Setelah menikah, Anin banyak menemukan banyak hal yang janggal di rumah mertua nya. Anin sering mendengar ibu mertua nya menangis dan dia juga sering melihat tubuh ibu mertua nya di penuhi oleh lebam.
Hingga suatu hari Anin melihat dengan mata kepala nya sendiri ayah mertua nya sedang melakukan hubungan terlarang dengan ipar nya. Anin bertekad untuk membongkar semua kebusukan mereka di depan semua orang, dan membuat ayah mertua nya dan juga ipar nya mendapat kan hukuman atas perbuatan mereka.
Ikuti kisah kisah selengkap nya di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leni Anita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21
Anin masih sangat penasaran dengan rahasia yang di sembunyikan oleh Tika dan juga pak Johan. Dia ingin membicarakan hal itu dengan suami nya Dirga, Anin menunggu momen yang pas untuk menceritakan semua itu pada Dirga.
"Mas, tadi siang aku lihat bapak masuk ke rumah nya mas Atar lewat pintu belakang. Bukan cuma hari ini, tapi sudah beberapa kali. Sebenar nya ada apa sih?, kenapa kok sepertinya orang mau maling saja!" Anin mulai menceritakan apa yang dia lihat akhir - akhir ini.
"Kamu memperhatikan bapak?" Dirga malah balik bertanya bukan nya menjawab pertanyaan Anin.
"Aku tidak sengaja melihat nya mas, bukan nya memperhatikan!" Jawab Anin dengan heran.
"Anin, mas minta sama kamu sebaik nya kamu jangan ikut campur apapun yang menjadi urusan bapak atau siapa pun itu. Apapun yang orang lain lakukan itu bukan urusan kita!" Dirga tampak nya tidak suka dengan pertanyaan Anin.
"Mas, bukan nya aku ikut campur urusan bapak. Tapi aku cuma heran saja, kenapa bapak harus masuk lewat pintu belakang secara diam - diam. Itu kan rumah anak nya sendri, seharusnya dia masuk lewat pintu depan bukan pintu belakang!" Anin mengurakan maksud nya.
"Sudah lah Anin, aku ngantuk ini sudah malam. Dan jangan pernah lagi kau ikut campur dengan urusan orang lain!" Ujar Dirga dengan nada yang meninggi.
Dirga lalu menarik selimut nya hingga menutupi dada nya, dia tidur dengan memunggungi Anin. Melihat reaksi Dirga atas pertanyaan nya, Anin yakin sekali bahwa ada yang mereka sembunyikan dari diri nya. Semua orang dari keluarga ini seperti nye menyimpan satu rahasia besar, rahasia yang tidak boleh di ketahui oleh Anin.
'Aku yakin sekali, ada sesuatu yang mereka sembunyikan. Mereka semua tidak ingin jika aku sampai tahu apa yang sebenar nya terjadi, mbak weni, ibu, mbak Tika, dan juga Mas Dirga. Tapi tidak masalah, aku pasti akan menemukan apa rahasia itu. Serapat apapun kalian menyembunyikan nya, aku pasti akan mengetahui nya!' Guman Anin di dalam hati.
Anin menarik selimut nya, dia sudah bertekad biar pun Dirga melarang nya dengan keras. Tapi dia pasti akan membongkar rahasia itu, rahasia yang mereka sembunyikan dari semua orang.
*****
Pagi ini, Anin tetap bersikap seperti biasanya. Dia menyiapkan sarapan untuk suami dan juga mertua nya. Hanya saja sikap Dirga masih dingin, seperti nya pertanyaan Anin semalam sudah membuat nya tersinggung.
"Mas, berangkat dulu ya. Ingat Anin, tutup mata dan tutup telinga mu, jangan pernah ikut campur sesuatu yang bukan urusan mu!" Dirga mengingat kan Anin sebelum dia berangkat ke kantor.
"Baik mas!" Jawab Anin sambil mengangguk kan kepala nya dan dia memberikan tas kerja suami nya.
Untuk saat ini, Anin lebih memilih diam dan menurut saja. Karena tidak ada guna nya bersikeras saat ini, semua orang akan menyudut kan diri nya.
Setelah selesai sarapan, Anin membereskan meja makan. Sementara bu Ela menyiram dan memupuk tanaman sayuran yang ada di samping rumah nya. Pak Johan tampak nya duduk santai di teras rumah nya, sambil menghisap sebatang rokok nya.
'Tumben bapak di rumah, biasa nya langsung menghilang begitu saja!' Guman Anin di dalam hati.
Anin langsung menyelesaikan pekerjaan rumah nya, dia tidak ingin kehilangan kesempatan untuk memulai misi nya hari ini.
Bu Ela sudah menyelesaikan pekerjaan nya menyiram semua tanaman nya, dia lalu masuk ke dalam rumah dan segera membersih kan diri nya.
"Anin, ibu mau ke tempat bu Rt dulu ya. Nanti malam bu Rt mau mengadakan acara yasinan!" Bu Ela pamit pada menantu nya.
"Baik bu!" Jawab Anin sambil tersenyum.
"Kamu tidak usah menunggu ibu untuk makan siang nak, kamu makan siang duluan saja ya!" Bu Ela berpesan pada Anin.
"Iya bu!" Jawab Anin lagi.
Bu Ela segera pergi ke rumah bu Rt, rumah nya berjarak beberapa rumah dari rumah nya bu Ela. Anin mulai memperhatikan pak Johan, dari balik kaca jendela. Benar saja dugaan Anin, setelah memastikan bu Ela benar - benar pergi, dia kini tersenyum senang.
Pak Johan mematikan rokok yang di hisap nya ke dalam asbak, dia lalu pergi ke bagian belakang rumah. Anin bergerak cepat, dia mengintip di balik celah pintu dapur. Benar saja dugaan Anin, pak Johan melangkah kan kaki nya menuju ke rumah nya Atar.
Pak Johan bergegas masuk ke dalam rumah Atar lewat pintu dapur, Tika langsung menutup pintu dan mengunci nya dari dalam. Anin langsung keluar dan dia pun mendorong pintu dapur rumah Atar.
'Terkunci, feeling ku mengatakan bahwa ada sesuatu yang mereka sembunyikan!' Guman Anin di dalam hati.
Anin lalu melangkah kan kaki nya menuju ke pintu depan rumah nya Atar, pintu itu tertutup rapat. Anin mendorong pintu itu dan pintu nya terbuka.
"Tidak terkunci, aku harus mencari tahu apa uang terjadi di dalam!" Guman Anin.
Dengan langkah pelan, Anin masuk ke dalam rumah nya Atar secara diam - diam. Dia berjalan mengendap- endap menuju ke ruang keluarga, di sana televisi sedang menyala. Anin melihat Hazel sedang tertidur di atas sebuah tikar palstik yang di gelar di sana, tapi dia tidak melihat keberadaan Tika maupun pak Johan.
'Di mana mereka?' Guman Anin di dalam hati.
Pandangan Anin menyapu seluruh sudut ruang keluarga yang luas namun kosong itu, Anin tidak menemukan sosok yang dia cari. Tapi pandangan Anin tertuju pada sebuah pintu kamar yang tertutup rapat, seperti nya kamar itu terkunci.
Anin berjalan dengan langkah sangat pelan mendekati pintu kamar itu, dan dia mendorong pintu itu dengan tangan nya. Tapi pintu itu terkunci dari dalam, Anin yakin mereka ada di dalam.
Anin menempel kan telinga nya di daun pintu, dan benar saja terdengar suara samar - samar dari dalam kamar itu. Suara itu sangat di kenali oleh Anin, itu adalah suara lenguhan dan desahan dari 2 orang manusia berbeda jenis yang sedang memacu puncak kenikmatan dunia.
Anin yakin, pak Johan dan Tika menyimpan sebuah rahasia besar dari semua orang. Anin mengitari yang pandangan nya ke seluruh sudut ruangan, dia mencari sesuatu yang bisa membantu nya untuk mengetahui apa yang sebenar nya terjadi. Anin menemukan 2 buah kursi plastik, lalu kedua kursi itu di tumpuk nya menjadi satu.
Anin naik ke atas kursi itu, dia berdiri di atas nya tapi kursi itu masih belum begitu tinggi hingga dia kesulitan melihat dari lubang ventilasi. Anin berjinjit dan dia pun akhir nya bisa melihat apa yang terjadi.
Anin menutup mulut nya dengan kedua tangan nya, agar bisa meredam suara nya sendiri.