Note: Ini cuma sekedar novel santai aja, kemungkinan besar dari kalian akan bosan membacanya. karena alurnya yang lambat, jadi jangan tanya author masalah debeh, aksi gelut gelut dan semacamnya yaa...😀
Xiao Yan bereinkarnasi ke dunia kultivasi modern sebagai bayi dengan status dan keahlian maksimal menyentuh angka 9999. Di tengah tragedi serangan monster yang merenggut nyawa ayahnya dan mengancam ibunya, dia tanpa sengaja melepaskan satu tembakan energi mematikan yang menghapus sang monster beserta daratan sejauh tiga kilometer dalam sekejap. Demi kehidupan yang damai dan tenang, Xiao Yan memutuskan untuk menyembunyikan identitasnya, meski takdir dan sistem di kepalanya seolah terus memaksanya untuk bertindak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Tubuh Xiao Yan dengan semua status 9999 bekerja seperti lubang hitam bagi energi di sekitarnya. Jika dia membiarkan tubuhnya bernapas secara alami, energi dari formasi kelas ini, bahkan energi dari seluruh akademi akan tersedot masuk ke dalam tubuhnya dalam waktu kurang dari dua detik. Jika itu terjadi, formasi kelas akan hancur lebur karena kelebihan beban tarikan, dan Guru Li pasti akan langsung menyadari bahwa ada monster di kelas ini.
"Aku harus menahan pori-pori kulitku agar tertutup rapat, menyisakan hanya 0,000001 persen celah untuk memasukkan energi seukuran debu setiap lima detik," analisis Xiao Yan.
Dia mulai menyesuaikan ritme pernapasannya. Tarik napas... tahan energi alami yang memaksa masuk... tutup akses meridian... embuskan. Tarik napas... blokir tarikan dari lingkungan... embuskan.
Bagi Xiao Yan, ini jauh lebih melelahkan daripada berlari mengelilingi bumi. Menahan kekuatan absolut agar tidak keluar dan tidak menyerap apa pun adalah pekerjaan yang membutuhkan fokus sangat tinggi.
Guru Li berjalan perlahan menyusuri lorong di antara meja-meja. Dia mengangguk puas melihat beberapa siswa yang mulai mengeluarkan sedikit uap putih dari atas kepala mereka, tanda bahwa sinkronisasi mulai berjalan.
Langkah kaki Guru Li semakin mendekat ke barisan belakang.
"Ugh..." Lin Fan merintih pelan. Wajahnya mulai memerah karena kesulitan menyesuaikan ritme pernapasan dengan tekanan formasi.
Guru Li berhenti tepat di meja Xiao Yan dan Lin Fan. Dia menatap Lin Fan sekilas.
"Kapasitas Qi yang rendah, fondasi napas berantakan. Perlu banyak latihan," gumam Guru Li pelan menilai Lin Fan.
Lalu, tatapan tajam Guru Li beralih kepada Xiao Yan yang duduk di sebelah jendela.
Guru Li menyipitkan matanya. Dia memfokuskan pandangannya untuk melihat aliran Qi di sekitar tubuh murid berambut hitam itu.
"Hah?" Guru Li sedikit terkejut dalam hati.
Dia melihat tidak ada satu pun energi dari formasi yang berhasil masuk ke dalam tubuh Xiao Yan dengan lancar. Energi itu hanya berputar-putar lambat di sekitar hidung anak itu, lalu masuk sedikit demi sedikit dengan sangat tersendat, seperti air yang menetes dari keran yang macet.
Wajah Xiao Yan terlihat sangat datar, napasnya biasa saja, tidak ada uap putih di kepalanya, dan tidak ada keringat di dahinya.
"Murid ini..." pikir Guru Li sambil mengerutkan kening. "Bakatnya pasti sangat buruk. Aliran meridiannya sangat sempit sehingga dia bahkan tidak bisa menyerap energi dari formasi dasar ini sama sekali. Pantas saja nilainya pasti berada di ambang batas bawah saat ujian."
Namun, Guru Li adalah guru yang keras sekaligus peduli. Dia tidak suka melihat muridnya menyerah atau tidak berusaha keras. Karena wajah Xiao Yan terlalu datar, Guru Li mengira Xiao Yan tidak menganggap serius latihannya.
"Hei, kau yang duduk di dekat jendela!" tegur Guru Li dengan suara tegas.
Xiao Yan membuka matanya perlahan.
"Ya, Guru?" jawab Xiao Yan.
"Apakah kau menganggap latihan ini adalah permainan? Kenapa kau tidak berusaha menyerap energinya? Lihat teman sebangkumu, dia sampai berkeringat deras karena berusaha keras. Kenapa kau malah terlihat santai seperti sedang duduk di taman?" tegur Guru Li keras, membuat beberapa murid di kelas ikut membuka mata dan melihat ke arah belakang.
"Gawat," batin Xiao Yan cepat. "Wajah datar ini membuatku dicurigai sebagai murid pemalas. Di dunia ini, murid pemalas selalu dihukum lari keliling lapangan atau diberi porsi latihan tambahan. Aku benci latihan tambahan. Aku harus membuat diriku terlihat seperti sedang berusaha sangat keras dan menderita agar dia melepaskanku."
Otak Xiao Yan bekerja dalam hitungan milidetik.
"Meningkatkan suhu tubuh internal sebesar 0,2 derajat celcius untuk merangsang kelenjar keringat. Mempercepat detak jantung buatan sebesar sepuluh beat per minute. Mengontraksikan otot leher untuk memberikan efek tegang."
Hanya dalam waktu satu detik setelah ditegur, tubuh Xiao Yan langsung memberikan reaksi fisik yang dimanipulasi secara sempurna.
Satu tetes besar keringat tiba-tiba meluncur dari pelipis Xiao Yan. Pembuluh darah kecil di lehernya terlihat sedikit menonjol. Wajahnya yang datar dipaksa sedikit berkerut, menampilkan ekspresi seseorang yang sedang menahan beban berat tak kasatmata.
"Ugh... Maaf, Guru," ucap Xiao Yan dengan suara yang dibuat sedikit bergetar dan serak. "Hah... Meridianku... sangat sempit. Aku merasa... dadaku sangat sesak... saat mencoba menarik energinya. Aku sudah... berusaha sekuat tenaga..."
Guru Li melihat perubahan fisik yang sangat cepat itu. Dia melihat keringat dingin di pelipis Xiao Yan dan urat leher yang menonjol. Ekspresi kesakitan itu terlihat sangat nyata.
Hati Guru Li langsung melunak. Teguran kerasnya berubah menjadi rasa kasihan.
"Hah..." Guru Li menghela napas panjang dan menggelengkan kepalanya. "Baiklah, baiklah. Berhenti memaksakan dirimu. Jika meridianmu memang menyempit secara bawaan, memaksakan diri menyerap Qi dengan formasi ini malah akan melukai organ dalammu."
"Terima kasih, Guru," ucap Xiao Yan sambil menundukkan kepala, mengatur napasnya agar kembali normal dengan cepat, lalu menghapus keringat buatannya itu.
"Istirahatlah sebentar. Kau tidak perlu mengikuti sesi sinkronisasi ini. Bernapaslah secara normal saja," perintah Guru Li dengan nada yang jauh lebih lembut.
Guru Li kemudian berbalik dan berjalan kembali ke depan kelas, meninggalkan barisan belakang.
"Syukurlah. Sandiwaranya berhasil. Dia menyuruhku tidak perlu ikut latihan, yang berarti aku bisa tidur," batin Xiao Yan. Dia segera menyandarkan kembali punggungnya ke kursi.
Lin Fan menatap Xiao Yan dengan pandangan penuh rasa kasihan.
"Hei," bisik Lin Fan sambil menggeser kursinya merapat. "Kau tidak apa-apa? Wajahmu tadi terlihat sangat kesakitan. Meridian yang menyempit itu penyakit yang mengerikan. Pamanku punya penyakit itu dan dia bahkan tidak bisa mengangkat galon air minum."
"Aku tidak apa-apa. Jangan pedulikan aku," jawab Xiao Yan pelan.
"Tenang saja, Xiao Yan!" Lin Fan menepuk bahu Xiao Yan dengan bangga. "Seperti janjiku saat ujian masuk kemarin, aku akan melindungimu di kelas ini! Jika ada tugas fisik mengangkut barang, biar aku yang melakukannya untukmu."
Xiao Yan menatap tangan kurus Lin Fan di bahunya. Tenaga fisik Lin Fan saat ini mungkin setara dengan tenaga Xiao Yan saat umurnya baru dua hari. Tapi Xiao Yan tidak membantah. Punya tameng pelindung dari tugas-tugas fisik yang merepotkan adalah tawaran yang sangat menguntungkan.
"Um. Terima kasih," jawab Xiao Yan datar.
"Hehe, serahkan saja pada Kakak Lin Fan!" ucap remaja berjaket kuning itu sambil membusungkan dada, sebelum akhirnya kembali memejamkan mata untuk menyelesaikan latihannya dengan susah payah.
Xiao Yan kembali memalingkan wajahnya menatap ke luar jendela. Hari pertama sekolah berjalan tepat seperti yang dia hitung. Dia berhasil dicap sebagai murid paling lemah dan paling tidak berbakat di kelas oleh wali kelasnya. Status ini adalah perlindungan terbaik untuk masa depan SMA-nya yang damai.
"Semuanya berjalan sesuai rencana. Tidak akan ada hal menarik yang terjadi hari ini," batin Xiao Yan dengan puas sambil menutup matanya, bersiap melanjutkan acara tidur siang yang sempat tertunda.
Namun, Xiao Yan lupa bahwa di dunia kultivasi, sesuatu yang tidak terduga selalu menanti tepat ketika seseorang lengah.