Endric sadar dia tinggal di tempat yang sangat aneh. Semua orang terlihat normal, tapi terasa hampa. Dia bertemu Gandhul, sosok pocong kecil yang menjadi satu-satunya teman yang bisa diajak bicara.
Di tubuhnya muncul Garis Hitam misterius yang menyimpan kekuatan besar. Dia juga bertemu Ningsih, wanita misterius yang hanya bisa dilihat oleh Endric saja.
Mereka menyadari satu kebenaran mengerikan. Desa ini bukan tempat tinggal biasa. Ini adalah Penjara Raksasa yang dibuat untuk mengurung kekuatan jahat dan mengikat penduduk dengan aturan kejam.
Endric bukan orang asing. Dia sebenarnya pulang ke tanah leluhurnya. Nama keluarganya sengaja dihapus dari sejarah demi keselamatan.
Kini dia harus berani melawan segalanya. Bersama Bento, Ningsih, dan Gandhul, mereka akan menembus Hutan Terlarang, membangkitkan kekuatan leluhur, dan menghadapi Sang Tetua yang sudah berubah menjadi iblis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Na-Hyun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Buku Rahasia
Endric Gak mengalihkan pandangan dari wajah Ningsih. Pikirannya berkecamuk hebat menerima fakta baru itu.
Ia meletakkan belati hitam ke pinggang dan mengambil buku tebal tersebut dengan tangan gemetar.
"Jadi selama ini lo tahu segalanya? Lo tahu lo diciptakan buat gue?" tanya Endric pelan namun tajam.
Ningsih mengangguk pelan. Matanya tampak berkaca-kaca namun Gak ada air mata yang jatuh.
"Saya tahu sejak awal bertemu Mas. Tapi saya Gak tahu cara menyampaikannya."
"Alasan klasik. Lo takut gue bakal anggep lo barang atau takut gue bakal manfaatin lo?"
"Bukan itu. Saya hanya ingin Mas melihat saya sebagai Ningsih. Bukan sebagai benda warisan atau alat kekuatan."
Gandhul melayang mendekat, mencoba mencairkan suasana yang semakin tegang.
"Udah ah Rek, Neng. Mending kita baca dulu isinya apa. Darah muda emang bawaannya emosi."
"Lo bener Gandhul. Kita selesaikan satu per satu."
Endric duduk di atas altar batu. Ia membuka halaman demi halaman buku rahasia itu dengan hati-hati.
Kertasnya tebal dan berbau waktu. Tulisan tangannya rapi dan tegas, menggunakan tinta hitam dan merah berselang-seling.
"Ini catatan harian leluhur gue yang terakhir sebelum diusir," ucap Endric.
"Betul. Dia orang paling pintar dan paling berbahaya di masanya. Buku ini nyimpen rahasia desa yang disembunyiin ratusan tahun."
Endric mulai membaca isi tulisan itu dengan lantang agar yang lain bisa mendengar.
Isinya menceritakan bagaimana desa ini dibangun. Bukan untuk tempat tinggal biasa, melainkan untuk penjara dan pemujaan.
"Desa ini dibangun di atas tanah penahan. Dibuat untuk mengurung sesuatu yang sangat tua dan sangat jahat."
"Something yang ditahan itu apa?" tanya Gandhul mendesak.
"Bukan sesuatu. Tapi seseorang. Atau sesuatu yang menyamar jadi manusia. Pendiri desa yang asli."
Endric membalik halaman berikutnya. Tangannya berhenti tepat di gambar peta lengkap dengan terowongan bawah tanah.
"Jadi desa ini cuma topeng. Di bawah kaki kita ini ada dunia lain yang lebih luas dan lebih menyeramkan."
"Rek, baca bagian tentang Ningsih dong. Penasaran gue tuh," celetuk Gandhul.
Endric menoleh ke arah Ningsih yang berdiri menunduk. Ia membalik halaman sesuai petunjuk gambar tadi.
Matanya membaca baris demi baris penjelasan tentang penciptaan sosok penjaga.
"Dibuat dari darah murni keturunan utama. Diberi wujud manusia agar bisa berinteraksi. Tugasnya menjaga pintu antar dimensi agar Gak terbuka sembarangan."
"Itu saya," ucap Ningsih pelan.
"Saya dibuat dari darah leluhur Mas. Jadi nyawa saya terikat pada nyawa keluarga Mas."
"Berarti kalau gue mati, lo juga ikut mati?"
"Benar. Dan kalau saya hancur, kekuatan pintu gerbang di dalam diri Mas akan hilang."
Gandhul bersiul panjang. "Wah, hubungan kalian itu rumit tapi sakti banget ya."
"Kalian itu dua sisi mata uang. Saling butuh, saling mengunci, dan saling melengkapi."
Endric menutup buku itu sejenak. Ia menatap Ningsih dengan pandangan yang mulai berubah.
Bukan lagi curiga, melainkan penuh pengertian dan rasa tanggung jawab.
"Jadi lo bukan musuh. Lo juga bukan cuma teman. Lo bagian dari diri gue sendiri yang terpisah."
"Ya, Mas. Kita satu akar. Kita satu sumber."
Endric berdiri dan berjalan mendekati Ningsih. Ia mengangkat dagu perempuan itu agar menatap matanya.
"Gue terima kebenaran ini. Gue terima lo apa adanya. Mulai sekarang, kita hadapi semua ini bareng-bareng."
"Terima kasih, Mas," ucap Ningsih lembut. Ada kelegaan besar di wajahnya.
"Tapi ingat ya Ningsih. Gue gak akan anggap lo barang. Gue anggap lo partner. Lo saudara. Lo orang yang paling gue percaya."
Gandhul tepuk tangan gemas di udara. "Asik! Keluarga kecil kita makin lengkap dan solid!"
"Tapi jangan lengah Rek. Buku ini juga nyatet bahaya yang nungguin lo."
"Apa lagi?" tanya Endric cepat.
"Selain musuh dari desa, ada kekuatan lain yang pengen ambil alih tubuh lo. Mereka pengen pake darah lo buat buka segel utama."
"Siapa mereka?"
"Mereka yang setia sama pendiri desa asli. Mereka yang pengen liat dunia ini hancur dan diganti baru."
Endric mengepalkan tangannya. Garis hitam di lengannya berdenyut siap siaga.
"Biarkan mereka datang. Gue udah siap lawan siapa pun yang berani halangin jalan gue."
Tiba-tiba, halaman terakhir buku itu terbuka sendiri.
Sebuah mata besar terlukis di kertas, menatap lurus ke arah mereka bertiga.
Suara berat dan dalam terdengar langsung dari dalam buku itu.
"Kamu yang membaca catatan ini... ingatlah satu hal."
"Kebenaran yang Kamu cari... akan memakan kewarasanmu."
"Dan orang yang paling Kamu percaya... akan menjadi alasan kehancuranmu."
Tinta di halaman buku itu mendidih dan berubah menjadi darah segar yang menetes ke lantai.
"Siapa yang bilang begitu?!" bentak Endric.
"Itu bukan pesan dari leluhur lo, Rek..." suara Gandhul berubah parau dan ketakutan.
"Itu suara... yang lagi nulis sejarah kita sekarang."
Dinding rumah leluhur retak. Sebuah tangan raksasa menembus tembok, mencengkeram keras atap bangunan itu.
"Kita dikepung. Dan musuhnya... bukan cuma satu."
Endric segera menyimpan buku rahasia itu ke dalam pakaiannya dengan aman. Ia tahu benda itu terlalu berharga untuk hilang atau dirusak.
Suara gemuruh semakin keras. Tanah di bawah kaki mereka bergetar hebat menandakan kedatangan sesuatu yang sangat kuat.
"Jangan panik. Kita hadapi pelan-pelan," ucap Endric tegas.
"Siapa yang datang? Musuh dari desa atau penjaga rumah ini?" tanya Ningsih waspada.
"Bukan keduanya. Ini panggilan dari masa lalu. Sosok yang namanya tertulis paling atas di semua silsilah."
Gandhul melayang cepat ke dekat telinga Endric. Wajahnya pucat dan matanya membesar ketakutan.
"Rek... jangan panggil nama dia. Jangan ucapkan satu huruf pun dari nama aslinya."
"Kenapa? Dia siapa sebenarnya?"
"Dia leluhur pertama. Dia orang yang bikin desa ini ada. Dia pencipta aturan dan segel segalanya."
Endric mengerutkan kening. "Leluhur pertama? Berarti dia kakek buyut gue yang paling atas?"
"Bukan cuma kakek buyut. Dia monster berbentuk manusia. Dia kejam, dingin, dan Gak punya hati sama sekali."
Tiba-tiba, cahaya hijau pekat menyala dari segala arah. Bentuk bayangan raksasa muncul di tengah ruangan.
Wujud itu tinggi besar, mengenakan jubah kerajaan kuno yang megah namun gelap. Wajahnya samar namun tatapannya menusuk sampai ke tulang.
"Keturunan terakhir... akhirnya Kamu datang juga," suara itu bergema bukan dari mulut, melainkan langsung di dalam kepala.
Endric maju selangkah. Ia Gak mundur sedikit pun.
"Lo yang panggil gue? Lo yang ngundang gue balik ke sini?"
"Aku yang menulis takdirmu. Aku yang memerintahkan darahmu ditarik kembali ke tanah asal."
"Untuk apa? Buat minta maaf karena usir keluarga gue? Atau buat minta maaf karena jadikan gue tumbal?"
Sosok itu tertawa rendah. Suaranya membuat dinding rumah bergetar.
"Kamu Gak perlu mengerti alasannya. Kamu hanya perlu tahu bahwa Kamu ada di sini untuk melayani tujuan besar."
"Tujuan besar apa? Menjaga penjara yang lo bangun sendiri? Atau menahan sesuatu yang lo takuti sendiri?"
Endric menunjuk dada sosok itu dengan penuh keberanian.
"Gue baca catatan leluhur gue. Gue tahu desa ini bukan tempat suci. Ini sarang penyimpanan dosa."
"Kamu berani menentang pendirimu? Kamu berani meragukan keputusanku ratusan tahun lalu?"
"Gue menentang keGakadilan. Keluarga gue diusir, dicoret, dan dipojokkan cuma karena beda pendapat sama lo."
"Mereka pengkhianat. Mereka mau membuka segel yang harusnya tetap tertutup selamanya."
"Kalau memang salah, kenapa lo hapus semua catatan tentang mereka? Kenapa lo takut sama kebenaran?"
"Karena kebenaran bisa menghancurkan segalanya. Kebenaran bisa membebaskan yang seharusnya tetap terkunci."
Gandhul yang tadi diam saja kini memberanikan diri bersuara.
"Yang Mulia... maksud lo yang terkunci itu iblis purba? Atau dewa yang jatuh?"
Sosok itu menatap tajam ke arah Gandhul. Pocong itu langsung gemetar dan menutup mulutnya sendiri.
"Kamu masih hidup juga, makhluk tak berguna. Kamu seharusnya hancur bersama tuanku yang lama."
"Gue setia kawan, Yang Mulia. Gue nggak mau cabul sama perintah."
"Sudah cukup omong kosongnya," potong Endric keras.
"Lo mau apa sama gue? Lo mau apa sama Ningsih? Ngomong langsung atau kita lawan di sini juga."
"Aku butuh darahmu untuk memperkuat segel. Aku butuh penjaga gerbang untuk menutup celah yang terbuka."
"Jadi lo mau pakai kita lagi? Mau manfaatin kita buat nutupin kesalahan lo sendiri?"
"Kalian memang diciptakan untuk itu. Darahmu adalah harga yang harus dibayar demi keselamatan dunia ini."
"Dunia yang lo bikin menderita? Dunia yang lo penjarakan ratusan tahun?"
Endric mengeluarkan belati hitam dari pinggangnya. Mata belati itu bersinar menantang.
"Gue kasih tahu satu hal, Leluhur. Gue bukan boneka lo. Gue bukan alat lo."
"Keturunan yang dicoret dari silsilah Gak punya kewajiban apa-apa sama lo. Gue bebas."
"Kamu pikir Kamu bisa lari dari takdir? Kamu pikir Kamu bisa hancurkan apa yang sudah aku bangun?"
"Gue bakal coba. Dan kalau perlu, gue bakal hancurin lo juga biar semua ini selesai."
"Berani sekali Kamu mengancamku, bocah!"
"Siapa takut! Lo cuma bayangan masa lalu. Gue kenyataan yang ada di depan mata lo sekarang!"
Tiba-tiba, sosok pendiri desa itu mengangkat tangannya tinggi-tinggi.
Cahaya hijau meledak hebat memenuhi seluruh ruangan.
"Kalau begitu... ujian dimulai sekarang."
"Buktikan kalau darah itu masih layak mengalir di tubuhmu. Atau hancur bersama nama yang sudah mati itu."
Seluruh lantai rumah terbelah. Sebuah gerbang besar terbuka di bawah kaki mereka, menganga lebar siap menelan apa saja.
Bau belerang dan asap hitam mengepul keluar dari lubang itu.
"Rek! Jangan masuk! Itu jalan ke dunia orang mati!" teriak Gandhul panik.
Endric Gak peduli. Ia menggenggam tangan Ningsih erat-erat.
"Kalau ini yang harus gue lewatin buat dapat kebenaran... ayo!"
"Gue terima tantangan lo! Tapi ingat... gue bakal balik dan gue bakal tuntut semua jawaban!"
Mereka melompat turun bersama-sama masuk ke dalam kegelapan gerbang itu.
Saat tubuh mereka menghilang, sosok pendiri desa itu tersenyum menyeramkan.
"Pergilah mencari kematianmu... atau menemukan kebangkitan yang lebih mengerikan."