Liora dipaksa menikah dengan Kaedric Volther, pria yang dikenal kejam dan berbahaya. Namun sebelum pernikahan itu terjadi, Kaedric meninggal dunia. Liora mengira rencana pernikahan itu akan dibatalkan dan ia bisa kembali menjalani hidupnya seperti biasa.
Namun keputusan keluarga Volther berubah. Untuk menjaga kepentingan keluarga, Liora justru harus menikah dengan ayah Kaedric, Maelric Volther, seorang pria berkuasa yang jauh lebih tua darinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vaelisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18
Sudah satu minggu sejak kecelakaan itu, dan selama itu Maelric melarang Liora meninggalkan rumah. Liora menduga itu sebagian cara Maelric membalas dendam kepada keluarganya, karena selama seminggu penuh, hanya Zevran yang sempat mengunjunginya sekali. Tapi saat ini memar-memarnya sudah hampir sepenuhnya memudar, dan Liora tidak berniat membiarkan dirinya dikurung lebih lama.
Kalau ia harus merelakan kuliahnya, setidaknya ia tidak akan merelakan kebebasannya untuk bergerak.
Ia berdiri di depan cermin, mengaplikasikan alas bedak dengan kuas. Hari ini ia memilih riasan yang lebih tebal dari biasanya, sesuatu yang biasanya ia hindari karena tidak ingin merusak kulitnya yang cukup sehat. Tapi hari ini ada alasannya.
"Untuk apa dandanan setebal itu?" Maelric muncul di belakangnya, seperti biasa, tanpa suara. Tapi Liora sudah tidak lagi terkejut. "Kamu tahu aku lebih suka penampilanmu yang alami."
"Ya, tapi aku mau keluar. Dan aku tidak mau kakak-kakakku malah memperhatikan wajahku terus."
Dari pantulan cermin, Liora melihat ekspresi Maelric yang tidak senang.
"Bastian belum bisa menemanimu, dan kamu tidak akan keluar sendirian."
"Raphael yang akan jemput," kata Liora. "Ronan yang tawarkan duluan, tapi untuk menghindari masalah, aku pilih Raphael."
Maelric diam sejenak. Raphael memang belum pernah membuat masalah langsung dengannya.
"Aku lebih suka kamu di sini sedikit lebih lama."
"Aku janji cepat pulang. Kamu bahkan tidak akan sempat kangen."
"Liora—"
"Hampir setiap hari aku di rumah." Liora meletakkan kuasnya dan berbalik menghadapnya langsung. "Aku sudah setuju berhenti kuliah karena kamu minta. Tapi aku tidak bisa tinggal terkurung di sini selamanya." Ia menjaga nada suaranya tetap tenang, bukan mengeluh, bukan menuntut.
Maelric menatapnya dengan ekspresi yang sulit dibaca. Lalu sesuatu berubah di wajahnya.
"Kalau kamu merasa bosan, kamu bisa bilang dari awal." Ia berhenti sejenak. "Salah satu klub malamku butuh seseorang yang mengelolanya. Kalau mau, itu bisa jadi kegiatanmu."
Liora memproses tawaran itu. Klub malam. Pengelolaan. Akses ke tempat yang ramai tanpa harus meminta izin setiap kali keluar.
"Ada pole dance-nya?" tanyanya dengan ekspresi yang diusahakan sedatar mungkin.
Alis Maelric berkerut. "Ada. Kenapa?"
"Kurasa aku tidak akan bisa belajar tari tiang dalam waktu singkat."
Ia melemparkan tatapan tajam ke arah Liora. "Kamu di sana untuk mengelola, bukan menari di depan orang-orang. Dan jauh-jauh dari tiangnya." Suaranya naik sedikit. "Ingat apa yang pernah kukatakan soal pengkhianatan."
Sulit untuk melupakan ancaman seperti itu.
"Aku ingat. Tapi itu besok. Hari ini aku tetap pergi."
Maelric mengehela napas panjang. Tangannya melingkar di pinggang Liora dan menariknya lebih dekat. Bibirnya mulai menyusuri lehernya, dan Liora memiringkan kepalanya sedikit memberi ruang.
"Aku mau menyibukkan dirimu dengan cara yang lebih menyenangkan," bisiknya.
"Nanti." Liora tidak bergerak menjauh, tapi juga tidak menyerah. "Begitu aku pulang."
Sebuah desahan rendah. "Baik. Tapi begitu kamu kembali, aku tidak akan membiarkanmu keluar dari kamar sampai besok pagi. Akan kuhabiskan semua waktu yang kamu buatku menunggu."
Liora hanya tersenyum kecil, membiarkan senyuman itu menjadi jawabannya.
**
Begitu tiba di rumah, Liora langsung disambut kehangatan yang sudah ia rindukan.
"Baru seminggu, tapi rasanya seperti berbulan-bulan," kata sang ayah begitu Liora duduk di sofa. Ia langsung duduk di sisi kanannya, sementara Ronan mengambil posisi di kirinya. "Dua puluh mil saja, tapi terasa seperti ujung dunia."
"Setidaknya kalian tidak dilarang mengunjunginya," gumam Ronan, matanya menatap ke depan. Tidak ada nada dramatis di suaranya, hanya pernyataan datar yang justru terasa lebih berat dari teriakan mana pun.
Liora meliriknya. Ia masih menyimpan rasa bersalah itu, ia bisa melihatnya.
"Itu akan segera berubah," kata sang ayah meyakinkan. "Putri kita akan lebih sering ke sini."
"Soal perjalanan ke Firenze, semua sudah aku urus. Tinggal tunggu kamu bilang kapan siap," kata Raphael dari kursi seberang.
"Aku sudah hampir lupa soal itu." Liora tersenyum. "Tapi aku mau pergi."
"Aku juga mau ikut," sela Zevran. "Sudah lama tidak melihat pemandangan Italia."
"Yang kamu maksud wanita-wanita Italia," koreksi Liora.
"Itu termasuk pemandangan." Zevran mengangkat bahu tidak bersalah.
"Kalau Liora setuju," kata Raphael, nada yang tidak biasa darinya. Kakak sulungnya itu memang tidak pernah jahat padanya, tapi juga tidak biasa seramah ini.
"Aku setuju." Liora menoleh ke Ronan. "Kamu juga ikut?"
Ronan menggeleng pelan. "Ada urusan."
Ada sesuatu di balik jawabannya yang singkat itu, sesuatu yang Liora sudah tebak sebelum ia bertanya.
"Kamu lelah, kan?" kata Ronan setelah beberapa saat, suaranya lebih pelan. "Pergi istirahat di kamarmu sebentar."
Liora mengenal isyarat itu.
"Kamu benar, aku memang kangen kasurku." Ia berpaling ke sang ayah. "Tidak keberatan?"
Sang ayah mengusap pipinya dengan ibu jari. "Rumah ini selalu milikmu, Nak."
**
Kamar Liora masih sama persis seperti terakhir kali ia tinggalkan. Dinding ungu. Bantal-bantal yang ditata rapi oleh Freya. Aroma familiar yang tidak ada di tempat lain.
Ronan masuk tak lama kemudian dan menutup pintu.
Liora duduk di tepi ranjang. Ronan langsung memulai.
"Aku minta maaf lagi soal kecelakaan itu. Seharusnya tidak terjadi." Ia tidak duduk berdiri dan mulai berjalan bolak-balik, cara yang sudah Liora hafal sebagai tanda ia sedang mengelola sesuatu yang besar di dalam kepalanya. "Tapi aku punya rencana baru. Kali ini tidak ada celah."
Liora tidak menjawab langsung.
"Tunggu dulu. Ini sudah terlalu sering gagal dan setiap kegagalan semakin mencurigakan. Kalau Maelric mulai menghitung, kita semua yang akan kena."
"Justru karena itu aku tidak mau menunggu lebih lama." Ronan berhenti melangkah dan berjongkok di depan Liora, tangannya bertumpu di lututnya. "Pergi dengan Raphael dan Zevran ke Firenze. Aku jamin, kamu akan pulang sebagai janda."
Liora menatap matanya.
Kata-kata itu seharusnya terdengar seperti jawaban atas semua yang ia inginkan sejak awal. Kebebasan. Akhir dari semua ini. Kembali ke hidupnya.
Tapi yang ia rasakan bukan lega.
Ada sesuatu di dalam dirinya yang diam-diam menolak, sesuatu yang belum bisa ia beri nama, dan justru karena itulah ia takut.
Ia tidak menjawab Ronan.
Dan ketidakmampuannya untuk menjawab "ya" dengan mudah itu adalah hal yang paling menakutkan yang pernah ia rasakan dalam seluruh perjalanan ini.