Yvone Larasati, seorang desainer interior freelance yang keras kepala dan mandiri, terpaksa menelan harga dirinya dan menandatangani kontrak pernikahan satu tahun dengan Dylan Alexander Hartono, CEO Alexander Group yang dingin dan tak tersentuh. Pernikahan ini adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan ayah Yvone dari jerat penjara akibat jebakan korupsi politik. Di sisi lain, Dylan membutuhkan citra "pria beristri yang sempurna" untuk mengamankan mega-proyek infrastruktur dan pariwisata pemerintah senilai triliunan rupiah.
Berawal dari selembar kertas yang didasari kebencian dan pragmatisme, batasan antara sandiwara dan kenyataan mulai mengabur. Dikelilingi oleh intrik mematikan dari pejabat korup, ancaman masa lalu keluarga, dan empat rival cinta yang mematikan, Dylan dan Yvone menemukan tempat berlindung pada satu sama lain. Di bawah matahari Bali yang hangat, dinding es Dylan runtuh, dan ketakutan Yvone sirna, melahirkan gairah yang tak terbendung dan pengorbanan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 17
Badai telah berlalu, menyisakan langit Uluwatu yang biru bersih dan udara pagi yang terasa sejuk, dicuci oleh hujan semalaman.
Di dalam Master Suite Villa Karang Putih, cahaya matahari menyusup melalui celah gorden, menari di atas seprai sutra yang berantakan.
Yvone perlahan membuka matanya. Tubuhnya terasa luar biasa ringan, meski pinggangnya masih terkurung rapat oleh lengan kokoh suaminya. Berbeda dengan pagi-pagi sebelumnya di mana ia selalu terbangun dengan rasa waspada, pagi ini, ada kedamaian yang mengakar di dalam dadanya.
Semalam, setelah ciuman panas di sofa yang meruntuhkan segala pertahanan mereka, Dylan menggendongnya ke kamar layaknya barang paling berharga di dunia. Pria itu tidak menuntut lebih jauh. Ia hanya memeluk Yvone erat sepanjang malam, menyatukan napas mereka, mengukuhkan janji tak kasatmata bahwa tidak akan ada lagi dinding es di antara mereka.
Yvone mendongak sedikit. Dylan sudah bangun.
Pria itu berbaring menyamping, kepalanya bertumpu pada satu tangan, sementara tangan yang lain dengan lembut menyingkirkan anak rambut dari wajah Yvone. Mata kelamnya menatap Yvone dengan intensitas yang tenang, sebuah tatapan yang memancarkan kepemilikan absolut namun penuh kelembutan.
"Pagi," suara bariton Dylan terdengar serak dan dalam, menyapu pendengaran Yvone bak beludru.
"Pagi," balas Yvone, merasakan pipinya memanas di bawah tatapan itu. Ia secara refleks menarik selimut untuk menutupi lehernya, tiba-tiba merasa sangat sadar akan piyama tipisnya. "Sudah berapa lama kau bangun?"
Senyum tipis dan menggoda terbit di bibir Dylan. "Cukup lama untuk menyadari bahwa kau memiliki kebiasaan mendengkur sangat pelan saat kau tidur terlalu nyenyak."
Mata Yvone membelalak. Ia memukul pelan dada bidang pria itu. "Aku tidak mendengkur!"
Dylan tertawa pelan sebuah suara maskulin yang kini terdengar lebih sering sejak mereka tiba di pulau ini. Pria itu menangkap tangan Yvone yang memukulnya, lalu mengecup buku-buku jari wanita itu satu per satu.
Tatapannya kembali mengunci mata Yvone, senyumnya memudar digantikan oleh keseriusan yang membius. "Kau tahu, sejak ayahku meninggal, ini adalah pertama kalinya aku terbangun dan merasa... tidak ingin menghancurkan apa pun."
Yvone menelan ludah, hatinya mencelos mendengar pengakuan yang begitu jujur dari sang tiran korporat. Ia menggeser tubuhnya sedikit lebih dekat, menyandarkan pipinya ke dada Dylan.
"Lalu, apa yang ingin kau lakukan hari ini, Tuan Hartono?" goda Yvone pelan.
Jari-jari Dylan menelusuri garis rahang Yvone, lalu turun menyentuh bibir wanita itu. "Aku ingin mengunci pintu kamar ini, membuang ponselku ke laut, dan menghabiskan sisa hariku membuktikan padamu bahwa kontrak kita semalam benar-benar sudah hangus."
Tatapan pria itu turun ke bibir Yvone, dan sebelum Yvone sempat menarik napas, Dylan sudah menundukkan wajahnya. Ciuman pagi itu terasa hangat, manis, dan menuntut. Berbeda dengan ciuman putus asa di tengah badai semalam, ciuman kali ini perlahan, dalam, dan penuh dengan janji.
Tangan Dylan menyusup ke bawah selimut, menarik pinggang Yvone hingga tubuh mereka menempel erat tanpa celah. Yvone mengerang tertahan di sela-sela ciuman itu, tangannya meremas pundak suaminya saat gairah mulai membakar kewarasannya.
Namun, tepat ketika suasana berubah semakin panas dan tangan Dylan mulai menyusup ke balik ujung piyama Yvone...
BZZZ! BZZZ!
Ponsel terenkripsi milik Dylan yang tergeletak di atas nakas bergetar dengan brutal. Tidak hanya bergetar, lampu indikator merahnya menyala terang, menandakan itu adalah panggilan darurat dari ring satu.
Dylan menghentikan ciumannya. Rahangnya seketika mengeras, matanya berkilat marah karena momennya dihancurkan. Ia memejamkan mata, membuang napas kasar. "Aku bersumpah akan memecat Marco jika ini bukan soal penting."
Yvone tertawa kecil dengan napas terengah, mendorong dada pria itu pelan. "Angkatlah. Itu mungkin penting."
Dengan enggan, Dylan berguling ke sisinya, meraih ponsel itu dan menekan tombol terima. "Bicara."
Yvone memperhatikan perubahan raut wajah suaminya. Dalam hitungan detik, aura hangat dan romantis di kamar itu lenyap tanpa sisa, digantikan oleh hawa sedingin es dari seorang CEO yang sedang menghadapi ancaman mematikan.
"Seberapa luas penyebarannya?" tanya Dylan dingin. Matanya melirik ke arah Yvone, memancarkan kecemasan yang ditutupi oleh kemarahan. "Tarik semua iklan kita dari jaringan media mereka. Beli hak cipta beritanya dan hapus. Aku tidak peduli berapa miliar yang harus kau keluarkan. Dan Marco... cari tahu di mana Kevin Pratama bersembunyi sekarang."
Sambungan diputus sepihak. Dylan melempar ponselnya ke atas ranjang dan mengusap wajahnya dengan kasar.
Yvone bangun perlahan, menyandarkan punggungnya pada headboard ranjang. Rasa dingin mulai merayap di tengkuknya. "Itu Kevin? Dia benar-benar melakukannya?"
Dylan berbalik menatap istrinya. Ia mengangguk pelan. "Tabloid Gossip Kota baru saja merilis edisi digital mereka setengah jam yang lalu. Wawancara eksklusif dengan Kevin. Judul utamanya adalah 'Pernikahan Tameng: Akankah Dana Alexander Group Mengalir ke Kantong Koruptor?'."
Darah Yvone seakan terkuras habis dari wajahnya. "Ya Tuhan..."
Dylan dengan cepat beringsut mendekat, meraih kedua tangan Yvone yang mulai mendingin dan menggenggamnya erat.
"Dengarkan aku, Marco sedang menanganinya. Tim cyber kita sedang menghapus jejak artikel itu dari pencarian Google dan men- take down tautannya di media sosial," ucap Dylan cepat. "Nadia bermain kotor. Dia menggunakan sentimen publik untuk menekan Bu Rina agar membatalkan kerja sama dengan kita di Uluwatu."
"Apa yang Kevin katakan di artikel itu?" tanya Yvone bergetar, matanya menatap tajam ke arah Dylan. "Jangan sembunyikan apa pun dariku, Dylan. Aku berhak tahu racun apa yang sedang mereka sebar tentangku."
Dylan menarik napas berat. "Kevin mengklaim bahwa kau mencampakkannya demi uangku. Dia bilang kau memanipulasiku dengan pesonamu, dan bahwa kau mendesain semuanya agar uang perusahaanku bisa digunakan untuk menyuap para hakim yang menangani kasus ayahmu."
Yvone menutup matanya. Rasa mual menyerang perutnya. "Itu kebohongan yang sangat rapi. Publik selalu benci pada koruptor, dan mereka benci pada wanita yang dianggap gold digger. Ini akan menghancurkan reputasimu, Dylan. Sahammu akan—"
"Persetan dengan sahamku!" potong Dylan tegas, suaranya meninggi. Ia menangkup wajah Yvone, memaksa wanita itu membuka mata. "Aku tidak peduli dengan angka di bursa saham. Yang aku pedulikan adalah mereka mencoba menghancurkan mentalmu. Mereka ingin kau hancur agar aku menyerah."
"Tapi Bu Rina..." Yvone terisak pelan. "Jika berita ini sampai ke beliau, proyek Uluwatu akan batal. Semua pengorbananmu untuk melindungiku akan sia-sia."
"Kita akan mencari jalan lain. Aku bisa menggunakan kekerasan untuk memaksa kementerian," desis Dylan.
"Tidak!" Yvone memegang pergelangan tangan Dylan dengan kuat. Wajahnya yang pucat kini memerah karena tekad baru yang menyala.
Air matanya berhenti mengalir. Ini bukan saatnya untuk menangis. Sinta, Nadia, dan Kevin mereka semua mengira Yvone adalah gadis lemah yang hanya bisa bersembunyi di balik punggung besar suaminya. Jika ia terus bersembunyi, racun itu akan menggerogoti Dylan perlahan-lahan.
Yvone menatap lurus ke dalam mata kelam suaminya.
"Kau bilang aku adalah pion penyerangmu, bukan?" ucap Yvone, suaranya kini stabil dan dingin, meniru ketegasan suaminya. "Nadia menyerang kredibilitasku. Dia melukiskanku sebagai parasit yang tidak memiliki kemampuan apa pun selain memanfaatkamu. Maka, kita akan membuktikan sebaliknya."
Dylan mengerutkan kening. "Apa yang ada di pikiranmu?"
"Media mainstream mungkin bisa kau bungkam dengan uang. Tapi media sosial tidak," Yvone melepaskan selimutnya dan beranjak turun dari ranjang. "Semakin kau berusaha menghapusnya, publik akan semakin curiga dan menganggap berita itu benar. Kita tidak akan menghapusnya, Dylan. Kita akan menenggelamkannya dengan narasi yang lebih besar."
Yvone berjalan menuju meja kerjanya dan mengambil tabletnya. Ia membuka fail desain butik hotel di Senopati dan revisi desain resor Uluwatu yang sudah ia selesaikan semalaman.
"Hubungi Marco. Suruh dia mengatur jadwal wawancara eksklusif dengan majalah Arsitektur & Desain Asia—majalah paling bergengsi yang tidak ada urusannya dengan politik atau gosip murahan," perintah Yvone, matanya berkilat penuh tekad. "Aku akan mempublikasikan desain eco-luxury Uluwatu dan desain butik Senopati di bawah namaku hari ini juga."
Dylan berdiri, menatap istrinya dengan campuran antara keterkejutan dan kekaguman yang mendalam.
"Jika publik dan Bu Rina melihat karya nyataku," lanjut Yvone, "mereka akan melihat seorang profesional. Aku bukan sekadar istri yang duduk diam menghabiskan uang suaminya. Aku adalah desainer utama yang membawa nilai miliaran ke dalam proyek ini. Biarkan karya yang berbicara, dan kebohongan Kevin akan terlihat seperti ocehan barisan sakit hati dari mantan pacar yang cemburu."
Keheningan menyelimuti ruangan itu sejenak. Dylan melangkah mendekat, matanya menyapu postur Yvone yang berdiri tegak dan menantang badai.
Pria itu tersenyum sebuah seringai predator yang sangat bangga. Ia menarik pinggang Yvone, mencium kening wanita itu dengan dalam.
"Itu istriku," bisik Dylan tepat di depan bibir Yvone. "Akan kuatur wawancaranya siang ini. Tapi ingat, Yvone... setelah kau maju ke medan perang secara terbuka, kau tidak akan bisa mundur lagi. Sorotan kamera akan selalu mengikutimu."
"Aku tidak butuh mundur," Yvone menegakkan dagunya. "Aku sudah berada di dalam sarang naga. Sudah saatnya aku belajar menyemburkan api."