Novel ini mengisahkan hubungan antara seorang pria kristen bernama David Emmanuel Erlangga seorang pria yang terlahir dari keluarga yang begitu kental dalam menjalankan agama,anak dari seorang pendeta yang terkenal di negeri ini yang bertemu dan menjalin cinta dengan seorang muslimah yang taat serta merupakan anak salah seorang kyai terkemuka .
bagaimana kisah rumit mereka? dan akankah mereka mempertahankan hubungan yang penuh dengan penentangan dari kedua keluarga dan lingkungan?atau justru memilih berpisah demi bertahan dengan keyakinan masingmasing?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya sabir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27
"Aisyah..." panggil Rain dengan lembut.
Mata Aisyah terbuka dengan sangat lambat, pandangannya kabur namun ia bisa melihat wajah dua pria yang satu adalah pria yang di cintai nya dan satunya lagi begitu asing dalam pandangan nya . Dia juga melihat sahabatnya yang sedang menangis di sisinya. Bibirnya bergerak perlahan, mengeluarkan suara yang sangat lemah.
"Aku dimana?"
Belum sempat menjawab dokter dan perawat masuk ke ruang perawatan untuk mengecek kondisi pasien. ,David dan Mayang terpaksa keluar dari ruangan atas permintaan dokter hanya Rain yang masih berdiri di sisi ranjang perawatan.
David berdiri di kejauhan, tubuhnya menegang. Ia melihat melalui kaca kamar perawatan intensif . Aisyah terbaring dengan alat-alat medis di tubuhnya. Ketika matanya perlahan terbuka, pandangannya melintas ke arah David yang sedang melihatnya dari luar.
Sebuah senyum lembut muncul di bibirnya yang pucat. Dia menggerakkan bibirnya perlahan, dan David bisa membaca apa yang ingin dia katakan "David..."
Rain yang berdiri di sisi tempat tidur Aisyah merasa hati nya seperti ditusuk tajam. Ia melihat istri nya menatap pria lain dengan pandangan yang penuh dengan cinta dan kenangan, padahal dia sendiri suaminya yang telah bersama nya selama tiga bulan terakhir seolah tak dikenal sama sekali.
"Aisyah..." Rain mencoba menarik tangannya dengan lembut. Namun Aisyah menarik tangannya kembali, pandangannya tetap terpaku pada David di luar kamar.
"David..." Kata Aisyah dengan suara yang lemah namun jelas.
Air mata mengalir deras di wajah David. Ia ingin masuk ke dalam kamar, ingin menjelaskan segalanya, namun dia melihat Rain yang sedang menatapnya dengan pandangan penuh rasa sakit dan kemarahan yang tertahan.
"Aisyah.." Ulang Rain lagi mencoba mengalihkan perhatian Aisyah yang masih menatap kearah pintu.
Aisyah menoleh ke arah Rain ,alisnya berkerut menatap pria asing yang kini duduk di sisi tempat tidur nya " Siapa kamu..?"
Rain merasa dunia nya runtuh. Kakinya hampir patah, namun ia tetap berdiri dengan kekuatan terakhir. "Apa maksud mu? Apakah kamu tidak mengenaliku? Tidak tahu siapa aku?"
Aisyah menatap Rain dengan raut wajah kebingungan, seingat nya dia tidak pernah bertemu apalagi mengenal pria yang ada di sisinya kini.
" Aku tidak ingat dan tidak mengenal anda." Lirih Aisyah,membuat Rain tertegun sejenak,tak ada kata yang bisa ia ucapkan lagi,ia hanya melirik ke arah dokter yang juga terlihat terkejut melihat kondisi Aisyah.
" Dokter..."
" Ikut ke ruangan ku ,aku akan menjelaskan nya nanti." Ujar sang dokter setelah menyadari satu hal pada kondisi pasiennya itu.
"Luka di kepalanya cukup dalam dan menyebabkan kerusakan pada bagian tertentu otaknya. Kabar baiknya, kondisinya stabil sekarang. Namun..." Dokter menghentikan kalimatnya sejenak, melihat pria tampan yang menatapnya dengan pandangan penuh harapan. "Namun, ia mengalami amnesia parsial. Ia hanya mengingat kejadian sebelum bertemu dengan anda. Untuk kejadian setelah bertemu dengan anda seperti nya dia tidak ingat sama sekali."
Dunia Rain seolah runtuh mendengar penjelasan dokter di ruangan nya, kakinya lemas seolah tak mampu untuk berpijak lagi.
Dokter keluar dari ruangannya, menyisakan Rain yang masih terpaku di tempat. Tangannya menggenggam ujung meja dengan erat, kuku menusuk ke dalam kulitnya namun dia tak merasakan sakit sedikit pun. Semua yang telah dia bangun bersama Aisyah selama tiga bulan terakhir , candaan mereka di pagi hari, momen mereka memasak bersama, janji mereka tentang masa depan , seolah hanyalah mimpi yang akan lenyap begitu saja.
Di luar ruangan perawatan Aisyah , David masih berdiri dengan wajah basah karena air mata. Mayang berdiri di sampingnya , menepuk punggungnya perlahan sambil terus menangis diam-diam. Ketika Rain muncul dari ruangan dokter, pandangan mereka bertemu . satu penuh dengan rasa sakit dan kemarahan yang terbendung, satu lagi penuh dengan harapan dan rasa bersalah yang mendalam.
" David..." Seru Naina yang baru saja tiba setelah mendengar kabar kecelakaan yang menimpa Aisyah,di belakang nya ada Michael yang berjalan dengan penuh kecemasan.
"David..." Suara Naina kembali terdengar yang sedikit terengah-engah membuat kedua pria itu terkejut kembali. Michael segera mendekati Mayang, menyelimuti tubuhnya yang masih bergoyang karena menangis sambil menatap ke arah kamar perawatan.
Rain melangkah mendekati David dengan langkah yang berat, matanya merah karena menahan air mata. " Apa yang kamu pikirkan sebenarnya?" Suaranya terdengar kasar dan penuh dengan permusuhan. "Aisyah adalah istriku sekarang. Meski dia tidak mengingatku, pernikahan kami sah di mata hukum dan agama!"
David mengangkat kepalanya, air mata masih mengalir namun kini ada api yang menyala di dalam pandangannya. "Sah di mata hukum? Tapi dia tidak mengingatmu, Rain! Dia hanya mengenalku , aku adalah orang yang dia cintai sebelum kau datang dalam hidupnya!"
"Sebelumku? Kau yang pergi darinya dulu bukan?" Rain mendekatkan wajahnya ke arah David, kedua tangannya menggenggam bahu pria itu dengan erat. "Kau yang meninggalkannya saat dia paling membutuhkanmu, lalu muncul kembali sekarang hanya karena dia tidak ingat apa-apa!"
David menarik tubuhnya dengan kuat, melepaskan diri dari genggaman Rain. "Aku punya alasan untuk pergi! Dan aku tidak pernah berhenti mencintainya , kamu tahu tidak, setiap malam aku meratapi keputusanku karena meninggalkannya?"
Mayang mendekat dengan tergesa-gesa, mencoba memisahkan kedua pria yang mulai menunjukkan tanda-tanda akan bertengkar fisik. "Tolong, berhentilah kalian berdua! Aisyah sedang sakit, dia tidak butuh pertengkaran kalian di sini!"
Michael juga ikut menenangkan suasana, meletakkan tangannya di bahu Rain. "Kita semua khawatir tentang Aisyah, tapi marilah kita bicara dengan tenang."
Namun kedua pria itu seolah tidak mendengar suara sekitarnya. Mata mereka saling terkunci, penuh dengan pertentangan yang mendalam , satu berjuang untuk mempertahankan apa yang telah dia bangun, yang lain berusaha untuk mendapatkan kembali apa yang pernah hilang.
"Jika dia memilihmu setelah tahu semua yang terjadi, aku akan pergi tanpa pernah kembali lagi," ujar David dengan suara yang penuh tekad. "Tapi aku tidak akan tinggal diam dan melihatnya hidup dengan orang yang tidak dikenalnya sama sekali. Aku akan membuatnya mengingat semua kenangan indah yang pernah kami bagi bersama."
Rain tertawa kecut, namun air mata sudah mulai menetes di pipinya. "Kau pikir dengan hanya mengingat masa lalu, dia akan kembali padamu? Aisyah dan aku telah membangun sesuatu yang nyata bahkan jika dia tidak ingat sekarang, aku akan membuatnya mencintaiku kembali!"
Di dalam kamar perawatan, Aisyah telah mampu duduk dengan bantuan bantal-bantal. Matanya tetap terpaku pada arah pintu, di mana suara-suara orang yang dia kenal terdengar. Bibirnya bergerak perlahan, mengucapkan nama David lagi dan lagi dengan suara yang lemah namun penuh harapan. Mayang yang melihatnya dari luar kaca merasa hatinya hancur , dia tahu betapa dalamnya cinta Aisyah pada David dulu, namun juga melihat betapa Rain mencintai Aisyah saat ini.
Sang dokter kembali datang, menyapa mereka dengan wajah yang serius. "Kondisi pasien bisa berubah kapan saja. Mungkin dia akan segera mengingat semua hal, atau mungkin perlu waktu yang lama. Yang pasti, dia membutuhkan dukungan penuh tanpa adanya konflik yang bisa membuatnya semakin stres."
Kata-kata dokter itu seperti teguran yang menusuk hati kedua pria itu. Rain menoleh ke arah kamar, melihat sosok Aisyah yang masih menatap ke luar dengan pandangan yang penuh rasa rindu. David juga menatapnya, tangannya menggenggam erat lengan Mayang yang mencoba menenangkannya.
"Kita akan bicara lagi nanti," bisik Rain dengan suara yang sudah tidak lagi sekeras tadi. "Tapi ingat Aisyah bukan barang yang bisa kita perebutkan. Dia adalah manusia dengan hati dan pikiran sendiri, dan akhirnya keputusannya yang akan menentukan segalanya."
David hanya mengangguk perlahan, matanya tidak pernah lepas dari sosok Aisyah di dalam kamar. Ia tahu perjuangan yang akan datang tidak akan mudah, namun untuk cinta yang telah hilang dan kini mungkin bisa kembali, dia siap melakukan apa saja.
David menoleh saat seseorang memegang pundaknya, ia terlihat terkejut melihat sosok yang ada di belakang nya yang kehadiran nya tidak ia sadari sejak tadi.
" Naina,kamu di sini?" Tanya David dengan raut bersalah ,ia yakin semua ucapan nya tadi bersama Rain sudah wanita itu dengar.
" Kamu terlalu cemas,hingga tak menyadari kedatangan ku." Ujar Naina dengan senyum tipis tapi raut wajahnya menampakkan rasa kecewa yang mendalam.