NovelToon NovelToon
Dibuang Keluarga Ku,Dipilih Suamiku

Dibuang Keluarga Ku,Dipilih Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami / Nikahmuda
Popularitas:11.4k
Nilai: 5
Nama Author: sopiakim

Diasingkan keluarga sendiri dan dituntut menopang hidup sang kakak yang seorang model, Aruna terbiasa mengalah hingga dijebak orang tuanya ke dalam pernikahan paksa dengan Kaivan Adikara. Kaivan yang dingin dan perfeksionis terlanjur menuduh Aruna sebagai wanita licik yang sengaja menjebaknya demi menumpang hidup, membuat hari-hari Aruna di rumah itu terasa makin kelam dan penuh prasangka.

​Di tengah dinginnya dinding rumah Kaivan dan tekanan dari keluarga yang terus merendahkannya, Aruna perlahan belajar berhenti mengemis kasih sayang. Namun tepat saat Aruna mulai menyerah dan menutup hatinya rapat-rapat, Kaivan justru baru menyadari luka mendalam yang disimpan sang istri-memaksa pria itu berjuang dari nol untuk menebus kesalahannya sebelum semuanya terlambat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sopiakim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

30.Alasan konyol

Air hujan meluncur deras dari helai rambut hitam Kaivan, menetes satu per satu membasahi lantai marmer lorong belakang rumah yang dingin. Pria tinggi tegap itu berdiri mematung di dekat pintu servis, mendekap erat setumpuk pakaian lusuh yang basah kuyup dan ternoda sedikit lumpur di dada kirinya. Napasnya terengah berat, membusakan uap tipis di tengah dinginnya malam yang menusuk tulang.

Keangkuhan dan wibawa presdir bernilai triliunan rupiah itu seolah luntur sepenuhnya bersama guyuran air hujan di luar sana. Kaivan melangkah pelan dengan tatapan gelisah, berusaha mengencangkan kembali tumpukan baju basah itu dalam pelukannya agar tidak ada potong kain pun yang terjatuh ke lantai.

Namun, baru saja ia memutar tubuhnya melewati belokan lorong menuju dapur utama, langkah kaki Kaivan mendadak terkunci rapat.

Di depan meja bar dapur, Aruna berdiri mematung. Gadis itu mengenakan gaun tidur longgar berwarna abu-abu pucat, memegang cangkir kosong di tangan kirinya. Di sampingnya, Bi Asih—yang tadi menyusul karena khawatir—juga berdiri diam. Kedua wanita itu menatap sosok Kaivan dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan raut wajah yang dipenuhi rasa terkejut dan heran.

Suasana di lorong dapur itu mendadak hening seketika. Hanya ada suara denting jam dinding dan gemuruh hujan di luar yang menyelimuti ketegangan kaku di antara mereka.

Kaivan membeku. Wajah tegasnya yang basah kuyup mendadak memucat kaku, berganti rona merah padat yang menyebar cepat hingga ke ujung telinganya. Rasa gengsi setinggi langit yang biasa ia agungkan mendadak runtuh berkeping-keping, meninggalkannya dalam kepanikan yang amat sangat konyol.

Bagaimana mungkin ia—seorang Kaivan Adikara—tertangkap basah sedang berdiri basah kuyup seperti musang tercebur air, hanya demi menggeledah tong sampah dan memeluk pakaian-pakaian bekas yang beberapa jam lalu ia sebut sebagai sampah?

"P-Pak Kaivan...?" suara Aruna meluncur lirih dan ragu-ragu, memecahkan keheningan yang mencekik. Matanya beralih menatap tumpukan kain basah di dalam dekapan Kaivan, lalu kembali menatap wajah pria itu dengan kerutan bingung di dahinya. "Anda... kenapa basah kuyup begitu? Dan... itu..."

Aruna mengenali warna kain wol krem yang berada di paling atas tumpukan itu. Sweater rajut peninggalan neneknya.

Kaivan berdehem kencang—suara ehem yang dibuat-buat dan terkesan kaku. Pria itu berusaha menegakkan bahunya dan memasang kembali raut wajah dinginnya yang gagal total. Ia menggeser posisi berdirinya sedikit ke samping, mencoba menyembunyikan tumpukan baju basah itu di balik tubuh besarnya, meski usahanya sama sekali sia-sia.

"Ini... aku... maksudku..." Kaivan menyela kalimatnya sendiri. Lidahnya yang biasa sangat lihai dalam negosiasi bisnis bernilai tinggi mendadak terasa begitu kelu, kaku, dan terbata-bata. "Kau... kenapa belum tidur?!"

"Saya mau ambil air minum, Pak," jawab Aruna pelan. Matanya tidak berkedip menatap tumpukan baju di tangan Kaivan. "Pak Kaivan... menggeledah tempat sampah di luar?"

"S-sembarangan!" sergah Kaivan cepat, suaranya naik satu oktav karena panik. Pria angkuh itu melempar pandangannya ke sembarang arah, menolak menatap mata Aruna secara langsung. "S-siapa yang menggeledah tempat sampah?! Kau pikir aku kurang pekerjaan sampai harus menggeledah tempat sampah malam-malam begini?!"

"Lalu... kenapa baju-baju saya yang dibuang tadi sore bisa ada di tangan Pak Kaivan dalam keadaan basah kuyup begitu?" cecar Aruna lagi, polos namun tepat sasaran.

Kaivan memeras otaknya keras-keras, mencari alasan paling masuk akal yang tidak akan meruntuhkan harga dirinya. Namun dalam kondisi panik dan basah kuyup, otaknya justru menghasilkan alasan yang amat konyol.

"I-ini... ini bukan berarti aku mau mengambil baju-bajumu lagi!" elah Kaivan gagap, matanya bergerak-gerak gelisah. "A-aku cuma... cuma sedang melakukan inspeksi! Ya, betul! Inspeksi kebersihan area belakang! Tadi aku melihat kardus ini ditaruh sembarangan oleh petugas kebersihan dan hampir menutupi saluran air! Jadi... jadi aku berniat memindahkannya!"

"Memindahkannya sampai ke dalam pelukan Pak Kaivan?" tanya Aruna lagi.

Rona merah di wajah Kaivan makin mempekat hingga ke leher. "T-tadi hujan mendadak turun sangat deras! Aku tidak sengaja terpeleset dan... dan kardus ini jatuh ke pelukanku! Jadi... jadi aku tidak sengaja membawanya masuk! B-bukan karena aku peduli atau sengaja mengambil baju-baju lusuh ini kembali! Jangan percaya diri dulu!"

Alasan konyol dan sama sekali tidak masuk akal itu meluncur terbata-bata dari mulut sang presdir. Pria bernilai triliunan rupiah itu tampak amat menggemaskan dalam kegugupannya, berjuang mati-matian mempertahankan sisa-sisa gengsinya yang sudah hancur lebur.

Di samping Aruna, Bi Asih dengan cepat menutupi mulutnya menggunakan celemek. Wanita tua itu menggigit bibirnya kencang-kencang, berusaha menahan tawa dan senyuman geli yang hampir meledak melihat tingkah konyol dan alasan tidak masuk akal dari majikannya yang biasanya terkenal sangat dingin dan menyeramkan itu.

Aruna menatap Kaivan tanpa berkedip. Situasi di antara mereka terasa sangat absurd dan lucu. Pria yang biasanya memandangnya dengan tatapan membunuh dan suara mengintimidasi, kini berdiri menggigil dengan baju menempel di kulit, mengelak ketakutan seolah-olah ia seorang anak kecil yang tertangkap basah mencuri kue di dapur.

Aruna tidak membalas alasan konyol itu. Rasa sedih yang tadi sore menggelayutinya perlahan terkikis oleh tingkah aneh pria di hadapannya ini. Gadis itu meletakkan cangkirnya di atas meja bar, lalu melangkah pelan mendekati Kaivan.

Melihat Aruna mendekat, tubuh Kaivan makin menegang kaku. "K-kau mau apa? Jangan mendekat, nanti bajumu ikut basah! Aku... aku serius, ini cuma kebetulan!"

Aruna tidak mendengarkan racoan Kaivan. Tanpa mengutarakan sepatah kata pun, tangan kiri Aruna yang bebas terulur ke depan, meraih tumpukan pakaian basah dari dekapan Kaivan. Kaivan sempat menahan kain itu sejenak karena refleks, tetapi melihat tatapan tenang Aruna, ia akhirnya melepaskan pegangannya dengan sangat canggung.

"Pak Kaivan bisa kena flu kalau berdiri di sini terus sambil mengarang alasan," bisik Aruna pelan.

Bi Asih di belakang tak sanggup lagi menahan tawa pelannya yang tertahan hingga bahunya berguncang halus.

Aruna membalikkan badannya, membawa tumpukan baju basah itu dengan tangan kirinya yang menahan beban, lalu menoleh sedikit ke belakang. "Ikut saya ke kamar. Saya siapkan air hangat untuk mandi."

Kaivan membelalakkan matanya tipis. "A-apa? Kau menyuruhku?"

"Bapak mau berdiri di sini sampai subuh sambil inspeksi saluran air?" tanya Aruna dengan nada datar namun berhasil mengunci mulut Kaivan rapat-rapat.

Tanpa menunggu jawaban Kaivan, Aruna berjalan perlahan menaiki anak tangga menuju lantai dua. Langkah kakinya memang masih terlihat agak lemas dan pelan akibat kondisinya yang belum pulih sepenuhnya, tetapi ketenangan dalam gerakannya membuat Kaivan hanya bisa mengekor di belakangnya bagai seorang murid yang pasrah setelah dimarahi guru.

Begitu memasuki kamar, Aruna meletakkan tumpukan pakaian basah itu di atas keranjang baju kotor di sudut ruangan. Tanpa membuang waktu, gadis itu berjalan menuju kamar mandi di dalam kamar, memutar keran water heater, dan menyiapkan air hangat di dalam bathtub.

Kaivan berdiri kaku di tengah kamar, memandangi punggung ringkih Aruna yang sibuk bolak-balik menyiapkannya handuk kering dan pakaian ganti dari lemari pakaiannya.

Tubuh Aruna masih terlihat begitu kurus dan rapuh. Wajahnya masih menyisakan rona pucat pasi, dan tangan kanannya masih terbebat perban tebal. Namun, di tengah kondisi fisiknya yang amat sangat lemas itu, Aruna sama sekali tidak menunjukkan rasa benci atau niat untuk membalas dendam atas perlakuan kasarnya tadi sore. Gadis itu bergerak dengan ketulusan yang murni—sebuah ketulusan tanpa syarat yang belum pernah Kaivan rasakan dari siapa pun sepanjang hidupnya.

"Air hangatnya sudah siap, Pak," kata Aruna pelan, keluar dari kamar mandi seraya membawa selembar handuk tebal berwarna putih. Gadis itu menyodorkan handuk tersebut ke arah Kaivan. "Mandi dan bersihkan badan Bapak sekarang."

Kaivan menatap handuk di tangan Aruna, lalu beralih menatap wajah pucat gadis itu.

Rasa hangat dan haru yang amat sangat mendadak menyeruak naik dari dasar dadanya, bergulung-gulung menghantam jiwanya hingga tenggorokannya terasa begitu sempit dan perih. Di saat yang bersamaan, rasa benci pada dirinya sendiri kian membakar nadinya hingga ke batas maksimal.

“Kenapa kau harus sebaik ini padaku...?” jerit Kaivan dalam hatinya yang paling dalam, memandangi Aruna dengan mata yang bergetar hebat. “Kenapa kau tidak memukulku saja? Kenapa kau tidak memaki atau merutuki kesombonganku?! Kenapa kau justru menyiapkan air hangat untuk pria jahat yang sudah menghancurkan perasaanmu...?”

Ketulusan Aruna terasa bagai pedang tajam yang menusuk tepat di ulu hati Kaivan. Semakin Aruna bersikap lembut dan perhatian dalam kepasrahannya, semakin Kaivan membenci dirinya sendiri atas setiap kata-kata kejam dan keangkuhan konyol yang pernah ia lontarkan pada gadis ini.

Kaivan mengulurkan tangannya yang gemetaran, meraih handuk putih itu dari genggaman Aruna. Pria itu menyentuh jemari dingin Aruna secara tidak sengaja, namun kali ini ia tidak menarik tangannya dengan angkuh.

"Kau... tidak perlu repot-repot," kata Kaivan dengan suara bariton yang sangat parau dan bergetar hebat. Pria itu berusaha mati-matian menahan air mata yang mendesak keluar dari pelupuk matanya. "Duduk saja dan istirahat. Tubuhmu masih lemas."

Aruna menatap Kaivan dengan sedikit mengernyitkan dahi. Ia bisa merasakan perubahan energi pada diri pria di hadapannya ini. Keangkuhan yang biasanya menjadi perisai Kaivan mendadak runtuh sepenuhnya, menyisakan sosok pria yang tampak begitu rapuh, bersalah, dan terguncang hebat.

"Saya tidak apa-apa, Pak—"

"Aku bilang duduk, Aruna," potong Kaivan pelan, kali ini tanpa nada perintah kaku, melainkan sebuah permintaan lirih yang dipenuhi rasa bersalah yang amat mendalam. "Jangan memaksakan dirimu lagi... Tolong."

Aruna tertegun sejenak mendengar kata "tolong" keluar dari bibir seorang Kaivan Adikara. Gadis itu akhirnya mengangguk pelan, berjalan menuju tepi tempat tidur dan mendudukkan badannya di sana.

Kaivan menatap Aruna sekali lagi dengan pandangan mata yang sarat akan kepedihan dan rasa haru yang tak terucapkan, sebelum akhirnya melangkah kaku masuk ke dalam kamar mandi dan menutup pintunya rapat-rapat.

Di dalam kamar mandi, di bawah pancuran air hangat yang menyiram tubuhnya, Kaivan menyandarkan kepalanya pada dinding keramik yang dingin. Pria angkuh itu memejamkan matanya kencang-kencang, membiarkan air mata penyesalannya menyatu bersama aliran air mandi.

Malam itu, di dalam kamar yang sunyi, Kaivan menyadari satu hal yang teramat sangat menakutkan bagi gengsinya: ketulusan sederhana dari gadis yang selama ini ia tindas telah berhasil meremukkan seluruh benteng kesombongannya, membuatnya bertekad untuk menebus seluruh luka yang telah ia torehkan pada jiwa Aruna Rasyara.

_Bersambung

1
Diki Nd
👍👍👍👍
Diki Nd
💪💪💪
dinda aja
sukaaa lanjutkan yahhh
dinda aja
🤭🤭🤭🤭
Pendi Gudung
lanjuttt min
Fadillah Langsa
lanjut napa kak
Ijal Messi
ngakak 🤭🤭
Ijal Messi
lanjuttt
Ijal Messi
🤣🤣🤣
li za
mana kelanjutan nya min
Lenovo A
lanjuttt
Bambang Suanto
duhhh ngakak keciduk
Bambang Suanto
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Bambang Suanto
sedihh
Industri Kreatif
asli seruuu
sosa
Seruu parah
sosa
Sukaa
Rian Moontero
lanjooott👍👍
Isannn
😍😍😍
Alle Salsa
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!