AUDREY DIRA ADIWANGSA, terlahir dari keluarga cemara yang memiliki sifat berani dan spontan.
Gadis itu dijodohkan oleh Papanya, Adiwangsa, dengan putra dari seorang Konglomerat yang bernama Wira Aldrian Bimasena. Namun ternyata keluarga calon suami nya itu Toxic, jauh berbeda sekali dengan kehidupan yang dijalani Audrey bersama keluarganya.
Akankah Audrey mampu menghadapi mereka ataukah Audrey akan kalah dan menyerah lalu kembali pada kehidupan nyamannya bersama keluarga besar Adiwangsa ??
Happy Reading...
Enjoy guys 💜
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ratu_halu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 32
Biarlah Audrey di anggap berlebihan. Tapi dia yakin dengan instingnya sebagai seorang wanita. Audrey yakin Shena menyukai suaminya dan ingin menggantikan posisi Audrey sebagai istrinya.
Wira semakin erat memeluk Audrey, sesekali dia mendaratkan kecupannya di antara leher dan tulang pipi Audrey.
"Baiklah. Aku akan minta Hendra untuk mengganti mobil ku hari ini juga. Kamu senang sekarang ?!"
Audrey tidak menjawab dengan kata-kata, namun kedua tangannya yang baru saja melingkar di pinggang Wira sudah bisa menjawab semuanya.
Beberapa saat berlalu, pelan-pelan Wira merenggangkan pelukannya. Di rapikannya anak rambut yang menutupi wajah istri kecilnya.
"Mulai hari ini kamu tidak boleh bawa mobil sendiri, akan ada supir pribadi yang akan mengantarkan kamu kemanapun, tapi tentu atas seizinku." Suara Wira tidak keras, tapi nadanya tegas.
"Loh, kok tiba-tiba ?!" Audrey langsung protes.
"Aku hanya mengantisipasi sesuatu yang kamu katakan tadi tidak sampai terjadi."
Wira tau dirinya pasti akan berbuat nekat jika sampai melihat Audrey dibonceng Dean lagi. Kali ini pasti Dean tidak akan 'selamat'.
"Egois!" Ucap Audrey
"Maaf. Tapi aku tidak sanggup melihat kamu bersama lelaki lain meskipun itu sahabatmu sendiri. Aku tidak bisa."
"Kakak cemburu ?"
"Tentu saja. Kita sudah berkomitmen untuk menjalani pernikahan ini sebagaimana mestinya."
Audrey tidak menyangka kalau Wira akan sejujur itu.
"Mulai sekarang jika ada hal yang membuat kamu marah, langsung katakan. Jangan mendiamkan ku seperti kemarin. Okay ?!"
Audrey tidak menjawab karena entah sejak kapan jarak wajah mereka sudah sedekat itu..
Wira menangkup wajah Audrey, hingga di detik bibirnya dan bibir Audrey hampir menempel, Audrey tiba-tiba merasakan gejolak yang luar biasa di perutnya.
Audrey langsung menutup mulut, menahan mual.
Kali ini Wira tidak menyerah, dia ingin menyembuhkan Audrey dari traumanya.
Flashback On.
Semalam setelah pulang dari mengecek proyek dan tau ternyata Audrey pindah kamar, Wira menghubungi nomor Vincent, kakak Audrey.
Malam itu Wira mengobrol banyak sekali. Terutama tentang Audrey di masa lalu. Karena orang suruhannya tidak menemukan apapun soal sesuatu yang memicu trauma Audrey.
'Audrey hampir dilecehkan. Dia trauma dengan sentuhan dibibir atau mulut karena pada waktu itu si penculik mau mencium nya.'
Flashback Off.
Hoek. Hoek.
Audrey hampir muntah tapi Wira tiba-tiba langsung menyambar mulut Audrey. Ketika Audrey berontak, Wira menekan tengkuk Audrey agar semakin memperdalam ciumannya.
Di lumat, di sesap serta di teguknya air liur Audrey tanpa merasa jijik.
Audrey meneteskan air matanya ketika ciuman Wira yang tadi menuntut kini berubah lembut saat Audrey merasa tenang.
Wira memegang sisi kanan dan kiri pinggang Audrey, lalu dengan sekali hentak tubuh Audrey sudah berpindah berada di atas pangkuan dengan bibir yang masih saling menempel.
"Mulai hari ini panggil aku 'Sayang'." Pinta Wira disela-sela ciuman mereka. "Say it."
Audrey sempat terdiam, bukan hanya terkejut dengan permintaan Wira, tapi dia juga sedang memfokuskan diri untuk merasakan apakah masih ada rasa mual itu setelah Wira berhasil mendapatkan ciuman pertamanya.
"Say it..." Pinta Wira lagi kali ini nadanya menuntut.
"Sa-sayang..." Audrey tergagap menyebutkan kata itu, tapi dia berhasl.
Cupp!
Wira mencium lagi bibir Audrey, darah keduanya berdesir hebat. Ciuman itu semakin menuntut balasan, hingga Audrey pelan-pelan mulai mengeluarkan lidahnya. Wira menyesapnya dengan penuh nafsu, lidah mereka saling membelit beberap detik.
"Aku tidak tau apa seperti ini yang dinamakan cinta, tapi sungguh, aku sangat takut kehilangan kamu." Bisik Wira tepat di telinga Audrey.
Audrey melingkarkan kedua tangannya di leher Wira. Menjambak rambut belakang Wira ketika suaminya itu mulai menjilati leher jenjang nya sambil mendorong bokong Audrey agar tubuh mereka semakin menempel.
eughh..
Audrey mendesah untuk pertama kalinya.
Wira meremas bokong Audrey, hingga saat tanpa sadar Audrey duduk mulai tidak nyaman karena ada sesuatu yang keras di bawah sana.
"Audrey, apa kamu ada kuliah hari ini ?" tanya Wira dengan suara parau.
Audrey menggeleng dengan tatapan sayu.
Mendapat jawaban itu, Wira dengan cepat mengganti posisinya, menidurkan Audrey di atas kasur dengan posisi tubuh nya di atas Audrey.
"Sayang, aku sudah tidak bisa menahan nya. Apa kamu keberatan ?" tanya Wira sambil menggesek-gesekan ujung telunjuknya di inti milik Audrey yang sudah basah.
Audrey bergerak tak karuan sambil menggigit bibir bawahnya, membuat gadis itu semakin terlihat sensual di mata Wira.
Dengan insting kelelakiannya, Wira menyingkap baju tidur Audrey, dua gundukan tanpa penghalang nya langsung terpampang nyata.
Hap.
Wira melahap dua gundukan dengan puting berwarna merah muda itu bergantian, kanan dan kiri.
Ugh...
Audrey mendongak, merasakan dibawahnya sudah semakin basah karena ulah sang suami.
"K-kak..." Audrey menjambak rambut Wira, berusaha menarik kepala Wira yang mulutnya sedang menggigit-gigit kecil puting Audrey.
"Panggil sayang," Kata Wira
"Sa-sayang..ugh, stop.."
Wira tersenyum puas mendengar Audrey memanggilnya sayang.
Tanpa menunggu lagi, Wira langsung menurunkan kain berbentuk segitiga tipis yang sudah mulai basah oleh pelumas yang Audrey keluarkan karena rangsangan yang dia berikan.
Wira memposisikan wajahnya tepat di inti Audrey. Wira meneguk seluruh cairan itu.
Tiba di moment ketika milik Wira kesulitan menerobos selaput dara Audrey. Dan dipercobaan berikutnya akhirnya Wira berhasil seiring dengan jeritan pilu serta tetesan air mata yang mengalir di sudut mata sang istri.
"Terimakasih, sayang. Aku janji akan menjagamu dan tidak akan pernah meninggalkan mu, Cupp." Wira mencium kedua kelopak mata Audrey.
Hingga akhirnya pagi itu menjadi saksi 'kegiatan panas' mereka untuk pertama kalinya.