NovelToon NovelToon
Transmigrasi Menjadi Bocah

Transmigrasi Menjadi Bocah

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Transmigrasi / Romansa Fantasi
Popularitas:34.8k
Nilai: 5
Nama Author: Senja

Alena Alexandria, sang hacker jenius yang ditakuti dunia bawah tanah, tewas mengenaskan dalam pengejaran maut.

Bukannya menuju keabadian, jiwanya justru terlempar ke dalam tubuh mungil seorang bocah terlantar berusia lima tahun.

​Sialnya, yang menemukan Alena adalah Luca, remaja 17 tahun berhati es, putra dari seorang mafia dari klan Frederick.

​"Jangan bergerak atau aku akan menembakmu," desis Luca dingin sambil menodongkan senjata ke arah bocah itu.

"Ampun, Om. Maafkan Queen," ucapnya, mendongak dengan mata berkaca-kaca.

"Om?"

Dapatkah Alena bertahan hidup sebagai bocah kesayangan di sarang mafia, ataukah Luca akan menyadari bahwa bocah di pelukannya adalah ancaman terbesar yang pernah masuk ke kediaman Frederick?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 27

"Apa-apaan ini?!" Sean mematung di ambang pintu. Matanya melotot dan nyaris keluar. Sementara rahangnya tertutup rapat hingga urat-urat di lehernya menonjol.

Ia baru saja meninggalkan kamar itu selama satu jam untuk memantau situasi di luar, namun pemandangan di hadapannya saat ini jauh lebih mengerikan daripada serangan fajar mana pun.

Kamar mewah yang tadinya tertata rapi kini sudah tak berbentuk. Terlihat persis seperti kapal pecah yang dihantam badai.

Gorden terkoyak, bantal-bantal bulu angsa robek hingga isinya berhamburan seperti salju di tengah ruangan dan yang paling membuat Sean ingin berteriak adalah dindingnya. Penuh dengan coretan.

"Astaga! Iblis kecil, apa yang sudah kau lakukan dengan kamar ini?!" pekiknya dengan suara serak menahan amarah.

Queen, yang sedang asyik memegang krayon hitam dan mencoret-coret dinding marmer dengan simbol-simbol aneh pun menoleh.

Bukannya merasa bersalah atau ketakutan, ia malah nyengir lebar sembari melambaikan tangan mungilnya yang penuh noda krayon.

"Halo, paman pahat?" sapanya ringan.

"Paman jahat?!" Amarah dalam dada Sean seolah meledak mendengar panggilan itu. "Sejahat apa aku sampai keponakanku sendiri memanggilku begitu?!" gumamnya.

Sean maju selangkah, napasnya memburu. Namun, langkahnya terhenti saat ia teringat satu hal.

Ah, ya. Sean lupa. Ia pernah mencoba membuang Queen ke laut, ia pernah mengurungnya dan ia sedang mencoba merampok harta warisan anak ini.

Jelas saja Queen mengingat semuanya. Ingatan seorang jenius tidak bisa diremehkan, meski usianya masih lima tahun.

Sean menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan, mencoba mengumpulkan sisa-sisa kewarasannya. Ia butuh kerja sama anak ini, bukan

pemberontakan.

"Bereskan!" titah Sean dengan suara dingin yang berusaha ia buat se datar mungkin.

"Tidak mau! Queen tidak akan membereskan apa pun!"

Bocah itu memalingkan wajah dengan angkuh, melipat kedua tangan kecilnya di depan dada.

Sean terpaku. Apa-apaan bocah ini? Ngambek padanya? Apa Queen pikir dia terlihat menggemaskan dengan pipi yang menggembung seperti itu? Tidak sama sekali!

Baginya, Queen tetaplah sebuah brankas berjalan yang sulit dibuka.

Alena, yang berada di dalam tubuh Queen, sebenarnya merasa sangat geli dengan sikapnya ini. Ia tidak tahu kenapa insting tubuh bocah ini sering kali mengambil alih.

Jiwa dewasanya berteriak bahwa ini konyol, tapi tubuh lima tahun ini justru sangat menikmati drama balita merajuk.

Grep!

Secara tidak terduga, Sean bergerak cepat. Ia sudah berlutut di hadapan Queen, menyentuh kedua pundak kecil itu dengan lembut namun tegas agar Queen terpaksa menatap matanya.

"Maafkan, Paman."

Suasana mendadak sunyi senyap. Bak petir menyambar di siang bolong, Queen merasa dunianya berputar.

Apa telinganya tidak salah dengar? Seorang Sean Harley yang haus darah dan gila kekuasaan, meminta maaf?

Setelah ini, Queen yakin ayam jantan di seluruh dunia akan berhenti berkokok karena kiamat kecil baru saja terjadi.

Sean menatap mata Queen dengan tatapan yang dipaksakan menjadi lembut. Sorot matanya yang biasanya penuh tipu daya kini terlihat redup, mencoba membangun kembali jembatan kekeluargaan yang sudah ia bakar sendiri.

Queen menelan ludah dengan susah payah.

Dia ini kenapa tiba-tiba lembut begini? Jangan-jangan dia sedang berusaha merayuku? pikir Alena waspada.

Jiwa dewasanya tetap curiga, namun anehnya, jantung tubuh Queen ini berdebar tak karuan berada sedekat ini dengan wajah Sean yang rupawan namun licik.

Sean merasa keponakannya mulai luluh karena ia melihat Queen hanya terdiam. Ia merasa inilah saatnya untuk menyegel kesepakatan mereka dengan sebuah simbol kasih sayang palsu.

Sean perlahan mencondongkan tubuhnya ke depan. Ia bermaksud mengecup kening Queen untuk menunjukkan bahwa ia sangat menyayangi Queen.

Bibir Sean sudah hampir menyentuh dahi Queen dan...

Dugh!

"Argh, shit!" Sean mengerang kesakitan. Suaranya melengking hingga terdengar ke luar.

Ia memegangi dahinya yang baru saja dihantam dengan sundulan kepala Queen yang luar biasa keras. Queen tidak sekedar menyundul, ia menggunakan seluruh tenaganya untuk menubruk kening Sean dengan bagian depan kepalanya yang keras.

"Jangan dekat-dekat, apalagi sentuh Queen! Paman jahat bau bangkai!" seru Queen sambil melompat turun dari kursi, menjauh dari Sean yang kini terduduk di lantai sambil meringis kesakitan.

Sean memegangi dahinya yang berdenyut hebat. Ia merasa bintang-bintang berputar di atas kepalanya.

"Kau... kau bocah kurang ajar! Aku baru saja mencoba berbuat baik padamu!"

"Queen tidak butuh kebaikan dari Paman!" teriak Queen dari balik meja. "Queen mau pulang ke tempat Luca! Luca baunya enak, tidak seperti Paman yang baunya seperti bau busuk ambisi!"

Sean menggeram, mencoba berdiri meski kepalanya masih pusing dan berputar-putar.

"Luca tidak akan datang menjemputmu. Dia sudah menyerah. Sekarang, berikan kode enkripsi itu atau aku akan benar-benar menjadi paman jahat yang selama ini kau panggil!"

Queen menyeringai kecil, tangannya diam-diam meraba kabel lampu tidur yang sudah ia kupas kulitnya sejak tadi.

"Kalau begitu, ayo kita main, Paman. Queen baru saja meretas sistem pendingin ruangan di mansion ini. Dalam lima menit, Paman akan merasa seperti berada di kutub utara."

Sean menatap panel kontrol di dinding yang mendadak mengeluarkan bunga api. Ia sadar, merayu Queen tidak akan berhasil. Bocah ini bukan lagi mangsa, melainkan pemburu dalam wujud anak kecil.

"Sial! Aku harus menggunakan cara halus untuk mendapatkan hatinya," gumam Sean ketar ketir.

1
Tiara Bella
wow Luca KY anak remaja lg LG jatuh cinta ya.....makasih Thor up nya triple.....
Ipehmom Rianrafa
lnjuut 💪💪💪
Maria Hedwig Roning
thnks thor ceritanya sangat menarik...
Senja: Terima kasih kakaku, 🙏🙏
total 1 replies
Murni Dewita
double up donk thor
Senja: Heheh, udah triple up hari ini kak🤭 besok ya up seperti biasa 3bab
total 1 replies
partini
good
partini
luca lagi semedi kah Thor
Senja: Hooohh
total 1 replies
Ipehmom Rianrafa
lnjuut 💪💪💪
Senja: Siappp
total 1 replies
Ita Xiaomi
Aku jg mau kue gosongnya 😁
Ita Xiaomi
🤣🤣🤣.
Evi Marena
wkwkwkwwkk
ternyata Sean juga manusia biasa😌
Ipehmom Rianrafa
lnjuut 💪💪💪
Kinara Widya
atau jangan2 Edgar dulu yg mencelakai orang tua queen....bakal ribet ni klo benar Edgar...
Ita Xiaomi: Berharap bukan Edgar. Kasihan nanti Sean, Queen ama Luca.
total 1 replies
Tiara Bella
wow Sean sangat mengharukan ...
Ipehmom Rianrafa
lnjuut 💪💪💪
tinie
mulut naga katanya🥺😁😄
Ita Xiaomi
Sama aja kalian berdua tuh kan sama-sama baru belajar tentang kehangatan 😁.
Ita Xiaomi
Sabar Luca. Ini Sean lg belajar menjd hangat😁. Ndak boleh panas.
Ita Xiaomi
Msh mencerna😁
Senja: Wkwkw😭
total 1 replies
Tiara Bella
wah Sean ngerjain Luca ternyata bisa Luca LBH sabar lg
Tiara Bella
cie....merindukan ktnya....Queen msh kecil Luca.....😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!