NovelToon NovelToon
ISTRIKU KESAYANGAN MERTUA

ISTRIKU KESAYANGAN MERTUA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Lansia / Nikahmuda / Cintapertama
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Alif Cariza Nofiriyanto

cerita keluarga besar yang harmonis dan bahagia

Karya ini diterbitkan atas izin Novel Toon Alif cariza nofiriyanto,isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili Novel Toon sendiri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Cariza Nofiriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 27

"Kita pakai nama Dapur Ma: Warisan," bisikku. "Karena yang kita jual bukan cuma makanan cepat saji, tapi warisan rasa yang nggak akan lekang oleh zaman. Dan warnanya jangan lagi merah-kuning seperti toko ayam goreng biasa. Kita pakai hijau sage dan kayu, biar orang merasa teduh saat masuk ke gerai kita di tengah hutan beton SCBD."

Dina mengangguk perlahan, membayangkan visualnya. "Elegan. Masuk akal. Itu akan membuat harga 45 ribu per mangkuk terasa murah."

Tiba-tiba, suara notifikasi bertubi-tubi terdengar dari tablet yang dipegang Bu Siti. Suara ping yang khas dari aplikasi mitra pengemudi.

"Mas Raka! Mbak Dina!" seru Bu Siti panik. "Ini kenapa pesanan masuk semua sekaligus? Kita kan baru buka slot pre-launch di aplikasi jam 10 pagi ini? Ini baru jam 9.45!"

Aku dan Dina saling pandang. Aku langsung menyambar tablet itu. Layarnya memerah karena daftar pesanan yang terus bertambah.

"50 porsi... 120 porsi... Din, ini pesanan korporat dari gedung sebelah!" seruku. "Mereka pesan untuk rapat makan siang serentak."

Dina langsung berubah menjadi jenderal lapangan. Dia melangkah ke tengah dapur, menepuk tangannya dengan keras untuk menarik perhatian semua staf.

"Semuanya, posisi!" teriaknya tegas. "Bu Siti, bagi tim jadi dua! Tim satu fokus ke sealing nasi, tim dua fokus ke lauk. Jangan ada yang keluar dari garis SOP! Raka, kamu ambil alih bagian Quality Control di meja ujung. Jangan biarkan satu mangkuk pun keluar kalau stikernya miring!"

"Siap, Bos!" jawabku, langsung berlari ke posisi.

Suasana dapur yang tadinya tenang berubah menjadi simfoni yang sibuk. Bunyi spatula beradu dengan kuali, deru mesin vacuum sealer, dan aroma rendang yang mendadak menyeruak memenuhi ruangan. Di luar ruko, suara motor ojek online mulai terdengar berderet, menciptakan barisan jaket hijau yang tidak sabar.

"Mas, ojeknya sudah ada sepuluh di depan!" lapor Arka yang baru pulang sekolah dan langsung ikut membantu di bagian depan.

"Tahan mereka, Ka! Kasih mereka air mineral dingin di bangku tunggu," teriakku sambil mengecek suhu daging rendang yang baru keluar dari pemanas.

Dina berdiri di samping printer resi, merobek kertas-kertas itu dengan kecepatan yang luar biasa. Wajahnya berkeringat, tapi matanya menyala. Inilah adrenalin yang dia rindukan.

"Raka! Kita butuh tambahan stok sambal bajak dalam 15 menit, atau 20 pesanan terakhir akan hambar!" teriak Dina di tengah kebisingan.

Aku menoleh ke arah lift makanan. "Tenang, Din! Ma sudah antisipasi. Dia baru saja mengirim stok cadangan dari dapur cadangan di lantai dua!"

Di tengah kekacauan yang terorganisir itu, aku menyadari satu hal: Kami tidak lagi takut pada angka. Kami sedang menaklukkannya.

"Tiga ratus porsi dalam dua jam, Raka," Dina berbisik, suaranya parau karena terus berteriak mengoordinasi staf. Dia bersandar di meja packing yang kini kosong, hanya menyisakan tumpahan sedikit sambal dan tumpukan resi yang sudah dicoret.

Aku menyeka keringat di dahi dengan punggung tangan. "Dan kita baru saja menolak lima puluh pesanan terakhir karena nasi kita habis. Rekor, Din. Benar-benar rekor."

"Bukan cuma soal terjual habis," Dina menegakkan punggungnya, kembali menatap layar tabletnya. "Lihat ini. Rating kita di aplikasi langsung 4.9 dari 150 ulasan pertama. Mereka bilang rendangnya 'serasa dipeluk ibu'. Stiker QR Code itu berhasil, orang-orang benar-benar menonton videonya."

Aku tertawa kecil, rasa lelahku seolah menguap. "Itu artinya sistem Central Kitchen kita lulus uji beban. Besok kita harus tambah penanak nasi industri, atau kita akan terus-menerus menolak uang yang datang."

Dina terdiam sejenak, jarinya berhenti menari di layar. "Raka, ada satu hal yang aneh. Lihat pesanan nomor 247."

Aku mendekat, mengintip resi yang ditunjuknya. Nama pemesannya: Prasetyo. Alamat pengirimannya adalah gedung kantor pusat pengembang properti yang dulu hampir menyita ruko ini.

"Dia memesan sepuluh Rice Bowl Rendang Suwir," gumamku. "Om Pras?"

"Bukan cuma memesan," Dina menunjukkan kolom catatan pembeli di bawahnya. Isinya singkat: 'Rasa yang konsisten. Sistem yang rapi. Ternyata kamu tidak cuma punya otot, Raka. Beritahu ibumu, rendangnya masih yang terbaik di Jakarta.'

Aku tertegun. Ada rasa pahit yang tersisa, tapi anehnya, ada juga rasa kemenangan yang tuntas. Musuh terbesar kami baru saja mengakui kekalahannya melalui sebuah transaksi bisnis yang jujur.

"Dia membayar harga penuh, kan?" tanyaku memastikan.

Dina tersenyum penuh kemenangan. "Tentu saja. Dan dia memberi tip 50 ribu untuk kurirnya. Kurasa 'hantu' itu benar-benar sudah pergi sekarang, digantikan oleh rasa hormat."

Aku merangkul bahu Dina, menariknya mendekat ke arah balkon lantai satu yang menghadap ke jalanan. Di bawah, barisan ojek online masih ada yang lewat, tapi suasananya sudah tenang.

"Besok kita buka cabang kedua, Din?" tanyaku pelan.

Dina menatapku, matanya berkilat penuh ambisi namun tetap tenang. "Jangan terburu-buru. Kita rapikan dulu SOP bumbu di lantai dua. Aku ingin Gross Profit kita stabil di angka 60% sebelum kita bicara soal cabang Sudirman. Tapi satu hal yang pasti..."

Dia menjeda kalimatnya, menyandarkan kepala di bahuku.

"Dapur Ma Express baru saja mengubah peta makanan cepat saji di Jakarta. Dan kita melakukannya tanpa kehilangan 'jiwa' Ma di dalam setiap mangkuknya."

"Sepertinya perayaan syukuran harus kita tunda sebentar, Raka," Dina berkata sambil memutar layar tabletnya ke arahku. Wajahnya yang tadi puas kini berubah menjadi mode waspada—tatapan predator yang sedang mencium anomali di tengah padang rumput.

"Ada apa lagi? Bukannya laba kita sudah di atas target?" tanyaku heran.

"Bukan soal laba. Lihat pola pesanannya," Dina menunjuk grafik batang yang melonjak di jam-jam ganjil. "Pesanan dari kantor Om Pras tadi? Itu pemicu. Sejak dia pesan sepuluh porsi, ada dua puluh akun baru yang memesan ke alamat yang sama—tapi mereka tidak memesan nasi. Mereka memesan 'Bumbu Inti' dalam kemasan frozen."

Aku mengernyitkan dahi. "Lalu? Bukannya itu bagus? Kita memang berencana menjual versi frozen bulan depan."

Dina menggeleng tegas. "Masalahnya, kita belum merilis menu itu di aplikasi, Raka! Mereka menemukan celah di sistem 'Custom Order'. Dan lihat siapa yang memesan dalam jumlah besar lewat kurir instan pribadi."

Dia menunjukkan foto tangkapan layar dari CCTV depan ruko. Seorang pria berjaket safari—bukan jaket ojek online—sedang mengangkut dua dus besar bumbu kita ke dalam mobil SUV hitam.

"Itu orangnya kompetitor kita, Raka. Food-Chain raksasa yang punya ratusan gerai 'Ayam Kremes' itu," bisik Dina. "Mereka bukan mau makan. Mereka sedang melakukan Reverse Engineering. Mereka mau membedah resep Ma di laboratorium mereka untuk bikin versi KW-nya dengan harga setengah dari kita."

Aku terdiam. Jantungku berdegup kencang, bukan karena takut, tapi karena amarah yang mulai naik. "Mereka pikir bumbu Ma bisa dikloning begitu saja?"

"Secara kimiawi? Mungkin bisa mendekati," Dina menyahut ketus. "Tapi mereka nggak punya 'ibu-ibu Academy'. Mereka nggak punya narasi sosialnya. Tapi kalau mereka main harga, kita bisa hancur sebelum sempat ekspansi ke Sudirman."

Aku mengambil napas panjang, mencoba tetap tenang. "Din, ingat apa yang kamu bilang tadi? Bisnis boleh jadi mesin, tapi rasanya harus punya jiwa. Kalau mereka mau perang bumbu, kita kasih mereka perang bumbu. Tapi dengan cara kita."

"Maksudmu?"

"Kita jangan cuma jualan bumbu rahasia," kataku sambil tersenyum miring. "Kita buat bumbu itu jadi Sertifikat. Besok, kita rilis 'Bumbu Ma Original' dengan stiker hologram anti-pemalsuan yang terhubung ke blockchain sederhana. Setiap sachet bumbu kita punya ID unik yang menunjukkan kapan itu dimasak dan oleh siapa ibu Academy-nya. Kalau pelanggan beli yang nggak ada hologramnya, itu palsu."

Dina menatapku lama, lalu tawa kecilnya pecah. "Raka, kamu benar-benar sudah belajar banyak dari drama sertifikat ruko dulu, ya? Sekarang kamu mau mem-proteksi bumbu seperti mem-proteksi aset tanah."

"Karena rasa adalah aset kita yang paling berharga, Din. Aku nggak akan biarkan siapapun mencurinya lagi secara 'legal' atau ilegal."

Dina menutup tabletnya dengan bunyi klik yang mantap. "Oke. Lupakan syukuran santai. Panggil tim IT kita malam ini. Kita kunci resep ini dengan teknologi sebelum kompetitor itu sempat menyalakan kompor laboratorium mereka."

1
Emen Umakpauny
lanjutkan
Khoerun Nisa
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!