Dara memimpikan indahnya kehidupan setelah menikah. Dara mengira menikah dengan orang yang di cintai akan membuat hidupnya bahagia. namun kenyataannya nasib buruk yang didapatkan di rumah suaminya. dia dilakukan bak babu bahkan sering dara mendapatkan caci maki dari mertua ketika pekerjaan rumah ada yang terlewatkan. tidak hanya diperlakukan seperti babu, ketika dara ada selisih paham dengan mertua nya suaminya tidak membela dara bahkan ikut menyudutkan Dara. hal yang paling menyakitkan lagi ketika dara mendapatkan kabar dari temannya jika suaminya selingkuh dibelakang nya. bagaimana kisah Dara selanjutnya. yuk mampir
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jihan Fahera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gara Gara Mahar
"Kata ayah oke,, tapi jangan lupa maharnya sertifikat rumah itukan yang ayah minta. Kamu gak tanya aku mau minta mas kawin berapa gram gitu?" Balas Dita yang malah menambah beban pikiran Bagas.
"Mas kawinnya cincin yang dipakek lamaran aja ya sama perhiasan yang aku kasih waktu lamaran, itu kan juga masih baru" balas Bagas yang mencoba bernegosiasi dengan Dita.
"Ya gak mau lah mas, aku itu udah legowo loh mau jadi istri kedua mu, habis itu, aku anak dari pemilik kebun teh masak mas kawinnya emas bekas lamaran, ya yang baru dong" balas Dita dengan entengnya. Bagas yang membaca balasan seketika langsung melotot.
"Whatt,, cincin sama kalung dan gelang itu udah Sampek 50 juta loh,, tau kalau dia gak mau makek yang dikasih waktu lamaran mending kalung sama gelangnya aku kasihnya waktu akad aja" guman Bagas yang tampak sangat frustasi.
"Padahal Dara aku kasih mahar 200 ribu sama cincin dua gram udah seneng banget dan udah gak nuntut neko neko, kenapa ini semakin kesini semakin menjadi jadi" batin Bagas yang mengingat mahar yang diberikan oleh Dara dulu.
"Pakai yang aku kasih waktu lamaran aja, daripada buat beli mas kawin yang baru mending uangnya di simpan buat keperluan si utun ya sayang" balas Bagas yang berusaha bernegosiasi.
"Ishh,, kamu kenapa sih sekarang jadi perhitungan, udah acara gak di gedung ini minta mas kawin malah diributin. Ya udah mending kita batal aja nikahnya. Aku bisa kok ngurus anak aku sendiri tanpa campur tangan dari kami dan nafkah darimu" balas Dita dan langsung memblokir nomor Bagas.
"DAMMM" umpat Bagas setelah membaca balasan pesan Dita. Bagas berusaha menelepon Dita namun ternyata Dita memblokir nomornya.
"sabar sabar, mungkin bawaan bayi, jadi emosinya gak stabil, pakai nomor di blokir segala" gerutu Bagas yang mengetahui nomornya di blokir Dita.
Bagas memijat keningnya yang terasa pusing karena permintaan istri keduanya. Karena pusing memikirkan permintaan Dita, Bagas baru menyadari kalau Dara belum kembali dari tadi.
"Dimana si Dara dari tadi belum kembali" guman Bagas. Akhirnya Bagas memutuskan untuk mencari Dara. Bagas menuju ke dapur dan ternyata kosong lalu Bagas menuju pintu utama dan ternyata pintu terkunci yang menandakan semua penghuni rumah sudah ada di dalam semua.
"Apa Dara ada di kamar tamu?" Guman Bagas. Bagas tanpa ragu mencoba membuka pintu kamar tamu. Setelah pintu terbuka Bagas dapat melihat kalau Dara sedang tidur dengan tenang disana.
"Ckk,, ternyata kamu disini. Kenapa tidur di kamar tamu hmm, kamu marah karena tadi aku maksa buat olahraga malam?, tapi kan juga kamu tolak" Batin Bagas sambil melihat wajah Dara yang polos tanpa make up.
"Cantik,, andai kamu bisa kasih aku keturunan mungkin aku gak akan punya niatan menikah lagi" batin Bagas lagi lalu pergi meninggalkan Dara yang sedang tidur dikamar tamu sendiri.
.
.
.
Sang Surya mulai muncul dengan malu malu, suara ayam yang sedang berkokok secara bersautan sautan menandakan bahwa hari mulai pagi. Dara mengejapkan matanya untuk mengumpulkan nyawanya yang belum sepenuhnya kembali.
"Hoaammm"
"Selamat pagi dunia tipu tipu, dimana yang lemah selalu ditindas, dan kalau si lemah berusaha melawan dikira kurang ajar, Hayuk semangat raga dan jiwaku tinggal 6 hari lagi keluar dari rumah ini, hmmm,, enaknya masak apa ya?" Ucap Dara yang bertanya pada dirinya sendiri
"Aishh,, setiap hari harus mikir masak apa, karena tinggal hitungan hari lagi disini masak yang enak enak aja deh" ucap Dara lagi.
Dara pun keluar dari kamar lalu menuju ke kamar mandi untuk mencuci muka. Setelah itu Dara bersiap untuk belanja sayur.
"Eh ada Dara, mau belanja apa Dar?" Sapa Bu Diah yang baru tiba.
"Gak tau Bu masih bingung ini, pengennya yang seger seger gitu" sahut Dara yang masih memilih milih sayur.
"Ini balungan berapa mang?" Tanya Dara saat melihat balungan.
"Itu cuma lima ribu" sahut mang Asep.
"Kalau ceker berapa?" Tanya Dara lagi.
"Kalau ceker setengah kilonya dua belas ribu aja" sahut mang Asep.
"Ya udah deh mang, aku ambil ceker nya setengah kilo, sama ayam bagian dadanya setengah kilo ya" ucap Dara.
"Enak itu ceker di buat soto, katamu mau yang seger seger" ucap Bu Diah.
"Iya Bu,, lihat balungan sama ceker saya malah mau buat soto" sahut Dara. Sambil mengambil bumbu dapur, bumbu racik soto, soun, kubis, jeruk nipis dan daun bawang.
"Udah ini berapa mang" ucap Dara. Tanpa berlama lama mang Asep langsung menghitung belanjaan Dara.
"Eh iya,, tambah krupuk ini ya" ucap Dara lagi.
"Semuanya lima puluh ribu" ucap mamang Asep. Dara pun membayar belanjaannya lalu pulang.
"Kasian ya si Dara udah dapat mertua yang tantruman, pelit lagi suaminya, eh ini, malah si Bagas malah mau nikah lagi dengan alasan Dara gak bisa kasih dia keturunan" ucap Bu Bella yang mengawali berita sentral pagi hari disela sela belanja.
"Tapi saya lihat si Dara kayak biasa aja, gak kelihatan sedih loh mukanya" sahut mang Asep.
"Iya mang, tadi malam aja dia loh yang masangin cincin ke istri keduanya Bagas mana senyumnya kelihatan tulus lagi. Tapi saya kasian waktu semalam bapaknya si calon istri kedua juga nyebutin kekurangan Dara yang belum dikasih keturunan. Saya mah kalau jadi Dara udah saya acak acak itu acara. Lagian Dara sama Bagas juga baru nikah dua tahun. Padahal banyak loh yang nikah udah tiga tahun baru dikasih momongan. Emang Bagas nya aja yang kurang bersyukur dan gak cukup dengan satu lubang" ucap Bu Diah dengan nada emosi.
"Kalau suami aku nih ya Bu kalau izin nikah lagi. Itu burung bakal tak sunat lagi terus telornya di ceplok buat makan ayam jagonya baru boleh nikah lagi" sahut Bu Bella yang asal ceplos. Mang Asep yang mendengar ucapan Bu Diah seketika langsung merinding mendengarnya.
"Aduh buk, kalau ngomong itu di filter atuh, kasian kalau pembacanya masih di bawah umur nanti malah tanya tanya gini, emang burung bisa di sunat bahkan sampai dua kali, terus telor di ceplok di kasih ke ayam jago kan malah mubazir buang buang makanan" ucap mang Asep yang tampak protes.
"Waduh,, aku lupa Bu kalau ada mang Asep haha,, maap ya mang ini kadang mulut suka ceplas ceplos tapi ini peringatan sekalian buat mang Asep jangan selingkuh ya tuh istrimu mau Nemani mamang dari nol loh" nasihat Bu Bella.
"Iya Bu, saya mah sangat cinta sama istri yang bahkan dengan suka rela mau memberikan gelar ke saya seorang ayah masih kurang apa lagi ya meskipun saya sama istri nunggu kehadiran anak kurang lebih satu setengah tahun baru di beri titipan" ucap mang Asep.
" Iya mang, satu aja gak habis habis, masak masih kurang sih, ya udah ini aja mang belanjaannya tolong di total ya" ucap Bu Diah yang sudah selesai belanja lalu berpamitan dan selesai lah acara ngerumpi di tukang sayur.