Reyhan, pengusaha sukses dengan masa kecil yang pahit, terpaksa menikahi Alya wanita yang pernah ia tinggalkan saat hamil enam tahun lalu. Pernikahan kontrak yang dingin mulai berubah ketika kehadiran putra mereka, Arka, anak jenius dengan IQ 152, perlahan meruntuhkan tembok hati Reyhan.
Di tengah proses belajar menjadi ayah dan suami, luka masa lalu Reyhan mulai sembuh. Ditambah kelahiran putri kecil mereka, Kirana, keluarga yang dulu hancur ini perlahan menemukan keutuhannya.
Kisah tentang kesempatan kedua, penyembuhan luka, dan cinta tanpa syarat yang akhirnya ditemukan setelah sekian lama hilang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heynura9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11 Reyhan Mulai Peduli
Senin pagi setelah liburan pantai, kehidupan di rumah kembali ke rutinitas, tapi nuansanya sudah sangat berbeda.
Reyhan bangun jam lima pagi, turun ke dapur, dan mencoba membuat sarapan sendiri. Kali ini bukan telur orak-arik gosong seperti dulu, tapi roti bakar dengan selai dan telur rebus sederhana. Dan kali ini… berhasil tanpa insiden apa pun.
Ketika Alya turun pukul setengah enam, ia langsung berhenti di ambang pintu dapur. Meja makan sudah tertata rapi: tiga piring sarapan, segelas susu cokelat untuk Arka, secangkir teh hangat untuknya, dan kopi hitam untuk Reyhan.
Mulut Alya terbuka sedikit, tak percaya.
Reyhan menoleh, wajahnya sedikit gugup. “Aku… coba masak lagi. Semoga kali ini enak.”
Alya berjalan mendekat, memeriksa roti bakarnya. Sempurna. Tidak gosong. Olesan selainya bahkan rapi.
“Rey… belajar dari mana?”
“YouTube,” jawab Reyhan sambil menggaruk kepala. “Jam empat pagi aku bangun, langsung nonton tutorial. Aku mikir… kamu capek masak sendirian terus. Jadi aku pengen bantu.”
Hati Alya langsung mencelos. Matanya berkaca-kaca. “Rey… nggak perlu repot-repot.”
“Ini bukan repot,” potong Reyhan lembut. “Ini… tanggung jawab. Dan aku pengen lakuin.”
Alya tersenyum, senyum hangat yang tulus. “Terima kasih.”
“Sama-sama.” Reyhan balas tersenyum kecil senyum yang akhir-akhir ini semakin sering muncul.
Langkah kaki kecil terdengar dari tangga. Arka turun dengan mata masih setengah terpejam, rambut acak-acakan seperti biasa.
“Pagi…” gumamnya serak.
“Pagi, Nak. Papa sudah siapin sarapan buat kamu,” kata Reyhan sambil menepuk kursi di sampingnya.
Arka langsung duduk, lalu matanya melebar melihat piring di depannya. “Papa yang masak?”
“Iya. Kenapa? Nggak percaya?”
“Percaya! Tapi… keren banget! Papa makin hebat!” Arka tersenyum lebar, senyum yang membuat Reyhan merasa seperti baru memenangkan penghargaan terbesar di dunia.
Mereka sarapan bersama dengan obrolan ringan tentang rencana hari ini, PR Arka yang mulai banyak, dan meeting penting Reyhan siang nanti. Tapi yang paling terasa… mereka sarapan sebagai keluarga. Keluarga yang utuh.
Pukul delapan pagi.
Biasanya Alya yang mengantar Arka ke playgroup dengan ojek online atau angkutan umum. Tapi pagi ini, Reyhan bersikeras ingin mengantar sendiri.
“Aku berangkat kerja jam sembilan. Masih ada waktu anter Arka dulu,” katanya sambil mengambil kunci mobil.
Alya menatapnya bingung. “Tapi playgroup-nya searah nggak sama kantor kamu…”
“Nggak masalah. Aku mau anter anak aku ke sekolah.” Nada Reyhan tegas, tak ada ruang debat.
Alya akhirnya mengangguk, lalu membantu Arka memakai sepatu dan tas ranselnya.
Di mobil, Arka duduk di kursi belakang dengan sabuk pengaman terpasang rapi. Ia menatap keluar jendela dengan mata berbinar. Naik mobil pribadi ke sekolah adalah hal istimewa buatnya.
“Pa, nanti temen-temen aku pasti nanya siapa yang anter aku,” kata Arka tiba-tiba.
Reyhan melirik lewat kaca spion. “Terus kamu mau jawab apa?”
“Aku mau bilang ini Papa aku!” jawab Arka bangga.
Reyhan tersenyum lebar senyum yang jarang sekali muncul dulu. “Bagus. Papa juga bangga jadi Papa-nya Arka.”
Arka tertawa riang, lalu kembali menatap jalanan dengan semangat tinggi.
Sesampainya di playgroup sekolah kecil sederhana dengan taman bermain di depan Reyhan turun dan membukakan pintu untuk Arka. Beberapa orang tua lain melirik penasaran. Mobil mewah Reyhan memang cukup mencolok di lingkungan itu.
Arka turun dengan semangat, lalu menoleh. “Papa… nanti jemput aku kan?”
Reyhan berlutut, menyamakan tinggi badannya dengan Arka, lalu mengangguk. “Janji. Papa jemput kamu jam dua belas.”
“Beneran?”
“Beneran. Papa janji.” Reyhan mengusap kepala Arka lembut. “Sekarang masuk sana. Belajar yang baik, jangan nakal.”
Arka tersenyum lebar, lalu tiba-tiba memeluk Reyhan erat. “Aku sayang Papa.”
Reyhan terdiam sejenak. Setiap kali Arka mengucapkan itu, rasanya dunia berhenti sejenak.
Ia membalas pelukan itu erat. “Papa juga sayang Arka. Sangat sayang.”
Arka melepaskan pelukan, lalu berlari masuk sekolah dengan tas ransel yang terlalu besar di punggungnya.
Reyhan berdiri di sana, menatap punggung kecil itu sampai menghilang di balik pintu.
Seorang ibu muda menghampiri dengan senyum ramah. “Bapak ayahnya Arka ya?”
Reyhan menoleh. “Iya.”
“Arka anaknya pintar sekali. Tapi dulu sering sendirian. Saya senang sekarang dia punya ayah yang perhatian.” Ibu itu tersenyum tulus. “Arka sering cerita kalau dia nggak punya ayah. Saya kira… yah, situasi keluarga memang beda-beda. Tapi sekarang saya lihat dia bahagia.”
Reyhan merasakan dadanya sesak. “Terima kasih sudah perhatian sama Arka.”
“Sama-sama. Semoga keluarga Bapak selalu bahagia ya.”
Reyhan mengangguk, lalu kembali ke mobil dengan pikiran penuh.
Arka sering sendirian.
Arka bilang dia nggak punya ayah.
Rasa bersalah itu kembali menghantam keras. Enam tahun. Enam tahun anak itu hidup tanpa ayah. Dan itu salahku.
Ia mengepalkan tangan di setir, menarik napas panjang.
Tapi mulai sekarang… aku nggak akan biarkan dia merasa sendirian lagi.
Pukul dua belas siang.
Reyhan datang tepat waktu bahkan sepuluh menit lebih awal. Ia berdiri di depan gerbang bersama orang tua lain, menunggu dengan sabar.
Begitu bel berbunyi dan anak-anak keluar, Arka muncul dengan wajah berseri. Matanya langsung mencari dan menemukan Reyhan.
“PAPA!” teriaknya sambil berlari.
Reyhan membuka tangan lebar. Arka langsung melompat ke pelukannya.
“Papa beneran datang!” seru Arka, mata berbinar.
“Papa kan janji.” Reyhan mengangkat Arka sebentar, lalu menurunkannya. “Gimana sekolahnya? Seru?”
“Seru! Tadi aku belajar tentang planet! Terus aku cerita sama Bu Guru soal Saturnus dan cincinnya! Bu Guru bilang aku pinter!”
Reyhan tersenyum bangga. “Kamu memang pinter, Nak.”
Beberapa teman Arka mendekat dengan tatapan penasaran.
“Arka, itu siapa?” tanya seorang anak laki-laki.
“Ini Papa aku!” jawab Arka dengan bangga.
“Wah… Papa kamu tinggi banget!”
“Iya! Dan Papa aku pinter! Dia bisa bikin robot sama ngajarin aku sains!”
Reyhan terdiam mendengar Arka memperkenalkannya dengan begitu bangga. Ada kehangatan yang menyebar di dada perasaan yang baru ia rasakan belakangan ini.
Ini… rasanya jadi ayah.
Setelah berpamitan dengan teman-temannya, Arka naik ke mobil dengan semangat tinggi.
“Pa, kita pulang langsung atau mampir beli es krim dulu?” tanya Arka penuh harap.
Reyhan melirik lewat kaca spion. “Mama bilang boleh?”
“Belum tanya. Tapi… please, Pa? Sekali aja?”
Reyhan berpikir sejenak, lalu tersenyum. “Oke. Tapi jangan bilang Mama ya. Nanti Papa yang kena marah.”
“Deal!” Arka tertawa senang.
Mereka mampir ke toko es krim kecil dekat sekolah. Arka pilih cokelat dengan taburan meses warna-warni, Reyhan pilih vanilla. Mereka duduk di bangku taman kecil di seberang toko, menikmati siang yang cerah sambil makan es krim.
“Pa,” panggil Arka tiba-tiba.
“Ya?”
“Papa… sayang sama Mama nggak?”
Reyhan hampir tersedak. Ia menatap Arka dengan mata melebar. “Kok tiba-tiba nanya gitu?”
“Soalnya… Papa baik sama Mama. Papa sering pegang tangan Mama. Papa juga sering senyum kalau lihat Mama. Berarti Papa sayang sama Mama kan?”
Reyhan terdiam lama.
Apakah ia sayang Alya?
Seminggu lalu, jawabannya pasti: Ini cuma tanggung jawab.
Tapi sekarang… setelah melihat senyum Alya setiap pagi, setelah merasakan kehangatan tangannya, setelah mendengar tawanya di pantai…
“Iya,” jawabnya pelan. “Papa… sayang sama Mama.”
Arka tersenyum lebar. “Aku juga sayang sama Mama. Berarti kita sama ya, Pa!”
Reyhan tersenyum, lalu mengacak rambut Arka lembut. “Iya, Nak. Kita sama.”
Tapi di dalam hati, Reyhan tahu perasaannya pada Alya sudah mulai berubah.
Dari tanggung jawab… menjadi sesuatu yang lebih dalam.
Sesuatu yang membuatnya ingin pulang cepat setiap hari.
Sesuatu yang membuatnya ingin melihat senyum Alya setiap pagi.
Sesuatu yang… mungkin… adalah cinta.
Pukul tiga sore di rumah.
Ketika mereka sampai, Alya sedang menyiram tanaman di teras depan. Ia memakai dress rumah biru muda sederhana, rambut diikat asal, wajah tanpa riasan. Tapi di mata Reyhan… ia cantik. Sangat cantik.
“Mama!” seru Arka sambil berlari menghampiri.
“Sayang! Gimana sekolahnya?” Alya memeluk Arka hangat.
“Seru! Terus Papa jemput tepat waktu! Terus kita beli es krim!” Arka langsung menutup mulutnya. “Ups. Aku nggak boleh bilang.”
Alya menatap Reyhan dengan tatapan menyelidik, tapi ada senyum di sana.
Reyhan mengangkat tangan, wajah bersalah. “Maaf. Aku nggak bisa nolak dia.”
Alya tertawa tawa yang membuat hati Reyhan berdegup lebih cepat. “Gapapa kok. Sekali-kali boleh. Asal jangan kebiasaan.”
“Noted.” Reyhan tersenyum, lalu mendekat. “Kamu… lagi sibuk?”
“Nggak. Cuma nyiram tanaman. Kenapa?”
“Aku… boleh bantu?”
Alya menatapnya bingung. “Kamu mau bantu nyiram tanaman?”
“Iya. Aku kan… pengen belajar jadi suami yang baik.”
Kata “suami” itu membuat pipi Alya memanas.
Ia menyerahkan selang air dengan canggung. “Oke. Ini… jangan terlalu banyak airnya. Cukup basahin tanah aja.”
Reyhan mengangguk serius seperti sedang menerima instruksi penting, lalu mulai menyiram dengan hati-hati.
Alya berdiri di sampingnya, sesekali memberi arahan, sesekali tersenyum melihat Reyhan yang begitu fokus pada hal sekecil itu.
Arka duduk di tangga teras, menatap kedua orang tuanya dengan senyum lebar.
Mama dan Papa… mesra, pikirnya senang.
Dan di sore yang cerah itu, di teras rumah dengan tanaman hijau yang subur, tiga orang itu merasakan sesuatu yang selama ini hilang.
Kedamaian.
Kehangatan.
Keluarga.
Malam hari.
Reyhan berbaring di ranjangnya, menatap langit-langit dengan pikiran penuh.
Hari ini adalah hari yang baik. Sangat baik.
Ia berhasil masak sarapan tanpa gosong. Ia mengantar dan menjemput Arka. Ia menghabiskan waktu bersama keluarga.
Keluarga.
Kata itu terasa semakin nyata setiap harinya.
Ponselnya bergetar. Pesan dari Alya.
[Alya]: Terima kasih sudah anter-jemput Arka hari ini. Dia senang banget.
Reyhan tersenyum, lalu mengetik balasan:
[Reyhan]: Sama-sama. Aku juga senang. Besok aku anter-jemput lagi ya.
[Alya]: Nggak ganggu kerjaan kamu?
[Reyhan]: Nggak. Dan jangan panggil aku Om lagi. Panggil… Reyhan. Atau Rey. Atau apa pun yang kamu mau. Tapi jangan Om. Kita sudah nikah, Alya.
Hening sejenak.
Tiga titik muncul Alya sedang mengetik.
[Alya]: Oke… Rey.
Reyhan tersenyum lebar membaca pesan itu.
Rey.
Nama itu terdengar manis sekali dari Alya.
Ia mengetik lagi:
[Reyhan]: Selamat malam, Alya. Mimpi indah.
[Alya]: Selamat malam, Rey. Kamu juga.
Reyhan meletakkan ponsel, lalu tersenyum pada langit-langit kamar.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia tidak merasa sendirian lagi.