Di kota Valmere, nama Phantom dibisikkan seperti legenda.
Seorang kurir bayangan. Pembunuh yang tak pernah gagal.
Leon hidup di dunia yang gelap dan presisi—sampai satu malam peluru yang bersarang di tubuhnya memaksanya masuk ke sebuah klinik kecil di Distrik 6.
Di sana ia bertemu Alice Arden, seorang dokter yang tidak bertanya siapa dia, dan tidak takut pada darah yang dibawanya.
Namun ketika dunia bawah mulai memburu sesuatu di distrik itu, Leon menyadari satu hal yang berbahaya.
Target yang mereka cari…
Mungkin adalah satu-satunya orang yang memperlakukannya seperti manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nameika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26 — Sarapan yang Salah
"Roti itu tidak seharusnya berwarna hitam sepenuhnya, kan?"
Suara Alice yang serak khas orang bangun tidur memecah kesunyian di dapur kecil markas persembunyian itu. Ia berdiri di ambang pintu kamar, bersandar pada kusen kayu yang sudah sedikit lapuk, menatap pemandangan ganjil di depannya. Matanya yang masih sedikit sembap mencoba memproses apa yang sedang dilakukan oleh pria paling mematikan di Valmere itu di depan kompor listrik.
Leon terdiam, tangannya yang masih memegang spatula logam membeku di udara. Ia menoleh sedikit, menatap Alice, lalu kembali menatap dua lembar roti yang kini lebih mirip arang daripada makanan. "Suhunya terlalu tinggi. Pemanggang ini tidak memiliki indikator derajat yang akurat," sahut Leon datar, seolah-olah ia sedang memberikan laporan kegagalan misi taktis kepada Gray.
Alice melangkah mendekat, aroma gosong yang tajam menusuk hidungnya. Ia melihat ke atas meja marmer yang biasanya steril. Di sana terdapat kantong plastik minimarket berisi bahan-bahan yang sangat acak: satu kotak telur yang salah satunya sudah pecah di pinggir meja, sebotol besar susu murni, dua kaleng kornet, dan mentega yang belum dibuka bungkusnya.
"Kau pergi keluar?" tanya Alice, menunjuk kantong plastik itu.
"Tadi jam empat pagi. Minimarket dua puluh empat jam di sektor tujuh," jawab Leon. Ia meletakkan spatula itu dengan gerakan kaku, lalu menatap telur mata sapi di penggorengan. Bagian tepinya hitam mengerak, sementara bagian kuningnya masih sangat cair dan bening—mentah total. "Aku pikir memasak adalah proses linear. Ternyata variabel panasnya sulit dikendalikan."
Alice tidak bisa menahan senyum tipis yang muncul di sudut bibirnya. Pemandangan ini sangat kontras dengan pria yang semalam menembak jatuh dua pemburu tanpa berkedip. "Proses linear? Leon, ini telur, bukan merakit peledak. Kau hampir membakar tempat ini hanya untuk membuat sarapan."
"Aku hanya mencoba memastikan kau memiliki asupan protein," Leon membela diri, meskipun wajahnya tetap datar, ada sedikit ketegangan di rahangnya yang menunjukkan ia merasa tidak nyaman dengan kegagalannya kali ini. "Manusia normal butuh nutrisi di pagi hari."
Alice tertawa kecil, suara jernih yang terasa sangat asing di ruangan yang sunyi itu. Ia berjalan mendekati kompor dan dengan lembut mengambil spatula dari tangan Leon. "Berhenti sebelum kau membuat kita kelaparan karena semua bahan ini hangus. Mundur, biar dokter yang menangani ini."
Leon mundur satu langkah, memberikan ruang bagi Alice. Ia berdiri di sudut dapur, melipat tangan di depan dadanya, memperhatikan setiap gerakan Alice. Bagi Leon, gerakan Alice di dapur terasa seperti tarian yang tidak efisien namun memikat. Ia terbiasa melihat orang bergerak dengan tujuan membunuh atau melarikan diri, namun cara Alice memecahkan telur dengan satu tangan dan memoles mentega ke roti terasa sangat... manusiawi.
"Kau tahu, Leon, mentega ini harus dilelehkan dulu di atas roti yang hangat, bukan dioleskan seperti semen," Alice berbicara sambil tangannya sibuk bekerja. Ia membuang roti arang itu ke tempat sampah dan mulai memanggang lembar yang baru.
"Hasil akhirnya akan sama di dalam perut," gumam Leon.
Alice menoleh sebentar, matanya berkilat jahil. "Itu pemikiran seorang kurir yang hanya makan protein bar dingin selama berhari-hari. Makan bukan hanya soal bertahan hidup, tapi soal rasa. Apa kau tidak pernah merasakannya?"
Leon terdiam. Pertanyaan itu menghantam bagian dari otaknya yang tumpul. Rasa? Ia tahu manis, pahit, dan asin, tapi ia tidak pernah benar-benar menikmatinya. "Rasa adalah gangguan bagi fokus," jawabnya akhirnya.
"Omong kosong," potong Alice. Ia meletakkan piring berisi telur mata sapi yang sempurna, putihnya matang merata, kuningnya masih setengah cair, dan dua lembar roti cokelat keemasan di atas meja. "Sekarang duduk. Dan jangan katakan kau tidak terbiasa duduk di meja makan."
Leon menatap piring itu, lalu menatap Alice. "Aku biasanya makan sambil memantau radar."
"Radarmu tidak akan lari dalam sepuluh menit. Duduk, Leon. Ini perintah medis dari doktermu," Alice mendudukkan dirinya di kursi kayu yang keras dan mulai menyantap bagian rotinya.
Leon ragu sejenak, namun akhirnya ia menarik kursi dan duduk di hadapan Alice. Ia memegang garpu seolah itu adalah pisau taktis yang siap ia lemparkan ke arah musuh. Ketika suapan pertama masuk ke mulutnya, Leon merasakan tekstur roti yang renyah dan gurihnya kuning telur yang hangat. Sesuatu di dalam dadanya terasa aneh. Bukan karena rasa makanan itu, tapi karena kehadiran seseorang di seberang mejanya.
"Bagaimana? Lebih baik daripada arang buatanmu?" Alice bertanya, memperhatikan ekspresi Leon yang tetap kaku namun sedikit melunak.
"Teksturnya... lebih bisa diterima," sahut Leon pendek, meskipun di dalam hati ia mengakui ini adalah hal terbaik yang ia makan dalam setahun terakhir.
"Hanya bisa diterima?" Alice menggelengkan kepala. "Kau benar-benar tidak punya bakat untuk memuji, ya?"
Leon berhenti mengunyah, matanya menatap piringnya dengan saksama. "Aku tidak dilatih untuk memberikan pujian, Alice. Aku dilatih untuk memberikan hasil."
Alice meletakkan rotinya dan menatap Leon dengan tatapan yang lebih dalam. Ruangan itu kini dipenuhi cahaya matahari yang lebih terang, menyinari wajah Leon yang biasanya tersembunyi di balik bayangan helm. "Siapa yang melatihmu, Leon? Kenapa kau begitu takut untuk menjadi manusia biasa, bahkan untuk sesaat saja?"
Leon tidak menjawab. Ia memotong telur di piringnya dengan presisi yang menakutkan. Pertanyaan Alice menyentuh wilayah terlarang yang selama ini ia kunci rapat-rapat. Bagaimana ia bisa menjelaskan bahwa jiwanya sudah mati sepuluh tahun lalu di sebuah panti asuhan yang terbakar?
"Makan saja sarapanmu, Alice. Kita tidak punya banyak waktu untuk diskusi filosofis," ujar Leon, suaranya kembali mendingin.
Alice menghela napas, ia tahu ia telah menyentuh tembok pembatas Leon lagi. Namun ia tidak menyerah. "Setidaknya, terima kasih sudah mencoba membuatkan sarapan. Meski kau hampir membunuh roti-roti itu, aku menghargai usahamu."
Leon tertegun. Kalimat 'terima kasih' itu terasa lebih berat daripada senjata yang ia bawa. Ia menelan sisa rotinya, lalu menatap Alice dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Lain kali, biar aku yang membeli bahannya," kata Leon datar sambil berdiri dan membawa piring kotornya ke wastafel.
Alice tersenyum lebar, senyuman yang sanggup menerangi sudut paling gelap di markas itu. "Jadi, kau mengakui kalau kau butuh bantuanku?"
"Aku mengakui bahwa kemampuan memasakku adalah risiko keamanan yang tidak perlu," jawab Leon tanpa menoleh.
Alice tertawa, kali ini suaranya lebih lepas. "Aku akan mencatat itu sebagai kemenangan pertamaku atas sang Phantom."