"Salah klik jurusan saat kuliah adalah bencana, tapi bangun dari koma dan bisa melihat hantu adalah petaka!"
Arini, dokter forensik yang aslinya clumsy dan penakut, harus menerima kenyataan pahit: ia terbangun dari koma dengan "bonus" mata batin terbuka. Kini, ruang otopsinya jadi ramai! Ia harus membedah mayat sambil mendengarkan curhat para arwah yang menuntut keadilan (dan permintaan konyol lainnya).
Untungnya, ada Mika—hantu gadis Tionghoa yang centil dan bar-bar—yang setia membantu Arini mengungkap fakta medis lewat "jalur gaib".
Masalahnya satu: Tunangan Arini, Baskara, adalah Jaksa kaku yang skeptis dan hanya percaya logika. Baskara memang bucin parah, tapi bagaimana jadinya jika sang Jaksa tahu bahwa bukti-bukti kemenangan kasusnya berasal dari bisikan makhluk halus?
Di tengah konspirasi maut yang mengancam nyawa, Arini harus memilih: Tetap waras di antara para hantu, atau terjebak dalam pelukan posesif sang Jaksa yang benci takhayul?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12: Kamar Rahasia di Balik Rak Buku
Pintu ruang kerja Tuan Adhitama yang terbuka seolah mengundang mereka masuk ke dalam mulut singa. Bau kayu cendana yang biasanya menenangkan, kini tercium amis dan apek. Baskara melangkah masuk lebih dulu, tangannya masih menggenggam jemari Arini seolah tak ingin membiarkan istrinya tertinggal barang satu inci pun.
"Bas, perasaanku tidak enak," bisik Arini. Di mata batinnya, ruangan ini dikelilingi oleh asap hitam yang pekat, sisa-sisa penderitaan yang membeku selama bertahun-tahun.
Baskara menyalakan lampu utama. Ruangan itu tampak normal, hingga Mika menunjuk ke arah rak buku besar di sudut ruangan. "Rin! Lihat bayangan di balik lemari itu! Ada celah!"
Arini menarik kemeja Baskara. "Bas, coba geser rak buku itu."
Baskara mengernyit, namun ia menuruti insting istrinya. Dengan tenaga kuat, ia menarik pinggiran rak. Sebuah bunyi klik mekanis terdengar, dan rak itu bergeser, menyingkap sebuah pintu baja kecil tanpa gagang yang hanya bisa dibuka dengan kode sidik jari.
"Ayah... apa yang kamu sembunyikan?" desis Baskara. Sebagai jaksa jenius, ia mencoba beberapa kombinasi angka yang berhubungan dengan tanggal pernikahan orang tuanya.
Bip! Pintu terbuka.
Saat mereka melangkah masuk, Arini langsung menutup mulutnya dengan tangan, menahan mual. Di dalam sana bukan sekadar ruang penyimpanan berkas, melainkan sebuah kamar kedap suara yang mengerikan. Di tengah ruangan, terdapat tempat tidur kulit hitam dengan borgol yang terikat di setiap sudutnya. Berbagai alat BDSM—mulai dari cambuk hingga rantai—terpajang rapi di dinding seperti koleksi seni yang sakit.
"Ya Tuhan..." suara Baskara bergetar hebat. Matanya tertuju pada sebuah meja kecil di pojok. Di sana terdapat sebuah laptop dan puluhan map berisi foto-foto.
Baskara membuka salah satu map. Wajahnya seketika pucat pasi, tangannya gemetar hingga map itu jatuh ke lantai. Foto-foto di dalamnya memperlihatkan Sari—yang saat itu masih sangat belia, mungkin baru berusia lima belas tahun—dalam kondisi yang mengenaskan, terikat dan penuh luka lebam di bawah kuasa Tuan Adhitama.
"Ayahmu melakukan child grooming..." gumam Arini dengan air mata yang mulai mengalir. "Sari tidak pernah mencoba menggoda Ayahmu, Bas. Dia dipaksa sejak kecil. Dia dijadikan pemuas nafsu saat ibumu mulai sakit-sakitan dan tidak berdaya."
Baskara duduk terjerembap di kursi kulit ayahnya. Ia menyalakan laptop yang ternyata tidak terkunci. Di sana, sebuah video terputar otomatis. Video berdurasi pendek itu memperlihatkan kekejaman Tuan Adhitama saat berhubungan intim secara sadis dengan Sari yang menangis memohon ampun.
"Binatang!" teriak Baskara. Ia memukul meja dengan keras hingga tangannya berdarah. "Selama ini aku bangga menjadi anaknya! Aku menjadi jaksa untuk menegakkan hukum, sementara monster aslinya ada di rumahku sendiri!"
Mika berdiri di samping Arini, wajah hantunya tampak sangat berduka. "Sekarang aku paham kenapa Sari begitu terobsesi padamu, Baskara. Kamu adalah satu-satunya hal baik yang pernah dia lihat di rumah ini. Dia ingin dicintai olehmu karena dia hanya tahu rasa sakit dari ayahmu."
Tiba-tiba, suara tawa melengking Sari terdengar dari balik bayang-bayang kamar rahasia itu. Sosoknya muncul, tidak lagi menyerang, melainkan merangkak di lantai sambil memegang sebuah kerah leher anjing yang terbuat dari kulit.
"Baskara... lihatlah aku sekarang," bisik Sari parau. "Ayahmu menghancurkanku, lalu membunuhku saat aku mengancam akan memberitahumu. Dia bilang, anak seorang pembantu tidak akan pernah dipercaya oleh calon Jaksa hebat sepertimu."
Baskara bangkit, ia berjalan mendekati arwah Sari. Meskipun ia tidak bisa melihatnya, ia bicara ke arah suara itu berasal. "Sari... maafkan aku. Maafkan aku karena aku buta selama ini."
Baskara berbalik ke arah Arini, lalu ia menarik istrinya ke dalam pelukan yang sangat posesif, namun kali ini penuh dengan rasa rapuh. Ia menyembunyikan wajahnya di pundak Arini, membiarkan air mata kemarahan membasahi kebaya pengantin istrinya.
"Aku akan menghancurkannya, Arini," bisik Baskara dengan nada yang sangat dingin dan mematikan. "Aku tidak peduli dia ayahku. Aku sendiri yang akan menyeretnya ke penjara, atau bahkan ke liang lahat jika hukum tidak cukup untuk membalas apa yang dia lakukan pada Sari."
Arini memeluk kepala Baskara, memberikan kekuatan. "Kita akan lakukan bersama, Bas. Kamu dengan bukti ini, dan aku dengan kesaksian Sari."
Di balik dinding kamar rahasia itu, rahasia keluarga Adhitama telah runtuh. Dan bagi Baskara, pernikahan ini bukan lagi sekadar pelabuhan cinta, melainkan awal dari perang berdarah melawan ayahnya sendiri demi keadilan bagi jiwa-jiwa yang telah hancur.
lanjut thorr
lagian botol parfum taro diluar dulu deh rin kalo mau bikin anak. hantu lu resek🤭🤣🤣🤣