NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Pendekar Naga

Reinkarnasi Pendekar Naga

Status: tamat
Genre:Action / Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Tamat
Popularitas:17.1k
Nilai: 5
Nama Author: Agen one

Jian Yi dan para rekannya gugur setelah menantang kekuatan besar Kekaisaran Pusat. Pertempuran itu seharusnya menjadi akhir dari segalanya bagi mereka.

Namun saat kesadaran Jian Yi memudar, sebuah keajaiban terjadi. Berkat campur tangan Raja Naga, mereka diberi kesempatan kedua—sebuah reinkarnasi yang mengubah takdir mereka.

Terlahir kembali di dunia yang sama namun dengan kehidupan baru, Jian Yi menyimpan satu janji dalam hatinya: membalas kehancuran yang dialaminya dan melampaui semua batas kekuatan.

Kali ini, dia tidak akan jatuh lagi.
Tapi di dunia yang dipenuhi kultivator kuat, sekte kuno, dan kekaisaran yang menguasai segalanya …

Mampukah Jian Yi benar-benar bangkit, menuntut balas, dan mencapai puncak kekuatan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32: Sahabat sialan!

Malam terakhir di Sekte Daun Perak tidak dilewatkan dengan ketenangan meditasi, melainkan dengan kesibukan logistik yang cukup rakus.

Jian Yi dan Lu Feng menyadari bahwa perjalanan ke depan akan jauh lebih berat tanpa sokongan finansial yang memadai.

​Di gudang penyimpanan rahasia hasil jarahan dari Sekte Taring Hitam, Jian Yi dan Lu Feng tampak seperti dua pencuri profesional. Mereka tidak lagi memegang batu sungai di dalam tas mereka.

​"Ambil yang koin emas saja, Lu Feng. Perak terlalu berat dan memakan tempat," bisik Jian Yi sambil memasukkan pundi-pundi emas ke dalam sebuah Cincin Ruang—alat penyimpanan dimensi rendah yang mereka temukan di saku baju Gui Shan.

​Lu Feng menyeringai, tangannya dengan cekatan menyapu botol-botol pil pemulih Qi tingkat menengah. "Tentu saja. Dan lihat ini, aku menemukan kantong penyimpanan sutra yang bisa menampung sepuluh kali lipat lebih banyak. Ibuku pasti bangga melihat kemandirianku dalam merampas harta orang jahat."

​Mereka berdua tertawa kecil, mengemas senjata-senjata cadangan, peta wilayah, dan beberapa liter arak kualitas terbaik yang tersisa.

Di lantai atas, dari jendela kamarnya yang menghadap langsung ke arah gudang, Yue Chan memerhatikan siluet mereka.

Matanya yang tajam sebagai seorang Pendekar Agung bisa melihat setiap gerak-gerik nakal Lu Feng. Ia hanya tersenyum tipis, merasa gemas melihat sisi kekanak-kanakan pria yang dicintainya itu.

​​Setelah merasa bekal mereka cukup untuk hidup mewah selama satu tahun perjalanan, keduanya kembali ke paviliun tamu.

Lu Feng yang merasa sangat lelah segera merebahkan tubuhnya di atas ranjang empuknya, berniat tidur awal agar bugar saat keberangkatan besok pagi.

​"Selamat tidur, Sahabat Pelit," gumam Lu Feng sambil memejamkan mata.

​"Tidurlah yang nyenyak, Lu Feng. Kau butuh 'kehangatan' ekstra malam ini," sahut Jian Yi dengan nada yang sangat mencurigakan sebelum ia keluar dan menutup pintu kamar Lu Feng rapat-rapat.

​Beberapa menit berlalu. Lu Feng sudah hampir terlelap ketika ia merasakan kasurnya sedikit amblas di sisi sebelah kanan.

Ada aroma harum bunga persik yang mendadak menyeruak, jauh lebih harum daripada dupa penenang mana pun.

​Lu Feng membuka matanya perlahan, dan jantungnya hampir melompat keluar dari tenggorokan.

Di sampingnya, Yue Chan sudah berbaring miring, menopang kepalanya dengan satu tangan sambil menatapnya dengan pandangan yang sangat lembut.

​"K-kau?! Apa yang kau lakukan di sini, Yue Chan?!" bisik Lu Feng dengan suara serak karena panik.

​"Aku hanya mengikuti saran sahabatmu," jawab Yue Chan tenang, jari telunjuknya mengusap pipi Lu Feng dengan lembut. "Jian Yi bilang, kau sering ketakutan saat tidur di tempat baru dan butuh seseorang untuk menemanimu. Sebagai tunangan yang baik, tentu saja aku tidak bisa membiarkanmu kedinginan."

​Di luar kamar, tepat di balik pintu kayu yang tertutup, Jian Yi sedang membekap mulutnya sendiri agar suara tawanya tidak meledak. Ia bisa membayangkan wajah Lu Feng yang saat ini pasti lebih merah daripada cabai rawit.

​"Hahaha! Nikmati malammu, Lu Feng!" gumam Jian Yi sambil berjalan menjauh menuju balkon luar.

​Ia merasa sangat puas karena rencananya berhasil. Sebelumnya, ia sempat berpapasan dengan Yue Chan dan membisikkan bahwa Lu Feng sebenarnya sangat merindukannya namun terlalu malu untuk mengatakannya karena kontrak janji suci tersebut.

​"Dasar bocah puber," Jian Yi tertawa kecil sendirian sambil menatap bulan. "Setidaknya dengan ada Pendekar Agung di ranjangnya, dia tidak akan berani bangun kesiangan besok."

​Sementara itu, di dalam kamar, Lu Feng hanya bisa mematung kaku seperti mayat, tidak berani bergerak satu inci pun sementara Yue Chan mulai memejamkan mata dan menyandarkan kepalanya di bahu Lu Feng.

Besok pagi sepertinya akan menjadi awal perjalanan yang sangat melelahkan bagi pinggang dan mental Lu Feng.

Fajar menyingsing di puncak gunung Sekte Daun Perak, namun suasana kali ini terasa jauh lebih berat daripada pagi sebelumnya.

Jika kemarin adalah aroma darah dan mesiu, pagi ini adalah aroma perpisahan yang menyesakkan dada.

​Di depan gerbang utama yang kini sudah diperbaiki secara darurat, ratusan murid Sekte Daun Perak berkumpul.

Wajah-wajah mereka tampak mendung. Bagi mereka, Jian Yi dan Lu Feng bukan sekadar tamu, melainkan penyelamat yang telah mengangkat mereka dari jurang kematian.

Beberapa murid wanita bahkan terang-terangan menyeka air mata dengan ujung lengan baju mereka.

​Tetua Han membungkuk dalam-dalam, suaranya parau. "Tuan Muda Yi Fan, Tuan Muda Feng Liu ... jasa kalian tidak akan pernah kami lupakan. Seluruh harta Sekte Taring Hitam sudah kami pindahkan, dan sebagian besar sudah berada di dalam cincin ruang kalian. Semoga perjalanan kalian selalu dilindungi."

​Namun, di antara kerumunan itu, sosok yang paling menarik perhatian adalah Yue Chan.

Wajahnya yang biasanya tenang dan berwibawa sebagai Pendekar Agung kini tampak rapuh.

Matanya sedikit sembab, bukti bahwa malam yang ia habiskan di samping Lu Feng tidaklah cukup untuk mengobati kerinduan belasan tahun.

​Lu Feng berdiri dengan kantung mata yang menghitam. Ia sama sekali tidak tidur nyenyak.

Bagaimana bisa ia tidur jika seorang wanita tingkat 7 memeluk lengannya sepanjang malam seperti guling? Setiap kali ia bergerak sedikit, aura Yue Chan akan bereaksi secara tidak sadar, membuatnya merasa seperti sedang ditekan oleh gunung.

​"Aku ... aku pergi dulu," gumam Lu Feng dengan suara serak, ingin segera melarikan diri dari atmosfir yang menyesakkan ini.

​"Tunggu, Lu Feng," panggil Yue Chan. Suaranya lembut namun mengandung kesedihan yang mendalam.

​Yue Chan melangkah maju, tangannya gemetar saat ia mengeluarkan sebuah kotak panjang dari kayu cendana putih.

Saat kotak itu dibuka, sebuah cahaya biru safir memancar keluar, membelah kabut pagi.

Sebuah pedang panjang dengan ukiran awan di sepanjang bilahnya terbaring di sana—Pedang Cakrawala Biru, sebuah senjata Tingkat Langit yang sangat langka.

​"Pedang ini telah menemaniku sejak aku mencapai Ranah Grand Master. Ini adalah bagian dari jiwaku," ucap Yue Chan, menatap Lu Feng dengan tatapan yang sangat tulus. "Aku tahu kau lebih suka menggunakan tinju, tapi dunia luar sangat kejam. Bawalah ini. Jika pedang ini ada bersamamu, aku akan merasa seolah-olah aku selalu melindungimu dari jauh."

​Lu Feng tertegun. Ia tahu nilai pedang tingkat langit bisa membeli sebuah kota besar, namun nilai ketulusan di mata Yue Chan jauh lebih mahal dari itu.

Ia menerima pedang itu dengan tangan yang kaku. "Terima kasih ... aku akan menjaganya."

​Lu Feng berbalik, berniat segera berjalan menjauh sebelum pertahanannya runtuh atau sebelum ia ditarik kembali ke pelukan Yue Chan. "Ayo, Yi! Jalan sekarang!"

​Jian Yi, yang berdiri di sampingnya sambil memanggul tas kecil, menyeringai licik.

Ia melihat Yue Chan yang masih berdiri mematung dengan air mata yang mulai menetes di pipinya.

Baginya, Lu Feng terlalu kaku untuk seorang pria yang dicintai sebegitu tulusnya.

​"Dasar tidak peka," bisik Jian Yi pelan.

​Tepat saat Lu Feng melewati Jian Yi, Jian Yi meletakkan tangannya di punggung Lu Feng dan menyalurkan sedikit tenaga dalam.

​DORONG!

​"Uwoh?!" Lu Feng terpekik kaget saat tubuhnya terdorong ke depan dengan kencang.

​Karena jarak mereka sangat dekat, Lu Feng tidak punya pilihan selain menabrak Yue Chan.

Secara refleks, tangan Lu Feng merangkul pundak Yue Chan agar mereka tidak jatuh bersama.

Hasilnya? Lu Feng kini memeluk Yue Chan dengan sangat erat di depan seluruh anggota sekte.

​Yue Chan tersentak, namun sedetik kemudian ia membalas pelukan itu dengan kekuatan penuh, menyembunyikan wajahnya di dada Lu Feng sambil terisak pelan.

​"Ingat janjimu, Lu Feng ... jangan berani-berani mati lagi," bisik Yue Chan di sela tangisnya.

​Lu Feng membeku, tangannya yang tadinya ingin melepaskan diri perlahan-lahan mengusap punggung Yue Chan.

Ia melirik tajam ke arah Jian Yi yang sedang berdiri lima meter di belakang mereka sambil melambai-lambaikan tangan dengan wajah penuh kemenangan.

​"Bagus sekali, Yi! Kau benar-benar sahabat yang 'membantu'!" gumam Lu Feng dalam hati, meski ia tidak bisa menampik bahwa kehangatan pelukan Yue Chan sedikit meruntuhkan egonya.

​Setelah beberapa menit yang terasa seperti selamanya bagi Lu Feng, ia akhirnya melepaskan pelukannya.

Tanpa berani menoleh lagi ke arah Yue Chan yang masih menangis, Lu Feng menarik kerah baju Jian Yi dan menyeretnya lari menuju jalan setapak menuruni gunung.

​"LARI, JIAN YI! LARI SEBELUM DIA BERUBAH PIKIRAN!" teriak Lu Feng panik.

​"Hahaha! Kenapa lari? Bukankah pelukannya hangat?" ejek Jian Yi sambil tertawa lepas, suaranya menggema di sepanjang lembah gunung.

​Di gerbang sekte, Yue Chan menatap punggung mereka yang menjauh hingga menghilang di balik kabut.

Ia menggenggam belati kayu kecil di dadanya, berjanji dalam hati bahwa ia akan menjadi wanita kuat untuk menyambut kepulangan suaminya kelak.

Perjalanan baru mereka benar-benar dimulai hari ini, dengan bekal koin emas yang melimpah dan sebuah pedang langit yang membawa beban cinta sejati.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

​𝗝𝗔𝗡𝗚𝗔𝗡 𝗟𝗨𝗣𝗔 𝗧𝗜𝗡𝗚𝗚𝗔𝗟𝗞𝗔𝗡 𝗝𝗘𝗝𝗔𝗞 𝗗𝗘𝗡𝗚𝗔𝗡 𝗟𝗜𝗞𝗘 𝗗𝗔𝗡 𝗦𝗨𝗕𝗖𝗥𝗜𝗕𝗘 ... 𝗛𝗘𝗛𝗘🏁

1
Nanik S
Lanjut terus
Agen One
UP nya santai dulu ya🙏
Agen One
😅
Agen One
🍗
Agen One
🔥🙏
Agen One
🙏
Agen One
👍🙏
Agen One
🚹🙏
Agen One
🤭🙏
Agen One
🙏
Agen One
/Smile/
Agen One
🙏
Agen One
😅
Agen One
🔥🍗
Agen One
👍🍗
Agen One
🚹🍗
Agen One
🍗
Agen One
🤭/Smile/
Agen One
😅🙏
Agen One
🔥🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!