Arga hanyalah pemuda biasa di sudut kota yang keras—hidup dari kerja kasar, dipandang rendah, dan selalu kalah oleh keadaan. Ia percaya hidupnya akan berakhir sebagai pecundang, sampai suatu malam hujan berdarah mengantarkannya pada sebuah benda terkutuk sekaligus suci: Mustika Macan Kencana.
Sejak saat itu, dunia Arga berubah.
Mustika itu bukan sekadar sumber kekuatan, tetapi suara di dalam batinnya—memberi pemahaman, strategi, dan jalan keluar dari situasi mustahil. Seolah takdir sendiri membisikkan langkah-langkah menuju kemenangan. Namun setiap kekuatan selalu menuntut harga.
Di kota yang dipenuhi kejahatan, pengkhianatan, dan rahasia gelap, Arga mulai bangkit dari nol—melawan preman, sindikat bayangan, hingga musuh yang memiliki kekuatan serupa. Di tengah pertarungan hidup dan mati, hadir cinta yang rumit: Sari yang tulus namun rapuh, dan Clarissa yang penuh misteri serta luka masa lalu.
Semakin Arga kuat, semakin besar pengorbanan yang harus ia bayar.
Rasa sakit, keh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon suandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4. Gerbang Serigala
Matahari baru saja menyembul dari balik gedung-gedung pencakar langit Jakarta, menyapu sisa-sisa hujan semalam dengan panas yang mulai memanggang aspal. Arga berdiri di depan sebuah gerbang hitam raksasa yang terbuat dari besi tempa setinggi empat meter. Di atasnya, lambang seekor serigala perak yang melolong ke arah bulan sabit terpahat dengan gagah—simbol dari Keluarga Wijaya, penguasa tunggal di balik bayang-bayang ekonomi kota ini.
Arga meraba kartu nama hitam di saku celananya. Jantungnya berdenyut tidak beraturan, bukan karena takut, melainkan karena energi Mustika di dalam dadanya bereaksi terhadap tempat ini. Seolah-olah "sang macan" di dalam dirinya mencium aroma musuh atau mangsa yang sepadan.
“Tempat ini berbau busuk, Inang. Bau keserakahan dan darah lama yang membeku. Kau melangkah masuk ke sarang serigala dengan jantung seekor domba,” suara itu mengejek di sudut kepalanya.
Diamlah, batin Arga ketus. ia tidak punya waktu untuk berdebat dengan entitas kuno itu. Ia menekan bel di samping gerbang. Tidak ada suara, namun dalam hitungan detik, sebuah kamera pengawas di atas gerbang bergerak, memindai wajahnya dengan sinar laser merah yang tipis.
Klik.
Gerbang itu terbuka perlahan tanpa suara, memperlihatkan jalan setapak panjang yang diapit oleh taman yang dirawat sangat rapi. Arga melangkah masuk, merasa sangat asing dengan sepatu ketsnya yang sudah jebol di bagian depan dan jaket kumal yang menutupi kaos oblongnya. Di ujung jalan, Clarissa sudah menunggu di teras rumah bergaya kolonial yang sangat luas.
Pagi ini, Clarissa tidak mengenakan gaun merah satin yang provokatif. Ia memakai setelan bisnis berwarna putih gading yang membuatnya tampak sangat berwibawa dan tidak tersentuh. Rambut hitamnya diikat rapi ke belakang, menonjolkan garis rahangnya yang tajam.
"Tepat waktu. Aku suka pria yang menghargai detik," ujar Clarissa tanpa basa-basi saat Arga sampai di hadapannya. Ia menyesap kopi hitam dari cangkir porselen yang sangat tipis. "Masuklah. Ayahku ingin melihat pria yang bisa menangkap peluru dengan tangan kosong."
Arga mengikuti langkah Clarissa masuk ke dalam rumah. Interiornya dipenuhi dengan barang-barang antik yang harganya mungkin bisa membeli seluruh blok kontrakan Arga. Namun, mata emas Arga tidak tertuju pada pajangan mahal itu. Ia melihat ke sudut-sudut ruangan. Di sana, setidaknya ada enam pria berseragam taktis yang berdiri diam, namun tangan mereka selalu berada dekat dengan senjata di pinggang. Mereka adalah pengawal asli, bukan pembunuh bayaran amatir seperti semalam.
Mereka sampai di sebuah ruang kerja yang luas dengan dinding yang seluruhnya tertutup oleh rak buku. Di balik meja kayu ek yang besar, seorang pria tua duduk dengan punggung tegak. Meskipun rambutnya sudah memutih, tatapan matanya masih setajam elang. Itulah Hendra Wijaya, pria yang konon bisa membuat bursa saham bergetar hanya dengan satu tanda tangan.
"Jadi, ini dia?" suara Hendra berat dan serak, namun penuh tekanan. Ia tidak melihat ke arah Arga, melainkan sedang asyik membersihkan sebilah keris tua dengan kain sutra. "Kuli panggul dari pelabuhan yang menyelamatkan putriku?"
"Saya hanya melakukan apa yang benar, Pak," jawab Arga, berusaha menjaga suaranya tetap stabil meskipun tekanan di ruangan itu terasa begitu berat.
Hendra mendongak. Matanya menyipit, seolah sedang membedah setiap inci sel dalam tubuh Arga. "Benar? Di dunia ini, kebenaran itu mahal harganya, Nak. Dan biasanya, kebenaran tidak datang dengan kemampuan menangkap peluru. Katakan padaku, susuk apa yang kau pakai? Atau kau adalah bagian dari eksperimen militer yang gagal?"
Arga mengepalkan tangannya. Ia bisa merasakan Mustika Macan Kencana mulai memanas, bereaksi terhadap intimidasi Hendra. “Izinkan aku merobek mejanya, Inang. Tunjukkan padanya siapa pemangsa yang sebenarnya di sini!”
Arga menarik napas panjang, menekan amarahnya. "Saya tidak memakai susuk. Saya hanya bekerja keras setiap hari di pelabuhan. Mungkin refleks saya sedikit lebih cepat karena biasa menghindari beban jatuh."
Hendra tertawa kecil, suara tawa yang tidak sampai ke matanya. "Bohong. Tapi aku tidak peduli. Di dunia bisnisku, aku tidak butuh kejujuran. Aku butuh kegunaan. Clarissa bilang kau punya potensi. Aku ingin mengujinya."
Tanpa peringatan, Hendra menekan sebuah tombol di bawah mejanya. Bagian dinding di samping Arga bergeser, dan dua orang pria bertubuh raksasa keluar dengan membawa tongkat besi. Tanpa sepatah kata pun, mereka menerjang Arga.
Wush!
Refleks Arga bekerja secara otomatis. Ia merunduk, menghindari ayunan tongkat yang hampir memecahkan tengkoraknya. Ia bergerak di antara kedua pria itu dengan kelincahan yang mustahil. Namun, kali ini ia tidak ingin melukai mereka secara fatal di depan calon majikannya.
Arga menangkap salah satu tongkat besi, menggunakan momentum lawan untuk memutar tubuh pria raksasa itu dan menjatuhkannya ke lantai. Pria kedua mencoba menghantam punggung Arga, namun Arga sudah lebih dulu memutar kakinya dalam sapuan rendah yang membuat pria itu terjungkal.
Hanya dalam sepuluh detik, kedua pengawal elit itu tersungkur di lantai. Arga berdiri di tengah ruangan, napasnya tetap teratur, namun matanya sekali lagi berkilat keemasan.
Hendra terdiam sebentar, lalu bertepuk tangan pelan. "Luar biasa. Refleksmu bukan hasil latihan. Itu insting. Baiklah, Arga. Aku akan memberimu pekerjaan. Kau akan menjadi pengawal pribadi Clarissa. Gajimu seratus juta per bulan, ditambah fasilitas apartemen dan kendaraan."
Arga tertegun. Seratus juta? Itu adalah jumlah uang yang bahkan tidak pernah ia bayangkan dalam mimpinya yang paling liar. Dengan uang itu, utang Bapak Sari bisa lunas dalam sekejap, dan ia bisa membawa Sari keluar dari lingkungan kumuh itu.
"Tapi ada satu syarat," lanjut Hendra, wajahnya kembali dingin. "Kau harus memutus semua hubungan dengan masa lalumu. Tidak ada teman, tidak ada keluarga, tidak ada kekasih. Mulai hari ini, kau adalah bayangan Clarissa. Jika kau setuju, tanda tangani kontrak ini dengan darahmu."
Hendra menyodorkan selembar kertas tua yang tampak seperti perkamen, bersama dengan sebuah jarum perak kecil.
Arga menatap kertas itu, lalu beralih ke arah Clarissa yang menatapnya dengan senyum penuh kemenangan. Pikirannya melayang pada Sari yang masih tertidur di kontrakan petak mereka. Jika ia menandatangani ini, ia bisa menyelamatkan hidup Sari secara finansial, tapi ia akan kehilangan hak untuk berada di samping gadis itu.
“Ambil kekuasaan itu, Inang! Kenangan adalah beban. Dengan uang dan kekuatan, kau bisa memiliki seribu wanita seperti dia,” suara Macan Kencana menghasut, semakin kuat dan menggoda.
Arga merasa kepalanya berdenyut hebat. Sebuah ingatan tentang tawa Sari saat mereka makan nasi bungkus di pinggir dermaga tiba-tiba memudar, seolah-olah ditarik oleh kekuatan gaib dari dalam otaknya. Ia mencoba menjangkaunya, tapi ingatan itu semakin buram.
Tangannya gemetar saat mengambil jarum perak itu. Ia tahu, setiap langkah maju berarti satu langkah menjauh dari kemanusiaannya. Namun, untuk melindungi Sari dari orang-orang seperti Rano, ia butuh menjadi lebih dari sekadar kuli. Ia butuh menjadi monster.
Jleb.
Arga menusuk ujung jarinya. Setetes darah merah pekat jatuh ke atas perkamen itu. Dalam sekejap, darah itu terserap habis, dan kertas itu berpendar dengan cahaya kemerahan yang aneh sebelum akhirnya padam.
"Selamat bergabung di Keluarga Wijaya, Arga," ujar Hendra. "Sekarang, ganti pakaianmu. Kita punya acara yang harus dihadiri siang ini, dan aku tidak ingin pengawal putriku terlihat seperti gelandangan pelabuhan."
Arga berbalik mengikuti Clarissa keluar dari ruangan. Ia tidak lagi melihat ke belakang. Di dalam dadanya, Mustika Macan Kencana mendengkur puas. Arga baru saja menjual kepingan jiwanya, dan di dunia yang penuh serigala ini, ia baru saja menjadi predator yang paling berbahaya.
Namun, jauh di lubuk hatinya yang terdalam, Arga merasa ketakutan. Ia takut bahwa saat ia akhirnya berhasil mengumpulkan semua uang dan kekuatan di dunia ini, ia tidak akan lagi mengingat untuk siapa ia melakukan semua ini.