Stevan Alvaro kehilangan segalanya dalam semalam ketika sebuah konspirasi menghancurkan pita suaranya dan merenggut mimpinya menjadi penyanyi besar, yang disusul oleh pengkhianatan kekasihnya yang memilih pergi meninggalkannya di titik terendah. Namun, di saat dunia seakan runtuh, sebuah suara misterius dari Sistem Pintar bangkit di dalam benaknya, memberinya kemampuan absolut dalam komposisi, produksi, dan penguasaan alat musik meski tanpa suara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
[TING!]
[Misi harian selesai: Menyusun komposisi dasar multi-instrumen dalam waktu satu jam.]
[Hadiah diklaim: Penguasaan Instrumen Gitar Elektrik Tingkat Ahli.]
Stevan menarik sebuah koper hitam berdebu dari tumpukan barang rongsokan tersebut.
Krieeet...
Ia membuka koper itu dan mengeluarkan sebuah gitar elektrik tua berwarna merah pudar.
Gitar itu terlihat kusam, namun senarnya masih lengkap dan kondisinya cukup terawat.
Stevan menghubungkan kabel gitar itu ke sebuah amplifier kecil yang sudah ia perbaiki sebelumnya.
"K-kakak bisa main gitar juga?" tanya Clara dengan raut wajah takjub.
"Kukira kakak murni seorang vokalis dan pianis saja."
Stevan tidak menjawab, ia hanya memasang sabuk gitar ke bahunya dan berdiri dengan posisi sangat santai.
Jreng!
Satu sapuan kasar pada senar gitar itu langsung menghasilkan suara distorsi yang sangat tebal dan gahar.
Clara sampai sedikit terlonjak mundur karena terkejut dengan suara keras tersebut.
Tanpa basa-basi lagi, jari-jari kiri Stevan mulai menari dengan sangat cepat di atas leher gitar.
Jreng... neng... tet... jreng!
Sebuah melodi solo gitar yang luar biasa rumit, cepat, dan penuh amarah melengking memenuhi ruangan.
Suaranya meliuk-liuk dengan presisi yang sangat menakutkan, layaknya seorang legenda rock dunia yang sedang konser.
Clara menutup mulutnya dengan kedua tangan, matanya tidak bisa berkedip melihat kecepatan jari seniornya itu.
"Ini gila... Kak Stevan benar-benar seorang monster jenius," batin Clara dengan kekaguman yang meluap-luap.
Setelah satu menit memamerkan kemampuannya, Stevan menekan senar untuk menghentikan suara distorsi tersebut.
Ia menatap Clara lalu menunjuk ke arah bilik rekaman dengan dagunya.
Stevan lalu mengambil ponselnya dan mengetikkan instruksi utama untuk sesi hari ini.
"Aku akan merekam semua instrumennya malam ini juga."
"Tugasmu sekarang, masuk ke sana dan ubah semua ketakutanmu menjadi amarah yang meledak-ledak."
Clara menganggukkan kepalanya dengan mantap.
Ia tidak lagi merasa takut seperti saat pertama kali rekaman.
Melihat betapa kerasnya Stevan bekerja dan betapa gilanya bakat yang dimiliki seniornya itu, Clara merasa tidak punya alasan untuk menyerah.
Ia melangkah masuk ke dalam bilik rekaman dan memakai headphone miliknya.
"Aku siap, Kak. Mari kita hancurkan mereka," ucap Clara melalui mikrofon dengan suara yang tiba-tiba terdengar lebih berat dan berani.
Stevan tersenyum puas dan langsung menekan tombol rekam di laptopnya.
Ia mulai memainkan gitar elektriknya, merekam trek dasar dengan distorsi yang sangat agresif.
Suara drum virtual dan instrumen gesek orkestra yang sudah ia susun sebelumnya ikut mengalun, menciptakan latar musik yang sangat megah dan epik.
Musik itu terdengar seperti lagu pengiring dari sebuah pasukan perang yang sedang berbaris menuju medan pertempuran.
Mendengar musik sehebat itu, darah Clara seketika mendidih.
Ia menarik napas panjang, membayangkan semua cemoohan dosen dan teman-temannya yang merendahkannya selama ini.
Ia membayangkan wajah-wajah sombong yang selalu menganggapnya tidak berguna.
"Kalian berpesta di atas lukaku!" teriak Clara tepat di depan mikrofon.
Suara S-Rank miliknya seketika berubah wujud.
Bukan lagi suara bidadari yang menangis, melainkan suara seorang ratu kegelapan yang menuntut balas.
Resonansi suaranya berpadu sempurna dengan distorsi gitar Stevan, menciptakan harmoni yang sangat memekakkan telinga namun luar biasa indah.
"Sekarang bersiaplah, karena mahkota kepalsuan kalian akan segera runtuh!"
Clara mencapai nada tinggi dengan teknik belting yang sangat sempurna tanpa ada keraguan sedikit pun.
Urat di lehernya terlihat sedikit menonjol karena tenaga besar yang ia keluarkan untuk menyesuaikan dengan distorsi gitar.
Stevan yang memantau dari luar bilik kaca terus menganggukkan kepalanya dengan penuh semangat.
Tangannya bergerak cepat menyesuaikan tombol ekualiser, memastikan vokal Clara tidak tertutup oleh suara instrumen yang keras.
Proses rekaman itu berlangsung selama hampir dua jam penuh tanpa henti.
Stevan membuat Clara mengulangi beberapa bagian hingga mencapai kesempurnaan mutlak yang ia inginkan.
Gadis itu tidak mengeluh sama sekali, ia justru semakin bersemangat setiap kali Stevan memintanya berteriak lebih keras.
Akhirnya, ketika nada penutup dari instrumen biola virtual itu selesai mengalun, Clara menjatuhkan dirinya ke lantai bilik rekaman.
Hah... hah... hah...
Napas gadis itu terengah-engah hebat, bajunya basah oleh keringat, namun senyum luar biasa lebar menghiasi wajahnya.
"I-itu tadi... sangat melelahkan, Kak," ucap Clara dari lantai sambil tersenyum ke arah Stevan.
"Tapi rasanya sangat melegakan, seperti ada beban berton-ton yang baru saja terangkat dari dadaku."
Stevan mengacungkan ibu jarinya dari balik kaca lalu mulai bekerja mencampur audio tersebut.
Dengan Keterampilan Produksi Tingkat Ahli dari Sistem Pintar, proses mixing lagu rock-orkestra yang rumit ini diselesaikan dalam waktu kurang dari satu jam.
Stevan menyimpan file akhirnya dengan nama Mahkota Kepalsuan.
Ia kemudian membuka halaman pendaftaran daring Festival Musik Nusantara yang sudah ia siapkan sebelumnya.
Kolom nama peserta ia isi dengan The Zeros.
Stevan mengunggah lagu Mahkota Kepalsuan itu sebagai syarat utama pengumpulan karya audisi tahap pertama.
Klik.
Tanda centang hijau besar muncul di layar laptopnya, menandakan bahwa pendaftaran mereka telah resmi diterima oleh panitia pusat.
Stevan menyandarkan punggungnya ke kursi kayu yang keras dan menatap layar itu dengan pandangan dingin.
"Semuanya sudah siap," batin Stevan.
"Mari kita lihat apakah uang kotor label kalian bisa menahan badai yang akan kami bawa ke atas panggung nanti."
Di saat yang bersamaan, di gedung pusat penjurian Festival Musik Nusantara.
Seorang pria paruh baya bernama Pak Barata sedang duduk santai sambil meminum kopi hangatnya.
Ia bertugas menyeleksi ratusan file audio yang masuk dari para pendaftar audisi online.
"Hah, kebanyakan lagu dari peserta independen ini kualitasnya sangat sampah," gumam Pak Barata dengan nada bosan.
"Tentu saja tidak akan ada yang bisa mengalahkan kualitas anak didik Surya yang sudah dimodali miliaran itu."
Tangannya dengan malas mengklik tombol putar pada file pendaftar terbaru yang bernama The Zeros.
Ia bersiap untuk langsung menekan tombol tolak seperti yang ia lakukan pada puluhan peserta sebelumnya.
Namun, saat detik pertama lagu itu diputar, mata Pak Barata langsung terbelalak lebar dan cangkir kopinya nyaris terjatuh dari tangannya.