NovelToon NovelToon
"STERILIZED SECRETS: MY HYGIENIC MAFIA HUSBAND"

"STERILIZED SECRETS: MY HYGIENIC MAFIA HUSBAND"

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:618
Nilai: 5
Nama Author: RAYAS

Arkan Alesandro Knight adalah seorang King Mafia dari organisasi Black Eclipse yang memiliki reputasi mematikan, namun ia menyimpan satu rahasia konyol: ia menderita Mysophobia akut. Baginya, kuman lebih berbahaya daripada peluru. Hidupnya yang steril dan kaku berubah total ketika ia terjebak dalam sebuah perjodohan dengan gadis pilihan ayahnya, Evelyn Valentina Grant.

​Evelyn tampil sebagai sosok "My Nerdy Wife"—gadis culun dengan kacamata tebal, daster bunga-bunga yang aneh, dan sifat ceroboh yang luar biasa. Namun, di balik penyamaran konyolnya, Evelyn sebenarnya adalah Queen EVG, seorang peretas kelas dunia dan pemimpin organisasi spionase yang sangat tangguh. Ia sengaja berakting bodoh untuk melindungi identitasnya sekaligus memata-matai Arkan.

penasaran dengan cerita mereka jangan lupa mampir yapp🥰🥰

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RAYAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

Kekalahan Clara Bennett yang memalukan membuat markas besar faksi Sebastian Black gempar. Namun, bagi Arkan Alesandro Knight, insiden "pelayan ayam goreng" itu hanyalah gangguan kecil dalam jadwal sterilisasi hariannya. Fokusnya kini beralih ke acara tahunan yang paling dihindari sekaligus wajib ia datangi: Zurich Diamond Gala, sebuah pameran berlian eksklusif yang menjadi ajang pamer kekuatan para penguasa Eropa.

"Tuan Arkan, apa Eve harus pakai baju ini? Ini ketat banget, Eve takut kalau bersin nanti kancingnya loncat ke mata orang," keluh Evelyn dari dalam ruang ganti.

"Pakai saja, Evelyn. Itu bahan sutra antistatis yang tidak menarik debu. Dan kacamata itu... Kenan sudah memasangkan lensa anti-embun baru," sahut Arkan dari balik pintu, sambil merapikan dasi hitamnya di depan cermin.

Pintu terbuka. Evelyn melangkah keluar, dan untuk pertama kalinya, napas Arkan terasa seolah-olah ditarik paksa dari paru-parunya.

Evelyn mengenakan gaun malam berwarna merah maroon gelap yang memeluk tubuhnya dengan sempurna—menonjolkan siluet tinggi 170 cm yang selama ini tersembunyi di balik daster longgar. Meskipun ia masih memakai kacamata tebal dan rambutnya disanggul agak berantakan (atas permintaan Evelyn agar tetap terlihat "culun"), aura kecantikannya yang tajam tidak bisa disembunyikan.

Arkan terpaku selama lima detik penuh. Ia lupa menyemprotkan disinfektan ke gagang pintu yang baru saja ia pegang.

"Tuan? Tuan kok bengong? Apa ada bakteri raksasa di dahi Eve?" tanya Evelyn polos sambil mendekatkan wajahnya ke Arkan.

Arkan berdehem keras, memalingkan wajahnya yang mendadak panas. "Ehem. Tidak. Kau... kau terlihat... setidaknya tidak memalukan untuk dibawa ke depan publik. Ayo berangkat sebelum udara di koridor ini terkontaminasi lebih banyak karbon dioksida."

Gala di Zurich diselenggarakan di sebuah gedung bersejarah dengan arsitektur gotik yang megah. Cahaya lampu gantung kristal memantul di atas perhiasan-perhiasan bernilai jutaan dolar. Arkan masuk dengan aura yang sanggup membuat orang menjauh—bukan karena takut dibunuh, tapi karena mereka tahu Arkan akan menatap jijik siapa pun yang berjarak kurang dari satu meter darinya.

"Ingat, tetap di sampingku. Jangan menyentuh pilar, jangan menyentuh makanan prasmanan, dan jangan bicara dengan pria mana pun yang tidak memakai pembersih tangan," bisik Arkan sambil menggandeng lengan Evelyn—kali ini tanpa tisu pembatas.

Evelyn hanya mengangguk patuh, namun matanya terus memindai ruangan. Di pojok kiri, ia melihat **Lucia Ferraro** yang menyamar sebagai pelayan *wine*. Lucia memberikan kode kecil dengan jarinya: *Sebastian ada di balkon atas, dia membawa sniper.*

*Sial, dia benar-benar nekat menyerang di tengah kerumunan,* batin Evelyn.

Tiba-tiba, seorang pria paruh baya dengan senyum licik mendekati mereka. **Sebastian Black**.

"Ah, King Arkan! Senang melihatmu keluar dari lubang sterilmu. Dan ini... istri nerdy yang legendaris itu?" Sebastian menatap Evelyn dengan pandangan merendahkan.

Arkan menarik Evelyn lebih dekat ke arahnya, sebuah gerakan posesif yang tidak ia sadari. "Sebastian. Aku terkejut kau berani muncul setelah kegagalan 'ayam goreng' milikmu kemarin."

Wajah Sebastian memerah sesaat, namun ia tertawa. "Dunia ini kotor, Arkan. Kau tidak akan bisa selamanya bersih. Terutama malam ini."

Tepat saat Sebastian berbalik, sebuah lampu merah kecil (laser) terlihat bergerak di atas dada Arkan. Evelyn menyadarinya dalam sekejap.

"Tuan Arkan! Lihat! Ada berlian jatuh di bawah sepatu Tuan!" teriak Evelyn sambil pura-pura tersandung dan menabrak Arkan dengan keras.

DOR!

Suara tembakan teredam terdengar, diikuti oleh pecahnya sebuah vas bunga besar tepat di tempat Arkan berdiri sedetik yang lalu. Suasana gala langsung berubah menjadi kacau. Teriakkan histeris memenuhi ruangan.

"Kenan! Amankan perimeter!" teriak Arkan. Ia segera menarik Evelyn di bawah perlindungan meja besar yang sudah dilapisi taplak tebal.

"Tuan Arkan, Eve takut! Eve mau pulang!" Evelyn pura-pura menangis sambil memeluk leher Arkan erat. Padahal, tangannya sedang meraba bagian bawah meja, mengambil sebuah pistol kecil yang sudah ditempelkan oleh Lucia sebelumnya.

Di tengah kekacauan dan asap, Arkan mendekap Evelyn. Ia bisa merasakan tubuh Evelyn yang gemetar (akting), namun ia juga merasakan detak jantung Evelyn yang sangat stabil. Terlalu stabil untuk seorang gadis yang sedang ketakutan.

"Tenanglah, aku di sini. Tidak akan ada satu pun peluru atau kuman yang menyentuhmu," bisik Arkan di telinga Evelyn. Suaranya yang dalam dan protektif membuat Evelyn tertegun sejenak.

"Tuan... Tuan tidak takut kotor kena lantai?" tanya Evelyn pelan.

Arkan menatap mata Evelyn di balik kacamata tebalnya. "Lantai ini bisa dibersihkan nanti. Tapi kau... kau tidak ada cadangannya."

Evelyn merasa jantungnya benar-benar berdegup kencang sekarang, dan ini bukan karena bahaya dari Sebastian.

Brak!

Pintu balkon terbuka. Dua orang bertopeng melompat turun. Arkan segera mengeluarkan pistol peraknya yang mengkilap. Namun, sebelum Arkan sempat membidik, sebuah lampu padam total.

Dalam kegelapan, Evelyn bergerak. Ia melepaskan pelukannya dari Arkan, berdiri dengan gerakan yang sangat luwes, dan melepaskan dua tembakan akurat ke arah kaki para penyerang.

Tak! Tak!

"Aaaargh!" teriak para penyerang itu.

Evelyn segera kembali ke posisi berlutut di samping Arkan tepat saat lampu darurat menyala kembali.

"Tuan Arkan! Sepertinya penjahatnya terpeleset kulit pisang imajiner! Mereka jatuh semua!" seru Evelyn dengan suara cemprengnya.

Arkan menatap dua penyerang yang kini mengerang di lantai dengan luka tembak tepat di kaki mereka. Ia kemudian menatap Evelyn yang masih memasang wajah bodoh. Arkan melihat pistol di tangannya sendiri—ia bahkan belum sempat menarik pelatuk.

"Terpeleset?" gumam Arkan curiga. Ia mencium aroma bubuk mesiu yang sangat tipis dari arah Evelyn.

Arkan meraih tangan Evelyn dan mencium telapak tangannya. Evelyn tersentak. Arkan bukan sedang mencium secara romantis, melainkan sedang mengendus aroma di tangan istrinya.

"Bau sabun bayi... dan belerang mesiu," ucap Arkan dingin. Matanya menatap Evelyn dengan intensitas yang sanggup menembus kacamata tebal itu. "Kau punya penjelasan?"

Evelyn nyengir kikuk, otaknya berputar cepat. "I-itu... tadi Eve nggak sengaja pegang kembang api yang mati, Tuan! Eve pikir itu lilin aromaterapi!"

Arkan tidak melepaskan tangan Evelyn. Ia justru menggenggamnya lebih erat. "Kita pulang. Sekarang juga. Dan jangan harap bisa tidur sebelum kau menceritakan dongeng yang lebih masuk akal padaku."

Di kejauhan, Sebastian Black yang melihat rencananya gagal total segera melarikan diri, namun ia tidak sadar bahwa Lucia sudah menempelkan pelacak di jasnya.

Malam itu, di dalam mobil limusin yang sangat steril, suasana menjadi sangat hening. Arkan terus menatap Evelyn yang sedang pura-pura sibuk membetulkan kancing gaunnya yang miring.

"Evelyn," panggil Arkan.

"Ya, Tuan?"

"Gaun merah itu... sangat cocok untukmu. Tapi akan lebih cocok jika kau berhenti memegang senjata di balik kainnya."

Evelyn membeku. Penyamarannya kini berada di ujung tanduk, sementara hatinya mulai meragukan siapa yang sebenarnya sedang ia tipu: Arkan, atau perasaannya sendiri?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!