Aku mati karena terlalu percaya pada cinta dan persahabatan. Kini, aku terlahir kembali di dunia baru sebagai anak yang dibenci kerajaan. Mereka menyebutku sampah tanpa bakat? Silakan. Saat kalian memohon pada Dewa, aku melatih tinjuku untuk menghancurkan takhta kalian. Aku Arlan, dan kali ini, aku tidak akan membiarkan siapa pun hidup setelah mengkhianatiku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon naramas_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gerbang Kehidupan Dan Darah Diatas Es
Rasa sakit itu tidak bisa lagi digambarkan dengan kata-kata. Di tengah Altar Es yang membeku, Arlan merasa seolah olah jantungnya sedang dicengkeram oleh tangan raksasa yang mencoba meremasnya hingga hancur. Suhu di sekelilingnya mungkin berada jauh di bawah titik beku, namun di dalam pembuluh darah Arlan, panas yang luar biasa sedang berkobar. Ini adalah benturan antara energi es murni dari puncak gunung dengan energi kehidupan yang mencoba mendobrak keluar dari Gerbang Ketiga. Gerbang Kehidupan bukan sekadar saluran tenaga, itu adalah batas antara manusia biasa dengan sosok yang melampaui takdir.
Arlan tetap duduk bersila dengan mata terpejam rapat. Keringat yang keluar dari pori porinya langsung membeku menjadi kristal es kecil sebelum sempat mengalir di kulitnya. Bibirnya sudah membiru, dan setiap detak jantungnya terdengar seperti dentuman palu godam di telinganya sendiri. Di dalam kegelapan batinnya, Arlan melihat sebuah pintu besar berwarna merah darah yang dirantai oleh ribuan gembok besi hitam. Gembok-gembok itu mewakili keterbatasan fisik tubuh anak berusia tujuh tahun yang sedang dia tempati. Untuk membukanya, dia harus menghancurkan keterbatasan itu menggunakan kehendak jiwanya yang sudah berumur puluhan tahun.
Aku tidak boleh mati di sini, batin Arlan dengan penuh penekanan. Aku belum menyeret Rendra ke neraka. Aku belum melihat Siska memohon ampun di bawah kakiku. Dan aku belum memberikan mahkota pada ibuku. Jika dewa tidak memberiku berkah, maka aku akan merampas kekuatan ini dari tanganku sendiri!
Tepat saat Arlan sedang berada di titik paling krusial dalam meditasinya, tiga sosok Ksatria Bayangan bergerak. Mereka tidak mengeluarkan suara, bahkan jejak kaki mereka tidak membekas di atas salju yang tebal. Mereka adalah pembunuh yang telah membuang emosi mereka demi kesetiaan mutlak pada tokoh kerajaan. Ksatria pertama, yang berada di posisi paling tengah, menarik sebuah pedang pendek yang dilapisi oleh mana kegelapan. Pedang itu tidak memantulkan cahaya bulan, melainkan seolah olah menyerap segala cahaya di sekitarnya.
Kakek tua yang duduk di atas batu besar hanya memperhatikan dengan mata menyipit. Sesuai janji, dia tidak bergerak. Dia ingin melihat apakah Arlan bisa menerapkan prinsip tidur dalam gerak di saat nyawanya sedang berada di ujung tanduk.
Ksatria Bayangan pertama melesat maju dengan kecepatan yang luar biasa. Dia mengincar leher Arlan dengan satu tebasan horizontal yang mematikan. Namun, sesuatu yang aneh terjadi. Meskipun Arlan masih duduk bersila dan matanya terpejam, kepalanya sedikit miring ke belakang tepat saat pedang itu lewat. Tebasan itu hanya memotong udara kosong, hanya berjarak satu sentimeter dari kulit leher Arlan.
Pembunuh itu terkejut. Dia tidak merasakan adanya aliran mana dari tubuh Arlan yang menandakan gerakan menghindar. Dia segera melakukan serangan kedua, sebuah tusukan lurus ke arah jantung. Kembali, Arlan menggerakkan tubuh bagian atasnya secara minimalis, membiarkan pedang itu meluncur di samping ketiaknya. Arlan sedang berada dalam kondisi Gerak Tanpa Pikiran, sebuah tahap lanjut dari Gerbang Kedua di mana tubuh bereaksi secara otomatis terhadap ancaman berdasarkan insting murni.
Dua ksatria lainnya menyadari bahwa rekan mereka mengalami kesulitan. Mereka tidak lagi menunggu dan segera menyerang secara bersamaan. Salah satu dari mereka melepaskan jarum-jarum beracun yang diselimuti mana bayangan, sementara yang lain mencoba menebas kaki Arlan.
Di saat itulah, tekanan di dalam dada Arlan mencapai puncaknya.
"BUKAAAAA!"
Sebuah teriakan batin bergema di seluruh puncak gunung. Arlan membuka matanya, dan seketika itu juga, sebuah gelombang energi berwarna merah kehijauan meledak dari tubuhnya. Ledakan energi itu begitu kuat hingga menghancurkan formasi kristal es di sekelilingnya menjadi debu. Tiga Ksatria Bayangan yang sedang menyerang terpental ke belakang sejauh lima meter akibat tekanan udara yang luar biasa tersebut.
Gerbang Ketiga: Gerbang Kehidupan, telah terbuka sepenuhnya.
Warna kulit Arlan yang tadinya pucat karena kedinginan kini berubah menjadi kemerahan. Uap panas mengepul dari seluruh tubuhnya, menciptakan kabut tipis di tengah badai salju. Arlan berdiri perlahan. Dia merasakan setiap detak jantungnya kini memompa energi yang jauh lebih murni dan kuat ke seluruh ujung sarafnya. Luka-luka kecil di tangannya akibat memanjat tebing tadi sekarang menutup dan sembuh dengan kecepatan yang bisa dilihat oleh mata telanjang.
Ksatria Bayangan pertama bangkit berdiri. Dia tidak lagi meremehkan targetnya. Dia mengalirkan mana kegelapannya ke seluruh tubuh, menciptakan bayangan-bayangan palsu untuk mengecoh Arlan. "Siapa pun kamu, hari ini adalah hari kematianmu, keturunan Vandermir!"
Tiga pembunuh itu mengepung Arlan dari tiga arah. Mereka menyerang secara bersamaan dengan koordinasi yang sempurna. Pedang mereka menciptakan jaring-jaring kematian yang tidak memberikan ruang bagi Arlan untuk menghindar.
Namun Arlan tidak berniat untuk menghindar lagi. Dia mengepalkan tangannya, merasakan kekuatan yang belum pernah dia bayangkan sebelumnya. Dia bergerak maju menyongsong ksatria pertama.
Bugh!
Arlan menangkis pedang lawan bukan dengan senjata, melainkan dengan punggung lengannya yang kini sekeras baja berkat perlindungan energi Gerbang Ketiga. Saat pedang itu membentur kulitnya, justru pedang itulah yang retak. Arlan kemudian melancarkan pukulan lurus ke arah dada ksatria tersebut. Pukulan ini tidak menggunakan teknik rumit, hanya kecepatan dan kekuatan murni dari Gerbang Kehidupan.
Pukulan itu menembus zirah besi pembunuh tersebut dan menghancurkan tulang dadanya seketika. Ksatria Bayangan pertama terlempar ke belakang dan langsung tewas sebelum tubuhnya menyentuh tanah. Darah merah segar muncrat ke atas salju putih yang bersih.
Dua ksatria lainnya gemetar melihat rekan mereka mati dengan satu pukulan. Mereka segera menggabungkan mana mereka, menciptakan sebuah bola kegelapan besar yang dilemparkan ke arah Arlan. Ini adalah serangan sihir tingkat menengah yang seharusnya bisa menghancurkan sebuah bangunan kecil.
Arlan menarik napas dalam-dalam. Dia tidak lari. Dia memusatkan energinya di telapak tangan kanan dan melakukan gerakan memutar. "Taijutsu: Pemecah Aliran!"
Arlan menghantamkan tangannya tepat ke tengah bola kegelapan itu. Alih-alih meledak, bola kegelapan itu justru terbelah menjadi dua dan meluncur ke arah tebing di belakang Arlan. Arlan menggunakan prinsip Gerbang Ketiga untuk mengalirkan energi lawan masuk ke dalam tanah melalui tubuhnya sendiri tanpa melukai organ dalamnya.
Dalam sekejap, Arlan sudah berada di depan ksatria kedua. Dia memegang kepala ksatria itu dan menghantamkannya ke lututnya dengan kekuatan yang sangat besar. Suara patahan tulang leher terdengar sangat mengerikan di tengah kesunyian puncak gunung. Ksatria kedua tumbang tanpa sempat mengeluarkan suara.
Ksatria terakhir menyadari bahwa misinya telah gagal total. Dia mencoba meledakkan dirinya sendiri menggunakan mana untuk membawa Arlan bersamanya ke dalam kematian. Namun, Arlan jauh lebih cepat. Dia muncul di belakang ksatria itu dan menusukkan jarinya ke titik saraf di tengkuknya.
Cesss...
Aliran mana ksatria itu terputus seketika. Dia jatuh lumpuh di atas salju, matanya menatap Arlan dengan penuh ketakutan.
Arlan berdiri di atas tumpukan mayat itu dengan wajah yang tetap tenang. Dia tidak merasakan kegembiraan setelah membunuh, hanya ada rasa lega karena rintangan di depannya telah hilang. Dia menoleh ke arah kakek tua yang kini sedang bertepuk tangan pelan.
"Luar biasa, Arlan," ucap kakek itu sambil melompat turun dari batu. "Membuka Gerbang Ketiga dan langsung membantai tiga ksatria bayangan tanpa bantuan sihir. Kamu benar-benar sudah menjadi monster kecil sekarang. Tapi lihatlah tubuhmu."
Arlan menatap tangannya. Meskipun Gerbang Kehidupan memberinya kekuatan luar biasa, beban yang ditanggung tubuhnya sangat berat. Darah mulai keluar dari pori-pori kulitnya karena tekanan energi yang terlalu tinggi untuk wadah tubuh anak kecil. Arlan merasa pandangannya mulai goyah.
"Gerbang Ketiga adalah pedang bermata dua," kakek itu memperingatkan. "Kamu bisa bertarung seperti dewa selama beberapa menit, namun setelah itu tubuhmu akan ambruk. Jangan gunakan kekuatan ini kecuali benar-benar diperlukan."
Arlan mengangguk lemah sebelum akhirnya dia jatuh pingsan di atas hamparan salju yang kini ternoda oleh darah musuh musuhnya. Kakek tua itu menghela napas, lalu dia mengangkat tubuh mungil Arlan ke pundaknya.
"Tidur yang nyenyak, Arlan. Tiga bulan lagi, dunia akan melihat kebangkitan keluarga Vandermir yang tidak pernah mereka bayangkan. Kerajaan Astra baru saja menciptakan musuh yang tidak akan bisa mereka kalahkan."
Kakek tua itu berjalan menembus badai salju, meninggalkan tiga mayat ksatria terbaik kerajaan sebagai peringatan bisu di Puncak Gunung Es. Perjalanan Arlan untuk membalas dendam dan meraih puncak kekuatan baru saja memasuki babak yang sesungguhnya. Dia tidak lagi hanya bertahan hidup; dia mulai belajar cara untuk menghancurkan siapa pun yang berdiri di jalannya.
Malam itu, di kediaman kepala desa Gort yang jauh dari sana, Gort mendadak merasa menggigil tanpa alasan. Dia tidak tahu bahwa ksatria bayangan yang dia harapkan bisa membunuh Arlan telah menjadi pupuk bagi salju di puncak gunung. Dan dia juga tidak tahu bahwa waktu hidupnya kini tinggal menghitung hari.
Arlan dalam tidurnya bermimpi kembali ke jembatan itu. Namun kali ini, dia tidak melompat. Dia berdiri di atas jembatan sambil memegang kepala Rendra dan Siska di kedua tangannya. Dia tersenyum dingin. Balas dendamnya bukan lagi sekadar impian, melainkan sebuah kepastian yang akan segera terwujud.