Untuk visualnya, silahkan kunjungi Instagram noer_azzura16
Kakak Bella ditemukan dalam keadaan mabukk dan menyebabkan kecelakaan yang merenggut nyawa Lusi, adik Leo. Membuat ibu dan ayah Leo terpukul hebat.
Sementara Bella dan Leo baru saja kembali dari bulan madu. Kebahagiaan itu hancur seketika, melihat keluarga yang akhirnya menatap Bella sebagai seorang adik dari pembunuhh orang yang mereka cintai.
Setelahnya Bella bahkan tidak bisa menatap cinta itu lagi di mata suaminya. Meski kakaknya bahkan di penjara. Dia masih harus menanggung akibat dari apa yang dilakukan kakaknya itu.
Dua orang yang tadinya saling mencintai, dendam telah mengalahkan cinta mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18- CKOD 18
Saat semua orang sedang makan malam, dan Bella masih berada di dalam kamar. Tiba-tiba saja jendela kamar Bella ada yang mengetuk.
Tok tok tok
Bella melihat dengan hati-hati. Rara melambaikan tangan ke arah Bella dengan semangkuk sup di tangannya.
Bella membuka jendela kamarnya itu.
"Nona, waktunya makan malam. Tenang saja, selama aku disini. Nona tidak akan aku biarkan kelaparan!"
"Rara, nanti nyonya Vivian dan kak Desy akan marah padamu..."
"Nona tenang saja!" sela Rara, "ini bukan makanan dari rumah ini. Masalah di dalam, aku sudah berkoordinasi dengan bibi Okta. Di luar, ada Ted yang menjaga. Aman, makanlah nona!"
Bella menerima mangkuk sup yang isinya sabat banyak itu. Sup daging dan sayuran yang memang sudah lama dia tidak makan.
"Kak Aditya yang memerintahkan kalian?" tanya Bella.
"Benar" jawab Rara cepat.
Bella menghela nafas lega. Dia pun makan sup itu. Rara juga memberikan beberapa vitamin, dan minuman yang sehat untuk Bella.
"Pokoknya nona tenang saja, jika ada yang melukai nona, tinggal teriak saja. Kami akan datang membantu nona bagaimanapun caranya!"
Bella mengangguk. Rara membawa mangkuk dan semua bekas makan juga minum Bella.
Sementara di ruang makan. Davin yang sudah selesai makan di bawa pengasuhnya pergi.
"Belum ada kabar dari suami kamu?" tanya Vivian pada Desy.
"Belum Bu, aku akan ke rumah ayahnya. Biar ayahnya itu yang cari dia!"
"Terserah kamu!" kata Vivian.
Vivian menoleh ke arah dapur. Bibi Okta terlihat sibuk menyiapkan buah.
"Biasanya dia akan sibuk minta ijin memberi makan adik pembunuhh itu. Kenapa dia tidak melakukannya?" gumam Vivian yang di dengar oleh Desy.
Vivian melihat bibi Okta sejak tadi tidak ribut masalah kasih makan atau minum untuk Bella.
"Halahh Bu, mungkin dia sudah sadar. Kalau membantu wanita murahan itu sama sekali tidak ada gunanya" kata Desy yang malas berdebat masalah itu.
Suaminya saja tidak pulang dan tidak menghubunginya. Kenapa dia harus memikirkan masalah pelayan pula.
Tapi Vivian masih menaruh curiga.
"Bibi Okta!"
"Iya nyonya!"
Bibi Okta segera datang dengan buah yang sudah dia kupas. Padahal kan anjuran dokter itu makan buah sebelum makan ya, mereka malah makan buah sesudah makan.
"Tumben kamu gak sibuk, minta ijin buat kasih makan wanita pembawa siall itu?" tanya Vivian menatap dengan penuh selidik pada bibi Okta.
Bibi Okta menundukkan kepalanya.
"Nona Bella yang minta nyonya! katanya dia takut membuat nyonya marah lagi!"
Jawaban itu yang mengajarkannya adalah Rara. Rara memberitahukan bibi Okta, bahwa dia tidak perlu mengkhawatirkan masalah Bella. Dia akan membantu nonanya itu, dan kalau memang butuh bantuan bibi Okta, dia akan mengatakannya pada bibi Okta.
Desy mendengus bangga.
"Nah, tahu diri juga akhirnya adik pembunuhh itu kan!"
Bibi Okta menundukkan kepalanya. Dia terlihat sedih. Itu bukan pura-pura. Dia memang sedih, bukankah Bella itu menanti di rumah ini. Tapi dia tidak pernah di perlakukan seperti menantu. Bahkan pelayan makan lebih banyak dan lebih sering darinya di rumah ini.
Vivian yang melihat wajah sedih bibi Okta menjadi yakin. Kalau memang Bibi Okta mungkin tidak membantu Bella lagi.
"Baguslah kalian semua sadar! jangan membuat masalah bibi Okta. Kamu itu cuma pelayan! kami bisa kapan saja memecat kamu!" kata Vivian dengan angkuhnya.
Bibi Okta mengangguk patuh.
"Iya nyonya!"
"Sudah sana!"
Bibi Okta segera pergi ke dapur. Di dapur, dini menertawakan wanita paruh baya yang kerap menantu Bella itu.
"Ha ha ha, tahu kan bi sekarang siapa majikan yang sebenarnya di rumah ini. Aku sudah kasih tahu bibi dari dulu. Kalau mau cari muka, harusnya sama yang berkuasa. Tuh kayak nyonya Vivian dan nona Desy. Ini bibi cari muka sama orang yang jadi bulan-bulanan di rumah ini. Aneh!"
Bibi Okta tidak menanggapi ucapan Dini. Dia bukan cari muka pada Bella. Dia kasihan.
Melihat bibi Okta terus menunduk, Dini rasanya puas sekali.
"Lain kali gak usah bantuin nona Bella. Lagian dia itu juga aneh kan, kan dia sudah keluar tuh dari rumah ini. Gak biasanya dia bisa keluar kan, dia sudah keluar meskipun itu ke rumah sakit. Harusnya dia kabur dong, malah balik lagi. Aku rasa benar kata nyonya Vivian. Dia memang gak mau hidup susah. Dia masih berharap tuan Leo itu bisa cinta lagi sama dia. Mengharap sesuatu yang mustahil, gak mungkin banget lah. Belum tahu aja, kalau tuan Leo sudah mau dijodohkan..."
Dini melebarkan matanya. Sepertinya dia keceplosan.
Bibi Erma yang mendengar itu, sangat terkejut.
"Di jodohkan? di jodohkan bagaimana?"
Tapi karena Dini berliku, bibi Okta walaupun tahu hal ini juga gak bakalan ngadu ke majikan mereka. Maka Dini dengan santai melanjutkan ucapannya.
"Ya kemarin aku kan dengar pas mereka lagi ngobrol. Ada teman bisnis tuan Bima, suka sama tuan Leo. Katanya mau dijodohkan saja! jadi istri kedua, tapi akan diprioritaskan, gitu!" cerita Dini dengan begitu santainya.
Bibi Okta semakin merasa sedih. Kenapa kalau memang mau menikah lagi. Nona Bella tidak dilepaskan saja. Bibi Okta tidak pernah mengira. Dia akan bekerja dengan orang-orang yang tak punya hati seperti keluarga Alexander ini.
Sedangkan di rumah sakit. Perawat Mega kembali memberikan obat tidur pada penjaga yang menjaga bangsal dimana Bagas dirawat. Hingga Aditya bisa melaporkan apa yang terjadi pada Bagas.
"Tuan..."
"Bagaimana keadaan Bella?" tanya Bagas menyela Aditya.
Aditya segera mendekat dan mengatakan semua yang dia tahu.
"Nona Bella sudah kembali ke rumah itu. Tapi sudah ada dua orang yang menjaganya. Dan orang kita melaporkan, kalau di rumah itu. Nona Bella kerap mendapatkan siksaan yang berat. Selama dua jam setiap harinya, tidak perduli itu panas atau hujan. Nona Bella harus berlutut di teras samping rumah itu. Itu hukuman yang ditetapkan oleh tuan Bima dan tuan Leo untuknya..."
Tangan Bagas terkepal kuat. Buku-buku tangannya sampai memutih, ketika dia mendengar apa yang Aditya katakan tentang adiknya.
"Pagi, siang, sore. Nona Bella mendapatkan siksaan fisik. Makan pun hanya di beri satu kali sehari. Supaya nona Bella tetap hidup. Sementara dia harus melakukan semua pekerjaan yang mereka perintahkan. Malam hari, bibi Okta bilang. Dia kerap mendengar suara nona kesakitan..."
Bagas mencengkeram kuat pinggiran tempat tidur pasiennya. Dia marah, sangat marah. Adiknya, adik yang dia perlakukan dan jaga dengan sangat baik. Mengalami semua itu dalam satu tahun belakangan ini.
"Aku tidak salah, adikku bahkan tidak tahu apapun. Keluarga Alexander itu! aku akan habisii mereka semua!" geram Bagas.
***
Bersambung...
mudah mudahan ada penolong 🤲
mimpi aja kamu Leo 🤭
Nicklas
niklas🙈