Siapa bilang setiap manusia diberi kesempatan merasakan kebahagiaan? Tidak semua orang seberuntung itu—dan gadis ini adalah buktinya. Dia dikenal banyak orang, bukan karena status, kecerdasan, atau keahliannya, melainkan karena kemalangannya yang seakan tak berujung. Hidupnya penuh caci maki, dan di setiap langkahnya, dia terus mengutuk dunia serta takdir yang menjeratnya.
Hingga suatu hari, seseorang muncul mengaku berasal dari dunia lain dan menawarkan bantuan untuk menghapus takdir terkutuknya. Namun, benarkah kebahagiaan masih mungkin untuknya? Ataukah ini hanya awal dari penderitaan baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VanGenZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pria Misterius
Elenna berdiri beberapa saat sebelum akhirnya memutuskan pulang. Ia berjalan melewati sisi paviliun, menyusuri lorong batu yang mengarah ke pintu samping istana. Bayangan dedaunan bergoyang di atas lantai batu, cahaya sore menyusup di sela cabang pohon cemara tua yang berdiri kokoh di sisi jalur.
Langkahnya terhenti. Di bawah pohon itu, seseorang berdiri membelakanginya. Pakaian bangsawan, atau setidaknya kainnya terlalu bagus untuk seorang pelayan biasa. Namun, tidak ada lambang keluarga. Tidak ada mahkota. Jubah gelapnya sederhana, jatuh rapi tanpa ornamen mencolok.
Rambutnya pirang. Bukan pirang pucat biasa, melainkan keemasan hangat yang tertimpa cahaya sore. Helaian-helaian halusnya tersapu angin, bergerak lembut seperti kilau gandum matang.
Ia sedang berjongkok, dan di tangannya terdapat makhluk berbulu perak.
Jantung Elenna berdesir. "Bukankah itu kucing yang kutemui tadi?" batinnya
Anak kucing itu duduk nyaman di pangkuannya. Seolah tidak pernah menghilang. Seolah tadi bukan misteri.
Pria itu mengangkat wajahnya perlahan, seperti sudah tahu ia sedang diperhatikan.
Sepasang mata emerald menyambutnya.
Hijau pekat. Jernih. Tenang.
Bukan mata yang menilai. Bukan mata yang menguji. Hanya… melihat. Ia tersenyum tipis.
“Ah,” ucapnya ringan. “Jadi kau yang menemukannya lebih dulu.”
Suaranya tidak tinggi. Tidak berat. Namun, ada nada kehangatan yang tidak dibuat-buat. Elenna mendekat perlahan, masih menjaga jarak yang pantas.
“Itu… kucing Anda?”
Pria itu mengusap kepala kecil berbulu perak itu dengan dua jari.
“Kurasa tidak ada yang benar-benar bisa memiliki makhluk ini,” katanya santai. “Ia hanya memilih siapa yang ingin ia dekati.”
Seolah menguatkan ucapannya, kucing itu melompat turun. Ia berjalan ke arah Elenna, tanpa ragu, dan kembali menggosokkan tubuh kecilnya ke ujung gaun Elenna.
Pria itu mengamati dengan minat tulus.
“Menarik,” gumamnya pelan.
Elenna berjongkok sedikit, membiarkan kucing itu naik lagi ke pangkuannya.
“Dia tiba-tiba menghilang tadi,” katanya tanpa sadar berbagi. “Saya pikir saya hanya berhalusinasi.”
“Dia memang seperti itu,” jawab pria itu ringan. “Muncul ketika ingin. Pergi ketika cukup.”
“Seperti bangsawan,” Elenna bergumam tanpa berpikir.
Pria itu terdiam sepersekian detik.
Lalu tertawa pelan.
“Pengamatan yang berani.”
Elenna langsung menyadari apa yang ia ucapkan dan sedikit menunduk. “Maaf. Itu tidak sopan.”
“Tidak,” ia menggeleng ringan. “Itu jujur.”
Ada sesuatu dalam caranya berbicara, ia tidak menekan. Tidak menggurui. Tidak memanfaatkan posisi.
Elenna mengangkat pandangannya lagi.
“Apakah Anda penjaga taman?"
Pria itu berdiri tegak, tetapi tidak terlihat kaku.
“Kurasa kau bisa menyebutku pengawal,” jawabnya santai.
“Pengawal?” Elenna mengamati pakaiannya. “Anda tidak terlihat seperti sedang bertugas di kerajaan ini."
“Justru karena itulah aku bisa bernapas,” ia tersenyum kecil.
Jawaban yang aneh, sulit dimengerti. Namun, tidak terasa mengancam.
“Apakah Anda sering berbicara dengan orang asing di taman?” tanya Elenna.
“Hanya dengan orang yang tampak tidak ingin mendapatkan sesuatu dariku.”
Kalimat itu membuatnya terdiam.
Ia tidak tahu harus merasa tersanjung atau bingung, pria itu sungguh aneh.
Pria itu melanjutkan, lebih lembut, “Sebagian besar orang berbicara dengan tujuan. Kau… tidak.”
Elenna menunduk sedikit, membelai kucing di pangkuannya.
“Saya tidak tahu bagaimana cara berbicara untuk mendapatkan sesuatu.”
“Beruntung sekali.”
Nada suaranya terdengar sungguh-sungguh.
Keheningan turun beberapa saat di antara mereka, tetapi bukan hening yang canggung. Lebih seperti ruang kosong yang nyaman untuk diisi kapan saja.
“Kau tidak menikmati berada di istana kekaisaran,” katanya tiba-tiba.
Elenna menatapnya.
“Bagaimana Anda tahu?”
“Kau berjalan menjauh seperti seseorang yang sedang melarikan diri.”
Ia tidak terdengar mengejek. Hanya mengamati.
Elenna menghela napas kecil.
“Saya tidak pandai bergaul ketika sedang berada di tempat yang terlalu ramai."
“Kenapa? Apakah karena mereka menilai?”
“Karena mereka selalu melihat sesuatu yang bukan diri saya.”
Elenna tidak tahu mengapa ia mengatakannya kepada orang yang baru ia temui, tetapi kalimat itu keluar begitu saja dari mulutnya. Seolah tidak bisa terkontrol.
Pria itu tidak langsung menjawab. Ia memperhatikannya dengan saksama, bukan seperti Isabella yang menilai, bukan seperti bangsawan lain yang menimbang posisinya.
Tatapannya terlihat melembut.
“Dan menurutmu aku melihat apa?”
Pertanyaan itu membuat Elenna terdiam.
Ia mencari nada sindiran. Tidak ada.
“Hanya… saya,” jawabnya pelan.
Senyum pria itu melebar sedikit.
“Bagus.”
Angin sore kembali berembus. Rambut pirangnya berkilau samar.
“Kenapa Anda tetap berada di istana,” tanya Elenna hati-hati, “jika tidak menikmati suasananya?”
Ia mengangkat bahu kecil.
“Hanya sebuah tanggung jawab.”
Satu kalimat.
Namun, tidak diucapkan dengan keluhan.
“Kadang kita tidak bisa memilih tempat kita berdiri,” lanjutnya, “tapi kita masih bisa memilih bagaimana kita berdiri di sana.”
Elenna memandangnya lebih lama. Itu bukan jawaban dangkal. Itu pemahaman seseorang yang mengerti bagaimana seluk beluk dunia ini.
Untuk pertama kalinya hari itu, dadanya terasa ringan, seolah menemukan teman seperjuangan.
“Apakah Anda juga merasa dinilai oleh mereka?” tanyanya pelan.
“Tentu.”
“Lalu bagaimana Anda menghadapinya?”
Ia tersenyum kecil.
“Aku mencari tempat seperti ini, dan berbicara dengan orang yang tidak melihatku sebagai sesuatu yang harus digunakan.”
Kalimat itu sederhana. Namun, hangatnya terasa nyata. Elenna menyadari sesuatu yang perlahan tumbuh. Ia tidak sedang berbicara dengan pria yang ingin mengesankan.
Ia berbicara dengan seseorang yang juga lelah, dan tidak bersembunyi di balik topeng saat sendirian. Kucing di pangkuannya mendengkur lagi.
Pria itu memperhatikannya.
“Dia jarang tenang seperti itu."
“Apakah itu berarti sesuatu?”
“Mungkin.”
Ia menatap Elenna sebentar lebih lama.
“Atau mungkin dia hanya menyukai orang yang tidak memaksakan diri menjadi sesuatu yang bukan dirinya.”
Jantung Elenna berdetak sedikit lebih cepat.
Bukan karena ketakutan. Melainkan karena pengakuan yang bahkan tak pernah ia dapatkan selama ini.
Ia berdiri perlahan.
“Saya harus kembali.”
“Ya,” pria itu mengangguk ringan. “Sebelum seseorang bertanya kenapa seorang pengawal berbicara terlalu lama dengan seorang bangsawan.”
Nada bercandanya lembut. Elenna tersenyum kecil.
“Terima kasih.”
“Untuk apa?”
“Untuk berbicara dengan saya… tanpa tujuan lain.”
Ia tidak langsung menjawab. Hanya menatapnya, mata emeraldnya jernih dan tenang.
“Tidak semua percakapan membutuhkan tujuan.”
Kucing itu meloncat turun dari pangkuan Elenna dan berjalan kembali ke arahnya.
Namun, sebelum Elenna berbalik, ia berkata pelan,
“Jika kau ingin bernapas lagi… taman ini cukup sepi di sore hari.”
Undangan yang tidak dipaksakan.
Elenna menatapnya sebentar.
“Kalau begitu, mungkin saya akan berjalan-jalan lagi.”
Senyumnya kali ini tulus. Bukan senyum sopan. Bukan senyum yang dilatih di cermin.
Pria itu untuk sesaat tidak menyembunyikan rasa puas kecil di wajahnya. Bukan karena kemenangan. Melainkan karena ia baru saja menemukan seseorang yang sama sepertinya, yang berbicara dengannya tanpa memandang pangkat, tanpa takut, tanpa ambisi tersembunyi.
Bagi seseorang yang hidup dikelilingi kepura-puraan, hal itu jauh lebih langka daripada harta apapun.