NovelToon NovelToon
Pangeran Kedua Jadi Kultivator Yang Tak Tertandingi

Pangeran Kedua Jadi Kultivator Yang Tak Tertandingi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Pangeran
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Neon Pena

Apa yang menyebabkan seseorang Putra Kedua sang Raja menjadi sang Kultivator yang paling hebat?
____
So Guys! ini kisahlah kisah Qinar sang Kultivator kita.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neon Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 15

Perutku berbunyi nyaring, suaranya hampir mengalahkan desau angin di puncak Gunung Sandaran. Sudah tiga hari tiga malam aku tidak menyentuh makanan apa pun. Ki Kusumo menyebutnya sebagai bagian dari latihan "Pembersihan Kerak Dunia", tapi bagiku, ini adalah siksaan neraka yang nyata.

Aku duduk bersila di depan gubuk, mencoba bermeditasi. Namun, setiap kali aku memejamkan mata, yang muncul bukan aliran Qi, melainkan bayangan paha ayam hutan yang berminyak, ubi madu yang mengepulkan uap manis, dan buah-buahan hutan yang berair.

Krucuk... krucuk...

"Sial," umpatku lirih. Air liurku mengumpul di rongga mulut.

Di depanku, hanya berjarak lima langkah, Ki Kusumo sedang duduk santai di atas batu ceper. Di tangannya ada tusukan bambu berisi daging rusa hutan yang baru saja dibakar. Lemaknya menetes ke bara api—cesss!—mengeluarkan aroma gurih yang menusuk hidung dan seolah-olah mencekik tenggorokanku.

"Wah, daging ini empuk sekali, Qinar. Juicy," gumam Ki Kusumo sengaja dikeraskan. Nyam, nyam, nyam. "Bumbunya meresap sampai ke tulang. Sayang sekali ada bocah yang harus puasa demi 'kemurnian' energi."

Aku menggertakkan gigi. Level 3 Kultivasi membuat indra penciumanku sepuluh kali lebih tajam, dan saat ini, kelebihan itu adalah kutukan. Aku bisa mencium aroma rempah hutan dan manisnya daging itu dengan sangat detail. Perutku melilit, rasanya seperti ada lubang hitam yang sedang menghisap organ dalamku.

"Fokus... fokus pada pernapasan..." bisikku pada diri sendiri.

Namun, godaan itu makin gila. Ki Kusumo berdiri, meletakkan sisa daging rusa yang masih banyak itu di atas piring kayu, lalu meletakkannya begitu saja di ambang pintu gubuk.

"Ah, aku lupa mengambil arak di sumber air bawah. Jangan sampai ada tikus yang mencuri dagingku ya, Qinar," ucapnya sambil melenggang pergi, menghilang ke balik semak-semak lebat.

Suasana menjadi sunyi. Hanya ada aku, angin, dan sepiring daging rusa yang masih mengepulkan uap panas di ambang pintu.

Langkah kaki Ki Kusumo sudah tidak terdengar. Dia benar-benar pergi.

Aku membuka mata. Mataku terpaku pada piring itu. Otot-otot kakiku menegang, siap untuk melompat. Dengan kecepatanku yang sekarang, aku bisa menyambar daging itu, menelannya dalam tiga detik, dan kembali duduk bersila sebelum Ki Kusumo kembali. Dia tidak akan tahu. Paling-paling dia akan menyalahkan musang hutan.

Aku berdiri perlahan. Air liurku menetes. Satu langkah... dua langkah...

Deg.

Tanda merah di pergelangan tanganku berdenyut. Bukan panas yang membakar, tapi denyut dingin yang menenangkan. Aku teringat kata-katanya semalam: "Jika kau tidak bisa memerintah perutmu sendiri, bagaimana kau bisa memerintah takdirmu?"

Tanganku sudah hampir menyentuh piring kayu itu. Harumnya daging itu membuat akal sehatku hampir lumpuh. Namun, aku berhenti. Aku melihat bayangan diriku di genangan air dekat pintu. Wajah bocah delapan tahun yang kuyu, matanya merah karena lapar, tampak seperti binatang buas yang kehilangan akal.

Apakah aku hanya seekor binatang?

Aku teringat latihan membelah batu. Aku hancurkan granit itu dengan niat, bukan dengan amarah. Kekuatan sejati bukan tentang seberapa besar ledakan yang bisa kubuat, tapi seberapa besar kendali yang kupunya atas diriku sendiri.

"Aku bukan pion yang digerakkan oleh rasa lapar," bisikku serak.

Aku menarik tanganku kembali. Aku berbalik, berjalan menjauh dari piring itu, dan kembali duduk di batu tempatku meditasi tadi. Aku menutup mata rapat-rapat. Aku memanggil Qi petirku, bukan untuk menyerang, tapi untuk menyelimuti lambungku, menenangkan saraf-saraf yang bergejolak.

Huuuu... fyuuu...

Perlahan, rasa lapar yang tadinya seperti api yang mengamuk, berubah menjadi rasa hangat yang stabil. Aku mulai merasa kenyang, bukan karena makanan, tapi karena energi alam yang kuserap lewat pori-pori kulitku.

Satu jam berlalu.

"Walah... dagingnya masih utuh? Tikus-tikus di sini sudah mati semua ya?"

Suara Ki Kusumo terdengar di belakangku. Aku membuka mata. Beliau berdiri di sana, memegang botol arak, menatap piring daging itu lalu menatapku. Tidak ada lagi ejekan di wajahnya.

"Aku tidak butuh daging itu, Ki," kataku tenang. Suaraku tidak lagi gemetar. "Aku lebih lapar akan kekuatan daripada sekadar lemak rusa."

Ki Kusumo terdiam sebentar, lalu dia mengambil piring itu dan melemparkan sepotong daging kecil ke arahku. Hap! Aku menangkapnya dengan dua jari tanpa menoleh.

"Makanlah. Ujianmu selesai," ucapnya sambil duduk di sampingku. "Menahan lapar itu mudah jika kau hanya ingin mati. Tapi menahan lapar saat makanan ada di depan hidungmu... itu baru namanya mentalitas seorang raja."

Aku mengunyah daging itu pelan. Rasanya luar biasa enak, tapi anehnya, aku tidak lagi merasa rakus.

"Qinar," panggil Ki Kusumo pelan. "Tubuhmu sudah siap. Mentalmu sudah mulai terbentuk. Level 3-mu sudah mencapai puncak stabilitas."

Beliau menatap ke arah langit yang mulai gelap. "Besok, kita berhenti bermain-main di gunung ini. Aku akan membawamu ke tempat di mana kau harus menggunakan semua yang kupelajari... bukan untuk membelah batu, tapi untuk bertahan hidup di antara manusia."

Aku menelan daging itu, menatap Ki Kusumo dengan serius. "Kita akan turun gunung?"

"Belum. Kita akan ke Hutan Larangan di kaki Gunung Sandaran. Di sana ada pasar gelap para kultivator pelarian. Kau akan belajar bahwa manusia... bisa jauh lebih beracun daripada kobra yang kau minum darahnya."

Aku mengepalkan tangan. Delapan tahun. Akhirnya, aku akan melihat dunia luar, meski baru di pinggirannya.

1
Sport One
salah fokus🤣 sama kalimat ini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!