NovelToon NovelToon
GOMA: THE REBORN

GOMA: THE REBORN

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Sistem / Action
Popularitas:385
Nilai: 5
Nama Author: By Magus

Mati di puncak gunung Goma justru terbangun di dasar neraka sebagai tengkorak rapuh tanpa daging. Demi kembali ke panti asuhan tempat ia dibesarkan Goma mulai membantai iblis dan memangsa tubuh mereka. Setiap nyawa yang ia telan menumbuhkan otot serta kulit baru di atas tulangnya. Ini bukan hanya tentang bertahan hidup namun tentang pendakian berdarah dari dasar jurang menuju singgasana para dewa yang telah menghina takdirnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By Magus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Langkah Diatas Karpet Merah

Episode 22

Lantai koridor utama Istana Lord Valos terasa sangat empuk di bawah telapak kakiku yang kini memiliki lapisan daging dan kulit tebal. Karpet merah yang membentang sepanjang lorong ini bukan terbuat dari kain biasa melainkan dari jalinan kulit halus mahluk laut purba yang masih memiliki sisa energi hangat di dalamnya. Setiap kali aku menginjakkan kaki aku bisa merasakan sedikit tekanan balik yang elastis seolah olah karpet ini mencoba memijat setiap urat syaraf di telapak kakiku. Cahaya dari lampu lampu kristal esensi yang menggantung di langit-langit yang melengkung memberikan rona ungu kemerahan pada dinding dinding obsidian yang mengkilap di sekelilingku.

Dug... dug... dug...

Jantung esensi ku berdetak dengan sangat tenang di bawah perlindungan jubah pelayan yang baru saja kucuri. Aku berjalan dengan kepala sedikit menunduk menirukan postur tubuh pelayan pelayan iblis lainnya yang kulihat di dapur tadi. Sebagai seorang pendaki aku sangat paham bahwa penyamaran bukan hanya tentang apa yang kau kenakan pada tubuhmu melainkan tentang bagaimana kau mengatur ritme gerakanmu agar menyatu dengan lingkungan sekitar. Aku mengatur panjang langkahku serta kecepatan ayunan tanganku agar terlihat lelah sekaligus patuh tepat seperti ribuan budak yang telah menghabiskan seluruh hidup mereka di dalam istana mewah ini.

"Goma jangan menatap langsung ke arah mata para pengawal di persimpangan depan. Mereka memiliki kemampuan untuk merasakan kejujuran melalui kontak mata esensi," bisik Kharis yang kini meringkuk sangat dalam di balik lipatan jubah kelabuku agar tidak menimbulkan bayangan yang mencurigakan.

"Aku tahu Kharis. Aku hanya menggunakan pandangan periferal untuk memetakan jalur pelarian. Istana ini terlalu luas serta memiliki terlalu banyak koridor buntu yang sengaja dibuat untuk menjebak penyusup," jawabku melalui transmisi jiwa yang sangat halus.

Aku berpapasan dengan sekelompok pelayan wanita yang membawa nampan berisi buah buahan esensi yang bercahaya keemasan. Bau harum dari buah itu sangat kuat hingga sempat membuat fokusku terganggu sejenak. Namun rasa lapar yang ada di dalam dadaku bukan lagi lapar akan makanan biasa melainkan lapar akan esensi jiwa yang murni. Aku bisa merasakan bagaimana otot otot di perutku menegang saat aku menekan insting predator yang ingin meledak keluar setiap kali aku melihat mahluk mahluk lemah di sekitarku.

[ SISTEM: MENDETEKSI RADIASI ENERGI DARI MAHLUK SEKITAR ]

[ SISTEM: RATA RATA TINGKAT KEKUATAN PELAYAN: SANGAT RENDAH ]

[ SISTEM: PERINGATAN: TERDETEKSI PENJAGA TINGKAT TINGGI DI BALIK PINTU BESAR SEKTOR BARAT ]

[ SISTEM: SARAN: TETAPKAN FREKUENSI DETAK JANTUNG PADA 40 DENYUT PER MENIT UNTUK MODUS PENYAMARAN TOTAL ]

40 denyut per menit. Itu adalah batas bawah bagi mahluk hidup untuk tetap sadar. Aku harus benar benar menekan aliran darah hitamku agar tidak terdeteksi oleh sensor energi di dinding obsidian ini.

Aku melangkah melewati sebuah persimpangan di mana dua orang prajurit zirah berat berdiri diam seperti patung. Mereka mengenakan helm baja hitam yang tidak memiliki celah mata menunjukkan bahwa mereka melihat menggunakan sensor panas esensi. Aku mengeratkan jubah isolasi ku memastikan tidak ada hawa panas dari jantung esensi ku yang bocor keluar. Aku berjalan melewati mereka dengan langkah yang sengaja dibuat sedikit tidak stabil agar terlihat seperti pelayan yang sedang kelelahan.

Salah satu prajurit itu menggerakkan kepalanya sedikit ke arahku saat aku lewat. Aku bisa merasakan gelombang energi pemindaian menyapu permukaan jubahku. Detik itu terasa sangat lama seolah olah waktu kembali melambat seperti saat aku bergantung pada satu jari di dinding tebing yang rapuh. Namun berkat jubah isolasi yang ku beli di pasar gelap serta bantuan sistem yang meredam sinyal jiwaku prajurit itu kembali ke posisinya semula tanpa curiga.

"Hei kau! Pelayan baru!"

Sebuah suara serak dan tinggi tiba tiba memanggil dari arah belakang. Aku menghentikan langkahku secara perlahan lahan berusaha agar bahuku tidak menegang karena kaget. Aku membalikkan tubuhku dengan gerakan yang lambat kemudian menundukkan kepala sedalam mungkin. Di depanku berdiri sesosok iblis ramping dengan pakaian yang lebih mewah dari pelayan biasa. Ia sepertinya adalah seorang kepala pelayan atau pengawas lantai.

"Ya Tuan. Ada yang bisa saya bantu," jawabku dengan suara yang sengaja ku buat serak dan gemetar.

Iblis ramping itu menatapku dengan mata merahnya yang besar. Ia memegang sebuah cambuk kecil yang terbuat dari syaraf mahluk raksasa. "Bawa nampan botol esensi ini ke Ruang Belajar Lord Valos sekarang juga. Pelayan sebelumnya pingsan karena ketakutan saat melihat peliharaan tuan kita. Cepat! Jangan berdiri diam seperti patung tulang!"

Ia menyodorkan sebuah nampan perak yang berisi tiga botol kristal dengan cairan berwarna biru tua yang berdenyut redup. Aku mengambil nampan itu menggunakan kedua tanganku. Berat nampan itu tidak ada apa apanya bagi kekuatan otot lenganku yang sebenarnya namun aku berpura pura sedikit kesulitan saat menerimanya agar terlihat meyakinkan.

Ruang belajar. Ini adalah keberuntungan yang luar biasa. Itu pasti tempat di mana buku buku penting dan peta dimensi disimpan.

"Baik Tuan. Saya akan segera mengantarkannya," ucapku sambil membungkuk sekali lagi.

"Jangan tumpah sedikit pun atau kepalamu akan dijadikan hiasan di kaki meja Lord Valos! Jalur ke ruang belajar ada di koridor kiri setelah aula utama. Sekarang pergi!"

Aku segera berbalik dan berjalan menuju arah yang ditunjukkan. Kharis di dalam jubahku hampir saja mengeluarkan suara tertawa namun ia segera menahannya. "Goma ini benar benar takdir. Kau tidak perlu merangkak di dalam pipa lagi untuk mencapai ruangan itu. Tapi berhati hatilah peliharaan yang dia maksud mungkin adalah mahluk tingkat tinggi yang bisa mencium bau jiwamu dari jarak jauh."

"Aku sudah terbiasa menghadapi binatang buas di gunung Kharis. Semakin besar mahluk nya maka semakin besar pula titik buta nya. Aku akan menggunakan kesempatan ini untuk memetakan seluruh ruangan itu," jawabku sambil terus melangkah dengan tenang.

Aku menyusuri koridor kiri yang mulai terlihat lebih sepi. Karpet di sini tidak lagi merah melainkan berwarna hitam pekat dengan pola emas yang sangat mewah. Suasana menjadi jauh lebih sunyi hanya suara detak jantungku dan suara cairan di dalam botol esensi yang terdengar. Setiap langkah yang kuambil membawaku semakin dekat dengan pusat kekuasaan Lord Valos.

Aku melihat ke arah nampan perak di tanganku. Cahaya biru dari botol esensi terpantul di wajahku yang kini tertutup tudung. Aku bisa melihat pantulan mata kuning keemasan ku di permukaan botol. Aku tidak lagi terlihat seperti mahluk yang jatuh dari tebing. Aku terlihat seperti mahluk yang sedang bersiap untuk memangsa sebuah kerajaan.

Ibu Widya ternyata jalan menuju informasi itu diberikan langsung oleh musuhku sendiri. Aku akan masuk ke dalam ruangan itu aku akan melayani tuan rumah yang sombong itu dan aku akan mengambil apa yang menjadi hakku. Panti asuhan kita akan segera mendapatkan jawaban yang sudah lama kutunggu.

Aku sampai di depan sebuah pintu ganda yang sangat besar terbuat dari kayu hitam yang dipenuhi oleh ukiran iblis yang sedang berperang. Di depan pintu itu berdiri dua ekor mahluk yang menyerupai serigala namun memiliki sayap kelelawar dan tiga buah mata di keningnya. Mereka adalah Hell Hounds peliharaan elit para bangsawan. Mereka menatapku dengan air liur asam yang menetes dari taring mereka yang tajam.

[ SISTEM: PERINGATAN: MAHLUK PENJAGA MEMILIKI INDERA PENCIUMAN JIWA ]

[ SISTEM: STATUS PENYAMARAN: RISIKO MENENGAH ]

[ SISTEM: SARAN: JANGAN MENUNJUKKAN RASA TAKUT ATAU AGRESIFITAS SAMA SEKALI ]

Aku menarik napas panjang melalui paru paru semu ku kemudian memantapkan peganganku pada nampan perak. Aku melangkah mendekati pintu besar tersebut tanpa keraguan. Di dalam ruangan itu Lord Valos sedang menanti ku dan aku Goma sang pendaki sudah siap untuk melakukan pendakian paling berbahaya di dalam istana obsidian ini.

Setiap detak jantungku sekarang adalah taruhan nyawa. Namun seperti setiap pendakian yang pernah kulakukan aku tidak akan berhenti sampai aku menyentuh puncak tertinggi dari rahasia dunia ini. Aku terus melangkah membiarkan bayanganku memanjang di bawah cahaya lampu kristal yang dingin.

1
diy
tetap semangat 💪
M Agus Salim: siap💪
total 1 replies
diy
hmmm menarik☕
M Agus Salim: terima kasih sudah mampir untuk membaca karya novelku 🙏
total 1 replies
diy
semakin menarik ☕
M Agus Salim: terima kasih sudah mampir untuk membaca karya novelku 🙏
total 1 replies
diy
semangat author💪
M Agus Salim: selalu 💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!