NovelToon NovelToon
Subosito

Subosito

Status: sedang berlangsung
Genre:Ilmu Kanuragan / Epik Petualangan / Fantasi Timur
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: eko yepe

Seorang pemuda dengan kutukan api di dalam tubuhnya, membuat dirinya dibenci oleh seluruh warga desa.

Padahal di dalam hatinya, Subosito tak ingin melukai siapa pun dengan apinya.

Banyak pendekar yang mengincar kekuatan itu, untuk kepentingan pribadi mereka

Subosito mencoba untuk mengarungi dunia pendekar yang tidak mudah.

Bagaimana kisah perjuangan pemuda api itu dengan kutukan yang dimilikinya?

Ikuti keseruan kisahnya dalam 'Subosito'.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eko yepe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dilema Sang Penyelamat

Hawa di dalam kamar pribadi Adipati terasa seperti berada di dalam rongga dada makhluk kuno. Dingin, pengap, dan berbau kematian yang membusuk.

Subosito berdiri, sayap emas di belakangnya memancarkan cahaya yang beradu dengan lidah-lidah api ungu dari cawan sihir Mangkubumi.

Di sebelahnya, Sang Adipati—ayah dari wanita yang kini mulai berarti bagi hidupnya—melayang di udara, diikat oleh jaring-jaring asap hitam yang bersumber dari Keris Kyai Sekar Langit.

Setiap kali Subosito mencoba mendekat, naga-naga bayangan hasil mantra Resi Bhaskara melesat menghalanginya.

Namun, bukan serangan sang guru yang membuat langkah Subosito berat. Melainkan sebuah kenyataan yang menusuk batinnya: ilmu hitam Manunggal Ireng telah menyatukan bilah keris itu dengan jantung Sang Adipati.

"Jika aku mencabutnya, jantungnya akan berhenti berdetak," bisik Subosito, suaranya parau. "Jika aku membiarkannya, dia akan menjadi iblis yang menghancurkan negerinya sendiri!"

Dyah Ayuwangi bersimpuh di lantai yang dingin, air matanya jatuh membasahi ubin lantai. Dyah menatap sosok ayahnya yang kini tak lebih dari wadah bagi kegelapan.

Sang putri tahu pilihan apa yang ada di depan Subosito. Jika Subosito membunuh Adipati untuk menghentikan kutukan ini, maka Subosito akan menjadi pembunuh raja—orang yang paling dibenci oleh Dyah dan seluruh rakyat Kadipaten.

Patih Mangkubumi tertawa terbahak-bahak, sebuah tawa yang kering dan penuh racun. "Pilihlah, Titisan Lawu! Menjadi pembunuh yang dibenci, atau menjadi saksi atas kehancuran dunia ini! Dyah tidak akan pernah memaafkan tangan yang berlumuran darah ayahnya!"

Subosito menatap Dyah, rasa bersalah yang dibersihkan di Kawah Candradimuka kini kembali mengimpitnya. Subosito tak ingin melukai Dyah, tetapi dia juga harus menegakkan kebenaran. Dilema moral itu terasa lebih menyakitkan daripada tusukan pedang manapun.

Di tengah keputusasaan itu, sebuah suara derap langkah kaki yang berat dan teratur terdengar dari luar lorong. Pintu jati raksasa itu ditendang terbuka untuk kedua kalinya.

Bukan oleh makhluk hitam apa pun, melainkan oleh sekelompok pria tua dengan zirah perak yang telah kusam namun masih memancarkan wibawa.

Mereka adalah Faksi Ksatria Tua , para veteran pelindung istana yang selama belasan tahun ini membisu di bawah tekanan Mangkubumi.

Di barisan paling depan, berdiri Senopati Wira Dirja, ksatria paling senior yang pernah menjadi rekan seperjuangan ayah Subosito.

"Hentikan kegilaan ini, Mangkubumi!" suara Wira Dirja menggelegar.

"Apa yang kalian lakukan di sini, Tua Bangka?!" bentak Mangkubumi membelalakkan matanya. "Kalian seharusnya sudah membusuk di barak!"

Dyah Ayuwangi bangkit perlahan, mengusap air matanya. Tanpa sepengetahuan Subosito, di sela-sela pengungsi mereka di pasar dan lorong gelap, Dyah telah mengirimkan sandi rahasia melalui lencana Garuda miliknya.

Dyah telah memberitahu para ksatria tua bahwa Api Lawu telah kembali—bahwa putra Arga Sangkara telah bangkit untuk menuntut janji leluhur.

Senopati Wira Dirja melangkah maju, lalu berlutut di hadapan Subosito, diikuti oleh seluruh ksatria tua lainnya.

“Titisan Garuda,” ucap Wira Dirja dengan suara rendah. "Kami telah melihat kehancuran yang dibawa oleh keris durjana itu. Kami juga telah melihat Penderitaan Sang Adipati. Kami, sebagai ksatria pelindung, memberikan izin dan restu kepadamu. Cabutlah keris itu, bebaskan jiwa junjungan kami, meskipun harus dibayar dengan nyawanya!"

Subosito tertegun. "Tapi, dia mungkin tidak akan selamat!"

“Lebih baik mati sebagai kesatria yang merdeka daripada hidup sebagai boneka kegelapan,” jawab Wira Dirja, seraya menoleh ke arah Dyah. “Putri, apakah kamu merestui keputusan ini?”

Dyah Ayuwangi menatap wajah ayahnya yang mengerikan, lalu menatap Subosito. Di matanya, tersirat pengorbanan yang luar biasa besar.

Dyah tahu bahwa setelah malam ini, hidupnya tak akan pernah sama lagi. Mungkin Dyah akan kehilangan ayahnya, dan hubungannya dengan Subosito akan selalu dihantui oleh bayang-bayang kematian ini.

“Lakukan, Subosito,” bisik Dyah, suaranya nyaris hilang. "Bebaskan ayahanda!”

Mangkubumi dan Resi Bhaskara mencoba merampas kembali kendali atas pertarungan, di sisi lain, para ksatria tua segera membentuk formasi Pagar Baya , menciptakan benteng energi perak yang mengurung kedua pemberontak itu.

Subosito menarik napas panjang, lalu mengepakkan sayap emasnya, melesat menuju altar di samping tempat tidur Adipati. Subosito memegang hulu Keris Kyai Sekar Langit.

Seketika, rasa dingin yang membekukan merambat ke lengan, mencoba mengunci aliran energinya. Keris itu menjerit, sebuah lengkingan gaib yang menyiksa Indra.

"Dengan api kemurnian Lawu, aku memutus ikatan ini!" teriak Subosito.

Pemuda itu menyalurkan seluruh energi emasnya ke dalam bilah alat keris tersebut. Cahaya emas dan asap hitam mengepul hebat di dalam jantung Adipati. Subosito melihat sosok Adipati meronta-ronta, mulutnya mengeluarkan cahaya ungu yang menyilaukan.

Dengan satu sentakan yang menghabiskan seluruh tenaganya, Subosito mencabut keris itu.

CRAAAKKK!

Keris Kyai Sekar Langit patah menjadi dua di tangan Subosito. Energi ledakannya melontarkan semua orang di ruangan itu. Asap hitam yang menyalakan Adipati menguap seketika, habis oleh aura emas Garuda Paksi.

Tubuh Sang Adipati jatuh ke atas kasur dengan lunglai. Adipati tidak mati, wajahnya tampak menua puluhan tahun dalam sekejap. Napasnya tersengal, lemah dan tipis.

Kekuatan keris itu telah mengambil sebagian besar hidupnya. Adipati masih bernapas, namun dia tak akan pernah bisa lagi berdiri tegak, tak akan mampu lagi memimpin, dan mungkin tak akan pernah lagi bisa bicara normal. Dia hanyalah sisa-sisa dari seorang pria yang pernah jaya.

Dyah segera menghambur ke pelukan ayahnya sambil menangis tersedu-sedu.

Patih Mangkubumi melihat senjatanya hancur. Wajahnya yang licik berubah menjadi topeng kemarahan yang berapi-api. "Kau menghancurkannya! Kau menghancurkan kunci kekuasaanku! Jika aku tidak bisa memiliki Kadipaten ini, maka tidak akan ada yang bisa memiliknya!"

Mangkubumi menoleh ke arah Resi Bhaskara. "Gunakan mantra terakhir! Bakar seluruh ibu kota ini!"

Resi Bhaskara tampak ragu sejenak melihat kekuatan Subosito yang begitu murni, tetapi ambisi telah mengalahkan nuraninya.

Resi Bhaskara mulai merapal mantra terlarang yang akan mencakup seluruh gudang mesiu dan lampion di istana.

Subosito berdiri tegak, merasakan energi dari Gada Sungsang Aji di sayapnya yang berdenyut kencang. Pemuda itu menyadari bahwa pencabutan keris hanyalah awal mula kekacauan.

Kegelapan di luar sana masih mengancam rakyat, Subosito melihat ke arah Dyah yang sedang mendekap ayahnya, lalu ke arah kesatria tua yang sedang bertarung dengan sisa-sisa pengawal Mangkubumi.

“Guru,” ucap Subosito, suaranya kini tenang dan menggetarkan ruangan. "Kau bilang aku butuh tekanan untuk bersinar. Sekarang, lihatlah cahaya yang kau ciptakan sendiri!"

Subosito tidak lagi menahan dirinya, lalu berjalan menuju balkon kamar yang menghadap langsung ke seluruh penjuru ibu kota.

Subosito merasakan segel terakhir di dadanya retak. Seluruh energi Kawah Candradimuka, kepedihan masa lalu, dan harapan para kesatria tua menyatu menjadi satu titik api yang tak terpadamkan.

Subosito melompat dari balkon, melesat menuju puncak menara tertinggi istana.

Di bawah sana, rakyat Kadipaten yang ketakutan melihat sebuah pemandangan yang akan mereka ceritakan kepada anak cucu mereka. Di tengah kegelapan malam yang pekat, sebuah ledakan cahaya emas muncul dari puncak menara tertinggi istana.

Cahaya itu begitu terang hingga mampu mengubah malam menjadi seperti siang hari yang disepuh emas.

Subosito berdiri di atas atap menara, sayap api emasnya membentang luas, menutupi seluruh lebar menara. Kali ini, wujudnya berubah secara nyata.

Rambutnya memutih seperti perak, dan garis-garis emas di kulitnya berpendar dengan cahaya yang stabil. Subosito bukan lagi seorang pemuda yang terjebak di Alam Piningit; dia adalah legenda yang hidup kembali dari sang mitos.

Dengan satu kepakan sayapnya, kabut hitam yang melingkari kota mulai terkoyak. Suara kepakannya terdengar seperti gemuruh guntur yang berwibawa, menyapu bersih hawa jahat yang menyesakkan dada rakyat.

Mangkubumi dan Resi Bhaskara mendongak dari bawah dengan wajah pucat pasi. Mereka menyadari bahwa mereka tidak lagi berhadapan dengan seorang pendekar, melainkan dengan kekuatan alam yang telah menemukan kesadarannya.

Cahaya emas telah kembali ke Kadipaten, namun bayang-bayang pengkhianatan masih mengintai di setiap sudut istana. Subosito kini terbang tinggi di atas langit malam, menjadi simbol harapan sekaligus pengingat akan kekuatan yang bisa menghancurkan segalanya.

Mampukah Subosito menemukan cara untuk mengalahkan Resi Bhaskara tanpa harus menghancurkan guru yang pernah dia hormati? Dan apa yang terjadi dengan Subosito setelah kebangkitan sayap emas miliknya?

Simak terus keseruan kisah Subosito.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!