Arkan Pemimpin organisasi mafia "The Void". Dingin, efisien, dan tidak mempercayai cinta karena masa lalunya yang kelam. Baginya, wanita adalah kelemahan yang tidak perlu ada di dunianya.
Liana Seorang gadis dari keluarga sederhana yang hangat. Hidupnya hancur saat keluarganya tewas dalam sebuah insiden berdarah. Ia lembut namun memiliki tekad baja untuk membalas dendam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon iinayah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gema di Balik Rahasia Ibu
Asap hitam dari gudang pelabuhan masih mengepul tipis di cakrawala saat Arkan dan Liana melangkah menjauh dari garis polisi. Tubuh mereka lebam, pakaian mereka robek dan berbau hangus, namun ada semacam beban ribuan ton yang seolah terangkat dari pundak mereka. Vigo telah diringkus, dan sisa-sisa The Void kini benar-benar hancur menjadi debu.
Namun, di dalam mobil dalam perjalanan pulang ke toko bunga, Arkan tampak tenggelam dalam pikirannya sendiri. Ia terus-menerus memutar kata-kata terakhir Vigo di benaknya:
"Bayangan Baskoro akan selalu menghantuimu..."
Ada sesuatu yang janggal. Baskoro adalah pria yang sangat teliti; ia tidak akan meninggalkan aset atau rahasia tanpa rencana cadangan yang lebih besar.
"Arkan, kau melamun,"
tegur Liana lembut sembari mengusap luka gores di pipi Arkan dengan tisu basah.
Arkan menghela napas panjang, matanya tetap fokus pada jalanan yang masih basah.
"Ada yang mengganjal, Liana.
Saat penggerebekan tadi, Vigo sempat menyebutkan sesuatu tentang 'surat wasiat ibu'. Aku pikir ibu tidak meninggalkan apa-apa selain tabungan yang kugunakan untuk membelikanmu rumah."
Liana mengerutkan kening. "Bukankah ibumu tewas karena ditembak Baskoro?"
"Itu yang kulihat. Itu yang aku percayai selama sepuluh tahun," jawab Arkan dengan nada suara yang mulai bergetar.
"Tapi Vigo tadi menyeringai seolah dia tahu sesuatu yang tidak kuketahui. Sesuatu tentang alasan sebenarnya ibuku dibunuh."
Sesampainya di toko bunga "The White Bloom", suasana terasa sunyi dan damai, sangat kontras dengan neraka yang baru saja mereka lalui. Liana segera menutup tirai dan mengunci pintu. Arkan langsung menuju ke gudang belakang, ke sebuah brankas kecil yang tertanam di bawah lantai beton yang ia tutupi dengan tumpukan pot bunga.
Mengeluarkan sebuah kotak kayu tua milik ibunya yang sudah lama tidak ia buka. Di dalamnya terdapat beberapa perhiasan perak sederhana, foto-foto usang, dan sebuah surat yang segelnya sudah rusak.
"Ini surat terakhir yang ibu tulis untukku sebelum malam kebakaran itu," Arkan menyerahkannya pada Liana.
Liana membaca baris demi baris tulisan tangan yang rapi dan elegan itu. Awalnya, surat itu hanya berisi nasihat-nasihat kasih sayang seorang ibu kepada anaknya. Namun, di paragraf terakhir, kalimatnya berubah menjadi peringatan yang mendesak.
"...Arkan, jika sesuatu terjadi padaku, jangan cari ayahmu. Cari pria bernama Hendra. Dia memegang bukti bahwa keluarga kita bukan hanya sekadar mafia. Ada rahasia di balik silsilah keluarga ibumu yang ingin dikubur dalam-dalam oleh Baskoro. Kau bukan hanya penerus 'The Void', kau adalah pemegang kunci dari sesuatu yang jauh lebih berharga..."
Liana tersentak. "Hendra? Pak Hendra yang melatihku?"
Arkan mengangguk pelan, wajahnya memucat. "Selama ini aku pikir Hendra membantumu karena dia benci pada ayahku. Tapi bagaimana jika dia membantumu karena dia tahu kau adalah bagian dari rencana ibuku untuk menghancurkan Baskoro dari awal?"
Tiba-tiba, suara ketukan pintu depan yang keras mengejutkan mereka. Bukan ketukan paksa, melainkan ketukan yang berirama dan tenang. Arkan segera meraih senjatanya, sementara Liana berdiri di belakangnya dengan waspada.
Arkan mengintip melalui celah kecil di pintu. Sosok pria tua dengan tongkat kayu berdiri di sana. Pak Hendra.
Arkan membuka pintu dengan hati-hati. Hendra masuk tanpa sepatah kata pun, matanya menatap berkeliling toko bunga itu dengan tatapan penuh nostalgia.
"Kalian berhasil membereskan Vigo," ucap Hendra datar. "Bagus. Setidaknya satu duri sudah dicabut."
Apa maksud surat ibu, Pak Hendra?" tanya Arkan tanpa basa-basi, menyodorkan kertas itu ke depan wajah Hendra. "Kenapa namamu ada di sini? Dan rahasia apa yang dimaksud ibuku?"
Hendra menghela napas, ia duduk di salah satu kursi rotan di dekat pajangan mawar.
"Ibumu, Elena, bukan hanya wanita biasa yang dinikahi Baskoro karena cinta. Dia adalah pewaris sah dari tanah Sektor Selatan yang kalian bakar sepuluh tahun lalu. Tanah itu bukan milik pemerintah atau The Void. Tanah itu milik keluarga besar Elena yang kaya raya sebelum Baskoro memanipulasi segalanya."
Liana tertegun. "Jadi... kebakaran itu bukan hanya untuk ekspansi wilayah?"
"Bukan," jawab Hendra tegas. "Baskoro membakar rumah kalian—dan rumah Liana—untuk menghilangkan bukti kepemilikan tanah yang sah. Orang tua Liana adalah saksi kunci sekaligus pengacara kepercayaan Elena yang memegang dokumen asli tanah tersebut. Baskoro membunuh mereka untuk menghapus jejak legalitas Elena atas aset-aset rahasia yang bernilai triliunan."
Ruangan itu mendadak terasa dingin. Liana merasa kakinya lemas. Jadi, kematian keluarganya bukan sekadar 'kesialan' di tengah konflik mafia, melainkan pembunuhan berencana untuk menutupi pencurian aset terbesar dalam sejarah kota ini.
"Dan Arkan..." Hendra menatap Arkan dengan iba. "Ibumu dibunuh karena dia menolak memberikan tanda tangan terakhir untuk mengalihkan semua aset itu atas nama Baskoro.
Dia lebih memilih mati daripada melihat anaknya tumbuh menjadi monster yang memakan hak orang lain."
Arkan jatuh terduduk di lantai. Air mata yang selama ini ia tahan kini mengalir deras. Selama sepuluh tahun, ia menyalahkan dirinya sendiri karena memegang obor malam itu. Ternyata, ayahnya telah merencanakan segalanya bahkan sebelum api itu dinyalakan. Arkan hanyalah alat untuk menghancurkan bukti terakhir.
"Lalu kenapa Anda baru memberitahu kami sekarang?" tanya Liana dengan suara parau.
"Karena kalian harus membuktikan bahwa kalian bisa melawan sistem The Void terlebih dahulu," jawab Hendra.
"Jika aku memberitahu kalian saat kalian masih penuh dendam buta, kalian akan mati di tangan Baskoro dalam hitungan hari."
Hendra mengeluarkan sebuah map hitam dari balik jaketnya. "Ini adalah dokumen asli tanah Sektor Selatan dan bukti pengalihan aset ilegal yang dilakukan Baskoro. Dengan ini, kalian bisa menuntut balik semua harta kekayaan yang sekarang disita negara, dan mengembalikannya kepada para korban. Termasuk membangun kembali Sektor Selatan untuk orang-orang seperti keluargamu, Liana."
Liana menatap Arkan. Pria itu menunduk, bahunya berguncang hebat. Liana berlutut di depan Arkan, memeluknya erat. "Kita bukan monster, Arkan. Kita adalah korban yang berhasil bertahan."
Arkan membalas pelukan Liana dengan sangat erat, seolah-olah hanya Liana satu-satunya hal yang nyata di dunia yang penuh kebohongan ini.
"Aku akan mengembalikan semuanya, Liana. Setiap inci tanah yang kubakar, akan aku bangun kembali dengan namamu dan ibuku."
Malam itu, di tengah harum bunga yang menenangkan, sebuah babak baru dimulai. Bukan lagi tentang pelarian dari masa lalu, melainkan tentang restorasi dan keadilan. Mereka memiliki misi baru: mengubah sisa-sisa kegelapan The Void menjadi cahaya bagi mereka yang telah lama kehilangan rumah.