Mia menikah muda di usia dua puluh satu tahun dengan Edo, pria yang tiga tahun lebih muda darinya. Awalnya, perbedaan usia bukanlah masalah. Satu tahun pertama pernikahan mereka dipenuhi cinta, tawa, dan mimpi sederhana sebagai pasangan muda.
Namun, setelah tiga tahun, semuanya berubah.
Edo yang pemalas mulai menggantungkan seluruh kebutuhan hidup kepada Mia. Sementara Edo menghabiskan uangnya untuk bersenang-senang.
Yang lebih menyakitkan, Edo merasa dirinya lebih berharga hanya karena lebih muda. Ia tak segan menghina Mia, menyebutnya tua, membandingkannya dengan perempuan lain, bahkan berkali-kali melakukan kekerasan. Keluarga Edo juga selalu membela Edo, menyebut Mia beruntung bersuamikan lelaki yang jauh lebih muda.
Mia terpuruk.
Hingga akhirnya ia sadar dan tak lagi menjadi wanita lemah.
"Aku pernah mencintaimu sampai lupa mencintai diriku sendiri. Tapi sekarang, aku memilih mencintai diriku sendiri!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Pukul tiga dini hari, Mia terbangun. Matanya masih terasa berat, tetapi tubuhnya sudah sedikit lebih segar setelah beberapa jam beristirahat. Rasa nyeri di leher dan beberapa bagian tubuhnya masih terasa, tetapi tidak separah sebelumnya.
Mia duduk perlahan di tepi kasur. Tangannya refleks menyentuh leher yang masih memerah. Ia menarik napas panjang. "Rasanya semua beban dalam hidupku menghilang. Kini semua terasa ringan." Mia beranjak dari kasur. Berjalan menuju ruang depan untuk ke kamar mandi dan berwudhu. Setelah itu, ia kembali ke kamar dan menggelar sajadah.
Dalam keheningan dini hari, Mia melaksanakan salat tahajud. Setiap gerakan salat dilakukannya perlahan. Tidak ada suara selain lantunan ayat-ayat yang keluar lirih dari bibirnya.
Setelah salam, Mia tetap duduk di atas sajadah. Kedua tangannya terangkat.
"Ya Allah..." Suaranya bergetar. "Terima kasih karena Engkau masih memberiku kekuatan sampai hari ini." Mia menundukkan kepala. "Kalau memang perpisahan ini adalah jalan yang terbaik untukku, tolong kuatkan hatiku untuk menerimanya." Air matanya kembali menetes. "Jangan biarkan aku kembali kepada sesuatu yang sudah Engkau jauhkan dariku." Ia mengusap pipinya. "Beri aku keberanian untuk menceritakan semuanya kepada kedua orang tuaku. Aku tahu mereka pasti sedih dan kecewa, tapi aku mohon... mudahkan aku menghadapi semuanya." Mia menarik napas panjang. "Dan kalau masih ada banyak hal yang harus kuselesaikan dengan keluarga Edo, berikan aku kesabaran." Ia terdiam beberapa detik.
"Ya Allah, aku tidak meminta hidup yang sempurna. Aku hanya ingin hidup dengan tenang. Berikan aku rezeki yang cukup. Berikan aku kekuatan untuk berdiri dengan kakiku sendiri." Mia menengadahkan wajahnya. "Dan sembuhkan hatiku." Doanya berakhir dengan suara yang semakin lirih.
Setelah beberapa saat, Mia melipat mukenanya. Ia berdiri, lalu memandang ke arah lemari tempat barang-barang Edo berada. Mia berjalan mendekatinya. Tidak ada lagi keraguan di wajahnya. Ia mengambil satu per satu pakaian milik Edo. Kemeja, celana, kaus, jaket, dan beberapa pakaian lainnya dimasukkan ke dalam tas ransel milik lelaki itu. Mia melakukannya tanpa terburu-buru. Tidak ada kemarahan dan tangisan. Hanya ketenangan yang terasa asing setelah semua kekacauan malam ini.
Setelah memastikan tidak ada lagi pakaian Edo yang tertinggal, Mia menutup ransel tersebut dan menarik ritsletingnya hingga rapat. Ia mengangkat tas itu. "Berat juga." Mia membawanya keluar kamar, lalu meletakkannya di dekat pintu depan. "Tinggal nanti pagi aku keluarkan," gumamnya. Tatapannya jatuh lagi pada tas tersebut.
Dulu, barang-barang itu adalah bagian dari kehidupan mereka sebagai suami istri. Sekarang, semua itu hanya menjadi barang milik seorang lelaki yang sudah bukan lagi suaminya.
Mia mengembuskan napas panjang. Ia kemudian kembali ke kamar. Di sana, Mia mengambil tas miliknya sendiri. Ia membuka ritsletingnya dan memasukkan beberapa pakaian. Tidak banyak. Hanya pakaian yang sekiranya cukup untuk beberapa hari. Mia berhenti sejenak sambil memandang isi tasnya. "Aku harus pulang dulu ke Pasir Hurang," bisiknya. Tangannya kembali memasukkan satu pakaian ke dalam tas. "Masalah ini harus segera kubicarakan sama Bapak dan Ibu." Ia terdiam. "Juga keluarga Edo."
Mia tahu, apa pun yang terjadi malam ini, persoalan tersebut tidak bisa dibiarkan begitu saja. Ia harus memberitahukan semuanya kepada kedua orang tuanya. Ia juga harus memastikan keluarga Edo mengetahui bahwa talak telah dijatuhkan dan hubungan mereka sebagai suami istri telah berakhir.
Namun, ada satu hal yang harus diselesaikannya terlebih dahulu. Mia menutup tas. "Tapi aku harus ke pabrik dulu." Tatapannya jatuh pada meja kecil di dekat tempat tidur, tempat obat dari klinik tadi diletakkan. "Aku harus nganterin surat sakit. Supaya gajiku tidak dipotong dan aku tidak kena SP." Mia menarik napas panjang. "Bismillah, lancarkan semuanya Ya Allah."
______
Tepat jam enam pagi, setelah memastikan surat sakit sudah dibawa, Mia berangkat menuju pabrik. Tubuhnya masih terasa nyeri, terutama di bagian leher dan bahu, tetapi ia berusaha berjalan seperti biasa.
Angkot biru sudah menunggu, Mia segera naik.
Tak lama kemudian, wanita berkerudung hitam itu sudah sampai di depan gerbang. Keadaan pabrik sudah cukup ramai. Para pekerja berdatangan menuju gerbang. Mia langsung menghampiri Susi, Adm line lima yang tadi sudah ia hubungi terlebih dahulu. "Selamat pagi, Bu," sapa Mia pelan.
Susi membalas, "Pagi juga, Mia."
Mia tersenyum tipis. "Saya mau menyerahkan surat sakit, Bu."
"Oh, iya. Sini." Mia menyerahkan surat dari klinik. Susi menerima dan membacanya sebentar. "Semoga kamu lekas sembuh ya, Mia."
"Iya, Bu. Terima kasih." Mia berpamitan, lalu meninggalkan area pabrik. Ia mencegat angkot lagi dan segera masuk. "Sebelum pulang, aku harus ke rumah yang punya kontrakan dulu," batinnya.
Tiga puluh menit kemudian, Mia berseru, "Kiri, Bang!" Angkot menepi dan Mia pun turun setelah membayar ongkos. Ia berjalan menuju rumah dua tingkat yang berdiri megah di pinggir jalan. Mia menekan bel di dekat pintu.
Tak lama kemudian, seorang lelaki paruh baya membuka pintu.
"Assalamu'alaikum, Pak Haji," sapa Mia.
"Wa'alaikumsalam, Mia," Haji Nasir membalas, wajahnya tampak sedikit terkejut. "Tumben pagi-pagi ke sini, ada apa?"
Mia menundukkan kepala sebentar. "Pak, saya ada perlu sama Pak Haji. Saya mau bicara sebentar."
Haji Nasir mengangguk. "Mari masuk." Lelaki berpeci putih itu membuka pintu lebar-lebar.
Mia melangkah masuk dan duduk di ruang tamu.
Bu Hajah Aisyah datang dan menyapa Mia sambil menyajikan minuman.
Setelah berbasa-basi, Mia pun menceritakan apa yang terjadi malam tadi. Tentang pertengkarannya dengan Edo, perlakuan kasar lelaki itu, hingga talak yang akhirnya dijatuhkan.
Semakin lama mendengar cerita Mia, wajah Haji Nasir dan Hajah Aisyah semakin tegang. "Astagfirullah..." gumam keduanya ngeri.
Mia kemudian mengeluarkan sebuah kunci dari dalam tas. "Saya juga mau memberikan kunci duplikat kontrakan saya, Pak Haji, Bu Haji. Selama ini kunci duplikat ini selalu dibawa Edo. Yang aslinya ada sama saya. Saya memberikan kunci duplikat ini ke Pak Haji dan Bu Haji, supaya Edo tidak bisa masuk dengan seenaknya ke kontrakan. Dia kan sudah bukan siapa-siapa saya lagi."
Haji Nasir menerima kunci itu dengan wajah serius. "Bagus, Mia. Keputusan kamu ini sudah benar."
Mia mengangguk. "Saya juga mau pulang dulu."
"Pulang?" sahut Haji Nasir dan Haji Aisyah kompak.
"Iya, Pak, Bu. Saya mau pulang ke dulu kampung. Mau membicarakan apa yang terjadi pada rumah tangga saya ke orang tua saya," jelas Mia.
Haji Nasir menghela napas panjang. Tatapannya berubah menjadi penuh iba. "Pulanglah, Mia. Memang itu yang harus kamu lakukan. Ini bukan masalah sepele."
"Iya, Mia. Tenangkan hatimu dulu," timpal Hajah Aisyah.
Mia mengangguk kecil. "Kalau begitu, saya pamit dulu ya, Bu Haji, Pak Haji." Mia menyalami sepasang suami istri itu.
"Iya, hati-hati di jalan, Mia." Keduanya lagi-lagi berucap kompak.
Hajah Aisyah memeluk Mia. "Saya ikut prihatin, Mia. Dari awal saya lihat kamu... kamu itu istri yang baik dan nggak neko-neko. Si Edo benar-benar nggak bersyukur dan tidak tahu diri."
Mata Mia mulai berkaca-kaca. Setiap mendengar kalimat penenang dan penyemangat, ia selalu ingin menangis.
"Terima kasih, Bu."
"Sudah, jangan menangis." Hajah Aisyah mengurai pelukan.
Mia tersenyum tipis dan mengusap sudut matanya.
"Semoga setelah ini, hidup kamu lebih tenang." Haji Nasir menambahkan.
"Aamiin."
Setelah berpamitan, Mia kembali berjalan menuju kontrakannya. Begitu sampai, ia langsung masuk dan mengambil tas yang sudah disiapkan sejak dini hari. Sebelum pergi, pandangannya berkeliling ke seluruh ruangan. Tempat ini menyimpan terlalu banyak kenangan. Ada tawa, pertengkaran, tangisan dan ada luka yang mungkin tidak akan pernah ia lupakan. Mia menghela napas.
Namun, ia tidak ingin menoleh lagi. Ia mengambil ransel milik Edo yang sudah diisi pakaian lelaki itu, kemudian membawanya keluar. Kebetulan Pak Udin sedang membersihkan halaman kontrakan. "Pak Udin."
Lelaki itu menoleh. "Oh, Mia. Kamu mau pergi ke mana?"
"Aku mau pulang dulu ke Bandung, Pak."
Pak Udin menghentikan pekerjaannya. "Mau menyelesaikan masalahmu,ya?"
"Iya." Mia mengangguk. "Aku mau minta tolong ke Pak Udin."
"Minta tolong apa?" tanya Pak Udin.
Mia menyerahkan ransel yang dijinjingnya kepada Pak Udin. "Nanti, kalau Edo datang ke sini, tolong kasihkan tas ini ke dia, ya."
Pak Udin menerima ransel itu. "Ini pakaian si Edo?"
"Iya, Pak."
"Siap, Mia."
Mia mengangguk. "Terima kasih ya, Pak. Dan ini untuk beli kopi." Mia memberikan selembar uang lima puluh ribu pada Pak Udin.
"Aduh, nggak usah, Mia." Pak Udin mengibaskan tangan.
"Nggak apa-apa, Pak. Ambil saja. Tolong..." Mia tetap memaksa.
Akhirnya Pak Udin menerimanya. "Terima kasih ya, Mia."
"Justru aku yang berterima kasih karena Pak Udin sudah mau direpotkan olehku."
"Iya, Mia. Kita kan tetangga. Hati-hati di jalan, ya. Semoga masalahmu cepat selesai dan kamu segera kembali lagi ke sini."
"Aamiin, Pak." Senyum kecil menghiasi bibir Mia. Tatapan matanya berpendar ke deretan kontrakan lain. Sebenarnya ia ingin berpamitan kepada Tarmi, Tarjo, Jamal, dan Rifki. Orang-orang yang semalam datang ketika dirinya berada dalam keadaan paling buruk.
Namun, pagi ini semuanya sudah berangkat bekerja. Mia menarik napas. "Mungkin nanti kalau sudah sampai Bandung, aku bisa menghubungi mereka." Ia lalu mengangkat tasnya. "Pak Udin, aku pamit."
"Hati-hati di jalan, Mia." Pak Udin mengulangi pesannya.
"Iya, Pak. Terima kasih." Mia melangkah meninggalkan halaman kontrakan. Langkahnya terasa ringan. Sampai di jalan utama, sebuah angkot berwarna biru berhenti di depannya. Mia naik dan memilih duduk di dekat jendela.
"Terminal, Mang," ujarnya.
"Siap." Angkot kembali melaju.
Mia memandang kawasan kontrakan yang perlahan menjauh dari pandangannya. Untuk beberapa saat, ia hanya diam. Kemudian, tangannya menggenggam erat tali tas di pangkuannya. "Tiga tahun lalu, aku datang ke tempat ini sebagai seorang istri. Tapi kini, aku pulang ke rumah dengan status yang berbeda. Kini, aku telah menjadi janda."
😁😁🤭
si setan edo kenapa g di bikin nyungsep aja sih thor ..laju laju membawa kendraan trus nyungsep luka luka hilang lah ketampanan yg di banggakanya👍👍💪