NovelToon NovelToon
Yun Miao 1: Satu Sabda Penyembuh

Yun Miao 1: Satu Sabda Penyembuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Penyelamat / Dunia Masa Depan
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Auzora Maleeka

"Di saat napas terakhir Pak Tua Arman dianggap sebagai akhir dari kejayaan keluarga Chandra, seorang asing berpakaian putih muncul tanpa suara. Tak ada obat, tak ada mantra rumit. Ia hanya membungkuk, membisikkan satu kalimat di telinga kakek yang sekarat itu, lalu berbalik pergi. Detik berikutnya, jantung kembali berdetak kuat, membuat para anak tercengang. Siapakah dia? Dan apa yang diucapkannya untuk menantang kematian?"

"Sebuah kalimat yang mengubah takdir. Saat dunia medis menyatakan Kakek sekarat, seorang asing bernama Yun Miao muncul dan menyembuhkannya hanya dengan satu kalimat perintah. Siapakah Yun Miao, dan bagaimana kalimat sederhana bisa melawan maut?"

Mohon maaf ya teman-teman kalau novel pertamaku belum bisa membuat kalian puas bacanya. InsyaAllah aku akan terus berusaha agar novelku selanjutnya bisa memenuhi keinginan dan kriteria kalian semua.... Terimakasih

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Auzora Maleeka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

16

Nadira menoleh ke samping, hingga muncul sepasang sepatu tersebut. Dan Nadira berkata, "Lakukan."

Hingga pada akhirnya sepasang sepatu itu, menghampiri Biarawan Luki dan langsung menyerangnya, dan menamparnya berkali-kali hingga terjatuh. Meskipun terjatuh dia tetap saja ditampar hingga mengaduh kesakitan.

"Aduh... Aduh..... Aiyooh.."Jeritan kesakitan dari Biarawan Luki.

"Jangan...... jangan....... Aku sudah tahu salah, lepaskan aku." kata Biarawan Luki sambil mengaduh kesakitan.

"Nona Nadira, bisa nggak minta ibuku untuk melepaskan dia ? Nona Nadira, lepaskan dia. Bagaimana pun juga dia ayahku."Pinta Tuan Gavin kepada Nadira.

"Kak Gavin." Panggil Nyonya Sonia

"Paman Gavin. Kau sangat murah hati. Sudah seperti ini kau masih membela iblis ini." Ujar Adrian sambil menunjuk ke arah Biarawan Luki yang masih mengaduh kesakitan di bawah.

"Bagaimanapun, dia adalah ayahku. Pepatah kuno mengatakan, dari semua kebaikan, bakti adalah hal yang paling utama." Kata Tuan Gavin.

Setelah selesai berbicara, Tuan Gavin langsung berlutut seakan ada yang menekannya.

"Baik. Terimakasih Nona Nadira. Aku dan Ayahku kelak pasti...." Kata Tuan Gavin.

"Aku bisa membantumu. Tapi kalau ini terjadi, obsesi akan berubah jadi niat membunuh, membantai habis keluarga Wibowo. Karena kau bersedia mati untuknya, maka akan ku kabulkan keinginanmu." Potong Nadira.

Tuan Gavin, yang mendengarnya pun tentu saja kaget dan ketakutan. "Jangan." Jawab Tuan Gavin.

"Kenapa ? Mudah bermurah hati kepada orang lain, tapi tiba giliran sendiri nggak bersedia." Tanya Nadira.

"Bukan itu maksudku." Jawab Tuan Gavin.

"Lalu apa maksudmu ? Dihatimu, ayahmu nggak bisa menderita sedikitpun, sementara penderitaan ibumu dianggap sebagai sesuatu yang wajar ?" Kata Nadira kepada Tuan Gavin yang masih berlutut.

"Aku nggak bilang begitu." Bantah Tuan Gavin.

"Apa kalian tahu ? Setelah seluruh keluarga ibumu mati semua, ibumu bisa saja bawa Arvin mati bersama. Arvin, memakai nyawa kalian untuk mengancamnya, agar dia menjadi patuh. Kalau nggak, kalian satu pun nggak ada bisa hidup. Apa ketidakpeduliannya terhadap kalian adalah keinginannya sendiri." Kata Nadira kepada Tuan Gavin, sementara itu Biarawan Luki mengangkat tangannya seakan minta pertolongan, karena untuk mengeluarkan suara saja seakan berat.

"Kalian masih membencinya, lebih memilih untuk percaya pada kebohongan yang dirangkai oleh Arvin untuk kalian. Nggak ada yang menyadari demi kalian, dia menanggung penghinaan dan beban selama puluhan tahun. Sementara ayah yang selalu kalian hormati itu justru ingin menukar nyawa kalian dengan umur panjangnya sendiri." Sambung Nadira.

Tuan Gavin menutup kedua telinganya dan berkata sambil berteriak, "Jangan katakan lagi."

"Ibumu demi menyelamatkan kalian, arwahnya masih memiliki obsesi yang belum selesai. Bahkan aku awalnya mengira dia ingin aku membantunya membalas dendam. Baru sekarang aku jadi mengerti, yang dia inginkan hanyalah menyelamatkan kalian." Ucap Nadira.

"Kak Gavin. Ibu sudah memperlakukan kita seperti ini, kau masih membela iblis itu ? Dia sudah keterlaluan. Dia pantas mendapatkan hukuman." Kata Nyonya Sonia.

Nyonya Sonia pun berjongkok untuk mensejajarkan dirinya dengan sang kakak, dikarenakan sang kakak masih berlutut, dia begitu marah kepada sang kakak karena dia lebih membela sang ayah daripada sang ibu. Dia begitu marah kepada sang kakak, sehingga saat ia melihat ke arah sang ayah hanya tatapan kebencian yang mendalam.

Sementara, Tuan Gavin menampar dirinya sendiri hingga membuat sang adik kaget.

"Kak Gavin, apa yang kau lakukan ?" Ujar Nyonya Sonia sambil menggerakkan tangan sang kakak.

"Aku nggak berbakti. Saat ibu masih hidup, aku nggak berbakti padanya. Setelah dia meninggal, aku masih saja menjelekkannya. Aku bukan anak yang berbakti. Aku pantas mati" Kata Tuan Gavin sambil terus menampar dirinya sendiri.

"Kak..... Kak......" Panggil Nyonya Sonia sambil terus menangis.

"Tolong Gavin, tolong aku." Pinta Biarawan Luki yang mana dia juga ditampar oleh sepasang sepatu tersebut.

Sedangkan Tuan Gavin yang melihat ayahnya itu, bukan tatapan iba yang dia layangkan tapi tatapan kebencian kepada sang Ayah.

Setelah itu, diapun bangun dari duduknya dan menghampiri sang Ayah yang masih tiduran di lantai, dia langsung melayangkan tendangan kepada sang Ayah.

Nadira pun bangkit dari kursinya. "Sisanya, kalian selesaikan sendiri saja." Diapun langsung mengambil payungnya kembali dari tangan Adrian, dan pergi begitu saja, meninggalkan semua orang disana.

Adrian langsung mengejar Nadira, dia tidak ingin ikut-ikutan dengan apa yang terjadi terhadap sang kakek.

Setelah Nadira keluar, diapun berhenti dan berkata, "Keluarlah."

Sehingga yang keluar adalah Biarawan Dio. "Nona." Kata Biarawan Dio sambil membungkukkan badannya.

"Kau mengenal ku ?" Tanya Nadira terhadap Biarawan Dio.

Biarawan Dio menggelengkan kepalanya, "Nggak. Diluar kuil ada gua gunung. Di dalam gua itu ada patung Dewi. Sangat mirip denganmu. Payung ini juga tercatat di dalam patung Dewi, namanya Payung Tulang Naga. Dibuat dari tulang naga, tiada duanya di dunia." Kata Biarawan Dio.

"Nggak ingat. Nggak tertarik." Kata Nadira. diapun langsung pergi dari hadapan Biarawan Dio.

"Dewi muncul kembali di dunia manusia, entah malapetaka apa yang akan menimpa dunia ini."Kata Biarawan Dio, sehingga Nadira yang akan pergi menjadi langsung berhenti.

Setelah Biarawan Dio pergi, Nadira mengangkat tangannya dan melihat sinar keemasan muncul ditangannya, dan muncul sebuah boneka beruang berukuran kecil sambil tertawa seperti suara anak kecil.

"Ada obsesi baru lagi." Sambil melihat ke arah boneka tersebut. Setelah mendengar suara Adrian boneka tersebut pun menjadi hilang.

"Nona Nadira. Nona Nadira. Nona Nadira." Panggil Adrian sambil mencari-cari keberadaan Nadira, dan akhirnya dia menemukan Nadira.

"Cari orang." Pinta Nadira sambil melihat ke arah Adrian.

"Nona Nadira, Akhirnya anda membutuhkanku. Anda katakan. Aku akan mencarinya." Kata Adrian sambil tersenyum bahagia.

"Usianya 6-7 tahun, anak perempuan, ada boneka beruang. Mungkin, sudah meninggal." Kata Nadira kepada Adrian.

"Siapa yang cari masalah........ Ohh tidak. Aku bilang aku cari sekarang juga." Kata Adrian sambil berlari pergi meninggalkan Nadira sendirian.

Nadira pun juga meninggalkan tempat tersebut, sehingga ia tidak sengaja berpapasan dengan seorang laki-laki yang memakai jaket hitam, menoleh ke arahnya.

"Hey..." Panggil lelaki berjaket hitam kepada Nadira, tapi tidak jadi karena dia langsung mengambil handphonenya untuk membuat video tentang Nadira yang mulai pergi.

"Teman-teman. Aku bertemu wanita penghibur. Memakai pakaian seperti ini, mau sembahyang atau mau pamer badan ? Benar-benar keterlaluan. Harus di viral kan. Pasti dapat banyak penonton." Kata lelaki itu sambil terus menerus mengarahkan handphonenya untuk memvideokan tentang Nadira yang sudah pergi dari belakang untuk konten pribadinya.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Sementara Adrian langsung pulang kerumahnya, untuk bertemu dengan ayahnya, untuk menanyakan tugas mencari orang yang dikasih oleh Nadira.

"Ayah." Panggil Adrian kepada Ayahnya, yang mana ayahnya sedang bersantai minum teh bersama Tuan Rayhan ditemani oleh Pak Eko.

"Ayah. Tolong aku. Bantu aku cari orang. Nona Nadira suruh aku cari." Kata Adrian kepada Ayahnya, dikarenakan tadi Adrian langsung duduk tanpa diperintah oleh Ayahnya itu.

"Ohhh.... Karena Nona Nadira menyuruhmu mencari orang, keluarga kita tentu harus berusaha sekuat tenaga." Kata Tuan Rendi kepada Adrian sehingga Adrian bisa bernafas lega.

"Oh ya, masalah keluarga Wibowo...." Sambung Tuan Rendi.

"Ayah, kau nggak tahu, Nona Nadira adalah Dewi." Kata Adrian sambil berdiri.

"Saat itu, dia memegang payung kertas....." Adrian langsung memperagakan beberapa adegan apa yang dia lihat kepada Ayah dan Pamannya itu.

"Ini mana mungkin." Kata Tuan Rayhan yang tidak percaya.

"Nona Nadira ini sebenarnya manusia atau dewa ?" Tanya Tuan Rayhan.

"Rayhan, beberapa hari ini aku menyuruhmu untuk terus menyelidiki Nona Nadira, apa yang kau temukan ?" Tanya Tuan Rendi.

"Nggak ada. Dia sepertinya muncul tiba-tiba di depan rumah kita. Bagaimana datangnya, dari mana datangnya, nggak ada jejak apapun." Tuan rayhan menggelengkan kepalanya pertanda dia tidak tahu.

Setelah bangkit dari duduknya, Tuan Rayhan menghela nafas yang dalam seakan penyampaian ini tidak ada artinya.

"Sejujurnya, aku mulai curiga apa dia sebenarnya adalah pohon persik di depan rumah keluarga kita yang menjadi roh."Kata Tuan Rayhan.

Sementara Adrian, malah tertawa atas apa pemikiran dari sang Paman.

"Lihat 'kan ? Aku sudah bilang sejak awal. Nona Nadira adalah Dewi di langit." Kata Adrian.

"Haaaa.. Hey. Kau pernah lihat Dewi mana yang sedingin dia, sampai orang-orang gemetar hanya dengan melihatnya ?" Tanya Tuan Rendi kepada Adrian.

"Dewi, juga punya temperamennya sendiri, oke ?" Jawab Adrian.

"Aku menyuruhmu tinggal bersamanya beberapa hari, kenapa kau jadi seperti budak begini ? Sangat membelanya ?" Tanya Tuan Rendi.

"Ayah. Aku merasa kau nggak mengatai Nona Nadira seperti itu. Dia berbeda dengan siapapun di dunia ini. Meskipun dia dingin, pilih-pilih, dan merendahkan. Tatapan dia padaku seperti melihat sampah. Tapi, dia benar-benar baik."Jawab Adrian sambil tersenyum dan memeluk dirinya sendiri.

"Tuan Rendi." Panggil Pak Eko sambil menyerahkan handphonenya.

Dia melihat sebuah video yang viral tentang Nadira, yang dimana lelaki berjaket hitam yang memvideokan nya. Dalam video tersebut dia berkata. "Saudara-saudara, ada yang mengerti nggak ? Aku bertemu wanita penghibur. Memakai pakaian seperti ini, mau sembahyang atau mau pamer badan ? Benar-benar keterlaluan. Harus diviralkan."

Saat orang itu berbicara seperti itu, Adrian langsung menghampiri ayahnya untuk mengetahui video apa yang sedang viral begitu pula dengan Tuan Rayhan.

"Omong kosong. Nona Nadira sama sekali bukan wanita penghibur. Kau yang wanita penghibur. seluruh keluargamu adalah wanita penghibur." Maki Adrian terhadap orang tersebut yang telah memviralkan video tentang Nadira, meskipun dia memakinya di handphone sih😂.

Adrian pun langsung mengambil handphone tersebut dan langsung duduk kembali.

1
Andira Rahmawati
absend dulu thor...
Chen Nadari
mampir Thorr
Dewiendahsetiowati
hadir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!