Jutaan tahun lalu, Ras Dewa Naga Primordial dimusnahkan oleh Aliansi Sembilan Penguasa Surga karena kekuatan mereka yang terlalu menentang takdir. Sejarah mereka dihapus, meninggalkan abu dan kutukan.
Di Benua Azure yang terpencil, Chu Chen hidup dalam kehinaan sebagai pemuda dengan "Akar Roh Cacat". Namun, nasibnya berputar tragis ketika desanya dibantai tanpa ampun oleh Sekte Serigala Darah demi sebuah gulungan usang peninggalan leluhurnya.
Dalam genangan darah dan keputusasaan, kutukan di dalam tubuh Chu Chen hancur. Ia membangkitkan garis keturunan Dewa Naga Primordial terakhir dan mewarisi teknik terlarang. Teknik ini memungkinkannya melahap segala energi di semesta—racun mematikan, pusaka suci, hingga Api Ilahi—untuk memperkuat dirinya.
Membawa dendam lautan darah, Chu Chen merangkak dari jurang kematian, bersumpah untuk membelah sembilan cakrawala dan menarik para Penguasa Surga dari takhta agung mereka!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Murka Langit
Di dasar Tanah Terlarang Tungku Pil, waktu seakan berhenti berdetak.
Chu Chen menekan tubuhnya erat-erat ke dinding tebing batu hitam yang panas. Keringatnya menguap bahkan sebelum sempat menetes. Di bawah sana, sejauh seratus tombak, Leluhur Sekte Awan Suci duduk bersila dalam keheningan yang menekan jiwa.
Ahli Alam Penyatuan Langit. Di seluruh Benua Biru Langit, sosok seperti ini bisa dihitung dengan jari satu tangan. Mereka adalah dewa berjalan di alam fana. Jika lelaki tua itu melepaskan sedikit saja Niat Spiritualnya untuk menyapu gua ini, Chu Chen yang berada di Lapis Kesembilan Penempaan Raga akan langsung hancur menjadi kabut darah.
Namun, perhatian sang Leluhur sepenuhnya tersita oleh tungku perunggu raksasa di depannya.
Tungku itu bergetar hebat, memancarkan cahaya tiga warna: emas, merah, dan ungu. Dari dasar tungku, benang-benang energi Niat Spiritual sang Leluhur mengikat kelopak Api Teratai Merah di tengah danau lahar, menarik apinya secara perlahan dan ketelitian tinggi untuk memanggang isi tungku.
"Sudah seratus tahun aku tertahan di Puncak Penyatuan Langit," gumam Leluhur itu, suaranya bergema bagaikan guntur tertahan di seluruh penjuru gua. "Tubuh fanaku mulai membusuk. Jika aku tidak menembus Kesengsaraan Surgawi dalam sepuluh tahun ke depan, jiwaku akan musnah. Pil Penolak Kesengsaraan Surgawi ini... adalah satu-satunya harapanku untuk merobek langit dan naik ke Alam Atas!"
Mendengar itu, mata Chu Chen yang bersembunyi di atas tebing menyipit tajam.
Pil Penolak Kesengsaraan Surgawi. Chu Chen pernah membaca tentang pil legendaris ini dari ingatan Kaisar Naga. Itu adalah pil tingkat tinggi yang melanggar hukum alam. Meraciknya sama saja dengan menantang kehendak surga secara langsung.
Tiba-tiba, udara di dalam gua lahar itu mendadak menjadi sangat berat. Bukan karena hawa panas, melainkan karena sebuah tekanan tak kasat mata yang turun dari langit, menembus jutaan ton batuan gunung di atas mereka, dan menekan langsung ke arah tungku perunggu tersebut.
KRETAAAK!
Tungku perunggu raksasa itu retak.
Mata Leluhur yang tadinya terpejam damai seketika membelalak lebar, memancarkan kepanikan mutlak. "Tidak! Kehendak Surga menolak pil ini?! Aku sudah mengumpulkan bahan selama tiga ratus tahun! Aku tidak akan membiarkan surga menghancurkannya!"
Leluhur itu meraung, melepaskan seluruh kekuatan Alam Penyatuan Langit-nya. Gejolak Qi yang setara dengan letusan ratusan gunung berapi meledak dari tubuh rentanya, mencoba menahan retakan pada tungku. Ia menarik lebih banyak Api Teratai Merah secara paksa untuk menstabilkan suhu pil di dalam.
Namun, surga tidak mengenal belas kasihan.
Energi pil yang menentang alam itu berbenturan dengan energi murni Api Teratai Merah. Keseimbangan Yin dan Yang di dalam tungku hancur lebur dalam sepersekian tarikan napas.
BUMMMMMMM!!!
Ledakan dahsyat merobek dasar gua. Tutup tungku perunggu seberat puluhan ton terlempar ke udara dan menghancurkan langit-langit gua. Gelombang kejut api dan racun pil meledak ke segala arah bagaikan badai kiamat.
"Puh!" Leluhur Sekte Awan Suci memuntahkan darah keemasan. Tubuhnya terlempar mundur belasan tombak, menghantam dinding giok di belakangnya hingga retak. Rambut putihnya hangus, dan Niat Spiritualnya yang menyelimuti seluruh gua hancur berkeping-keping akibat pukulan balik dari kegagalan pil tersebut.
Untuk mencegah ledakan itu menghancurkan seluruh fondasi Puncak Utama Sekte Awan Suci di atas mereka, sang Leluhur dengan panik memusatkan seluruh sisa Qi-nya untuk membentuk kubah pelindung, mengurung ledakan itu di sekitar tungkunya.
"Tahan... aku harus menahannya!" raung sang Leluhur, matanya buta sesaat oleh cahaya ledakan, indranya sepenuhnya ditarik untuk menyelamatkan sekte.
Di atas tebing, Chu Chen menahan napasnya. Gelombang panas sisa ledakan menyapu wajahnya, membakar sebagian jubah hitamnya. Namun, matanya yang berubah menjadi pupil naga emas justru bersinar dengan keserakahan yang gila.
Niat Spiritual musuhnya hancur sementara. Mata Leluhur itu buta oleh ledakan. Perhatiannya sepenuhnya pada tungku. Otak Chu Chen yang sekeras siasat pembunuh langsung menemukan celah yang mustahil.
Karena sang Leluhur kehilangan kendali, ikatan energi yang menghubungkan tungku dengan Api Teratai Merah terputus. Bunga api raksasa di tengah danau lahar itu kini bergoyang liar, tanpa pelindung, tanpa tuan.
"Sekarang."
Chu Chen tidak melompat turun. Jaraknya masih seratus tombak dari danau lahar. Jika ia turun, hawa panas mutlak dari magma di bawah sana akan memanggangnya sebelum ia menyentuh api itu.
Sebaliknya, ia menancapkan kedua kakinya ke lantai batu tebing. Ia merentangkan kedua tangannya ke arah Api Teratai Merah di tengah danau lahar yang bergejolak di bawah sana.
Darah Dewa Naga Primordial, bakar seluruh potensimu! Seni Kaisar Naga, Pusaran Ketiadaan—Pelahapan Batas Surga!
Chu Chen mempertaruhkan nyawanya. Dantiannya yang berukuran raksasa berputar terbalik dengan kecepatan yang merobek meridiannya sendiri. Sebuah pusaran hitam tak kasat mata terbentuk di antara kedua telapak tangannya, menembakkan daya hisap yang luar biasa gila langsung ke arah inti Api Teratai Merah.
Di tengah danau lahar, kelopak bunga teratai api raksasa itu bergetar hebat.
Bagaikan aliran air yang disedot oleh naga yang kehausan, sepertiga dari total energi murni Api Teratai Merah—sumber kekuatan yang telah terbentuk selama puluhan ribu tahun—tercerabut dari kelopaknya. Aliran api cair berwarna darah pekat melesat membelah udara, terbang langsung ke arah tebing tempat Chu Chen berdiri, dan menabrak masuk ke dalam telapak tangannya.
"AAAAAARRRGHHH!"
Jeritan tertahan meledak di tenggorokan Chu Chen saat api surgawi itu memasuki tubuhnya.
Ini bukan Qi manusia, ini bukan esensi kalajengking. Ini adalah Api Surgawi murni. Begitu api itu masuk, Chu Chen merasa seolah-olah jutaan jarum besi cair ditusukkan ke dalam setiap titik darahnya secara bersamaan. Darahnya mendidih, kulit perunggunya retak dan memancarkan cahaya merah terang bagaikan besi yang baru diangkat dari perapian.
Namun, ia berhasil. Ia telah mencuri sepertiga dari Api Teratai Merah tepat di bawah hidung seorang ahli Penyatuan Langit!
Di bawah sana, sang Leluhur yang baru saja menstabilkan ledakan tungku, tiba-tiba merasakan gejolak energi yang hilang dari arah danau lahar. Ia menoleh dengan mata yang berdarah, dan betapa terkejutnya ia saat melihat Api Teratai Merah yang menjadi fondasi sektenya telah menyusut sepertiga dari ukuran aslinya!
"SIAPA DI SANA?!" raungan Leluhur itu mengandung Niat Membunuh yang bisa meruntuhkan langit. Ia memaksa Niat Spiritualnya yang terluka untuk menyapu tebing di atasnya.
Namun, di detik yang sama, ledakan tungku tadi memicu lonjakan hawa panas yang luar biasa, memaksa titik buta formasi di belakang Chu Chen untuk kembali membuka celah pembuangan darurat. Waktunya sangat tepat, seolah alam semesta sendiri bersekongkol membantunya.
Menahan rasa sakit yang hampir merenggut kesadarannya, Chu Chen membalikkan badan dan melontarkan tubuhnya yang membara kembali ke dalam celah cahaya formasi tepat sebelum Niat Spiritual sang Leluhur menyentuh tebing tersebut.
Swush!
Chu Chen terlempar keluar dari Tanah Terlarang Tungku Pil, bergulingan di atas rumput beku di ngarai luar. Formasi Pengunci Langit menutup rapat tepat di belakangnya, memblokir seluruh aura dan Niat Spiritual dari Leluhur di dalam sana.
Hanya sedetik kemudian, dua Penatua Inti Emas yang berpatroli terbang melintas di atas kubah formasi, sama sekali tidak menyadari bahwa seekor tikus baru saja mencuri harta paling berharga dari ruang pusaka surgawi yang mereka jaga.
Chu Chen terbaring di tanah dingin, napasnya memburu, matanya memerah. Tubuhnya terbakar hebat dari dalam. Dantiannya, yang selama ini menjadi jurang kosong, kini dipenuhi oleh lautan api berwarna merah darah yang mengamuk, berbenturan dengan garis keturunan naganya, bersiap untuk menghancurkan cangkang fana terakhirnya dan membentuk Lautan Qi.
"Aku... berhasil mendapatkannya," seringai mengerikan terbentuk di wajah Chu Chen yang berlumuran darah. "Sekte Awan Suci... terima kasih atas apinya."