keluar!" seru Aira cepat melalui sambungan telepon, matanya menatap langsung ke arah Arkan dari balik kaca luar.

​Arkan mengucek matanya, mengumpulkan kesadarannya yang sempat hilang sepenuhnya. Ia terkejut saat mendapati situasi di luar mobilnya sudah sangat ramai. Di dekat jendela kemudi, Aira berdiri menatapnya dengan raut wajah yang dipenuhi kecemasan nyata, ponsel masih menempel di telinga gadis itu.

​Aira segera berbalik menghadap warga, mengangkat kedua tangannya meminta maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi dan menjelaskan situasi singkat hingga kerumunan perlahan membubarkan diri dengan tertib.

​Melihat situasi sudah kondusif, Arkan membuka kunci pintu otomatis dan mendorong pintu penumpang depan dari dalam. "Masuk ke dalam," perintahnya pendek.

​Tanpa banyak membantah, Aira melangkah masuk ke dalam kabin mobil setelah sebelumnya merantai sepedanya di tiang dekat trotoar. Mobil hitam itu segera bergerak membelah jalanan malam, meninggalkan area kuliner kaki lima demi menghindari perhatian publik yang lebih jauh.

​Sepanjang perjalanan, keheningan yang canggung melanda kabin mobil. Aira sempat bertanya mengapa Arkan bisa tertidur di tempat seperti itu, namun sang dokter hanya menjawab singkat bahwa ia kelelahan akibat sift kerja yang panjang. Setelah itu, tidak ada lagi konversasi.

​"Kak Arkan... sebenarnya Aira mau dibawa ke mana?" tanya Aira akhirnya, memecah keheningan setelah menyadari rute jalan yang asing.

​"Kamu sendiri tadi mau ke mana?" tanya Arkan balik tanpa menoleh.

​"Hanya mau ke minimarket depan kompleks untuk membeli titipan Mama," jawab Aira singkat.

​Arkan tidak membalas lagi. Ia memutar kemudi, membawa mobilnya menuju salah satu pusat perbelanjaan swalayan yang lebih besar di pusat kota. Baginya, insiden tertidur di tempat umum tadi adalah sebuah kelalaian yang cukup memalukan. Niat awalnya yang hanya ingin beristirahat sejenak justru berujung pada kegaduhan akibat keletihan fisik yang tak lagi bisa kompromi.

​"Sudah sampai," ucap Arkan datar saat mobil berhenti sempurna di area parkir swalayan.

​Aira melepas sabuk pengamannya, menatap bingung ke arah Arkan yang masih menatap lurus ke depan dengan ekspresi lelah yang terpancar dibalik kacamatanya. "Terima kasih atas tumpangannya, Kak. Kalau Kakak mau langsung pulang untuk beristirahat, silakan."

​"Lalu bagaimana kamu akan pulang?" tanya Arkan tiba-tiba.

​Aira sempat tertegun mendengarnya. Ini adalah kali pertama Arkan menunjukkan inisiatif untuk menanyakan kepulangannya. Namun, sisa-sisa gengsi dan kekesalan akibat penolakan tempo hari membuat Aira menjawab dengan nada yang agak ketus. "Aira bisa pulang sendiri naik angkutan umum atau ojek. Lagipula tadi perginya juga sendiri."

​Mendengar jawaban itu, Arkan tidak membalas. Ia justru ikut melepas sabuk pengamannya, membuka pintu mobil, dan melangkah turun mendahului Aira menuju pintu masuk swalayan besar tersebut.

​"Lho? Kakak ini sedang mengigau atau bagaimana? Yang punya keperluan ke sini kan aku, kenapa dia yang jalannya paling depan?" gumam Aira kebingungan, segera turun dari mobil dan berlari kecil menyusul langkah Arkan.

​Aira mendapati Arkan sudah mendorong sebuah troli belanjaan, menyusuri lorong komoditas. Aira hanya bisa mengekor di belakang tubuh tegap pria itu, bingung harus memulai belanjaannya sendiri.

​"Kamu mau berjalan di belakang saya seperti itu sampai kapan, Aira?" tegur Arkan tiba-tiba, menghentikan langkahnya hingga dahi Aira hampir menabrak punggungnya untuk kedua kali malam ini.

​"Saya ingin membeli beberapa keperluan pribadi. Apakah kamu tidak ingin mencari barang titipan ibumu?" tanya Arkan seraya mengulurkan tangan mengambil satu pak pakaian dalam pria dari rak pajangan.

​Mata Aira seketika membelalak sempurna begitu menyadari jenis barang yang dipegang Arkan. Wajahnya mendadak memanas karena malu. Tanpa sepatah kata pun, ia berbalik arah dan berlari cepat menuju lorong makanan ringan demi menyelamatkan harga dirinya. Arkan yang melihat reaksi tersebut hanya bisa menggelengkan kepala dengan sudut bibir yang berkedut samar.

​Setelah masing-masing mendapatkan barang yang dicari, mereka kembali bertemu di depan meja kasir. Aira meletakkan beberapa camilan dan keperluan dapur titipan Mamanya ke dalam troli Arkan yang sudah penuh terisi bahan makanan instan.

​Saat mengantre, atensi Aira teralih pada deretan produk kotak kecil berwarna-warni yang dipajang di rak dekat meja kasir. Karena belum pernah melihat merek tersebut dan merasa penasaran dengan desain kemasannya yang unik, ia mengambil salah satu kotak beraroma buah dan berjalan menghampiri Arkan yang sedang bersiap membayar.

​"Kakak... Permen ini rasanya enak tidak? Aira penasaran karena ada tulisan rasa stroberinya," tanya Aira dengan polosnya, menyodorkan kotak kecil itu ke depan wajah Arkan.

​Arkan yang tengah mengeluarkan kartu debitnya langsung menoleh. Detik itu juga, matanya membelalak kaget. Dengan gerakan secepat kilat, ia merebut benda tersebut dari tangan Aira, sementara petugas kasir perempuan di hadapan mereka langsung menundukkan kepala demi menahan ledakan tawa yang sangat kentara.

​"Lho? Kak Arkan juga mau? Kalau begitu biar Aira ambil satu kotak lagi di sana. Aira benar-benar penasaran dengan produk ini," ujar Aira bersiap kembali ke rak.

​Arkan dengan sigap menyambar pergelangan tangan Aira, menahannya dengan kuat setelah meletakkan kembali kotak tersebut ke tempat semula. Ia segera menyelesaikan transaksi pembayarannya dengan ekspresi sewajah tembok.

​"Mas... ini barang yang dipegang ceweknya tadi tidak sekalian dibeli saja? Kasihan, sepertinya dia penasaran sekali dengan rasanya," seloroh petugas kasir perempuan itu dengan sisa tawa yang sengaja ditahan.

​Arkan memilih mengabaikan godaan tersebut. Ia menyambar kantong belanjaannya di tangan kiri, sementara tangan kanannya menggandeng erat pergelangan tangan Aira, menarik gadis itu berjalan cepat keluar dari area swalayan.

​"Kak Arkan! Kenapa ditarik-tarik begini, sih? Tadi kan Aira serius mau membeli barang itu, kenapa malah ditaruh kembali?" protes Aira sepanjang jalan menuju parkiran mobil.

​Arkan melepaskan gandengannya setelah mereka tiba di samping mobil, lalu membalikkan tubuh menghadap Aira dengan tatapan mata yang sangat dingin dan tajam.

​"Itu bukan produk permen atau makanan ringan, Aira. Itu kondom. Alat kontrasepsi dewasa," jelas Arkan dengan penekanan kata yang lugas dan tajam. "Kalau kamu memang berniat membelinya, silakan kembali ke dalam sendirian. Tapi jangan pernah melibatkan saya."

​Aira seketika membeku di tempat. Mulutnya terbuka lebar dengan kedua telapak tangan langsung menangkup wajahnya sendiri karena syok yang luar biasa. Kesadaran menghantam otaknya dengan telak. Ia perlahan menoleh ke belakang, menembus kaca transparan swalayan, dan melihat dua petugas kasir tadi tengah tertawa terpingkal-pingkal sambil menunjuk ke arahnya.

​Rasa malu yang teramat sangat menjalar ke seluruh tubuh Aira. Tanpa membuang waktu lagi, ia menarik kupluk jaket hoodienya ke depan hingga menutupi seluruh wajahnya, lalu membuka pintu mobil Arkan dengan gerakan kilat dan menenggelamkan tubuhnya di dalam sana.

​"Kakak, tolong jalankan mobilnya sekarang! Antarkan Aira mengambil sepeda dan kita pulang! Aira tidak mau hidup di planet ini lagi!" serunya dari balik kain jaket, memicu tawa tertahan dari Arkan yang akhirnya pecah malam itu.

​Bersambung__

_____

1
Best
jangan lupa mampir balik😁
id IG: sabia.sky: ditunggu✨
total 1 replies
Best
semangat up kak..
Best
lanjut Thor.. ✨
Best
maksa ya aira🤣
Best
kalau aku sih jadi Aira udah aku gampar mulutnya
Best
negosiasi kaya jualan aja ya aira
Best
parah nih Aira. kasian mamanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!