"Jangan dekat-dekat cowok lain, Cebol. Kau itu tanggung jawabku!"
Bagi Anvaya Dinakara, Narev Elvaro adalah tetangga raksasa setinggi 192 cm yang paling menyebalkan. Narev selalu mengawasi Vaya, melarangnya berteman dengan pria lain dengan alasan "menjaga titipan orang tua".
Namun, satu insiden di malam kelulusan melempar mereka sepuluh tahun ke masa depan. Vaya terbangun bukan di kamarnya, melainkan di pelukan Narev dewasa yang sangat memujanya. Lebih gila lagi, ada seorang bayi cantik bernama Miciella Aracelli yang memanggil mereka "Mama" dan "Papa".
Terjebak dalam pernikahan masa depan yang manis, mampukah mereka kembali ke masa lalu saat status mereka masih "musuh bebuyutan"? Atau justru Narev akan melakukan segala cara agar masa depan itu menjadi nyata?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Malaikat Kecil Penjaga Damai
[POV: Vaya]
Mobil berhenti dengan sentakan pelan di depan lobi apartemen mewah kami. Narev langsung keluar tanpa menungguku, dia membukakan pintu dengan gerakan kasar lalu menarik tanganku agar aku segera turun. Dia tidak bicara sepatah kata pun sejak bentakannya di mobil tadi, namun napasnya yang memburu menandakan amarahnya masih di titik didih.
Begitu pintu apartemen terbuka, suasana sunyi menyambut kami. Narev melepaskan cengkeramannya di pergelangan tanganku, menyisakan bekas kemerahan yang terasa panas.
"Masuk ke kamar. Jangan keluar sebelum aku yang panggil," ucap Narev dingin. Suaranya datar, namun matanya menatapku seolah aku adalah tawanan yang baru saja tertangkap basah melarikan diri.
"Narev, kita perlu bicara! Kamu nggak bisa terus-terusan mengurungku setiap kali ada sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginanmu!" aku berteriak, mencoba meluapkan sesak di dadaku.
Narev berbalik perlahan, wajahnya mengeras. "Bicara apa, Vaya? Bicara tentang betapa kau ingin kembali pada Rian? Bicara tentang draf cerai yang kau simpan itu?!"
"Aku hanya ingin tahu kebenaran, Narev! Kenapa kamu harus memanipulasi hidupku sejauh itu? Memangnya aku ini barang milikmu?!"
"IYA! Kau milikku!" Narev mendekat, memojokkanku ke dinding dekat pintu. "Aku melakukan segalanya untukmu! Aku menghancurkan siapa pun yang mencoba menyakitimu, termasuk pria brengsek yang sekarang kau bela itu!"
"Tapi kamu menyakitiku, Narev! Kamu membuatku takut!" suaraku bergetar, air mataku kembali tumpah.
Tiba-tiba, langkah kaki kecil terdengar berlari dari arah ruang tengah. "Mama! Papa!"
Miciella muncul dengan mata yang masih mengantuk, memeluk boneka kelinci kesayangannya. Dia berhenti tepat di tengah-tengah kami, menatap wajah Narev yang garang dan wajahku yang basah oleh air mata.
"Mama... nangis?" Mici mendekat, bibir kecilnya mulai melengkung ke bawah, tanda dia akan ikut menangis.
Narev seketika mematung. Amarah yang tadi meluap-luap seolah disiram air es. Dia berlutut, mencoba menggendong Mici. "Mici sayang, kenapa belum tidur? Ini sudah malam, Nak."
Mici menggeleng kuat-kuat. Dia menepis tangan Narev—sesuatu yang sangat jarang dia lakukan karena dia sangat memuja ayahnya. Mici justru berdiri di depanku, merentangkan kedua tangan kecilnya seolah sedang melindungiku dari raksasa jahat.
"Papa nakal! Papa bikin Mama sedih!" teriak Mici dengan suara cadelnya yang lantang. "Papa jangan marah-marah!"
Aku tertegun. Narev tampak sangat terpukul. Dia menatap tangannya yang baru saja ditepis oleh putri kecilnya sendiri. Di saat itulah, telingaku berdenging lagi. Suara jernih dari batin Mici merasuk ke jiwaku, lebih jelas dari sebelumnya.
“Papa... hatinya berisik sekali. Papa takut Mama pergi ya? Mici juga takut... tapi Papa jangan galak-galak, nanti Mama benar-benar lari...”
Aku menatap Narev. Ternyata raksasa ini sedang gemetar. Dia menundukkan kepalanya, menyembunyikan matanya yang mulai berkaca-kaca di balik rambut hitamnya yang berantakan.
"Mici..." gumam Narev lirih.
Mici berbalik, meraih tangan kananku dan tangan kiri Narev. Dia mencoba menyatukan kedua tangan kami yang berbeda ukuran itu dengan susah payah. "Papa... minta maaf sama Mama. Papa sayangnya Mama, kan? Mama jangan pergi ya?"
Narev menunduk semakin dalam. Keheningan yang membeku itu pecah saat Narev perlahan menggenggam tanganku yang diletakkan Mici di sana. Cengkeramannya kali ini sama sekali tidak kasar. Gemetar dan penuh permohonan.
"Maafkan aku," bisik Narev, suaranya pecah. Dia mendongak, matanya yang kelabu kini benar-benar basah. "Aku minta maaf karena aku tidak tahu cara lain untuk membuatmu tetap tinggal. Aku... aku hanya pria pengecut yang takut kehilangan satu-satunya alasan aku hidup."
Aku menatap genggaman tangan kami, lalu menatap Mici yang kini tersenyum sumringah melihat tangan kami bersatu.
"Narev, aku nggak butuh kamu jadi monster buat menjagaku," ucapku pelan, amarahku menguap digantikan rasa iba yang mendalam. "Aku butuh kamu yang jujur. Kamu bilang Rian berbahaya, tapi caramu memperlakukanku justru membuatmu terlihat lebih berbahaya."
"Beri aku kesempatan, Vaya," Narev menarikku ke dalam pelukannya, kali ini sangat lembut, seolah aku adalah porselen yang mudah retak. Dia membenamkan wajahnya di leherku, menghirup aromaku dengan rakus. "Jangan temui dia lagi. Tolong. Aku akan menceritakan semuanya padamu, tanpa rahasia lagi. Tapi tolong, jangan pernah berpikir untuk meninggalkanku."
Mici tertawa kecil, dia memeluk kaki kami berdua sekaligus. "Mici sayang Papa Mama! Jangan berantem lagi ya? Mici mau bobo bareng."
“Akhirnya... hatinya Papa nggak berisik lagi. Papa sudah sayang Mama beneran. Mici mau kita selamanya begini...” bisik suara hati Mici di kepalaku.
Aku membalas pelukan Narev, merasakannya napasnya yang mulai teratur. Di antara kepingan masa lalu yang menyakitkan dan masa depan yang penuh obsesi ini, ada satu malaikat kecil yang menjadi jembatan kami.
"Ayo kita tidur, Mici," kataku lembut sambil mengelus rambut Mici.
Narev melepaskan pelukannya, namun tetap menggenggam tanganku erat. "Malam ini... boleh aku tidur bersamamu dan Mici? Aku tidak ingin sendirian, Vaya."
Aku menatap matanya yang memohon. Ketakutan itu nyata. "Iya, Narev. Ayo."
Malam itu, di tempat tidur besar kami, Mici berada di tengah. Narev memeluk kami berdua seolah takut jika dia melepaskan sedikit saja, kami akan menguap seperti asap. Badai hari ini mereda, namun aku tahu, kejujuran yang dijanjikan Narev besok akan menjadi ujian yang jauh lebih besar.
G konsisten sma omongannya si vaya
ko pendek kali babnya panjangin dikit dong kaaaa