💗 Dijodohkan dengan keponakannya malah tergoda dengan pamannya.
------------- 💫
Viona dijodohkan dengan anak dari sahabat mendiang ayahnya yang bernama Farel. Awalnya Viona menyetujui, namun kehadiran Arsen yang merupakan paman dari Farel menggoyahkan hatinya.
Bukan sekedar ingin ikut menjaga, tapi sikap yang Arsen tunjukkan lebih dari itu. Kedekatan yang terjalin diantara keduanya membawa mereka pada hubungan yang tak seharusnya.
"Jatuhnya begitu alami. Ataukah, kamu memang sengaja ingin menggodaku?" - Arsen.
Ketika rahasia hubungan mereka mulai terbongkar, ketegangan melanda keluarga besar. Viona harus memilih antara memenuhi harapan mendiang ayahnya dengan menikahi Farel, atau mengikuti hatinya yang menginginkan Arsen.
📍Membaca novel ini mampu meningkatkan imun dan menggoyahkan iman 😁 bukan area bocil, bijak-bijaklah dalam membaca 🫣
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 1 : Pertemuan yang tegang.
Viona Aurellia menatap pantulan dirinya di depan cermin dengan jantung yang berdetak kencang. Sore ini dia akan bertemu dengan calon tunangannya. Sesuai permintaan terakhir mendiang ayahnya yang meninggal satu bulan yang lalu, dia akan dijodohkan dengan putra dari paman Bima yang bernama Farel.
Gaun biru muda yang dikenakannya adalah salah satu koleksi favoritnya, itu adalah hadiah terakhir untuk ulang tahunnya yang ke 23 tahun dari sang ayah enam bulan yang lalu. Dia menyentuh dadanya, dimana liontin berbentuk bunga terpampang disana. Itu adalah kenang-kenangan lain dari ayahnya yang selalu bilang bahwa Viona seperti bunga mawar, cantik namun memiliki duri untuk melindungi dirinya sendiri.
Viona menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan denyut jantung yang semakin cepat. Riasan di wajahnya sudah sempurna, tapi dia masih merasa kurang percaya diri. Bagaimana jika Farel tidak menyukainya? Bagaimana jika dia tidak bisa memenuhi harapan ayahnya yang sudah tiada?
Tiba-tiba pintu kamar terbuka perlahan, memperlihatkan sosok ibunya yang datang dengan senyuman diwajahnya.
"Viona, sayang," ujar ibunya dengan suara lembut, wanita itu melangkahkan kakinya mendekati sang putri yang kini sudah berbalik dan menghadap ke arahnya. "Paman Bima sudah datang beserta keluarganya. Farel juga ada di sana, dia terlihat sangat sopan dan sepertinya sudah tidak sabar ingin bertemu dengan kamu."
Viona merasa semakin gugup, "Aku... aku merasa sangat gugup, Bu. Aku takut tidak bisa memenuhi ekspektasi mereka semua."
Diana tersenyum dan merangkul bahu putrinya, mengusapkan telapak tangannya dengan lembut. "Kamu tidak perlu memenuhi ekspektasi siapapun, sayang. Kamu sudah cukup cantik dan baik, dan ibu yakin mereka pasti akan menyukaimu."
Setelah beberapa saat, Viona mengangguk dan mengambil napas dalam-dalam untuk mengumpulkan kekuatan. Lalu mereka berjalan keluar dari kamar menuju ke ruang tamu. Setiap langkah yang mereka tempuh membuat hati Viona berdebar semakin keras. Ketika mereka tiba di depan pintu ruang tamu, suara percakapan yang lembut terdengar dari dalam, suara yang akrab milik paman Bima bercampur dengan suara wanita yang belum pernah dia dengar.
Viona memasuki ruangan dengan pandangan yang sedikit menunduk, kemudian perlahan mengangkat kepalanya. Di sofa besar berbahan kulit coklat tua yang terletak di tengah ruangan, paman Bima sudah duduk dengan sikap yang santai namun tetap terlihat hormat. Di sebelahnya duduk seorang wanita mengenakan sheath dress berwarna biru dongker dengan aksen renda dibagian pinggang, wajahnya yang anggun menunjukkan senyum ramah ketika melihat Viona masuk. Di sisi lain paman Bima, seorang pria muda yang usianya lebih tua dua tahun diatas Viona langsung tersenyum ke arahnya.
Viona mengikuti ibunya untuk duduk di sofa seberangnya. Sementara Paman Bima langsung menegakkan tubuhnya dan tersenyum hangat.
"Viona," ujarnya dengan suara yang lembut dan hangat, kemudian menunjuk ke arah wanita di sisinya, "Ini adalah istriku Saskia, dan yang ini putraku Farel."
Saskia mengangguk dengan senyum yang manis. "Senang bertemu denganmu, Viona. Suamiku ini sering bercerita tentang kamu dan ayahmu. Tante turut berduka atas meninggalnya ayahmu ya,"
Viona mengangguk, "Terima kasih, Tante Saskia. Senang bertemu dengan Anda juga."
Kemudian pandangan Viona tertuju pada pria muda yang duduk di sisi kiri paman Bima. Farel tersenyum dan menganggukkan kepalanya pelan.
"Senang bertemu denganmu, Viona," ujar Farel dengan suara yang hangat.
Viona mengangguk dengan senyum lembut sebagai balasan, rasa gugupnya masih terlihat jelas dimatanya, "Senang bertemu denganmu juga, Farel,"
Bima menghela napas panjang sebelum membuka pembicaraan lebih jauh. Dia menatap putri sahabatnya yang telah tumbuh menjadi wanita cantik.
"Ayahmu adalah sahabat terbaikku, dan permintaan terakhirnya adalah supaya aku bisa menjaga dan merawatmu dengan baik. Oleh karena itu, Paman punya satu usulan untukmu, Viona."
"Paman ingin mengajakmu tinggal bersama kami di rumah utama keluarga Mahendra. Dengan begitu kamu bisa lebih dekat dengan Farel, mengenal satu sama lain dengan lebih dalam, dan juga..." Bima terdiam sejenak sebelum melanjutkan, "Kami bisa menjaga kamu dengan lebih baik seperti yang diinginkan ayahmu."
Diana mengangguk menyetujui dengan senyum hangat. "Kami sudah membicarakan hal ini, Viona. Menurut ibu, itu adalah ide yang bagus. Kamu bisa lebih mengenal keluarga mereka dengan baik."
Viona menoleh cepat ke arah ibunya, "Tapi bagaimana dengan Ibu? Aku tidak mau meninggalkan Ibu sendirian di sini."
Diana menggenggam tangan putrinya yang ada diatas pangkuan, tatapannya penuh dengan kasih sayang. "Jangan khawatirkan Ibu, sayang. Kamu tahu kan, bibi Reni tinggal di sebelah rumah kita, dan bibimu bisa mengantar ibu jika ibu ingin mengunjungimu di rumah keluarga Mahendra."
"Betul sekali, Viona. Rumah kami selalu terbuka untuk kamu dan Ibu kamu. Bahkan kami sudah menyediakan sebuah kamar khusus untuk kamu." ujar Bima. "Paman tidak bisa mengunjungi kamu setiap saat jika kamu tinggal disini karena paman harus memimpin perusahaan. Sementara perjalanan kemari bisa memakan waktu dua sampai tiga jam."
Viona tampak termenung, memikirkan ulang permintaan Paman Bima dan Ibunya. Mungkin tidak ada salahnya jika dia mengikuti kemauan mereka, dengan begitu dia bisa lebih dekat dan mengenal sosok Farel yang akan menjadi calon suaminya nantinya.
-
-
-
Arsen Dwi Mahendra turun dari mobilnya yang sudah terparkir di halaman rumah. Dia melangkah dengan langkah yang santai namun tetap terlihat gagah, rambut hitamnya sedikit berantakan akibat perjalanan dari kantor, namun tidak mengurangi pesonanya yang karismatik.
Saat memasuki ruang tamu, matanya yang gelap langsung tertuju pada sosok gadis yang sedang duduk di sofa bersama dengan ayah dan anggota keluarganya yang lain.
"Arsen, kamu sudah pulang," sambut Tuan Danu begitu melihat putranya datang.
Arsen berhenti sejenak, matanya menatap Viona yang sedang menatapnya dengan tatapan bingung. "Gadis bodoh darimana yang Kakak bawa ini? Apa Kakak pikir dengan menjodohkan putra Kakak dengannya putra Kakak akan berubah jadi pribadi lebih baik?"
Rahang Bima mengeras dengan kedua matanya yang menatap tajam pada sang adik yang sedang berdiri. Kedua tangannya mengepal kuat diatas pangkuan, dia ingin menjawab ucapan Arsen namun sang ayah sudah lebih dulu bukan suara.
"Jaga ucapanmu, Arsen." Tuan Danu menghela napas pelan, ekspresinya menunjukkan bahwa dia sudah mengantisipasi reaksi seperti ini dari putra keduanya. "Ini adalah Viona Aurellia, putri sahabat Kakakmu dan juga calon tunangan Farel keponakanmu."
"Kita harus menghormati keinginan ayah Viona yang sudah meninggal. Jadi mulai sekarang Viona akan tinggal di sini bersama dengan kita," beritahu Tuan Danu.
Namun Arsen hanya mengangkat bahu dengan tidak acuh, matanya tetap terpaku pada Viona dengan tatapan yang menusuk. Rambutnya yang sedikit berantakan semakin menambah kesan arogan yang terpancar dari dirinya. "Calon tunangan? Bukankah kamu selalu bilang tidak ingin terikat dengan perjodohan, Farel? Sekarang malah menerima gadis yang bahkan tidak kamu kenal dari mana datangnya."
"Tutup mulutmu, Arsen!" suara Bima terdengar tegas, membuat ruangan menjadi sunyi sejenak. "Viona datang ke sini bukan karena alasan semacam itu. Lebih baik kamu urusi saja urusanmu sendiri dan jangan pernah ikut campur urusanku dan keluargaku!"
Arsen menghela napas, "Baiklah jika itu yang Kakak inginkan, aku tidak akan menghalangi. Tapi jangan menyalahkan siapapun jika nanti ada masalah yang muncul karena keputusan yang terburu-buru ini."
Arsen berbalik dan meninggalkan ruang tamu tanpa pamit, menyisakan ketegangan yang begitu terasa di setiap sudut ruangan. Saat langkahnya sudah semakin jauh, seringai tipis muncul diwajahnya.
"Viona Aurellia," bisiknya pelan sambil terus melangkahkan kakinya menuju ke kamarnya yang ada di lantai dua. "Nama yang cukup menarik."
-
-
-
Bersambung...
panjang banget perjuangan cinta mereka..
ayolah Lisa, datang lah ke rumah farel dan beberkan tingkah laku nya farel dan tentang kasus nindi...