NovelToon NovelToon
Pria Yang Seharusnya Tidak Ada

Pria Yang Seharusnya Tidak Ada

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Action / Romantis
Popularitas:8.3k
Nilai: 5
Nama Author: Bang Chitholl

Di dunia yang dikendalikan elite global, Rafael Alkava tumbuh sebagai anak buangan yang seharusnya tidak pernah hidup. Tanpa mengetahui asal-usulnya, ia bangkit dari kemiskinan, menaklukkan dunia trading, dan berangkat ke Amerika demi mencari kebenaran tentang dirinya.
Namun langkahnya justru menyeret Rafael ke dalam konflik mafia internasional, konspirasi negara, dan organisasi bayangan yang menguasai dunia dari kegelapan. Perlahan, ia menyadari bahwa hidupnya adalah bagian dari perang lama yang belum pernah berakhir.
Ketika semua rahasia terbuka, satu pertarungan mematikan mengubah segalanya.
Rafael Alkava dinyatakan mati.
Tapi di balik kematian itu, sesuatu justru mulai terbangun—
dan dunia akan segera tahu bahwa kesalahan terbesar mereka adalah membiarkannya hidup.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Chitholl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Back To Home

Ballroom Elysium Medical Institute – Setelah Konferensi.

Begitu Daniel mengumumkan penutupan, chaos terkontrol dimulai.

Wartawan berlarian mencari angle untuk wawancara tambahan.

Kamera-kamera bergerak cepat untuk mengambil B-roll.

Orang-orang VIP mendekati panggung untuk berbicara langsung dengan Daniel dan Rafael.

Tapi security sudah siap. Mereka membentuk barrier—memastikan Rafael punya ruang untuk bernafas.

Rafael turun dari panggung, langsung dihampiri oleh orang-orang yang paling penting dalam hidupnya.

Kimberly sampai pertama—tidak peduli dengan protokol atau etika. Dia langsung memeluk Rafael dengan erat—pelukan yang penuh dengan relief, dengan happiness yang meluap.

"Kamu melakukannya," bisiknya di telinga Rafael.

"Kamu benar-benar melakukannya."

Rafael tersenyum, menepuk punggung Kimberly pelan. "Kita melakukannya."

Seraph datang berikutnya—tidak memeluk, tapi menggenggam tangan Rafael dengan erat.

"Welcome back, boss."

Aurelia hanya mengangguk—tapi nod itu lebih bermakna dari ribuan kata.

Ryzen, Zen, Kael, Draven, Adrian—mereka semua berdiri dalam formasi yang loose tapi protective. Melindungi Rafael dari crowd yang mulai mendekat.

Alvin berhasil menembus security dengan menunjukkan ID VIP-nya. Dia menghampiri Rafael dengan senyum lebar.

"Rafael!" teriaknya.

"Holy shit, man. Lo benaran masih hidup!"

Rafael tertawa—genuine laugh.

"Surprise."

Mereka berpelukan—pelukan singkat tapi kuat antara dua sahabat yang sudah melewati banyak hal bersama.

Williams datang berikutnya, lebih tenang tapi sama antusiasnya.

"Good to see you again, Raf."

"You too, Will."

Tapi kemudian Rafael melihat seseorang yang sangat penting.

***

Dia melewati semua orang, berjalan langsung ke Daniel yang berdiri di pojok panggung dengan tim medisnya.

Daniel melihat Rafael mendekat. Dia tersenyum tipis—lelah tapi puas.

Rafael berhenti di depan Daniel. Lalu dia melakukan sesuatu yang membuat semua orang terdiam.

Dia menundukkan kepalanya—bow yang dalam, yang penuh dengan hormat dan gratitude.

"Terima kasih," kata Rafael. Suaranya pelan tapi jelas terdengar.

"Terima kasih sudah memberikan saya kesempatan untuk kembali hidup."

Daniel terdiam. Dia tidak expect ini. Tidak expect Rafael—founder AGE, trader jenius, leader dari The Deadly Seven Sins—menundukkan kepala padanya.

"Rafael," kata Daniel sambil memegang bahu Rafael, membuat dia mengangkat kepala.

"Kamu nggak perlu—"

"Aku perlu," potong Rafael.

Mata kelamnya menatap langsung ke mata Daniel.

"Tanpa perjuanganmu, aku tidak akan ada di sini. Aku berutang nyawa padamu."

Daniel merasakan sesuatu menghangatkan dadanya. Semua kelelahan tiga bulan—semua kegagalan, semua malam tanpa tidur, semua keraguan—semua itu terbayar dalam moment ini.

"Kamu tidak berutang apapun," kata Daniel.

"Kita teman kan? Dan menyelamatkan teman adalah hal yang natural."

Rafael tersenyum. "Tapi tetap—aku akan membayar hutang ini suatu hari nanti."

Daniel tertawa kecil. "Sebenarnya, ada satu hal yang gue harapkan."

"Apa?"

"Suatu hari," kata Daniel sambil menatap Rafael dengan serius,

"gue mau dipanggil oleh AGE. Untuk menjadi salah satu direktur di sana. Divisi Healthcare atau Medical Research—gue nggak peduli. Gue hanya ingin berkontribusi untuk sesuatu yang lebih besar."

Rafael tidak langsung menjawab. Dia menatap Daniel dengan pandangan yang calculating—menimbang, mengevaluasi.

Lalu dia tersenyum.

"Gue pasti akan panggil lo suatu hari nanti," kata Rafael.

"Tunggu sebentar lagi. Tunggu sampai gue benar-benar kembali ke AGE. Tunggu sampai gue siap membuat divisi baru yang worthy untuk talent lo."

Daniel mengangguk—puas dengan jawaban itu.

Rafael berbalik. Dia melihat teman-temannya berdiri di sana—menunggu dia. Kimberly, Ryzen, Zen, Kael, Draven, Adrian, Seraph, Aurelia.

Keluarga.

Dia tersenyum—senyum yang genuine, yang warm—lalu berjalan menghampiri mereka.

"Ayo," katanya.

"Kita keluar dari sini."

***

Parkiran Elysium Medical Institute – Matahari Sore.

Mereka keluar dari gedung melalui exit samping—menghindari media yang masih berkumpul di pintu depan. Security mengawal mereka sampai ke parkiran VIP.

Deretan mobil super car terparkir rapi—semuanya dengan warna yang eye-catching, dengan design yang meneriakkan kekuatan dan kecepatan.

Kimberly berjalan ke BMW i8-nya yang putih—pintu gullwing terbuka ke atas dengan motion yang elegant.

"Lo naik sama gue," katanya ke Rafael.

Rafael mengangguk. Dia masuk ke passenger seat—interior leather yang premium, dashboard digital yang futuristic.

Kimberly masuk ke driver seat, menyalakan mesin dengan bunyi dengung halus khas hybrid.

Ryzen dan Zen berjalan ke Bugatti Mistral Roadster mereka—hypercar berwarna abu-abu metalik dengan garis-garis yang aggressive. Zen masuk ke driver seat—dia yang selalu mengendarai saat mereka berdua. Ryzen masuk ke passenger seat dengan gerakan yang lazy tapi smooth.

Kael berjalan sendirian ke Apollo Intensa Emozione-nya—supercar Italia dengan design yang terlihat seperti pesawat jet yang dipotong setengah. Warna hitam matte dengan accent merah di spoiler. Dia masuk dengan movement yang efficient, menyalakan mesin V12 yang mengaum keras.

Seraph melangkah ke Lamborghini Aventador SVJ-nya yang merah menyala—pintu scissor terbuka ke atas. Dia masuk dengan gerakan yang graceful meskipun memakai heels tinggi. Mesin V12 roar to life—suara yang membuat orang-orang di parkiran menoleh.

Aurelia berjalan ke Corvette ZR1-nya yang berwarna biru elektrik—American muscle car dengan power yang insane. Dia masuk, menyalakan mesin dengan bunyi yang deep dan menggeram.

Draven dan Adrian—berjalan ke Jeep Gladiator JT mereka yang berwarna hitam. Modified dengan lift kit, ban off-road besar, bumper reinforced. Draven naik ke driver seat—satu-satunya yang cukup kuat untuk mengontrol monster ini. Adrian naik ke passenger seat dengan senyum lebar.

Mereka semua sudah di dalam mobil masing-masing.

Kimberly melihat ke kaca spion—melihat deretan mobil di belakangnya. Lalu dia menatap Rafael.

"Ready?" tanyanya.

Rafael menatap ke depan—ke jalan yang akan membawa mereka keluar dari rumah sakit ini, keluar dari chapter kehidupannya yang penuh dengan kegelapan.

"Ready," jawabnya.

***

Kimberly menginjak gas. BMW i8 meluncur maju dengan akselerasi yang smooth. Satu per satu, mobil-mobil lainnya mengikuti.

Ryzen dan Zen di Bugatti—bergerak dengan kecepatan yang controlled tapi powerful.

Kael di Apollo—menjaga jarak yang perfect, tidak terlalu dekat tidak terlalu jauh.

Seraph di Lamborghini—melaju dengan style yang flamboyant.

Aurelia di Corvette—aggressive tapi tetap precise.

Draven dan Adrian di Jeep—menutup formasi dari belakang, menjadi guardian terakhir.

Mereka keluar dari parkiran rumah sakit.

Keluar ke jalanan Manhattan yang ramai—tapi entah kenapa, jalanan terlihat memberi jalan untuk konvoi mereka.

Matahari sore menerangi kota dengan cahaya keemasan. Gedung-gedung pencakar langit bersinar seperti kristal. Langit biru dengan sedikit awan putih.

Perfect day.

***

Di dalam BMW, Rafael menatap keluar jendela—melihat kota yang terus bergerak, kehidupan yang terus berjalan.

"Kemana kita pergi?" tanyanya.

Kimberly tersenyum—senyum yang misterius.

"Mansion pinggiran kota," jawabnya.

"Tempat dimana semuanya dimulai. Tempat dimana kita akan membicarakan langkah selanjutnya."

Rafael mengangguk. Dia menatap kaca spion samping—melihat mobil-mobil teman-temannya yang mengikuti dari belakang.

Keluarga.

Tim.

The Deadly Seven Sins.

Dan untuk pertama kalinya dalam enam bulan—mereka lengkap lagi.

Konvoi melaju meninggalkan Manhattan—menuju ke pinggiran kota, menuju ke mansion yang menyimpan banyak kenangan, menuju ke chapter baru yang akan mereka tulis bersama.

Di langit, matahari perlahan turun—tapi bukan dengan kegelapan yang menakutkan.

Ini adalah sunset yang indah.

Sunset yang menandai akhir dari satu chapter.

Dan awal dari chapter yang jauh lebih besar.

Rafael Alkava kembali ke dunia.

Dan dunia—dunia belum siap untuk apa yang akan dia lakukan selanjutnya.

***

BERSAMBUNG...

1
Danil Septia n
lanjut thor
Arlen Mirza
lanjut Thor
Kurniawan Wawan
🥺🥺🥺
My Name Is Koplo
panjangin lagi min, nanti gua ngambek
ricky hayathe
mantap. lanjutin jga anak nya si rafael thot
mielle
keren bgt kalimatnya 😍
Bang Chitholl: makasih loh ya🙏
total 1 replies
ricky hayathe
smangat thorr
Arlen Mirza
dikit banget gila
Dandung Lamase
taek dikit bngtttt🤣
ricky hayathe
gacorrr
Arlen Mirza
kek terlalu dikit Thor
KIMI
mana nih
Bang Chitholl: apanya?
total 1 replies
Rifqi Ilham
Lanjutt thorr, jangan nanggung
KIMI: mn nih
total 1 replies
Arlen Mirza
dikit banget thorr
Bang Chitholl
buset dah kenapa pada ngamuk cok 🤣
Michael Bangun
kambing lah
KIMI
monyet lh Thor🤣🤣
Dandung Lamase
chitol taek suka bngt gantungggg🤣
My Name Is Koplo
yang panjang thor
Kurniawan Wawan
lanjut thor😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!