NovelToon NovelToon
Menjadi Istri Tuan Muda

Menjadi Istri Tuan Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Romantis / Nikah Kontrak
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Mapple_Aurora

Di balik hiruk-pikuk kehidupan modern, setiap manusia menyimpan rahasia gelap yang mereka simpan sendiri. Kota yang tampak gemerlap di siang hari menyembunyikan luka, pengkhianatan, dan pilihan-pilihan sulit yang mengubah arah hidup seseorang.

Ini kisa tentang Naya, yang menerima pengkhianatan dari tunangan dan adik tirinya. Tentang Naya yang terjebak dalam pernikahan kontrak dengan pria paling berkuasa di negaranya. Dan tentang Naya yang ternyata tidak punya siapa-siapa, selain lapisan rumit labirin hidup yang membuatnya berjuang memecahkan teka-teki, lalu dengan tanpa pilihan memilih percaya pada suaminya.

*

Cerita ini hanyalah karangan penulis, kesamaan nama tokoh dan latar hanyalah fiksi belaka untuk kebutuhan tulisan dan tidak ada hubungannya dengan dunia nyata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mapple_Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8

“Saya datang kemari untuk membicarakan pernikahan saya dengan Naya, bukan dengan wanita lain.” Kata Lucio dingin. Naya yang mendengar itu diam-diam melirik Rima dan Irania, bisa dilihat wajah mereka kaku. Tentu mereka tidak menyangka bahwa masih ada pria yang bisa menolak Rima.

“Pikirkan lagi, Tuan. Seumur hidup terlalu lama untuk dihabiskan bersama orang yang tidak mencintai anda.” Irania masih belum menyerah untuk menarik Lucio agar menikahi Rima saja.

Lucio melirik Naya, mengangkat sebelah alisnya. Maksudnya jelas Naya harus mengatakan sesuatu agar Irania berhenti mengoceh.

“Kata siapa aku tidak mencintai, Lucio? Aku mencintainya.” Kata Naya sembari tersenyum terpaksa.

Rima mengepalkan tangannya. Bagaimana bisa Naya mendapatkan pria sempurna seperti Lucio? Sementara ia hanya mengambil sisa Naya. Ardan.

Beberapa waktu lalu Rima berpikir kalau ia bisa mendapatkan Ardan maka ia sudah menang dari Naya. Siapa yang menduga Naya akan membawa pulang pria yang jauh diatas Ardan? Dan mereka akan menikah.

“Saya datang bukan untuk meminta restu. Saya datang untuk membicarakan pernikahan saya dengan Naya. Kalau kalian setuju itu lebih baik, kalau tidak, saya akan tetap menikahinya.” kata Lucio tegas, seolah dia sedang berbicara pada bawahannya. Tidak menerima penolakan.

Wajah Tuan Tuqman seketika memucat, mimpi buruk itu akhirnya datang dan ia tidak bisa menolaknya sama sekali.

“Pernikahan akan dilangsungkan tiga hari lagi secara privat di villa Oceanus. Saya akan menyiapkan segala sesuatunya, dan saya harap kalian hadir.”

Karena penolakan tidak mungkin dilakukan, maka Tuan Tuqman dan istrinya hanya bisa mengangguk pasrah.

“Naya, saya pergi dulu.” Lucio berdiri, merapikan jasnya yang sedikit berantakan kemudian berpamitan pada Naya. Tidak pada Tuan Tuqman.

Saat Lucio melangkah pergi, Tuan Tuqman langsung menyeret Naya ke ruang kerjanya.

“Kamu seharusnya tidak membawanya kemari, Naya!” Bentak Tuan Tuqman membanting keras pintu di belakangnya kemudian menatap Naya nyalang.

Naya terlonjak kaget. Pertama kalinya ayahnya membentaknya. Ayahnya menatap penuh kebencian seolah ia baru saja melakukan dosa besar.

“Pa, dia nggak seburuk yang papa pikirkan.”

“Kamu nggak mengenal dia, tetapi papa sangat mengenalnya. Dia bisa membunuh siapapun dalam sekali kedipan mata.” Kata Tuan Tuqman menarik bahu Naya, menatap anak perempuannya itu dengan tatapan rumit. “papa nggak mau kamu kenapa-kenapa.”

“Aku akan baik-baik saja, pa.” Naya tersenyum untuk menenangkan ayahnya.

“Tetap saja papa nggak bisa membiarkan kamu menikah dengannya,” Tuan Tuqman menggeleng tegas. “Siapkan semua barang-barangmu, kamu harus pergi ke desa mama kamu malam ini. Papa akan buat rencana untuk mengelabuinya. Untuk sementara, kamu akan bersembunyi di rumah mendiang mama.”

Naya perhatikan wajah ayahnya yang begitu khawatir, takut dan panik. Apa sebenarnya latar belakang keluarga Altarex sehingga ayahnya yang tenang pun menjadi setakut ini?

“Naya, apa lagi yang kamu tunggu? Kamu harus segera berkemas dan pergi. Ayo!” Desak Tuan Tuqman, suaranya meninggi, membuat Naya terlonjak kaget.

“I-iya, pa.” Naya mengangguk, dan segera pergi ke kamarnya.

Sebelum menutup pintu, ia menoleh sekilas ke belakang. Ia lihat ayahnya mengusap wajahnya gusar. Ia menutup pintu ruang kerja ayahnya, menyusuri lorong panjang, lalu menaiki tangga dengan cepat.

Nafasnya tersengal-sengal saat sampai di kamar. Naya bersandar ke daun pintu sembari mengamati sekeliling kamar yang sebentar lagi akan ia tinggalkan. Menyelamatkan diri dari Lucio?

“Tapi bagaimana kalau Lucio tahu dan marah?” Naya menggigit ujung telunjuknya cemas, bayangan ayahnya yang mati tertembak menyeruak masuk dalam kepala.

Papa mungkin punya rencana yang bagus. Batin Naya lagi. Naya mulai mengeluarkan koper, memindahkan pakaian dan barang-barang penting ke dalamnya.

Sambil memasukkan satu persatu pakaian ke dalam koper, Naya tanpa sadar mengenang ibunya.

Ibunya bernama Morana Silvia Orvada, putri tunggal dari pasangan suami istri miliarder. Keluarga Orvada memiliki banyak aset berupa tanah di beberapa desa yang ada di negara ini. Mereka petani sukses. Saat kedua orang tuanya meninggal, Morana lah yang menerima semua warisan orang tuanya.

Naya masih ingat cerita ayahnya tentang pertemuan mereka berdua. Mereka saling jatuh cinta dan memutuskan untuk menikah di usia muda. Namun, ibunya meninggal saat Naya berusia satu tahun. Itu bukan kematian biasa, Tuan Tuqman yakin sekali seseorang membunuh istrinya demi mendapatkan warisannya. Sampai sekarang Tuan Tuqman masih mencari tahu siapa dalang sebenarnya dia balik kematian itu.

“Apa papa udah tahu siapa orangnya?” Gumam Naya, menutup koper terakhirnya. Naya selalu berharap misteri tentang kematian ibunya segera terungkap dan orang yang bertanggung jawab atas itu bisa dihukum dan diadili.

“Udah, Nay?”

Pintu terbuka, Tuan Tuqman muncul disana bersama Irania. Ibu tirinya itu melemparkan senyum puas penuh kemenangan melihat Naya yang akan segera meninggalkan rumah.

“Udah kok, pa,” Naya menghampiri ayahnya.

“Masukkan semua koper Naya ke mobil,” perintah Tuan Tuqman pada dua orang penjaga rumah yang berdiri menunggu diluar pintu.

“Baik, Tuan.”

Kedua sopir itu dengan sigap menggeret koper Naya.

“Aku beneran harus pergi, pa?” Tanya Naya masih ragu. Ia mengkhawatirkan ayahnya.

“Tentu, sayang. Ini semua demi kebaikanmu.” Tuan Tuqman membawa Naya ke pelukannya, memeluknya sangat erat. “Jaga dirimu baik-baik, papa akan sering mengunjungimu.” Bisiknya dengan suara bergetar.

“Papa juga harus jaga diri,” suara Naya parau menahan tangis.

“Mas, ini kapan berangkatnya? Ntar Lucio keburu tahu, lho.” Kata Irania.

Tuan Tuqman melepaskan pelukannya, menatap Naya penuh kasing sayang. “Ayo, nak.”

Naya mengikuti ayahnya turun. Mereka berjalan dalam diam, hingga akhirnya Naya masuk ke sebuah mobil berwarna hitam.

Tuan tidak ikut mengantarkan karena harus melakukan sesuatu untuk mengelabui Lucio.

“Sampai jumpa lagi, pa.” Naya melambaikan tangan dari dalam mobil.

“Selamat jalan, sayang.” Tuan Tuqman melambaikan tangan, dan Irania yang melemparkan senyum tipis pada Naya.

Mobil melaju meninggalkan besar itu, membelah jalanan malam yang masih ramai. Naya menaikan kaca mobil, melirik sekali ke kaca mobil dan melihat wajah supirnya agak pucat.

“Bapak lagi takut ya? Kok wajahnya pucat?” Tanya Naya penasaran.

“Sedikit, Nona. Berurusan dengan orang berkuasa memang menakutkan, kita nggak berdaya untuk melawannya. Kita nggak punya cukup kekuatan untuk bilang nggak.” Sahut sang supir sambil terus mengemudikan mobil.

Ya, begitulah cara dunia bekerja. Seseorang yang punya kekuatan berlebih cenderung lebih mudah menindas yang lebih lemah. Keluarga Naya mungkin kuat, tapi tidak sekuat Altarex.

Setelah itu mobil terus melaju dalam keheningan. Naya memperhatikan gedung, rumah dan pohon-pohon yang bergerak cepat.

Saat mobil mulai keluar dari jalanan besar yang ramai, dan mulai memasuki kawasan sepi, tiga mobil mulai mendekati mobil mereka dengan intens seolah hendak mengapit dan menghentikan laju kendaraan.

“Pak, ada tiga mobil yang mengikuti kita.” Kata Naya panik.

“Iya, non, saya juga lihat.”

Supir itu mulai menambah kecepatan mobil, tapi mobil di belakang semakin agresif mendekat.

Salah satu mobil yang mengikutinya, sekarang melaju berdampingan dengan mobil Naya. Kaca mobil tersebut, dan Lucio duduk disana dengan wajah tenang serta kacamata hitam bertengger di hidung mancungnya.

“Buka pintu pintu mobil!”

Naya melotot, bagaimana mungkin ia bisa membuka pintu saat mobil sedang melaju dalam kecepatan tinggi.

“Pak, berhenti! Lucio sudah tahu, kita berhenti saja!” Kata Naya, tapi sang supir mengabaikan Naya namun sedikit memperlambat laju mobil.

“Kita nggak bisa berhenti, Non.”

“Tapi Lucio sudah tahu, dia mengikuti kita sekarang. Aku harus menuruti perintahnya, kalau tidak …” Naya tidak melanjutkan kalimatnya, karena kalau tidak, ayahnya akan dibunuh.

“Buka pintunya Naya!” Lucio berteriak dari dalam mobilnya. Mobil itu juga semakin mendekat ke badan mobilnya.

Naya menelan ludahnya gugup, melirik ke depan dan sepertinya tidak ada tanda-tanda mobil akan berhenti. Menguatkan diri, Naya akhirnya membuka pintu. Angin kencang langsung masuk ke dalam mobil.

Namun yang paling tidak terduga adalah, Lucio juga membuka pintu mobilnya lalu dengan gerakan gesit melompat masuk ke mobilnya. Lengannya tergores dan mengeluarkan darah segar.

Tidak memperdulikan tangannya yang terluka, Lucio terus melesak masuk. Berhasil. Ia duduk disamping Naya.

“K-kamu gila!” Desis Naya pucat ketakutan.

Lucio diam, hanya tangannya yang bergerak cepat membuka seat belt Naya.

“Hei, apa yang kamu lakukan?” Naya menyingkirkan tangan Lucio.

“Diam!” Lucio kembali membuka seat belt Naya, darah di tangannya menetes, jatuh ke ujung baju Naya meninggalkan noda merah disana.

Naya terus mengamati apa yang dilakukan Lucio. Ia tidak mengerti kenapa Lucio masuk ke mobilnya dengan cara yang berbahaya, apakah karena Lucio tahu, supirnya tidak akan mau menghentikan mobil?

Mobil tidak berhenti meskipun pintunya terbuka-tertutup dan penumpangnya bertambah satu.

Saat mobil memasuki jalanan satu arah menuju desa, Lucio tiba-tiba membawa Naya ke dalam pelukannya lalu membuka pintu mobil dan melompat keluar. Ia jatuh berguling ke pinggir jalan yang ditumbuhi rumput yang cukup tinggi.

Mereka berguling-guling disana dengan tangan besar Lucio yang berusaha untuk melindungi kepala Naya, sedang wajah Naya terbenam di dada bidangnya.

Mengapa Lucio melakukan ini?

...***...

...Like, komen dan vote ...

1
saptonah dppkad
Naya yg bodoh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!