Zahra mencintai Akhsan, kakak kandungnya yang juga menjadi dosen di kampusnya. Menyadari perasaan tak wajar adiknya, Akhsan membangun benteng tinggi dan memilih untuk meminang Gea guna memutus harapan Zahra.
Namun, tragedi berdarah terjadi tepat malam hari saat mereka akan menikah. Kecelakaan hebat merenggut nyawa Gea dan mengungkap fakta mengejutkan—Akhsan ternyata bukan anak kandung Papa Hermawan. Demi menjaga nama baik keluarga dari undangan yang telah tersebar, Papa Hermawan mengambil keputusan ekstrem: Zahra harus menggantikan posisi Gea di pelaminan.
Pernikahan yang dahulu menjadi dambaannya kini berubah menjadi mimpi buruk bagi Zahra. Akhsan yang hancur karena kehilangan Gea berubah menjadi sosok yang dingin dan kejam. Ia menuduh Zahra sebagai dalang di balik kecelakaan maut tersebut, menjebak Zahra dalam pernikahan tanpa cinta yang penuh dengan kebencian dan air mata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Aruna melangkah dengan tenang menuju meja kerja jati yang kokoh itu.
Tanpa meminta izin, ia memutar kursi kebesaran CEO milik Akhsan dan mendudukinya dengan anggun.
Akhsan hanya bisa berdiri mematung di depannya, merasa otoritasnya seolah tersedot habis oleh kehadiran wanita bertopeng ini.
Mata Aruna yang tajam dari balik renda hitam tertuju pada sebuah bingkai foto perak yang diletakkan Akhsan di sudut meja dimana satu-satunya benda yang tampak kontras dengan tumpukan dokumen bisnis di sana.
Aruna meraih foto itu dengan jemarinya yang mengenakan sarung tangan sutra mengusap permukaan kaca yang menampilkan wajah Zahra yang tersenyum tulus.
"Siapa wanita ini, Tuan Akhsan?" tanya Aruna dengan nada suara yang sengaja dibuat penasaran.
"Cantik sekali. Wajahnya memiliki karakter yang sangat langka."
Akhsan merasa paru-parunya mendadak menyempit.
Ia menelan salivanya dengan susah payah, sementara butiran keringat dingin mulai muncul di pelipisnya.
"Itu, hanya orang dari masa lalu saya," jawabnya dengan suara yang bergetar.
Aruna menatap foto itu lebih dalam, seolah sedang menilai sebuah aset.
"Masa lalu? Sayang sekali. Apakah aku boleh bertemu dengannya? Dia sangat cocok sebagai model untuk brand perhiasan terbaru yang akan saya luncurkan. Saya berani membayar mahal untuk wajah semurni ini."
Pertanyaan itu terasa seperti hantaman palu besar di dada Akhsan.
"Dia, sudah tidak ada, Nona Aruna," bisik Akhsan, nyaris tak terdengar.
"Tidak ada? Maksud Anda, dia sudah meninggal?"
Aruna meletakkan foto itu kembali ke meja dengan dentingan kecil yang disengaja.
Ia menopang dagunya, menatap Akhsan yang kini tampak pucat pasi.
"Sayang sekali. Padahal melihat cara Anda memandang foto ini, saya kira dia adalah seseorang yang sangat Anda cintai."
Aruna tersenyum getir di balik topengnya dan sangat menikmati pemandangan pria yang dulu begitu angkuh kini tampak seperti pesakitan yang sedang diinterogasi.
"Atau mungkin..." Aruna menjeda kalimatnya, membuat suasana semakin mencekam.
"Dia pergi karena Anda tidak cukup baik menjaganya?"
Akshan semakin bingung saat ia akan menjawabnya.
Tepat saat itu, pintu ruangan terbuka dengan kasar.
Sisil masuk dengan wajah sembab dan membawa nampan berisi mangkuk soto ayam yang mengepulkan asap.
Ia berjalan tergesa-gesa, matanya menatap Aruna dengan kebencian yang mendalam.
Saat melewati Akhsan, Sisil sengaja sedikit menginjak kakinya.
Kemudian, ia pura-pura tersandung dan nampan di tangannya terlepas.
Kuah panas soto ayam itu langsung tumpah mengenai tangan Aruna yang menopang dagunya.
"Akh! S-sakit!" Aruna merintih sedikit, matanya melihat tangannya yang mulai memerah.
Ia berpura-pura kesakitan, meski memang ada rasa panas yang perih menyengat kulitnya.
Akhsan yang melihat insiden itu langsung panik. Bukan karena simpati, melainkan karena ia melihat ikon perusahaannya, investor penyelamat Hermawan Group, terluka di depan matanya.
"Sisil! Apa yang kamu lakukan?!" bentak Akhsan yang langsung mendorong tubuh Sisil hingga wanita itu terhuyung ke belakang.
Akhsan segera mendekati Aruna, ia membopong tubuh Aruna dengan hati-hati.
Wajahnya dipenuhi kekhawatiran yang tulus, sekaligus rasa bersalah yang menusuk.
Ia merasakan aroma parfum Aruna kembali menyeruak, dan kini, tanpa topeng, wajah Aruna terpampang jelas di hadapannya yang cantik, namun dengan guratan tanda X yang merah.
"Anda tidak apa-apa, Nona Aruna? Mari kita ke klinik perusahaan sekarang," ucap Akhsan cemas.
Aruna menatap Sisil yang terduduk lemas di lantai dengan tatapan sinis.
Sebuah senyum kemenangan tipis terukir di bibirnya yang masih memerah.
"Selamat datang di nerakamu, Sisil. Permainan yang sesungguhnya baru saja dimulai." batin Aruna.
Di dalam klinik perusahaan yang hening, aroma antiseptik menusuk indra penciuman.
Akhsan dengan tangan gemetar mengambil baskom berisi air dingin dan kain kasa.
Aruna duduk di atas ranjang periksa, menyodorkan tangannya yang memerah dengan raut wajah yang dibuat seolah-olah menahan perih yang luar biasa.
"Tuan Akhsan, tolong bantu aku membersihkannya. Saya tidak percaya pada perawat Anda setelah kejadian tadi," ucap Aruna dengan suara lirih yang manipulatif.
Akhsan mengangguk kaku, lali berlutut di samping Aruna, mulai menyeka sisa kuah panas di tangan wanita itu dengan sangat hati-hati. Namun, saat kulit mereka bersentuhan, sebuah getaran aneh merambat ke jantung Akhsan.
Tekstur kulit ini, suhu tubuh Aruna dan semuanya menarik paksa memori Akhsan ke malam-malam di mana ia sering mencengkeram tangan Zahra dengan kasar untuk menyeretnya ke gudang.
Tiba-tiba, dari arah tas tangan Aruna yang tergeletak di meja samping, terdengar sebuah suara rekaman audio yang lirih namun sangat jelas.
Suara itu adalah hasil rekayasa audio yang sudah disiapkan Aruna untuk memicu trauma Akhsan.
"Aku bukan pembunuh Kak Gea! Mas Akhsan, tolong dengarkan aku! Aku tidak melakukannya!"
Akhsan langsung terkejut dan tangannya yang memegang kain kasa berhenti di udara.
Suara Zahra yang meratap di malam kebakaran itu kembali bergema tepat di telinganya.
Keringat dingin mengucur deras dari pelipis Akhsan.
Bayangan api yang menjilat-jilat dan wajah Zahra yang memohon di balik pintu gudang yang terkunci berputar hebat di benaknya.
Aruna yang melihat reaksi Akhsan, berpura-pura tidak mendengar apa pun.
Ia tetap menatap tangannya dengan wajah sedih, membiarkan rekaman itu mati dengan sendirinya setelah beberapa detik.
"Tuan Akhsan? Kenapa berhenti? Ini masih sakit," tegur Aruna lembut, namun tatapannya tajam mengamati kehancuran di wajah Akhsan.
Akhsan masih terdiam, napasnya mulai tersengal seolah oksigen di ruangan itu mendadak habis.
Belum sempat ia menguasai diri, pintu klinik terbuka dengan dentuman keras.
BRAKK!
Christian masuk dengan langkah lebar, wajahnya memerah karena amarah yang tidak dibuat-buat.
Tanpa basa-basi, ia langsung mendorong bahu Akhsan hingga pria itu terhuyung mundur dan hampir menabrak lemari obat.
"Apa-apaan ini?!" teriak Christian sambil memeriksa tangan Aruna dengan protektif.
"Bagaimana bisa perusahaan sebesar Hermawan Group begitu ceroboh?! Anda meminta model saya bekerja sama, tapi Anda bahkan tidak bisa menjamin keselamatannya dari staf Anda yang gila itu!"
Christian berbalik dan menatap Akhsan dengan tatapan menghina.
"Aruna adalah model profesional kelas dunia! Luka sekecil apa pun di tubuhnya adalah kerugian jutaan dolar bagi kami! Apakah Anda ingin kontrak ini saya batalkan sekarang juga karena ketidakmampuan Anda menjaga keamanan?"
Akhsan berdiri mematung, kepalanya masih berdenyut memikirkan suara rekaman tadi.
Ia menatap Christian, lalu beralih ke Aruna yang kini menyembunyikan wajahnya di dada Christian, seolah mencari perlindungan dari "kekejaman" lingkungan kantor Akhsan.
"Maafkan saya, Tuan Christian. Ini benar-benar kecelakaan," gumam Akhsan dengan suara yang hampir habis.
Aruna melirik Akhsan dari balik pundak Christian, bibirnya membentuk lengkungan tipis yang sangat sinis.
Ia tahu bahwa mental Akhsan mulai runtuh setelah mendengar suara wanita yang ia siksa sebelum terjadi kebakaran.