Nara menjalin hubungan asmara dengan Dewa sejak duduk di bangku SMA. Lima tahun kemudian Nara dilamar sang kekasih. Tetapi, di hari pernikahan, Nara menikah dengan orang lain yaitu Rama.
Rama adalah tunangan sepupunya yang bernama Gita.
Hidup memang sebercanda itu. Dewa dan Gita diam-diam menjalin hubungan di belakang Nara. Hubungan itu hingga membuahkan kehidupan di rahim Gita.
Demi ayahnya, Nara menerima Rama. Menjadi istri dari lelaki yang tidak punya pekerjaan tetap.
Simak cerita selengkapnya 🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ai_va, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tuan Muda
Dewa memandang ke luar jendela. Memperhatikan Nara yang bergandengan tangan dengan Rama. Sedari tadi, pasangan suami istri sangat mesra. Nara terlihat lebih cantik dan tubuhnya mulai berisi.
Ada nyeri cemburu saat melihat Rama mengecup bibir Nara. Dewa masih saja mengamati motor yang mulai melaju. Berdecak kesal karena melihat mantan kekasihnya memeluk erat Rama.
Dewa ingat, betapa hancurnya Nara kala itu. Tidak ada senyum di atas pelaminan karena menikahi Rama. Dewa yakin sekali, Nara masih mencintainya.
"Apa yang kamu liat?" tegur Gita.
"Motornya Rama...." Dewa mencoba mencari alasan yang tepat.
"Memang ada apa dengan motornya Rama? Motor matic pada umumnya, kan?" Kedua mata Gita memicing tajam.
"Motor lama itu, tujuh tahunan yang lalu," ucap Dewa.
"Daripada beli kado mahal lebih baik buat tambah DP kredit motor saja."
Gita masih tidak percaya. Hanya gara-gara motor Dewa terbengong cukup lama di depan jendela. Rasa curiga mulai merayapi hati. Tetapi segera ditepisnya.
"Nenek ingin bicara," kata Gita, ditariknya pergelangan tangan Dewa.
Dewa menurut saja, tahu apa yang akan dibicarakan. Mulai muak dan bosan, padahal ia sudah melakukan apa yang disuruh keluarga Gita. Pengajuan pernikahan butuh waktu.
Dan, dugaannya benar. Lasmi mempertanyakan keseriusannya. Dewa pun menjelaskan prosedur yang harus dijalankan.
"Aku tidak akan lari dari tanggung jawab. Gita, sudah berapa kali kita membahas ini? Apa perlu kamu lapor ke lurah, camat, sekalian presiden?" kata Dewa yang tidak suka ditekan.
"Nak Dewa, sebagai keluarga kami hanya khawatir," tukas Lasmi. "Apa salah aku bertanya?"
"Karena pertanyaan itu sudah aku jawab. Iya kan Bu Yuni, Pak Mansyur?" Dewa memandang dua orang itu bergantian.
"Sekarang pun dalam proses pengajuan nikah. Kurang serius bagaimana?"
"Mas Dewa kok gitu?" Gita mendengus kesal.
"Aku akan menikahi kamu. Akhir pekan ini lamaran. Apa lagi?" Dewa menyugar rambutnya.
"Iya, kami tunggu keluargamu. Maaf, sebagai pihak keluarga perempuan kami harus bertanya kejelasan," ujar Lasmi. "Sekarang sudah jelas. Karena Gita tadi bilang belum ada kemajuan."
"Eh, Nek. Aku nggak bilang gitu," sanggah Gita.
Dewa mengembuskan napas berat. Kemudian berpamitan pulang.
Gita mengikuti Dewa keluar rumah. "Sayang kamu marah??"
"Iya, aku kecewa," sahut Dewa. "Kamu dan keluargamu menekan aku terus menerus."
"Maafkan aku. Aku janji nggak gitu lagi." Gita menggelendot manja di lengan Dewa. Tangannya bergerak pelan di antara selangkangan. Karena tertutup badan mobil, Gita bisa berperilaku mesum.
"Mau main?"
Dewa tersenyum miring. Setidaknya tubuh Gita sangat aduhai dan molek, bisa dinikmati kapan saja.
"Ayo, ke rumahku. Orang tuaku nggak ada di rumah."
"Aku ambil tas dulu." Gita bergegas masuk ke dalam rumah.
"Mau ke mana?" tanya Yuni.
"Mau jalan-jalan sama Dewa," sahut Gita.
Gita merasa dengan memberikan tubuh dan kenikmatan duniawi bisa mempertahankan Dewa. Bisa membuat lelaki itu bertekuk lutut. Dosa hanya sekadar dosa.
****************
"Rahmat, bawa lauk. Bungkus sendiri," suruh Lasmi ketika Rahmat dan Yuda berpamitan pulang.
Rahmat menganggukkan kepala. Diambilnya kantong plastik bening yang tergeletak di meja.
"Sekalian kue ulang tahunnya. Kenapa istrimu nggak mau datang, Rahmat?" tanya Laksmi.
"Ibuk khawatir jambak rambut mbak Gita." Yuda yang menyahut.
Yuni yang mendengar jawaban Yuda, mendengus marah. Anak kemarin sore sudah berani blak-blakan.
"Yud ...." Rahmat mengedipkan matanya sekali, memberikan kode supaya Yuda diam.
"Ambil thin wall di rak."
Yuda mengambil wadah makanan berbahan plastik tipis dan bening, yang kemudian diberikan ke Rahmat.
Rahmat hanya mengambil dua potong kue ulang tahun yang disimpan di thin wall.
"Ayo, pulang. Yud."
"Iya, Pak. Aku yang ngendarai motor, kan?" Yuda mengambil jaketnya.
"Nggak boleh. Belum punya SIM," cegah Rahmat sembari memakai jaket.
Ayah dan anak itu berjalan keluar rumah. Yuda membawa kantong plastik mendahului Rahmat.
Motor matic milik Rahmat melaju lambat di jalanan yang ramai. Yuda yang di bonceng di belakang sangat gemas, rasanya ingin mengambil alih saja.
"Bapak, kok kayak siput?" Yuda menepuk bahu Rahmat.
"Bapak agak ngantuk, Yuda."
"Sini aku aja yang mengendarai. Sudah sore gini nggak ada polisi, Pak," bujuk Yuda.
Rahmat tetap pada pendiriannya. Tidak ingin melanggar aturan. Yuda hanya bisa manyun.
Sesampainya di rumah, Risna menyambut mereka berdua. Hari sudah malam dan mulai gerimis.
"Ibuk, ibuk, tahu nggak?" Yuda yang membawa kantong plastik berjalan di belakang Rahmat.
"Ya nggak tahu. Kok tanya saya," sahut risna yang menyalakan lampu teras.
"Tadi...." Yuda menaruh kantong plastik di meja.
"Mbak Nara dan Mas Rama...." Kedua tangan Yuda saling beradu.
"Apaan itu? Tabrakan?" risna mengernyit tidak paham.
"Ciuman, ibuk. Berarti mereka udah mulai jatuh cinta." Yuda tersenyum lebar. Pemuda itu kemudian masuk kamar.
"Beneran, Pak??" Risna bertanya pada suaminya yang rebahan di depan televisi.
"Iya, Rama juga yang memakaikan helm," sahut Rahmat, mengarahkan remote ke televisi mencari acara yang cocok.
Risna membawa thin wall dan sendok, duduk di sebelah suaminya.
"Wah, sepertinya kita akan punya cucu."
Rahmat tersenyum simpul. Kemungkinan Nara dan Rama mulai saling memahami, ikhlas menjalani biduk rumah tangga.
"Aku berharap mereka memang jatuh cinta. Tiap hari bertemu, di bawah atap yang sama," kata risna.
"Rama orangnya nggak baperan. Padahal si Yuni beberapa kali ngejek Rama."
"Bapak nggak bela Rama?"
"Nggak perlu itu. Anggap saja Yuni sedang ngoceh seperti burung," sahut Rahmat.
****************
Rama duduk sendirian di ruang depan. Televisi menyala, mempertontonkan siaran langsung balap mobil F1. Karena tadi mencium bibir Nara, situasi agak kaku.
Nara irit bicara. Rona merah di pipi istrinya bertahan sampai di rumah.
"Pintunya tutup, ya, Mas? Banyak nyamuk."
Rama menoleh. "Tutup aja," sahutnya. Lalu memperhatikan Nara yang lewat. Istrinya memakai daster batik tanpa lengan, memperlihatkan kulit yang putih. Rama berdehem pelan, entah mengapa seperti ada sengatan gairah.
Membayangkan tubuh di balik daster. Baju tidur Nara kebanyakan daster, ada dua piyama dengan celana pendek yang jarang dipakai.
"Besok masuk pagi?"
"Siang, Mas," jawab Nara.
Nara bergegas ke ruang tengah. Membaringkan tubuhnya di atas kasur. Sebenarnya ingin duduk di sebelah Rama dan mengobrol. Hanya saja hawatir akan terjadi kontak fisik. Seperti tadi.
Kedua mata Nara memejam saat mendengar suara televisi yang hilang. Jika Rama meminta berhubungan, Nara antara siap dan tidak. Tetapi Rama adalah suaminya.
"Nara ...."
"Ya?" Nara membuka kedua kelopak matanya.
"Aku diminta bos kafe datang. Ngisi live music," papar Rama.
"Mas Rama bisa nyanyi?"
"Iya. Bisa main gitar dan piano juga. Mau ikut?"
Rama membuka lemari, mengambil kemeja motif kotak-kotak hijau dan hitam. Juga celana panjang
Nara menggeleng. Tubuhnya lelah setelah seharian bekerja dan datang ke rumah neneknya.
"Lain kali saja. Di kafe mana?"
"Praja nama kafenya," jawab Rama
Nara mencoba bersikap biasa saat Rama berganti pakaian. Dari melepas kaus, sampai melepas celana training. Dan sekarang Rama hanya berbalut boxer.
Untuk mengalihkan perhatian, Nara turun dari pembaringan. Mengambil kaus dan celana training yang dicantolkan di cantolan dekat lemari.
Rama menarik celana panjang sampai pinggang. Mengaitkan ritsleting dan kancing celana. Terakhir memakai kemeja yang lengannya digulung sampai siku.
"Aku bawa kunci serep, kamu nggak perlu nunggu aku pulang," kata Rama meraih tas ransel.
"Apu pergi dulu."
Nara membuka pintu, sedangkan Rama mendorong motor keluar rumah. Beruntung sekali cuaca bersahabat.
"Tutup pintunya," suruh Rama.
"Iya." Nara menutup pintu berpindah mengawasi lewat jendela.
Rama yang melihat siluet istrinya, melambaikan tangan kanannya. Lantas memacu kendaraan, menembus gelap malam. Melewati jalanan yang ramai dan bangunan-bangunan seperti restoran, mall, warung makan, dan yang lainnya.
Kafe itu berada di tengah kota. Bangunan lama yang direnovasi, menciptakan suasana nyaman dan hangat.
Rama sudah ditunggu dua teman lainnya. Malam itu menggantikan Robert yang mendadak absen. Satu jam lamanya Rama bernyanyi. Suaranya lumayan bagus ditunjang penampilan yang menarik.
Di akhir lagu, Rama melihat lelaki paruh baya duduk di meja dekat jendela. Seorang pelayan tampak menghampiri dan menawarkan menu.
Rama meneguk air mineral dari botol berukuran kecil. Lantas bangkit dari kursi, berjalan menuju meja si lelaki paruh baya tersebut.
"Papa yang menyuruhmu datang?" Rama duduk di kursi. Menatap tajam lelaki di hadapannya.
"Atau Mama?"
"Keduanya, Tuan muda," sahut lelaki bernama Frans.
"Aku harus naik pesawat supaya bisa datang."
"Mau apa?"
"Tuan muda diminta pulang. Nyonya besar jatuh sakit ingin bertemu," jawab Frans.
"Hanya itu? Jauh-jauh datang hanya untuk menyampaikan hal itu? Aku tahu kamu di sini sejak dua hari yang lalu. Apa kau datang bersama Viola?"
Frans tersenyum, tidak menjawab pertanyaan Rama malah berkata lain.
"Kulit Anda jadi cokelat, Tuan. Karena kebanyakan di luar ruangan."
"Aku mencoba melamar pekerjaan di perusahaan-perusahaan tapi dijegal Papa. Demi hidup, aku harus bekerja apa saja, bukan?" Rama menyalakan rokok, asapnya diarahkan ke wajah Frans.
"Setidaknya Anda masih punya uang lebih di tabungan. Cukup untuk menghidupi istri anda." sindir Frans.
"Aku bahagia dengan kehidupanku sekarang. Sampaikan itu pada mama, papa, dan oma," kata Rama beranjak dari kursi.
"Tuan muda...."
"Jangan memaksaku pulang!" tegas Rama kedua matanya mendelik geram.
Org yg berpacaran kalau sudah menikah n tinggal brng akan ketahuan sifat nya
Nindy juga bukan anak radit kah 🤨🤨
Siapa dibelakang Bianca, yg pasti org penting yg bisa melindungi nya 👀
Selalu menilai diri perfect, pdhal etikamu 0 NOL, , , , pamer sana sini ciihh, , , ,
Org macam spt mu harus di panasi sama kemesraan Nara & Rama
nanggung kelanjutan nya 😬😬