"Keadilan di kota ini tidak ditegakkan, melainkan diperdebatkan dengan nyawa."
Bagi Dr. Saraswati, detektif psikolog jenius, semua kejahatan pasti tunduk pada logika dan akal sehat. Hingga "Sang Pembebas" muncul—pembunuh berantai misterius yang membantai para elit korup tanpa jejak, hanya menyisakan teka-teki berdarah yang mengejek hukum.
Di mata publik yang tertindas, pembunuh ini adalah pahlawan. Di mata hukum, ia monster anarkis.
Alih-alih bersembunyi, Sang Pembebas justru mengincar Saraswati. Melalui teror pesan chat rahasia, ia mengajak sang detektif bermain kucing-kucingan mematikan, menguliti trauma masa lalunya satu per satu.
Untuk menangkap entitas di luar nalar ini, Saraswati dihadapkan pada pilihan fatal: mempertahankan kewarasannya dan kalah, atau melepaskan logikanya untuk menyelami kegelapan pikiran sang pembunuh.
Siapa yang memburu, dan siapa yang sebenarnya sedang diburu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MUXDHIS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30 MATA SANG LEVIATHAN DAN ANOMALI LOGIKA
[08:00 AM] THE EYE, FASILITAS KECERDASAN BUATAN BAWAH TANAH, MENARA AEGIS
Empat puluh lantai di bawah jalanan metropolis yang dipenuhi tank dan pos pemeriksaan Aegis Vanguard, terdapat sebuah ruangan yang tidak ada dalam cetak biru resmi tata kota. Ruangan itu disebut The Eye (Sang Mata)—pusat saraf dari Proyek Panopticon.
Dr. Saraswati melangkah keluar dari lift berlapis timbal, mengenakan jas laboratorium putih di atas kemeja sutra hitamnya. Udara di ruangan itu didinginkan hingga lima belas derajat Celsius untuk menjaga kestabilan reaktor komputasi kuantum yang berdiri megah di tengah ruangan, menyerupai sebuah obelisk hitam yang berdenyut dengan pendaran cahaya biru es.
Saraswati menatap struktur raksasa itu. Michel Foucault, filsuf Prancis yang mengembangkan teori kekuasaan, mengartikan desain Panopticon abad ke-18 karya Jeremy Bentham sebagai metafora dari kontrol sosial modern. Dalam Panopticon fisik, tahanan ditempatkan di sel melingkar dengan menara pengawas di tengahnya. Karena tahanan tidak pernah tahu kapan pastinya mereka diawasi, mereka akhirnya menginternalisasi pengawasan tersebut dan mendisiplinkan diri mereka sendiri.
Namun, obelisk kuantum di hadapan Saraswati ini adalah evolusi fasisme yang jauh melampaui mimpi terburuk Foucault maupun Karl Marx.
Marx mengutuk kapitalisme karena menciptakan alienasi—keterasingan buruh dari produknya dan dari esensi kemanusiaannya. Di era digital Aegis Vanguard, alienasi ini telah mencapai bentuk mutlaknya: alienasi digital (digital alienation). Esensi manusia (Gattungswesen)—pikiran, ketakutan, preferensi, dan trauma masa lalu mereka—telah diekstraksi, direifikasi (dibendakan), dan diubah menjadi komoditas algoritma. Warga kota tidak lagi diawasi dari luar, jiwa mereka sedang dipetakan dari dalam. Obelisk hitam ini bukan sekadar mengawasi, ia memprediksi dan menghakimi.
Di sekeliling reaktor kuantum itu, belasan insinyur data dan teknisi sibuk mengetik di konsol mereka. Di antara mereka, Kepala Insinyur AI, Dr. Viktor, seorang pria paruh baya dengan arogansi teknokratis yang kental, sedang memarahi seorang analis junior.
"Kau salah mengkalibrasi parameternya!" bentak Viktor. "Sistem mendeteksi lonjakan detak jantung pada subjek uji coba dan langsung mengklasifikasikannya sebagai ancaman. Jika kita meluncurkan ini, sistem akan menangkap orang yang sedang berolahraga lari!"
"Karena algoritma Anda buta terhadap konteks psikologis, Dr. Viktor," suara Saraswati memotong kebisingan itu, datar, dingin, dan memancarkan otoritas absolut.
Semua mata menoleh padanya. Saraswati melangkah mendekati konsol utama. Seperti biasa, di dunia korporat yang didominasi patriarki, kedatangannya dipandang sebagai invasi Sang Liyan (objek) ke dalam ranah intelektual pria. Viktor mendengus, meremehkan gelar psikologi Saraswati di hadapan gelar teknik komputernya.
"Psikologi adalah ilmu abu-abu, Dr. Saraswati," ucap Viktor dengan nada merendahkan. "Mesin ini beroperasi dengan probabilitas biner. Satu dan nol. Kita tidak membutuhkan filosofi Freud di sini. Kita membutuhkan data mentah."
Saraswati tidak berdebat dengan emosi. Sesuai dengan strategi 'Perang Posisi' (War of Position) dari Antonio Gramsci, ia harus merebut hegemoni intelektual di ruangan ini untuk menanamkan pengaruhnya. Ia harus membuktikan bahwa sistem mereka rapuh tanpa dirinya.
"Satu dan nol hanya bisa membaca akibat, Viktor. Mereka tidak bisa membaca sebab," Saraswati mengambil alih layar holografik dari tangan teknisi di sebelah Viktor. Ia menampilkan arsitektur tripartit Sigmund Freud ke layar: Id (insting), Ego (realitas), dan Superego (moralitas).
"Kalian mencoba memprediksi kejahatan hanya dari biometrik fisik. Itu adalah logika yang cacat," jelas Saraswati, jari-jarinya menari di atas konsol, memasukkan formula psikoanalisis ke dalam pembelajaran mesin (machine learning) Panopticon. "Seorang calon pemberontak yang terlatih tidak akan menunjukkan lonjakan detak jantung. Mereka akan merepresi emosinya. Apa yang harus dicari oleh AI ini bukanlah agresi yang terlihat, melainkan kompulsi pengulangan (repetition compulsion)."
Saraswati menyilangkan lengannya, menatap para insinyur yang kini terdiam memperhatikannya.
"Ketika seseorang mengalami trauma akibat penindasan sistem—misalnya, buruh yang di-PHK massal atau keluarga yang digusur—Id mereka menyimpan rasa sakit itu," lanjutnya, membedah jiwa manusia untuk dikonsumsi mesin. "Jika mereka tidak bisa membalas dendam, mereka akan menunjukkan pola pengulangan bawah sadar: rute perjalanan yang secara konsisten melewati gedung pemerintahan, transaksi digital untuk bahan kimia rumah tangga tertentu, atau anomali waktu tidur. Panopticon tidak boleh mencari orang yang marah. Panopticon harus mencari anomali dari represi."
Viktor menatap layar yang kini memproses algoritma Saraswati. Tingkat akurasi prediksi ancaman dari simulasi sistem melonjak drastis dari 65% menjadi 98%. Fasad kesombongan sang kepala insinyur hancur. Ia baru saja disubjugasi secara intelektual oleh sang detektif.
Saraswati telah menjadi Subjek di ruangan ini. Namun, apa yang tidak Viktor ketahui adalah bahwa di balik barisan kode Freudian yang ia masukkan, logika Aristotelian Saraswati sedang membangun sebuah pintu belakang (backdoor) yang sangat mematikan.
Aristoteles meyakini asas non-kontradiksi—bahwa A tidak bisa menjadi A dan bukan A pada saat yang bersamaan. Saraswati memanipulasi hukum dasar ini ke dalam deep learning Panopticon. Ia menciptakan sebuah anomali logika. Jika sistem mendeteksi seseorang yang profil trauma Freudian-nya mencapai batas kritis (100% ancaman), tetapi orang tersebut memiliki jejak biometrik yang sepenuhnya tenang (sebuah kontradiksi absolut yang seharusnya mustahil secara biologis tanpa pelatihan khusus), AI tidak akan mengklasifikasikannya sebagai ancaman. Sebaliknya, AI akan mengalami Hayra—kebingungan algoritma—dan mengklasifikasikan data tersebut sebagai 'Sisa Nol' atau ketiadaan, lalu menghapusnya dari radar pengawasan.
Saraswati baru saja menanamkan titik buta (blind spot) ke dalam mata sang Leviathan. Sebuah titik buta yang kelak akan digunakan olehnya, dan oleh faksi revolusioner yang benar-benar siap.
[14:00 PM] UJIAN DARI SANG TIRAN
Berjam-jam Saraswati menyempurnakan algoritma tersebut, membungkus racunnya di dalam lapisan perlindungan yang terlihat sangat setia pada Aegis Vanguard. Perang Posisi membutuhkan kesabaran yang luar biasa, ia tidak boleh terlihat seperti pemberontak, ia harus menjadi arsitek penindasan itu sendiri hingga waktunya tiba.
Pintu utama The Eye bergeser terbuka. Orion melangkah masuk, diapit oleh dua orang penjaga elit. Di antara kedua penjaga itu, sesosok tubuh pria yang diborgol dan kepalanya ditutup kain hitam diseret dengan kasar.
Ruangan itu seketika hening. Para insinyur menundukkan kepala mereka, enggan menatap sang Direktur Operasi Eksekutif.
Orion berjalan mendekati Saraswati, memancarkan aura dominasi yang menyerap sisa oksigen di ruangan itu. "Kau terlihat sangat sibuk di hari pertamamu, Dokter. Apakah kau sudah selesai memberikan otak bagi monster baru kita?"
"Panopticon kini telah memahami anatomi keputusasaan manusia, Orion," jawab Saraswati tenang, berdiri sejajar dengan sang tiran. "Algoritma psikoanalisisnya sudah terintegrasi. Sistem ini tidak lagi hanya melihat angka, ia bisa melihat trauma."
"Sempurna," senyum dingin Orion mengembang. Ia memberi isyarat kepada para penjaga.
Penjaga itu melemparkan pria malang tersebut ke atas sebuah kursi observasi di dekat obelisk kuantum, dan menarik kain hitam dari kepalanya.
Pria itu berusia sekitar tiga puluhan, wajahnya memar dan rahangnya bengkak. Pakaiannya kotor oleh oli mesin dan debu pabrik. Ia adalah seorang kelas pekerja.
"Kenalkan, Subjek 88," Orion berjalan memutari kursi pria yang gemetar itu. "Dia adalah salah satu pemimpin serikat buruh dari fasilitas perakitan Sektor 8 yang diledakkan kemarin. Pasukanku menemukannya sedang bersembunyi di gorong-gorong. Kami menduga dia memiliki kontak langsung dengan faksi radikal Kala dan Maya. Sayangnya, interogasi fisik konvensional tidak membuahkan hasil. Dia menolak berbicara."
Orion berhenti, menatap Saraswati dengan mata abu-abu bajanya yang menembus hingga ke ulu hati.
"Aku ingin kau mendemonstrasikan hasil kerjamu, Dr. Saraswati," perintah Orion. "Hubungkan Subjek 88 ke antarmuka Panopticon. Biarkan AI membedah ingatannya, membaca Id-nya, dan melumpuhkan resistensi kognitifnya hingga ia memberikan lokasi persembunyian Kala."
Napas Saraswati tertahan di tenggorokan, namun ia tidak membiarkan satu otot wajah pun berkedut. Ini adalah ujian loyalitas. Orion tidak sepenuhnya mempercayainya. Jika Saraswati menolak, penyamarannya dalam 'Perang Posisi' ini akan hancur seketika, dan Aegis akan mengeksekusinya.
Tetapi jika ia melakukannya, ia harus membiarkan mesin yang baru saja ia kalibrasi untuk menyiksa pikiran seorang buruh yang tidak bersalah—sebuah tindakan objektivikasi yang sangat ditentang oleh moralitas eksistensialisnya.
"Protokol interogasi neural masih dalam tahap eksperimental, Orion," Saraswati mencoba menggunakan logika teknis untuk menunda. "Lonjakan frekuensi paksa ke korteks prefrontal bisa menyebabkan pendarahan otak. Kau tidak akan mendapatkan informasi, kau hanya akan mendapatkan mayat."
"Eksperimen membutuhkan pengorbanan, Dokter," jawab Orion tanpa belas kasihan. "Lakukan. Atau aku akan meminta Dr. Viktor untuk menekan tombolnya dengan konfigurasi yang jauh lebih kasar."
Saraswati menyadari ia tidak punya jalan keluar. Ia harus melangkah ke dalam rawa moralitas. Ia harus menjadi tiran untuk sesaat demi menyelamatkan masa depan.
"Pasang sensor biometriknya," perintah Saraswati kepada para penjaga, suaranya sedingin es.
[14:15 PM] DIALEKTIKA PENYIKSAAN DIGITAL
Para penjaga memasangkan sebuah helm berbentuk sangkar logam yang dipenuhi elektroda ke kepala Subjek 88. Pria itu meronta-ronta dan meludah.
"Kalian semua monster!" teriak buruh itu, matanya dipenuhi amarah proletar yang tulus. "Kalian menghisap darah kami di pabrik, dan sekarang kalian mau menghisap pikiran kami?! Kalian tidak akan pernah menghentikan revolusi ini!"
Saraswati tidak merespons. Ia berbalik menuju konsol utama, jarinya berada di atas panel layar sentuh. Ia memanggil program Cognitive Purge (Pembersihan Kognitif). Program ini dirancang menggunakan frekuensi sonik dan stimulasi visual stroboskopik untuk meruntuhkan dinding pertahanan psikologis subjek, menginduksi keadaan setengah sadar di mana rahasia terdalam akan keluar dengan sendirinya.
Dalam hati, Saraswati mengutuk. Ia harus menyelamatkan pria ini tanpa terlihat menyelamatkannya.
Ia memfokuskan pikirannya, menggunakan kejeniusan Aristoteliannya untuk memanipulasi Sebab Efisien (gelombang frekuensi). Alih-alih mengirimkan gelombang beta yang merusak secara agresif, Saraswati secara diam-diam membelokkan algoritma itu untuk memancarkan gelombang theta yang menenangkan saraf, dikombinasikan dengan sebuah frekuensi akustik khusus yang meniru ritme deep sleep (tidur nyenyak terdalam).
Namun, agar Orion tidak curiga, efek fisiknya harus terlihat mengerikan.
"Memulai urutan Panopticon," lapor Saraswati, dan ia menekan tombol Enter.
Obelisk kuantum itu berdengung keras. Lampu di The Eye meredup.
Subjek 88 seketika menegang. Matanya melotot lebar saat elektroda itu mengirimkan impuls listrik mikro ke kulit kepalanya. Ia menjerit tertahan, sebuah jeritan yang mengoyak kesunyian ruang bawah tanah itu. Otot-ototnya mengejang keras melawan borgol baja.
Orion menatap proses itu dengan senyum kepuasan yang sadis. Ia sedang melihat penundukan manusia secara mutlak. Manusia tidak lagi disiksa fisiknya, melainkan diretas jiwanya.
Saraswati menatap layar monitor. Ia memantau gelombang otak pria itu. Ia sedang mendorong pria itu ke dalam Hayra—kebingungan sesaat yang akan mengamankan rahasianya di balik tabir ketidaksadaran. Pria itu tidak disiksa, otaknya sedang dipaksa untuk mematikan dirinya sendiri (shutdown) demi melindunginya dari rasa sakit.
"Koordinat... di mana Sang Pembebas bersembunyi?" tanya Orion kepada pria yang sedang mengejang itu.
"Distrik... distrik..." Subjek 88 menggumam, air liur menetes dari sudut bibirnya, matanya mulai berputar ke atas. "Api... semuanya... terbakar..."
Pria itu sedang mengalami disosiasi. Ia tidak memberikan fakta, melainkan hanya mengulang ingatan traumatis tentang pabrik yang meledak. Ia tidak tahu apa-apa tentang lokasi Kala. Buruh ini benar-benar tidak bersalah, ia hanyalah pion yang ditinggalkan Kala dalam permainannya.
"Naikkan intensitasnya, Dokter!" perintah Orion, tidak puas dengan jawaban yang tidak koheren itu.
"Jika aku menaikkannya, sinapsisnya akan terputus permanen!" balas Saraswati.
"LAKUKAN!" bentak sang Leviathan, membuang topeng kesopanannya.
Saraswati tidak memiliki pilihan. Jika ia menolak, penyamarannya hancur. Ia menggeser tuas digital di layarnya, namun dengan jari manisnya, ia secara diam-diam mengaktifkan 'Sisa Nol'—anomali logika yang ia tanamkan sebelumnya.
Sistem mendeteksi lonjakan stres buatan yang dimasukkan Saraswati, bertabrakan dengan biometrik deep sleep pria itu. Paradoks tercipta di dalam otak mesin kuantum.
Dalam hitungan detik, mesin itu memutuskan bahwa subjek tidak valid. Aliran listrik terputus secara otomatis.
Subjek 88 terkulai lemas di kursinya, kehilangan kesadaran sepenuhnya. Napasnya dangkal namun teratur. Ia telah memasuki kondisi pingsan yang dalam (sinkop), melindunginya dari kerusakan otak lebih lanjut.
Orion mendecakkan lidahnya dengan kesal. "Dia kehilangan kesadaran sebelum kita mendapatkan koordinatnya."
"Egonya hancur, Orion," Saraswati memutar tubuhnya, memasang wajah analitis yang dingin, menyembunyikan kelegaan yang membasuh jiwanya. "Dia bukan bagian dari rantai komando Kala. Dia hanya buruh rendahan yang kebetulan selamat. Pikiran bawah sadarnya tidak menyimpan data apa pun selain trauma pabrik itu. Dia tidak berguna bagi kita."
Orion berjalan mendekati pria yang pingsan itu, menatapnya dengan rasa jijik, lalu menoleh ke Saraswati.
Tatapan Orion tidak lagi penuh kemarahan. Sebaliknya, ia melihat ke arah layar monitor yang dipenuhi metrik psikoanalisis rumit yang baru saja dieksekusi oleh Saraswati. Ia melihat kekuatan sistem yang baru saja dibangun oleh sang detektif.
"Luar biasa," bisik Orion, kembali ke fasad Apollonian-nya yang terkendali. "Kau berhasil membongkar arsitektur pikirannya hanya dalam hitungan detik. Dengan beberapa penyempurnaan, Panopticon akan menjadi dewa yang maha tahu bagi kota ini. Kau telah membangun sebuah mahakarya, Dr. Saraswati."
"Aku hanya memberikan mesin ini kacamata untuk melihat," jawab Saraswati.
"Singkirkan sampah ini," perintah Orion kepada para penjaga. "Masukkan dia ke fasilitas rehabilitasi kimiawi."
Para penjaga melepaskan helm elektroda dari Subjek 88 dan menyeret tubuhnya yang lemas keluar dari ruangan. Saraswati tahu pria itu akan bertahan hidup. Ingatannya utuh. Ia telah menyelamatkan satu nyawa lagi dari mulut sang Leviathan, melalui manipulasi dari dalam.
[15:00 PM] PANTULAN DARI KETIADAAN
Setelah Orion dan rombongannya pergi, Saraswati berdiri sendirian di depan reaktor kuantum Panopticon yang berdenyut pelan.
Udara dingin di The Eye tidak lagi mengganggunya. Ia menatap pantulan wajahnya di kaca hitam obelisk tersebut.
Simone de Beauvoir menulis bahwa tindakan yang bermoral dalam dunia yang absurd sering kali mengharuskan kita untuk mengotori tangan kita. Saraswati menyadari bahwa ia baru saja menyiksa seorang manusia untuk membuktikan kesetiaannya pada tiran, bahkan jika itu adalah penyiksaan yang dikendalikan. Garis batas antara dirinya dan monster yang ia perangi semakin tipis.
Ia memejamkan matanya, merasakan beban dari 'Perang Posisi' ini. Menghancurkan struktur hegemoni kapitalis dari dalam mengharuskan seseorang untuk mengenakan kulit sang penindas.
Tiba-tiba, layar konsol di depannya berkedip cepat. Sebuah pesan teks terenkripsi muncul di monitor, menerobos dinding api (firewall) Aegis Vanguard dengan mudahnya.
Pesan itu hanya berisi satu kalimat.
Menyiksa kaum proletar untuk menyenangkan majikan barumu? Sangat mengecewakan, Saraswati.
Saraswati membuka matanya lebar-lebar. Jantungnya berdetak kencang.
Kala. Sang Pembebas tidak hanya hidup dan berada di luar sana. Kala sedang mengawasinya. Bahkan di jantung keamanan terdalam Aegis Vanguard, mata anarkis itu berhasil mengintip ke dalam.
Saraswati menyentuh keyboard, menghapus pesan itu tanpa jejak.
Labirin ini semakin rapat. Di satu sisi, Orion bersiap untuk meluncurkan dewa digital yang akan memenjarakan jutaan pikiran. Di sisi lain, Kala bersiap untuk menghancurkan segalanya dengan badai Dionysian. Dan di tengah-tengah benturan dua kiamat tersebut, Saraswati harus bertindak sebagai sang arsitek yang akan memastikan kedua raksasa itu saling membunuh, sebelum umat manusia menjadi korbannya.
Perang ideologi ini baru saja menelan kemurnian jiwanya, namun sang detektif perempuan itu tidak akan pernah mundur.