Arya Arsyad Sikumbang adalah seorang pemuda perantauan.Ia mengadu nasib di Kota besar dan akhirnya dia terjerumus ke dalam Sindikat Para Mafia Internasional.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hendry Octavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ENAM BULAN YANG DIJANJIKAN UNTUK ARYA ARSYAD SIKUMBANG
Janji itu dipegang teguh oleh Bapak Drs. Syafrianto, Kepala Sekolah SMP Negeri Pande Sikek yang terkenal keras tapi memegang kata-katanya seperti memegang pahat ukir.
Selama enam bulan berikutnya, dari Januari sampai Juni 1976, Arya Arsyad Sikumbang benar-benar dibiarkan tetap duduk di Kelas VII biasa. Tidak ada kelas unggulan, tidak ada meja khusus, tidak ada perlakuan istimewa yang membuatnya terlihat berbeda di depan teman-temannya. Di mata anak-anak lain yang rata-rata umur 12 sampai 13 tahun, Arya tetap si bungsu 10 tahun yang tasnya dari karung goni yang dijahit ulang oleh ibunya Siti Aminah Sikumbang, dan sepatu Bata capungnya yang masih kebesaran di bagian tumit sehingga kalau berjalan bunyinya agak berdecit.
Ia satu bangku dengan dua orang yang paling ia sayangi: kakak kandungnya Arlan Rasyad Sikumbang dan sepupunya Darlin Aminuddin Chaniago yang seumuran dengan Arlan. Arlan dan Darlin sama-sama 12 tahun, lahir hanya selisih dua bulan di tahun 1964. Mereka berdua sudah mulai tinggi, betis mereka sudah mulai berotot karena sering membantu di sawah, dan suara mereka sudah agak berat, tidak lagi melengking seperti suara Arya. Kalau mereka berdiri bertiga, Arya terlihat seperti adik kecil yang terselip di tengah dua kakak kembar. Dan memang begitulah mereka, dari SD Inpres Pande Sikek Kelas 1 sampai Kelas 6 kemarin, mereka bertiga selalu sekelas. Bahkan waktu Arya masih bayi umur 3 bulan digendong Siti Aminah di Pos Satu, Arlan dan Darlin yang masih balita 2 tahun sudah berlarian di pematang sambil ditertawakan oleh Ibrahim Sulaiman Chaniago yang waktu itu masih kecil ingusan naik Si Baluang dengan ingus naik turun.
Tapi di balik kesamaan bangku di Kelas VII itu, setiap sore jadwal Arya berubah total dan jauh lebih berat daripada teman-temannya.
Sore hari, tepat setelah bel pulang jam satu siang berbunyi dan anak-anak lain berlarian ke lapangan tanah untuk bermain kelereng dan layang-layang, Arya pulang dengan berlari kecil menembus jalan setapak Pande Sikek yang masih becek. Sampai di rumah gadang beratap seng berkarat milik ayahnya Abdullah Bin Rais Payobadar, ia ganti seragam putih biru yang lusuh itu dengan kaos putih tipis dan celana pendek kain katun kasar. Ia membantu ayahnya di serambi belakang, mengukir kayu surian pilihan yang sudah dikeringkan berbulan-bulan. Tangannya yang masih kecil membantu mengamplas, membersihkan serbuk kayu halus yang beterbangan, sementara ayahnya yang tangannya sudah kapalan tebal mengetukkan pahat kecil bergagang kayu nangka dengan irama tak... tak... tak... yang konstan.
Baru setelah azan ashar berkumandang dari surau kayu di Pos Satu, ia menyelinap sendirian ke balik kebun cengkeh di belakang rumah. Tidak boleh ada yang ikut. Itu pesan mati dari Mamak Usman Bin Rauf Sikumbang.
Di sana, di atas tanah gembur yang tertutup daun cengkeh kering yang harum, ia menjalankan tiga perintah maut itu sendirian. Pertama, ia berlari menyusuri pematang sawah pusako milik ayahnya di lurah bawah. Pematang itu sempitnya hanya sejengkal kaki, licin karena lumut hijau, di kanan kirinya lumpur hitam dalam sedalam lutut orang dewasa. Lima kali putaran penuh tanpa berhenti, napas diatur dari dada. Kalau terpeleset, jatuh ke lumpur dan harus mengulang dari awal. Kedua, setelah kakinya gemetar, ia masuk ke sudut gudang belakang, mengambil guci besi kecil peninggalan niniak, mengisinya air setengah, melumuri bibirnya dengan minyak kelapa murni dari dapur ibunya sampai licin mengkilap, lalu mencengkeramnya hanya dengan ujung-ujung jari dan mengangkatnya setinggi dada selama sepuluh hitungan, sepuluh kali ulang. Jari-jari anak 10 tahun itu merah, perih, hampir lecet. Ketiga, ia manjalo kaki, duduk bersila terbalik menyatukan telapak kaki di depan dada, lalu menekan kedua lututnya perlahan ke bawah dengan kekuatan kaki sendiri sampai menyentuh tanah, sampai otot paha dan pangkal pahanya panas seperti dibakar.
Baru setelah maghrib, ketika lampu petromaks di rumahnya yang baru dibeli dari hasil panen cengkeh pertama ayahnya di Pasar Atas Bukittinggi mulai dipompa, ces... ces... ces... dan mendesis keras ssssssttt... dengan cahaya kuning terang benderang, ritual kedua dimulai.
Di ruang tengah yang lantainya masih tanah yang dipadatkan, tikar pandan usang digelar. Siti Aminah masih duduk di depan panta, alat tenun kayu tradisional, suara bangkaknya duk... duk... duk... berpadu dengan ketukan pahat suaminya. Abdullah duduk di sudut dekat tungku, menghitung hasil kebun dengan lidi bambu kecil. Dan di tengah tikar, di bawah cahaya petromaks yang paling terang, lima bersaudara duduk melingkar.
Andi Rajo Alam Sikumbang, kakak sulung 17 tahun Kelas 3 SMA Negeri 1 X Koto yang terkenal pandai dan cerdas, memakai kacamata bulat yang gagangnya diikat kawat. Arlan Rasyad Sikumbang 12 tahun dan Darlin Aminuddin Chaniago 12 tahun, dua anak seumuran yang tekun dan rapi seperti ayah dan mamaknya, yang selalu menulis ulang rumus dengan tulisan tangan lurus dan bersih di kertas karbon bekas pembungkus semen. Ibrahim Sulaiman Chaniago yang 13 tahun, yang dulu waktu kecil naik Si Baluang dengan ingus naik turun itu, kini sudah tegap dan menjadi pelindung. Faizal Tanjuang yang 14 tahun, yang paling tua di antara mereka, yang sudah Kelas VIII. Dan di tengah mereka, Arya Arsyad Sikumbang yang 10 tahun, yang baru selesai ditempa lumpur sawah dan guci besi licin.
Andi tetap menjadi guru utama. Ia mengajari rumus-rumus besar IPA SMA dengan cara yang tidak pernah diajarkan di sekolah. Ia mengambil lidi-lidi bekas hitungan ayahnya dan butir cengkeh kering dari karung di gudang.
"Coba lihat, Ya," kata Andi dengan suara pelan. "Ini Hukum Kekekalan Energi. Jangan kau hafal E \= m.c^2. Bayangkan karung cengkeh ayah, beratnya $m$. Kalau jatuh dari loteng, kecepatannya $c$. Jadi energinya gabungan berat dan jatuhnya."
Arlan dan Darlin yang seumuran, 12 tahun, membantu dengan cara mereka. Kalau Andi menjelaskan konsep besarnya, Arlan dan Darlin yang menulis ulang dengan sangat rapi, berbagi tugas. Arlan menulis rumus Fisika, Darlin menulis rumus Kimia, agar adik sepupu mereka yang 10 tahun itu tidak lupa. Darlin yang dulu waktu bayi 3 bulan Arya masih digendong, ia masih balita ingusan lari-larian dengan Arlan di pematang, kini sudah menjadi remaja 12 tahun yang paling rajin menjaga minyak petromaks agar tidak habis dan mengambilkan air minum dari tempayan untuk Arya setiap kali Arya kehausan.
Sementara Ibrahim dan Faizal mengajari hal yang tidak ada di buku pelajaran.
"Ya, kalau besok kau di Kelas IX, kau akan jadi anak paling kecil. Umur 11 tahun, duduk dengan abang-abang 15 tahun yang sudah kumis tipis dan suaranya sudah pecah," kata Ibrahim suatu malam sambil menepuk paha Arya yang masih pegal karena manjalo. "Jangan takut. Kalau ada yang mengejek karena umurmu kecil, jangan dilawan dengan otot. Lawan dengan silek. Kuda-kuda rendah, tahan. Itu yang Mamak Usman ajarkan ke kita di Pos Satu waktu kita masih kecil naik Si Baluang dulu, ingat? Waktu itu ambo masih ingusan, ang masih bayi 3 bulan digendong Mande Siti Aminah, tapi kita sudah diajari tahan."
Faizal yang lebih tua menambahkan, "Dan kalau guru memberikan soal yang belum pernah kau lihat, jangan panik seperti saat kau hampir jatuh di pematang sawah. Atur napas dari dada, ingat lidi-lidi ini. Semua soal itu cuma karung cengkeh yang harus dibagi-bagi. Pelan-pelan saja. Kami berdua akan di belakangmu."
Enam bulan itu adalah enam bulan paling indah bagi Arlan dan Darlin. Mereka berdua yang seumuran 12 tahun tahu persis ini adalah enam bulan terakhir mereka satu kelas dengan Arya yang 10 tahun. Sejak SD Kelas 1 sampai SMP Kelas VII ini, mereka selalu bertiga. Maka setiap piket menyapu kelas pakai sapu ijuk sampai debu beterbangan, setiap upacara bendera Senin pagi yang sepatu Bata harus mengkilap walau becek, setiap tugas prakarya membuat pot bunga dari tanah liat yang harus dijemur di bawah matahari, mereka lakukan bersama-sama dengan sangat kompak dan penuh tawa. Arlan dan Darlin yang seumuran sengaja selalu meminta duduk sebangku bertiga dengan Arya di meja kayu yang sempit itu, berdesak-desakan, karena mereka tahu setelah ini mereka akan berpisah kelas untuk pertama kalinya dalam hidup mereka.
Sampai akhirnya, pembagian rapot kenaikan kelas tiba, Juni 1976.
Karena gedung SMP sedang bocor atapnya akibat hujan badai seminggu, pembagian rapot dilakukan di balai desa yang lantainya semen dan atapnya seng. Semua orang tua murid datang, termasuk Abdullah Bin Rais Payobadar dan Siti Aminah Sikumbang yang duduk di barisan depan dengan baju terbaik mereka, baju tenun Pandai Sikek hasil tenunan Siti Aminah sendiri.
Nama-nama dipanggil satu per satu oleh wali kelas.
"Arlan Rasyad Sikumbang dan Darlin Aminuddin Chaniago, naik ke Kelas VIII, Kelas Dua."
Tepuk tangan riuh membahana di balai desa. Arlan dan Darlin yang sama-sama 12 tahun, yang seumuran, sekelas dari SD Inpres Pande Sikek Kelas 1 sampai SMP Kelas VII, naik ke panggung papan yang berderak bersama. Mereka menerima rapot tulis tangan yang sampulnya kertas cokelat dari wali kelas dengan senyum lebar. Mereka memang seumuran, seangkatan, dan memang seharusnya naik bersama.
Lalu Kepala Sekolah Bapak Drs. Syafrianto berdiri dari kursinya. Ia memakai peci beludru hitam dan kacamata tebalnya. Suasana balai desa yang tadi riuh seketika hening total. Semua orang tahu akan ada pengumuman yang tidak biasa.
Dengan suara tegas dan bergetar, ia mengumumkan.
"Arya Arsyad Sikumbang, Ibrahim Sulaiman Chaniago, dan Faizal Tanjuang... naik ke Kelas IX, Kelas Tiga."
Satu balai desa terdiam selama dua detik, lalu pecah dengan bisik-bisik kaget yang sangat keras. "Anak 11 tahun naik ke Kelas Tiga? Anak bayi 3 bulan dulu waktu di Si Baluang itu sekarang sudah Kelas Tiga?" Ibu-ibu berbisik sambil menutup mulut.
Di bawah panggung, Arlan dan Darlin yang baru turun dari panggung dengan rapot Kelas VIII di tangan, langsung memeluk adik kandung dan adik sepupu mereka itu dengan erat. Tidak ada iri, tidak ada dengki sama sekali di mata dua anak 12 tahun itu. Mata mereka merah menahan haru dan bangga karena mereka berdua yang seumuran akan tetap bersama di Kelas Dua, sementara adik kecil mereka yang 10 tahun yang dulu masih bayi 3 bulan digendong-gendong itu sudah melesat jauh ke depan, ke Kelas Tiga.
"Ingat pesan ayah, Ya," bisik Arlan di telinga Arya, persis seperti pesan ayah mereka Abdullah saat mengantarkan ujian SD dulu di bawah pohon beringin. "Di lereng bukit Si Baluang, kita diajar tidak menyerah walau kaki sudah goyang dan ingus naik turun. Di sekolah, jangan menyerah walau otak sudah penat. Sekarang kau di depan, Ya. Kami berdua di belakangmu. Tapi sawah kita tetap sama, rumah kita tetap sama, lampu petromaks kita tetap sama. Kami tunggu kau di bawah, di Kelas Dua."
Darlin yang seumuran dengan Arlan, 12 tahun, menambahkan sambil memeluk Arya erat, "Jan lupo jo kami di Kelas Duo, Ya. Kalau ada soal susah di Kelas Tigo, turun saja ke bawah ke kelas kami. Kami tetap satu tikar pandan di bawah petromaks, Ya. Kami yang seumuran akan jaga ayah dan ibu di rumah."
Hari Senin minggu depannya adalah hari pertama Arya masuk Kelas IX.
Pagi itu, ia berjalan tidak lagi hanya dengan Arlan dan Darlin yang seumuran 12 tahun itu. Ia berjalan diapit oleh Ibrahim yang 13 tahun yang dulu naik Si Baluang dengan ingus naik turun, dan Faizal yang 14 tahun. Tiga orang itu naik pelan-pelan ke lantai dua gedung SMP Negeri Pande Sikek yang papan kayunya sudah lapuk dan berderit kalau diinjak, menuju Kelas IX A, kelas yang isinya anak-anak paling besar di sekolah itu, anak-anak yang sudah 15 tahun dan sudah berani merokok diam-diam di belakang WC.
Begitu pintu kayu kelas yang catnya mengelupas dibuka, 20 pasang mata anak 15 tahun yang kumisnya sudah tipis menatap mereka bertiga dengan tatapan kaget. Ada yang berbisik pelan, "Itu anak kecil yang loncat itu ya? Yang dulu masih bayi 3 bulan waktu kita naik Si Baluang itu?"
Arya yang dulu waktu umur 10 tahun akan menunduk takut dan sembunyi di belakang Arlan dan Darlin, kini tidak. Ia ingat latihan di pematang sawah pusako yang licin, ia ingat guci besi berminyak yang licin, ia ingat manjalo kaki sampai lutut cium tanah. Ia atur napas dari dada, dalam dan panjang. Ia ingat lidi dan butir cengkeh di atas tikar pandan yang diajarkan Andi dan ditulis ulang dengan rapi oleh Arlan dan Darlin yang seumuran 12 tahun itu.
Ibrahim menarik kursi kayu yang berderit untuknya di tengah, Faizal duduk di belakangnya sebagai penjaga, seperti janji mereka di bawah petromaks enam bulan lalu.
Di hari pertama di Kelas Tiga itu, Arya Arsyad Sikumbang yang berumur 11 tahun akhirnya mengerti kenapa ia harus berpisah dengan kakak kandungnya Arlan Rasyad Sikumbang dan sepupunya Darlin Aminuddin Chaniago yang seumuran 13,5 tahun yang akan naik ke Kelas Dua.
Perpisahan itu bukan untuk menjauh. Perpisahan itu bukan karena benci. Perpisahan itu adalah untuk membuka jalan yang lebih tinggi. Seperti kata ayahnya Abdullah Bin Rais Payobadar yang kembali bersawah sejak 1974 setelah merantau lama: padi yang ditanam bersama di sawah pusako tidak harus dipanen bersamaan. Ada yang harus dipanen lebih dulu untuk menjadi benih bagi yang lain, untuk menjadi contoh.
Dan hari itu, di Kelas IX A yang papan tulisnya sudah hitam pekat, di antara anak-anak 15 tahun, benih yang dulu masih bayi 3 bulan digendong Siti Aminah di Pos Satu, yang dulu naik Si Baluang dengan ingus naik turun bersama Ibrahim, kini mulai tumbuh menjadi padi yang paling tinggi di sawah itu.