NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Fan Yang Jenius

Reinkarnasi Fan Yang Jenius

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Reinkarnasi / Anak Genius
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: Bahari

Dikhianati saudari angkatnya sendiri, Su Fan — sang jenius fana pemegang rahasia Sembilan Dao Hukum Tertinggi memilih mati daripada menyerah. Namun, maut justru menjadi pintu reinkarnasi. Ia terbangun di tubuh pemuda bernama Li Fan di alam fana yang terpencil.
Ironisnya, Li Fan hanyalah pemuda biasa dengan akar spiritual normal. Bagi orang lain, itu hal biasa. Tapi bagi Su Fan yang dulu terkutuk 10.000 akar spiritual, tubuh ini adalah anugerah termurni untuk mulai berkultivasi. Berbekal wawasan hukum tertinggi dan pengetahuannya yang melimpah, Li Fan memulai pendakian berdarah dari titik nol.
“Surga sebelumnya tidak adil bagiku. Tapi sekarang, Aku sendiri yang mengadili Surga!”

Dari manusia fana yang dianggap sampah hingga menjadi penguasa hukum yang menggetarkan semesta. Inilah kisah perjalanan Su Fan ditubuh Li Fan untuk pendakian menuju puncak agung yang mustahil. Sang jenius yang dulu terbelenggu, kini telah lepas dari rantai takdirnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kesetiaan Sang Raksasa

Sinar mentari pagi menyusup masuk melalui celah jendela kayu penginapan, menyinari wajah damai Li Fan yang masih terlelap. Setelah menguras energi mental dan fisiknya semalaman penuh untuk menyuling Cairan Pemurni Nadi Emas menggunakan metode panci besi primitif, tubuh fana anak berusia sepuluh tahun itu akhirnya menuntut haknya untuk beristirahat total.

Bagi jiwa Su Fan yang dulunya adalah dewa agung, meracik obat tingkat rendah seperti ini seharusnya semudah membalikkan telapak tangan. Namun bagi tubuh Li Fan yang lemah ini, proses itu ibarat memaksa seekor keledai menarik kereta kencana.

Ketika Li Fan perlahan membuka kedua kelopak matanya, ia menyadari bahwa matahari sudah menggantung tinggi di ufuk timur. Hari sudah berganti siang. Ia meregangkan otot-ototnya yang terasa sedikit kaku, berbunyi gemeretak pelan, lalu menoleh ke arah ranjang batu giok di sudut ruangan.

Di sana, Jin Tianyu juga baru saja membuka matanya setelah semalaman penuh tenggelam dalam meditasi yang sangat dalam. Namun, berbeda dengan pagi pagi sebelumnya di mana bocah bertubuh besar itu selalu bangun dengan wajah cerah dan perut keroncongan mencari makanan, kali ini raut wajah Jin Tianyu terlihat murung dan penuh dengan kekecewaan. Bahunya yang lebar tampak turun layu seperti daun yang kekurangan air.

“Ada apa dengan wajahmu itu, Tianyu? Kau terlihat seperti baru saja menjatuhkan paha ayam panggang utuh ke dalam lumpur kotor,” sapa Li Fan sambil terkekeh pelan, bangkit dari tempat tidurnya dan merapikan jubah putihnya yang sedikit kusut.

Jin Tianyu menghela napas panjang dan menatap kedua telapak tangannya dengan ekspresi sedih yang menggelikan untuk ukuran pria sebesar dia.

“Tuan Muda, saya gagal total. Saya sungguh tidak berguna,” rajuk Jin Tianyu dengan bibir yang sedikit dimajukan. “Saya sudah mencoba memusatkan seluruh Qi dari udara pegunungan ke tulang belakang saya semalaman penuh seperti yang Tuan Muda ajarkan. Saya menekan energi itu ke atas, ke bawah, bahkan sampai saya hampir buang angin karena terlalu banyak menahan napas. Tapi, gerbang nadi spiritual ketiga di punggung saya itu terasa seperti dinding besi hitam yang sangat tebal. Saya tidak berhasil menembusnya sedikit pun.”

Mendengar keluhan yang begitu polos dan putus asa itu, senyum di bibir Li Fan justru semakin mengembang lebar. Ia berjalan mendekat dengan langkah santai dan menepuk bahu sahabatnya itu dengan lembut.

“Kau ini benar benar tidak tahu cara bersyukur. Tahukah kau bahwa di luar sana, calon murid biasa di sekte ini membutuhkan waktu berbulan bulan bahkan bertahun tahun hanya untuk menyentuh batas nadi ketiga? Kau baru berlatih teknik yang kuberikan beberapa hari yang lalu, dan kau merasa kecewa karena gagal menembusnya hanya dalam satu malam? Kau pikir kau ini anak dewa?” hibur Li Fan dengan nada bicara yang santai namun penuh wibawa khas seorang guru besar.

Mata Jin Tianyu sedikit berbinar mendengar perkataan tuan mudanya, meskipun ia masih terlihat ragu.

“Benarkah begitu, Tuan Muda? Jadi saya bukan idiot yang otaknya lambat berputar?” tanya Jin Tianyu memastikan.

“Tentu saja tidak. Itu adalah hal yang sangat normal, Tianyu. Jika kau berhasil menembusnya semudah membalikkan telapak tangan tanpa bantuan pil tingkat dewa, maka jenius jenius di Alam Dewa pasti akan menangis darah lalu gantung diri di pohon persik karena iri padamu. Kau hanya kekurangan katalisator tambahan untuk mendobrak dinding besi itu,” jawab Li Fan sambil merogoh saku jubahnya.

Jin Tianyu tiba tiba mengendus udara di sekitarnya seperti seekor anjing pelacak. “Bicara soal hal lain, apa yang Tuan Muda lakukan semalaman saat saya sedang bermeditasi? Saya mencium aroma wangi yang sangat aneh tapi entah kenapa sangat menenangkan dari arah meja kayu di tengah ruangan itu.”

Li Fan mengeluarkan sebuah botol giok kecil yang berisi cairan emas gelap hasil sulingannya semalam. Ia menimbang nimbang botol itu di tangannya sejenak.

“Aku sedang memasak sedikit keajaiban murahan untukmu. Di dalam botol kecil ini ada ramuan yang akan sangat membantumu membuka nadi spiritual ketiga itu jauh lebih mudah. Simpan botol ini baik baik. Nanti siang, selagi kau bermeditasi menahan tekanan di bawah hantaman air terjun, minumlah cairan ini. Kau akan merasakan efeknya secara langsung membakar tulang punggungmu.”

Li Fan melemparkan botol giok itu ke udara, dan Jin Tianyu menangkapnya dengan sigap bagaikan menangkap sepotong emas jatuh dari langit. Ia mengangguk dengan sangat antusias, wajah murungnya seketika lenyap digantikan keceriaan.

Seperti rutinitas biasanya, perut Li Fan mulai berbunyi nyaring menuntut untuk segera diisi dengan makanan berlemak. Ia segera mengajak Jin Tianyu keluar kamar untuk mencari sarapan yang sudah sangat tertunda di kedai favorit mereka di pusat Pos Kedua.

Namun, tepat ketika Li Fan membuka pintu kamar penginapan, langkah kakinya langsung terhenti secara mendadak. Jin Tianyu yang berjalan di belakangnya hampir saja menabrak punggung tuannya.

Di samping luar pintu kayu tersebut, berdiri sesosok pria raksasa bertelanjang dada bagaikan sebuah patung penjaga kuil kuno. Pria itu adalah Lei Bao. Wajahnya terlihat sangat lelah luar biasa, kantung matanya menghitam tebal, rambutnya sedikit basah dan berantakan. Namun anehnya, ada kilatan cahaya kehidupan yang sangat terang dan membara di dalam kedua pupil matanya.

Dari jejak embun di celananya, sepertinya ia sudah berdiri mematung di lorong penginapan itu sejak pagi buta, hanya menunggu pintu kamar Li Fan terbuka tanpa berani mengetuknya karena takut mengganggu tidur sang pemuda.

“Apa yang kau lakukan mematung di sini pagi pagi buta begini, Lei Bao? Apakah kau sudah dipecat dari tugas muliamu membersihkan kotoran di asrama? Atau kau berniat menjadi penjaga pintuku sekarang?” tanya Li Fan dengan nada bercanda yang tajam.

Bukannya menjawab dengan kata kata atau pembelaan, tubuh raksasa Lei Bao tiba tiba ambruk ke lantai kayu. Ia bersujud dengan sangat dalam, dahinya menyentuh lantai kayu penginapan dengan bunyi benturan keras yang bergema di lorong sepi itu. Bahu pria kekar itu bergetar hebat.

“Tuan Muda Ma... terima kasih. Terima kasih yang sebesar besarnya dari lubuk hati saya yang paling hina ini!” suara Lei Bao terdengar serak, parau, dan bergetar karena tumpukan emosi yang meluap luap di dadanya.

“Anda telah memberikan saya sebuah kesempatan kedua untuk merubah takdir kotor yang mengikat leher saya ini! Ramuan hitam yang Anda berikan kemarin sore... itu benar benar keajaiban dari surga yang turun ke bumi! Cairan panas itu membakar seluruh kotoran di meridian saya tanpa ampun, rasanya seperti direbus hidup hidup. Tapi itu membuat tiga nadi spiritual dalam tubuh saya menjadi sangat luas, lebih kuat, dan bersih dari sebelumnya. Semalaman saya mencoba menahan tekanan dari air terjun utama, dan saya berhasil bertahan selama satu jam penuh tanpa bergeser sedikit pun! Demi langit, saya belum pernah merasa sekuat ini!”

Bagi Lei Bao, peningkatan selama satu jam itu mungkin terdengar seperti pencapaian kecil yang patut ditertawakan oleh murid jenius lainnya. Tapi bagi dirinya yang rekor kekuatan fisiknya tidak pernah bertambah satu menit pun selama tiga tahun terakhir, itu adalah sebuah pencerahan ajaib yang menyelamatkan kewarasannya dari jurang kematian.

Li Fan hanya terkekeh pelan melihat tingkah pria raksasa yang menangis tersedu sedu di dekat ujung sepatunya itu. Sungguh pemandangan yang sedikit menggelikan.

“Bertahan satu jam? Hanya begitu saja kau sudah menangis bahagia seperti anak kecil yang baru diberi permen? Berdirilah cepat, kau membuat pemandangan di lorong penginapan ini menjadi sangat memalukan untuk dilihat. Jika ada pelayan lewat, mereka akan mengira aku baru saja menyiksa seorang pria dewasa,” perintah Li Fan dengan nada mengejek yang disengaja.

Lei Bao segera berdiri dengan kikuk dan mengusap wajahnya yang basah menggunakan lengan berototnya. Namun, di balik senyum tipisnya, Li Fan sebenarnya merasa sedikit kecewa di dalam hatinya. Ia bergumam sangat pelan pada dirinya sendiri.

“Hanya mampu membersihkan tiga nadi awal? Aku kira kualitas ramuan yang kubuat itu cukup kuat untuk memaksamu menembus dinding nadi spiritual keempat secara langsung. Ternyata bakat alami dari tubuhmu ini lebih buruk dari perkiraanku yang paling rendah sekalipun.”

Meskipun diucapkan dengan sangat pelan, perkataan Li Fan itu ternyata masih bisa ditangkap oleh telinga Lei Bao yang ketajamannya telah meningkat. Pria raksasa itu langsung memasang wajah kebingungan yang sangat luar biasa. Alisnya yang tebal bertaut erat hingga nyaris menyatu di tengah dahi.

“Tuan Muda... mohon maafkan kelancangan dan ketidaktahuan saya. Tapi, apa maksud Anda dengan menembus nadi spiritual keempat? Bukankah para tetua di sekte ini, dan bahkan seluruh literatur kultivasi di Kekaisaran, selalu mengajarkan bahwa batas maksimal nadi spiritual yang ada dalam tubuh manusia fana sebelum menembus tahap Qi Gathering hanyalah tiga gerbang nadi?” tanya Lei Bao dengan nada yang sangat hati hati, takut menyinggung perasaan tuan barunya.

Li Fan mengibaskan tangan kanannya dengan gaya sangat santai, menolak untuk menjawab pertanyaan itu di lorong yang sempit.

“Ini bukanlah tempat yang pas untuk membahas pelajaran anatomi tubuh manusia dan rahasia alam semesta. Perutku sudah bernyanyi sangat keras sejak tadi menuntut jatahnya. Ayo kita pergi ke kedai sekarang juga, kau ikutlah bersamaku dan Tianyu. Kita akan bicarakan sisa pembicaraan ini sambil duduk makan daging.”

Li Fan merasa belum saatnya Lei Bao mengetahui seluruh kebenaran tentang dunia kultivasi yang sangat luas ini. Terlalu banyak informasi tingkat tinggi hanya akan membuat otak pria fana itu kelebihan beban dan meledak.

1
dinozzo
tokoh yg menggemparkan dunia, dapat menghancurkan musuh yg menghalangi jalannya dan membalas kembalikan dengan kebaikan.
Jojo Shua
gasss
Jojo Shua
🔥👍
Jojo Shua
🔥
Jojo Shua
👍
Jojo Shua
🔥
RisOne Harahap
mantap,lanjut,thor
Jojo Shua
🔥
Jojo Shua
Hasss 🔥
Dian Pravita Sari
gak TST lagi smjong
Dian Pravita Sari
memang novelmtoon gal kompeten dikelilingi prketks yg makan gaji buta semua depstyrmrnnys lah
Bahari: gk ngerti ngomong apa ka🙏
total 1 replies
Jojo Shua
👍
RisOne Harahap: joss,lanjut jangan kasih kendor
total 1 replies
Jojo Shua
Menghibur....
Cerdas...
Lucu...
Bahari: Xie xie🤭
total 1 replies
gempi
j
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!