Clarissa wanita cantik yang sangat ceria, berumur 22 tahun, ia adalah anak perempuan yang kuat dan mandiri.
Ibunya memperlakukannya dengan buruk, ibunya lebih menyayangi anak laki-lakinya. Bahkan ibunya lebih menyayangi menantu perempuannya di banding Clarissa.
Tantangan hidupnya tidak sampai di sana,
Clarissa jatuh cinta pada Zayn Austin, cinta pada pandang pertama.
Namun pria yang Clarissa sukai selalu berwajah datar dan bersikap dingin. Tapi itu semua tidak meredupkan semangat Clarissa untuk mengejar cintanya.
Akankah Clarissa mampu meluluhkan hati Zayn?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen Fitria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30
Satu minggu berlalu, Clarissa merasa hidupnya sangat tenang, meski sesekali ia merasa ingin pulang, namun saat mengingat sikap dingin sang ibu, membuat Clarissa tersadar. Jika pulang bukanlah solusi, ia harus bisa menunjukkan pada ibu dan pada dunia, bahwa ia mampu menjalani hidup ini dengan baik.
Clarissa justru terpikirkan bagaimana jika ia menikah dengan Zayn, mungkin hidupnya akan lebih bahagia bukan.
.
Tapi sesuatu di hatinya ada yang hilang, membuat Clarissa jadi sulit fokus. Setelah ia makan bersama dengan Zayn Austin malam itu, pria itu justru tidak menampakkan diri lagi, membuat Clarissa bertanya-tanya.
Kemana perginya Zayn, padahal biasanya Zayn selalu datang ke caffe tempat Clarissa bekerja, meski tidak datang setiap sore. Tapi pria itu tidak pernah menghilang seperti ini.
Clarissa sudah mengirim pesan. Tapi tak ada balasan, membuat Clarissa kalang kabut, Clarissa merindukan Zayn Austin. Tapi ia tidak tahu harus bagai mana.
Clarissa mencoba menelpon Zayn. Tapi tak juga di jawab, membuat Clarissa menjadi kesal dan melemparkan ponselnya ke atas kasur.
"Dia kemana sih? " ujar Clarissa bertanya pada dirinya sendiri, hatinya merasa sangat kesal, ia merasa sangat kehilangan sosok Zayn, Clarissa benar-benar merindukan Zayn Austin.
Clarissa kembali mengambil ponselnya lalu menghubungi Zayn lagi, panggilan terhubung. Tapi tak ada jawaban.
Clarissa kembali melemparkan ponselnya ke atas kasur dengan kesal, Clarissa bertolak pinggang dan bergumam, "Zayn apa kamu mempermainkanku? "
Kini Clarissa sudah sangat berharap pada Zayn. Carissa merasa beberapa hari sebelumnya mereka sudah cukup dekat, sikap Zayn yang sangat dingin itu sudah mulai sedikit mencair. Tapi entah kenapa tiba-tiba Zain menghilang.
Clarissa tidak tahu harus bagai mana, ia sangat ingin melihat Zayn, atau pun mendengar suaranya. Tapi bagai mana sekarang.
Clarissa merebahkan dirinya di ranjang, mencoba untuk memejamkan mata, ia harus bisa mengendalikan diri, meski hatinya sangat amat ingin melihat Zayn.
Namun semakin Clarissa berusaha untuk terpejam, justru ia merasa semakin rindu, bayang-bayang Zayn terus berputar, seakan Zayn ada di dekatnya.
"Tidak, tidak bisa. Aku tidak bisa diam saja. Aku harus mencari mu Zayn," ujar Clarissa, yang kini bertekad mencari keberadaan Zayn.
Clarissa menggantikan pakaian dengan celana Jeans, dan atasan biru muda tanpa lengan yang pas di tubuhnya, lalu menenteng tas selempang, Clarissa mengambil kembali ponselnya, lalu berjalan keluar dari kontraknya.
Clarissa tidak tahu keberadaan Zayn, namun satu hal yang Clarissa ketahui. Jika Zayn suka nongkrong di caffe, Clarissa dengan semangat nekat mencari Zayn, mungkin ia akan mencari di beberapa caffe terdekat.
Pertanyaan sudah tersusun rapi di otaknya, ia akan menanyakan kenapa Zayn tiba-tiba menghilang, bahkan ditelpon pun tak menjawab, jika Zayn benar-benar tidak menyukainya. Lalu kenapa Zayn seperti memberikan harapan, itu sangat menyakitkan bagi Clarissa.
Clarissa sudah datang ke caffe terdekat dari kontraknya, Clarissa melirik kesana kemari, mencari keberadaan Zayn, seolah-olah ia sedang mencari suami yang nongkrong tanpa izinnya.
Namun meski Clarissa sudah mencari dan melihat ke sana kemari. Tetap saja ia tidak menemukan sosok yang ia cari, hatinya merasa kecewa.
Clarissa pun keluar dari sana, Clarissa kembali naik ojek untuk mencari keberadaan Zayn, Clarissa tiba-tiba tertegun saat ia melewati rumah tante Sophia, Clarissa tersadar jika kontraknya ternyata cukup dekat dengan rumah tante Sophia yang berarti rumah Zayn juga.
"Pantas saja malam itu, Zayn berkata jika aku sedang mendekatinya, kenapa aku baru sadar... " gumam Clarissa.
"Tapi kenapa setelah itu ia tidak pernah datang ke caffe lagi?" Clarissa terus bicara sendiri sampai ia datang di caffe terdekat.
Clarissa berharap ia bisa bertemu dengan Zayn, sungguh hatinya sangat rindu, kebiasaan Zayn yang selalu datang ke caffe tempat Clarissa bekerja, membuat Clarissa menjadi terbiasa melihatnya, dan ini sudah seminggu ia tidak melihat Zayn, hatinya sangat begitu resah.
Clarissa berdiri dengan penuh harap, ia sangat ingin melihat Zayn. Mungkin jika Clarissa tidak menemukan Zayn di sini, mungkin saja ia akan terus berkeliling mencari Zayn di ibukota.
Caffe kedua masih sama besar dengan caffe sebelumnya, Clarissa sendiri masih gigih mencari Zayn, meski untuk bertemu dengannya kemungkinan hanya sedikit. Bagai mana mungkin mencari seorang pria yang entah ada di mana.
Clarissa terus melirik kesana kemari. Tapi kembali kecewa, sosok Zayn tak bisa ia temukan, Clarissa berjalan dengan malas, sungguh ia bingung harus pergi kemana.
Tiba-tiba saja Clarissa terdiam, ia melihat ke arah samping Caffe, di mana di sana di desain caffe outdoor, yang sangat menyejukkan mata.
Clarissa juga berjalan ke sana. Tiba-tiba saja mata Clarissa melihat sosok yang ia rindukan, jantung Clarissa berdebar sangat kencang, ada rasa senang sekaligus kecewa, saat melihat Zayn yang terlihat santai, nongkrong di sana dengan beberapa temannya.