NovelToon NovelToon
Bayang Rembulan

Bayang Rembulan

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi
Popularitas:808
Nilai: 5
Nama Author: Fadhil Asyraf

Di tengah kekacauan lima klan bela diri yang saling berebut pengaruh dan rahasia kuno, lahirlah sebuah organisasi bernama bayangan kegelapan. Mereka adalah sekelompok pembunuh bayaran yang dilatih untuk menjadi mesin kematian tanpa emosi, sering kali ditugaskan untuk menghabisi para petinggi klan yang dianggap mengganggu keseimbangan atau menyimpan kekuatan terlarang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27 - PERADUAN DINGIN

Udara di depan Gerbang Nadi Bumi terasa berat dan mencekik, seolah-olah atmosfer itu sendiri memiliki berat ribuan ton. Lord Malakor berdiri di sana dengan keanggunan seorang tiran yang telah memerintah selama berabad-abad. Jubah putihnya yang bersulam emas tidak bergerak sedikit pun meski Kaelan melepaskan hawa dingin yang sanggup membekukan baja. Di mata Malakor, Kaelan hanyalah produk sukses dari sebuah eksperimen panjang, sebuah senjata yang kini kembali ke tangan pembuatnya.

Kaelan merasakan degup jantungnya berdenyut selaras dengan getaran Inti Bulan Sejati di dalam dadanya. Setiap tarikan napasnya mengeluarkan uap biru pucat yang langsung mengkristal di udara. Ia bisa merasakan Penatua Wu yang pingsan di punggungnya, beban yang mengingatkannya bahwa ia bukan lagi sekadar alat pembunuh tanpa perasaan. Ia memiliki hutang darah yang harus ditagih, dan pria di depannya adalah pemegang buku hutang tersebut.

"Kau menatapku dengan mata yang penuh kebencian, 07," Malakor memulai, suaranya tenang namun bergema di seluruh ruangan bawah tanah yang luas itu. "Kebencian adalah emosi yang rendah. Itulah sebabnya kau tidak akan pernah mencapai kesempurnaan. Kami memberimu kekuatan, kami memberimu tujuan, dan kau membalasnya dengan kehancuran. Apakah kau tidak menyadari bahwa tanpa eksperimen kami, kau hanyalah bangkai yatim piatu yang membusuk di selokan desa?"

Kaelan tidak menjawab dengan kata-kata. Ia merentangkan tangannya ke samping. Dua belati hitamnya, yang terbuat dari besi meteorit dingin, meluncur masuk ke genggamannya seolah-olah dipanggil oleh kehendak gaib. Belati itu tidak lagi hanya berwarna hitam; kini mereka berpendar dengan api es biru yang menjilat-jilat, mengeluarkan suara mendesis yang memekakkan telinga saat bersentuhan dengan udara yang panas akibat Qi milik Malakor.

"Namaku bukan angka," bisik Kaelan. Suaranya terdengar seperti gesekan gletser yang retak. "Namaku adalah Kaelan. Dan aku di sini bukan untuk berdebat tentang asal-usulku. Aku di sini untuk mengakhiri kegilaanmu."

Malakor tertawa kecil, suara yang terdengar seperti guntur di kejauhan. Ia mengangkat tongkat permatanya. Permata merah di ujung tongkat itu berdenyut kencang, mengeluarkan cahaya yang mirip dengan aliran darah yang membara. "Mari kita lihat seberapa jauh esmu bisa bertahan melawan Qi Api Darah yang kami ambil dari jantung ibumu."

Tanpa peringatan, Malakor mengayunkan tongkatnya. Sebuah gelombang api berwarna merah pekat, yang berbau amis seperti darah yang terbakar, melesat ke arah Kaelan. Ini bukan api biasa; ini adalah energi kehidupan yang dipadatkan dan diubah menjadi senjata penghancur.

Kaelan bergerak. Ia menggunakan Langkah Bayang Rembulan, namun kali ini gerakannya lebih cepat dari sebelumnya. Ia tidak hanya berpindah tempat, ia seolah-olah melipat ruang di sekitarnya. Di mata Malakor, Kaelan berubah menjadi ribuan bayangan perak yang mengepungnya dari segala arah.

Clang!

Kaelan muncul tepat di atas Malakor, belatinya menghantam perisai energi merah yang melindungi sang Penatua Agung. Benturan itu menciptakan ledakan energi yang menghancurkan lantai marmer di bawah mereka menjadi debu halus. Kaelan tidak berhenti. Ia berputar di udara, kakinya menendang pilar kristal di dekatnya untuk menambah momentum.

Ia melepaskan teknik Sutra Rembulan: Jaring Pemutus Takdir. Ribuan benang perak yang dialiri es hitam melesat dari jemarinya, mencoba melilit perisai Malakor dan membekukan aliran energinya. Benang-benang itu bergetar dengan frekuensi tinggi, menciptakan suara dengungan yang sanggup menghancurkan gendang telinga manusia biasa.

"Menarik," gumam Malakor. Ia menghentakkan kakinya ke tanah. "Ledakan Nadi Bumi!"

Gelombang panas yang luar biasa meledak dari bawah lantai, membakar benang-benang Kaelan sebelum sempat menyentuhnya. Uap panas dan dingin bertemu, menciptakan kabut tebal yang menyelimuti seluruh ruangan. Dalam kabut itu, indra penglihatan menjadi tidak berguna. Namun bagi Kaelan, Domain Kesunyian adalah dunianya.

Ia bisa mendengar aliran darah Malakor yang berdenyut cepat. Ia bisa merasakan setiap pergeseran molekul udara saat Malakor mengayunkan tongkatnya. Kaelan meluncur di atas permukaan lantai yang kini tertutup lapisan es tipis yang licin, bergerak seperti pemangsa yang tak terlihat.

Ia menyerang dari titik buta Malakor, mengincar tendon di pergelangan kaki. Namun, Malakor bukan lawan yang mudah. Sang Penatua Agung memutar tongkatnya, menciptakan pusaran api darah yang menyapu area seluas sepuluh meter. Kaelan terpaksa melompat mundur, namun api itu berhasil membakar ujung jubahnya.

Kaelan mendarat di atas salah satu akar raksasa yang menjalar dari gerbang. Ia menyadari bahwa jika pertarungan ini berlanjut dalam pola serangan fisik, ia akan kelelahan lebih dulu karena harus melindungi Penatua Wu di punggungnya. Ia butuh sesuatu yang lebih besar.

Ia memejamkan matanya, membiarkan Inti Bulan Sejati mengambil alih seluruh kesadarannya. Ia tidak lagi mencoba mengendalikan energinya; ia membiarkan dirinya menjadi energi itu sendiri. Suhu di dalam ruangan bawah tanah itu turun drastis, mencapai titik di mana molekul oksigen mulai membeku.

"Teknik Terlarang: Pemakaman Salju Abadi," bisik Kaelan.

Seketika, ribuan kelopak bunga yang terbuat dari es murni mulai berjatuhan dari langit-langit gua. Setiap kelopak yang menyentuh permukaan benda apa pun akan meledak dalam sebuah ledakan dingin yang menghancurkan struktur atomnya. Malakor menyadari bahayanya. Ia mengangkat tangannya, mencoba menciptakan kubah api yang lebih besar, namun kelopak-pedang es itu terus berjatuhan tanpa henti, perlahan-lahan memadamkan api darahnya.

"Kau mengorbankan umurmu untuk teknik ini, Kaelan!" raung Malakor, wajahnya yang tenang kini dipenuhi dengan kepanikan. "Kau akan mati membeku bersama teknikmu sendiri!"

"Jika itu harga yang harus kubayar untuk membawamu ke neraka, maka jadilah," sahut Kaelan. Rambut putihnya kini benar-benar berpendar terang, dan kulitnya mulai tertutup lapisan kristal transparan.

Kaelan menerjang masuk ke tengah badai salju buatannya sendiri. Ia tidak lagi memegang belati dengan tangan; belati-belati itu melayang di sekelilingnya, dikendalikan oleh benang-benang Qi yang tak terlihat. Ia menjadi pusat dari pusaran kematian.

Malakor mencoba menahan serangan bertubi-tubi itu dengan tongkatnya, namun setiap benturan membuat tangannya gemetar hebat. Es hitam mulai merayap naik ke tongkatnya, membekukan permata merah yang merupakan sumber kekuatannya.

Krak!

Permata itu retak. Aliran energi dari Nadi Bumi yang diserap Malakor tiba-tiba menjadi tidak stabil. Energi api darah berbalik menyerang penggunanya, membakar Malakor dari dalam. Penatua Agung itu menjerit kesakitan saat api merah keluar dari mata dan mulutnya, namun di saat yang sama, hawa dingin Kaelan membekukan kulit luarnya. Malakor terperangkap dalam siklus kehancuran antara panas yang membakar dan dingin yang membekukan.

Kaelan muncul di hadapan Malakor, tangannya mencengkeram tenggorokan pria itu. "Buka gerbangnya."

"T-tidak akan..." Malakor terbatuk, darah hitam dan es keluar dari mulutnya.

Kaelan tidak membuang waktu. Ia mengalirkan Qi esnya langsung ke otak Malakor, memaksa sistem saraf pria itu untuk mematuhi perintahnya secara biologis. Malakor kehilangan kendali atas tubuhnya. Tangannya yang gemetar terangkat, menyentuh segel pada gerbang akar hitam di belakang mereka.

Darah Malakor yang terbakar berfungsi sebagai kunci terakhir. Gerbang besar itu berderit, mengeluarkan suara raungan kuno yang seolah berasal dari pusat bumi. Saat pintu itu terbuka perlahan, sebuah cahaya putih keperakan yang sangat murni memancar keluar, menelan bayangan Kaelan dan Malakor.

Di dalam sana, Kaelan melihat sesuatu yang membuat hatinya yang beku seolah mencair. Di tengah ruangan yang dipenuhi kristal raksasa, sesosok wanita dengan rambut putih yang sama dengannya tergantung di udara, terikat oleh ribuan benang energi yang menyedot vitalitasnya.

"Ibu..." bisik Kaelan, suaranya pecah untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun.

Namun, pembukaan gerbang itu juga memicu alarm di seluruh Istana Rembulan Abadi. Di atas sana, ribuan prajurit Aliansi mulai bergerak turun. Waktu Kaelan sangat terbatas. Ia harus memutuskan antara menyelamatkan ibunya atau menghancurkan sumber kekuatan Aliansi selamanya.

Kaelan melepaskan tubuh Malakor yang kini sudah menjadi mayat beku yang gosong. Ia melangkah menuju ibunya, namun tepat saat ia mendekat, seorang sosok baru muncul dari balik kristal pusat. Sosok yang auranya jauh lebih mengerikan dari Malakor—Sang Raja Aliansi, penguasa tertinggi yang selama ini bersembunyi di balik layar.

"Selamat datang di rumah, anakku," ucap Sang Raja dengan suara yang sangat mirip dengan suara Kaelan sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!