Satu di Hati.
Kamu seperti matahari,
Hangat di pagi hari,
Menyengat di siang hari,
Meredup saat senja hari.
Namun kamu tetap satu di hati.
# Red_Dexter (pinterest)
Kisah cinta ringan antara Erick dan Jeny. Bagi Erick, Jeny adalah mataharinya, ia tidak bisa hidup tanpanya.
Keraguan, adalah kata yang tepat untuk menggambarkan Jeny.
Senja, waktu favorit Jeny, dan Erick memastikan bahwa Jeny harus melihat kearahnya saat senja.
Kisah nyata seorang kenalan, dengan bumbu dramatisasi, untuk menemani kamu melepas penat menjelang tidur agar bermimpi indah tentang cinta.
Full of love,
Author ❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mom fien, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perbedaan dunia kita
Merasakan ada benda berat yang menimpa perutku, membuatku terbangun dari tidurku.
Astagaaa.... kak Erick tertidur di kamarku, aku mencari ponselku dan melihat dilayar menunjukkan jam 3.46 am. Melihatnya tidur pulas, ga tega juga aku bangunin kak Erick. Aku melepaskan pelukannya lalu memberi pembatas bantal dan guling diantara kami, kemudian aku tidur lagi.
Aku merasakan sentuhan-sentuhan kecil diwajahku, lalu membuka mataku, melihat kak Erick sedang menatapku, sedangkan pembatas berupa bantal dan guling itu sudah menghilang entah kemana.
"Pagi babe", kemudian ia mencium bibirku.
"Kakak sengaja tidur disini ya?"
"Tau aja.", ia mencium bibirku lagi.
"Udah ahh... kakak pindah ke kamar sana, ga enak aku kalau ketahuan mama sama papa."
"Mereka juga dulu waktu muda begini kali babe."
"Akhh... kakak nih alasan saja."
"Loh mereka udah pacaran dari kuliah, terus sempat kerja dulu sebentar diluar sebelum pulang ke sini, memangnya selama itu mereka ga tinggal bareng."
Iya juga ya, aku ga pernah memikirkan hal itu, mungkin itu sebabnya mereka juga membebaskan anak-anak mereka.
"Ok ok kita bicarain itu nanti, tapi sekarang aku beneran minta kakak pindah kamar dulu."
"Kamu takut mereka tau kita tidur bareng? Kan aku udah jelasin tadi."
"Seengganya aku canggung sama kakak sekarang."
"Kenapa lagi?"
"Itunya kakak", ucapku pelan.
Lalu aku bangun dan menarik kak Erick untuk bangun dari tempat tidurku.
"Pleasee babe..."
Ia tersenyum lalu berkata "ok ok... aku keluar".
Setelah kak Erick keluar, aku segera mengunci pintuku dan menetralkan jantungku yang berdebar. Apa semua cowok tiap pagi itu memang bangun seperti itu atau benda itu bangun karena kak Erick mesum sama aku? Entahlah, lebih baik aku mandi saja.
Segala sesuatunya kembali normal, kak Erick kembali memegang tanganku atau merangkulku sekehendaknya. Sepertinya papa dan mama juga langsung mengerti bahwa kami sudah baik-baik saja, tidak ada yang menyinggung mengenai pertengkaran kami semalam, mereka bersikap seakan-akan mereka tidak tau apa-apa soal kemarin, dan aku berterima kasih dalam hati untuk itu. Setelah makan siang aku menghabiskan waktuku dikamar kak Erick, menemaninya bermain video game, sedangkan aku menonton drakor. Meski mataku melihat ke TV, tapi pikiranku melayang memikirkan kami yang tidur bersama semalam.
Kalau orangtua kak Erick sudah tinggal bersama dulu, apa papa juga begitu saat kuliah dulu. Papa baru bertemu mama saat kembali ke Jakarta, karena mama orang Surabaya, baru setelah menikah mereka memutuskan pindah kesana sekalian papa memperluas perusahaan. Kenapa prinsip membesarkan anak antara papa dan keluarga Erick berbeda? Apa karena aku anak perempuan satu-satunya? Apa Erick juga tinggal bersama mantannya dulu? Kak Erick pasti pernah melakukannya juga kan, iya pasti pernah.
"Kak, apa kakak dulu juga tinggal bareng mantan kakak?", tanyaku tiba-tiba.
Ia menengok terkejut dengan pertanyaanku, menghentikan permainan dan mematikan layar PC. Lalu ia berpindah duduk disampingku diatas tempat tidur.
"Iya aku tinggal bareng sama mantanku yang terakhir."
"Apa papa mama tau itu?"
"Ya mereka tau itu."
"Kapan pertama kali kakak berhubungan intim?"
"Saat kuliah dengan pacar keduaku, kami melakukannya suka sama suka, tapi putus karena keadaan. Kami masih berteman setelah putus. Berbeda dengan mantanku yang terakhir, meski kami tinggal bersama tapi kami sering berkelahi untuk hal-hal kecil dan akhirnya putus karena ia berselingkuh. Setelah itu aku memutuskan ga mau berpacaran lagi, kalau aku berpacaran lagi maka tujuan selanjutnya adalah menikah. Jadi sejak saat itu kalau aku tertarik dengan lawan jenis aku selalu menilai segala sesuatu tentang dirinya hingga hal terkecil, dan ternyata aku belum menemukan orang yang benar-benar aku sukai, sampai bertemu kamu lagi."
Aku terdiam memikirkan betapa berbedanya duniaku dengan dunia kak Erick.
"Aku tau kamu berbeda denganku. Lagipula dulu kamu LDR kan sama mantan kamu. Sekarang tiba-tiba dapat cowok mesum tinggal serumah pula. Dengan pengakuanku barusan, apa kamu keberatan soal itu, apa kamu bisa menerima itu?"
"Kakak ngaku kalau kakak mesum ternyata", godaku sambil tersenyum.
"Untuk ukuran kamu yang polos begini, aku termasuk mesum, untuk ukuran aku sih aku sudah banyak menahan diri."
"Setelah cerita tadi, apa membuat kamu berpikir ulang tentang aku? Apa kamu jadi meragukan keseriusan aku tentang hubungan ini?"
"Meski aku berbeda dengan kakak, tapi aku ga mempermasalahkan hal itu. Aku ga mempermasalahkan masa lalu kakak sedikitpun. Tapi untuk tidur bareng seperti semalam, meski kita ga ngapa-ngapain tapi rasanya canggung. Meski mungkin papa sama mama juga cuek aja kalau tau, tapi akunya yang malu. Sepertinya selama aku tinggal dibawah atap mereka aku ga bisa tidur bareng kakak. Entah ya kalau aku udah lulus dan keluar dari rumah ini, tapi saat ini rasanya aku belum bisa. Apa kakak bisa menerima itu?"
"Ya mau bagaimana lagi, pihak yang mencintai adalah pihak yang kalah", ucapnya mengulang kembali pepatah yang pernah ia utarakan dulu. Kemudian ia memelukku dan berkata "aku sangat beruntung memilikimu Jen, terima kasih sudah menerima aku apa adanya, aku mencintaimu, selamanya."