Aira Maharani, 28 tahun, dikenal sebagai gadis mungil dan cantik dengan dedikasi tinggi di bidang keuangan. Kariernya di salah satu anak perusahaan Satria Group berjalan stabil hingga ia dipindahkan ke unit yang lebih besar, sebuah kesempatan yang seharusnya menjadi langkah maju. Namun, harapan itu berubah menjadi kecanggungan ketika ia mengetahui bahwa direktur barunya adalah Bimantara Dwi Cahyo, putra pemilik Satria Group sekaligus mantan kekasihnya di masa SMA.
Dulu, Aira memilih mengakhiri hubungan mereka karena merasa prestasinya menurun sejak berpacaran dengan Bima. Keputusan itu meninggalkan luka yang tampaknya belum sepenuhnya sembuh bagi Bima. Kini, dalam posisi sebagai atasan, Bima kerap memberi tekanan dan tugas berlebihan kepada Aira, seolah membalas masa lalu yang belum selesai.
Meski awalnya dipenuhi ketegangan dan konflik, interaksi mereka mulai berubah seiring berjalannya waktu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 31
Pagi itu, Aira terbangun dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Kepalanya terasa ringan, tapi pikirannya penuh tanda tanya. Ia menatap langit-langit kamarnya cukup lama, mencoba menyusun kembali ingatan semalam.
Pasar malam. Lampu-lampu warna-warni. Suara riuh anak-anak. Tawa Bima.
Lalu… kosong.
Aira perlahan duduk di tempat tidur. Alisnya berkerut.
“Kenapa aku bisa ada di kamar?” gumamnya pelan.
Ia mengingat jelas dirinya pergi bersama Bima. Mereka berjalan cukup lama, bahkan sempat membeli beberapa makanan. Bima terus mengganggunya, seperti biasa. Namun setelah itu, semuanya terasa kabur.
“Jangan-jangan…” Aira menelan ludah. “Cuma mimpi?”
Belum sempat ia melanjutkan pikirannya, suara dari luar kamar memanggil.
“Aira, bangun! Sarapan dulu!”
Itu suara bibinya.
Aira tersentak. Ia segera bangkit dari tempat tidur, menepis kebingungan yang masih menggantung di kepalanya. Dengan langkah cepat, ia menuju kamar mandi, mencuci muka, dan mencoba menenangkan diri.
“Sudah, jangan dipikir dulu,” bisiknya pada diri sendiri. “Mungkin memang cuma ketiduran.”
Namun perasaan aneh itu tidak benar-benar hilang.
---
Di meja makan, suasana terasa sedikit berbeda.
Pamannya sudah duduk rapi, wajahnya serius seperti biasa. Sementara bibinya… tersenyum. Tapi bukan senyum biasa. Ada sesuatu di balik tatapan itu, sesuatu yang membuat Aira merasa tidak nyaman.
Aira menarik kursi dan duduk perlahan.
“Pagi, Paman… Bibi…” ucapnya pelan.
“Pagi,” jawab pamannya singkat.
“Pagi, Aira,” sahut bibinya dengan nada hangat.
Aira mulai makan, berusaha bersikap biasa. Ia mengira mungkin pamannya dan bibinya sedang ada masalah. Itu bukan hal yang aneh. Tapi tetap saja, tatapan mereka pagi ini terasa berbeda.
Beberapa detik berlalu dalam keheningan.
Lalu pamannya meletakkan sendoknya.
“Aira,” katanya serius.
Aira langsung menegang. “Iya, Paman?”
“Kita perlu bicara.”
Kalimat sederhana itu langsung membuat jantung Aira berdegup lebih cepat.
Tentang apa?
Pamannya menatapnya dalam-dalam. “Tentang apa yang dikatakan Bima kemarin.”
Aira membeku.
Seolah semua darah di tubuhnya berhenti mengalir.
“…Apa?” suaranya nyaris tidak terdengar.
“Dia melamarmu,” lanjut pamannya tanpa basa-basi. “Kami sudah memikirkan hal itu.”
Aira menunduk. Tangannya menggenggam ujung bajunya.
Itu… bukan lamaran sungguhan.
Itu cuma kebohongan Bima untuk menyelamatkan situasi.
Tapi… ia tidak bisa menjelaskan itu sekarang.
Pamannya melanjutkan, “Paman tidak akan memaksamu. Tapi Paman ingin tahu pendapatmu.”
Aira menggigit bibirnya.
Pendapat?
Apa yang harus ia katakan?
Kalau ia jujur, semuanya akan jadi semakin rumit. Tapi kalau ia diam, ia justru terjebak dalam kebohongan itu.
Aira menarik napas dalam-dalam.
“Aku… belum siap,” ucapnya akhirnya, pelan.
Pamannya mengangguk kecil. “Belum siap menerima lamaran?”
“Iya…”
Jawaban itu jujur. Setidaknya sebagian.
Namun pamannya belum selesai.
“Kalau begitu,” katanya lagi, “bagaimana perasaanmu terhadap Bima?”
Pertanyaan itu membuat Aira semakin terpojok.
Ia menunduk lebih dalam.
Perasaan?
Apa yang sebenarnya ia rasakan?
Kesal… iya.
Malu… jelas.
Tapi…
Aira mengepalkan tangannya.
“Aku… tidak benci dia,” jawabnya pelan.
Bibinya langsung tersenyum lebih lebar. “Tidak benci?”
Aira melirik sebentar, lalu buru-buru menunduk lagi.
“Itu artinya kamu suka, kan?”
Aira langsung panik.
“A-aku…” ia gagap. “Aku cuma… sedikit…”
“Sedikit suka?” ulang bibinya dengan nada menggoda.
Aira menutup wajahnya sebentar. “Iya…”
Pamannya tampak tidak sepenuhnya yakin. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi, memperhatikan Aira dengan ekspresi serius.
“Jawabanmu tidak meyakinkan.”
Aira hanya bisa diam.
Dan seolah belum cukup membuatnya gugup, bibinya tiba-tiba berkata, “Ngomong-ngomong, kamu tahu tidak apa yang terjadi semalam?”
Aira langsung mengangkat kepala. “Apa?”
“Kamu ketiduran di mobil Bima,” jawab bibinya santai.
Aira terdiam.
“…Apa?”
“Iya,” lanjut bibinya. “Setelah dari pasar malam, kamu langsung tertidur. Bima yang mengantarmu pulang.”
Jantung Aira berdegup lebih cepat.
Jadi… itu bukan mimpi.
“Dan,” bibinya menambahkan dengan nada penuh arti, “dia menggendongmu masuk ke kamar.”
Aira membeku.
Wajahnya langsung memerah.
“Meng…gendong?” ulangnya pelan.
Bibinya mengangguk. “Hati-hati sekali. Tidak mau membangunkanmu.”
Aira menutup mulutnya.
Bayangan itu muncul begitu saja di kepalanya.
Bima… menggendongnya?
Dekat sekali?
Tanpa sadar, jantungnya berdetak lebih cepat.
“Sepertinya dia sangat menyayangimu,” tambah bibinya lagi.
Aira tidak bisa berkata apa-apa.
Namun pamannya tampaknya memiliki pemikiran lain.
Wajahnya mengeras.
“Atau,” katanya pelan, “dia melakukan sesuatu saat kamu tidur.”
Aira langsung menoleh kaget. “Paman!”
“Paman hanya ingin memastikan,” jawabnya tegas. “Aira, jujur. Apa yang terjadi semalam?”
Aira terdiam.
Ia mencoba mengingat.
Pasar malam. Tawa. Candaan Bima.
Lalu…
“Setelah itu aku… tidak ingat,” ucapnya pelan. “Aku cuma ingat mengantuk… lalu tidur.”
Pamannya masih menatapnya tajam. “Dia tidak membawamu ke tempat lain?”
Aira menggeleng. “Aku tidak tahu…”
Suasana kembali tegang.
Namun bibinya segera menepuk tangan pelan.
“Sudahlah,” katanya. “Aku yakin Bima tidak seperti itu.”
Pamannya tidak langsung menjawab. Tapi akhirnya ia menghela napas panjang.
“Semoga saja,” gumamnya.
Percakapan itu pun berakhir.
---
Setelah sarapan, pamannya berangkat kerja seperti biasa. Tak lama kemudian, bibinya juga pergi karena ada janji dengan tetangga.
Rumah itu mendadak sepi.
Aira duduk di sofa, memeluk bantal kecil di pangkuannya.
Pikirannya kembali kacau.
Semalam… benar-benar terjadi.
Bima menggendongnya.
Tanpa sadar, ia menyentuh pipinya sendiri.
Masih terasa hangat.
“Kenapa sih dia selalu bikin masalah…” gumamnya.
Namun di balik keluhan itu, ada sesuatu yang lain.
Perasaan yang tidak bisa ia definisikan.
Aira menghela napas panjang, lalu merebahkan tubuhnya di sofa.
Langit-langit kembali menjadi pusat perhatiannya.
Tapi kali ini, pikirannya tidak kosong.
Ia teringat percakapan semalam.
Tentang pekerjaan.
Tentang tawaran Bima.
Tentang kembali ke perusahaan itu.
Aira menutup matanya.
Ia rindu.
Rindu suasana kantor.
Rindu Ayunda yang selalu cerewet.
Rindu Desi yang sering menggodanya.
Dan…
rindu Bima.
Aira langsung membuka mata.
“Kenapa malah kepikiran dia lagi…” keluhnya pelan.
Namun ia tidak bisa menyangkalnya.
Ia ingin bertemu Bima lagi.
Setiap hari.
Seperti dulu.
Namun…
wajah ibunya muncul di pikirannya.
Ibunya tidak akan setuju.
Sejak insiden itu…
Aira mengepalkan tangannya.
Ia masih ingat betapa kecewanya ibunya saat tahu apa yang ia lakukan.
Keputusan bodoh yang hampir merenggut nyawanya sendiri.
Sejak saat itu, ibunya tidak ingin ia kembali bekerja di tempat itu.
Bahkan ibunya lebih memilih Aira pulang ke rumah.
Tidak perlu bekerja.
Tidak perlu menghadapi apa pun.
Aman.
Terlindungi.
Namun bagi Aira… itu seperti penjara.
Ia tidak ingin kembali ke sana.
Terutama…
karena ayahnya.
Aira menutup matanya lagi.
Ia bisa membayangkan ekspresi ayahnya.
Marah.
Kecewa.
Dingin.
“Ayah pasti tidak akan mengerti…” bisiknya.
Ia tidak siap menghadapi itu.
Tidak sekarang.
Aira duduk kembali, memeluk lututnya.
“Aku harus gimana…” gumamnya.
Kembali bekerja berarti melawan keinginan ibunya.
Tidak kembali berarti…
kehilangan semuanya lagi.
Aira menatap ponselnya yang tergeletak di meja.
Diam.
Beberapa detik.
Lalu ia meraihnya.
Tangannya sedikit gemetar.
“Aku harus coba,” katanya pelan.
Ia membuka kontak ibunya.
Nama itu terpampang jelas di layar.
Jari Aira sempat berhenti.
Ragu.
Namun akhirnya, ia menekan tombol panggil.
Nada sambung terdengar.
Satu kali.
Dua kali.
Tiga kali.
Jantung Aira berdegup semakin cepat.
Sampai akhirnya—
“Halo?”
Suara ibunya terdengar di seberang.
Aira menelan ludah.
“Ibu…”
Suaranya pelan.
Hati-hati.
“Aira?” nada ibunya langsung berubah. “Kamu tidak apa-apa?”
Aira tersenyum tipis, meski tidak terlihat.
“Aku baik-baik saja, Bu.”
“Syukurlah… Ibu khawatir.”
Aira terdiam sejenak.
Perasaan hangat menyelinap di hatinya.
Namun ia tahu, ia tidak menelepon hanya untuk itu.
“Ibu…” katanya lagi, sedikit lebih tegas.
“Iya?”
“Aku… mau bicara sesuatu.”
Suasana di seberang menjadi hening.
“Apa itu?”
Aira menarik napas dalam-dalam.
Keputusan ini tidak mudah.
Tapi ia harus mengatakannya.
“Aku…” ia berhenti sebentar. “Aku ingin kembali bekerja.”
Kalimat itu akhirnya keluar.
Dan setelah itu…
yang tersisa hanyalah keheningan.